Sayangi aku.. Dua kata yang tidak bisa Aurora ucapkan selama ini.. Ia hanya memilih diam saat mendapatkan perlakuan tidak adil dari orang- orang di sekitarnya bahkan keluarganya. Jika dulu dia selalu berfikir bahwa kedua orang tuanya itu sangat menyayangi dirinya karena mereka yang tidak pernah memarahi bahkan menuntut dirinya untuk melakukan apapun dan sangat berbanding terbalik dengan perlakuan ke dua orang tuanya pada kakak dan adiknya.. Tapi semakin dewasa Aurora menyadari bahwa selama ini ia salah.. Justru keluarganya itu sedang mengabaikan dirinya.. Keluarganya tidak peduli dengan apapun yang ia lakukan ...
INGAT !!! Ini hanya cerita fiksi dimana yang mungkin menjadi tidak mungkin dan yang tidak mungkin menjadi mungkin..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunFlower, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#13
Happy Reading...
Rora menyentuh dadanya yang berdetak sangat kencang. Bahkan detakkan itu sampai bisa terdengar di telinganya.
"Tidak boleh.." Ucap Rora dalam hati. "Aku tidak boleh membiarkan perasaan ini semakin tumbuh. Dika sahabatku, hanya sahabatku.. Sebatas itu. Tidak boleh lebih dari itu."
Sesampainya di pinggir danau, Dika mengajak Rora untuk berjalan kaki. Mereka berdua berjalan beriringan sambil bergandengan tangan, lebih tepatnya Dika yang tidak ingin melepaskan genggaman tangannya.
"Kenapa diam saja?" Tanya Dika yang membuyarkan lamunan Rora.
"Memangnya aku harus berbicara apa? Berbicara tentang indahnya pemandangan yang bahkan aku saja tidak bisa menikmatinya. Atau kamu berharap gadis buta sepertiku ini berlarian mengelilingi tempat ini lalu terjatuh." Ucap Rora sinis.
"Bukan seperti itu maksudku Ra.. "
"Lalu apa?" Potong Rora. "Lagi pula kenapa juga kamu mengajakku ke tempat ini? Apa kamu ingin membuat aku semakin merasa terpuruk?"
"Ya tuhan Ra.. Sungguh aku tidak bermaksud seperti itu.. Aku hanya ingin menikmati momen berdua dengan kamu saja.. Apa aku salah."
"Tentu saja salah karena yang kamu ajak adalah gadis buta sepertiku."
Dika memilih diam tidak menjawab lagi ucapan Rora. Ia tahu jika di teruskan hanya akan semakin menjadi sebuah perdebatan. Setelah berjalan cukup lama tiba- tiba saja beberapa tetes air hujan turun di sertai angin yang berhembus kencang sehingga membuat udara semakin terasa dingin.
"Tunggu sebentar Ra." Ucap Dika sambil menahan Rora lalu melepaskan genggaman tangannya.
"Apa lagi?"
Dika mengangkat kedua tangannya merapikan jaket yang Rora kenakan, menaikan tudung jaketnya lalu menarik resleting sampai menutupi sedikit dagu Rora.
"Sepertinya akan turun hujan, kita pulang saja." Ucap Dika singkat lalu kembali menggenggam tangan Rora dan membawanya untuk pergi ke tempat dimana sepedahnya tadi berada.
Sepanjang perjalan Dika benar- benar terdiam. Rora tahu Dika tidak ada niatan buruk sedikitpun kepada dirinya. Rora tahu bahkan sangat tahu. Tapi ini satu- satunya cara agar Dika bisa menyerah dan menjauh dari dirinya.
.
.
.
Setelah mendapatkan beberapa sindiran dari keluarga Bara akhirnya malam ini Rora memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan memilih untuk duduk sendirian di sisi pojok halaman Vila. Bukannya tidak mau bergabung dengan yang lain tapi Rora hanya tidak ingin mengganggu kebahagiaan mereka. Aluna yang sengaja memberi tahu keluarga Devano bahwa mereka akan berlibur ke Situ Patenggang membuat beberapa orang memutuskan untuk menyusul termasuk Daniah.
Sejujurnya ada sedikit rasa iri dalam hatinya. Rasa iri yang sedari dulu selalu ia rasakan saat melihat sebuah keluarga yang selalu penuh dengan kehangatan, kebersamaan dan kepedulian. Rora mengulas sedikit senyumnya saat mendengar tawa dari mereka.
"Apa sudah ada yang memberitahu bahwa kamu terlihat manis sekali saat tersenyum seperti ini." Ucap Devano.
"Om.."
Devano menoleh ke arah Rora. "Bagaimana perasaan kamu sekarang? Apa sudah merasa lebih baik?" Tanya Devano. Pasalnya setelah Rora pulang dari pergi bersama Dika dua hari yang lalu ia terlihat sangat murung dan mulai mengurangi interaksinya dengan yang lain. Rora lebih banyak menghabiskan aktivitasnya di dalam kamar yang tentu saja membuat istrinya itu merasa khawatir.
Rora tersenyum getir saat mendengar pertanyaan dari Devano.
"Lebih baik yang seperti apa maksud om?"
"Dengan menyendiri seperti ini. Apa kamu merasa lebih nyaman?"
Rora merasa bingung ingin menjawab apa? Sungguh dengan sendiri seperti ini membuat Rora merasa nyaman karena ia sudah terbiasa di abaikan.
"Apa kamu tidak suka tinggal bersama kami?" Tanya Devano sambil menatap sendu ke arah Rora.
"Kenapa om bertanya seperti itu?" Rora balik bertanya.
"Karena sikap kamu yang tertutup kepada kami. Sikap kamu yang kadang menunjukkan kurang nyaman saat bersama kami. Kamu yang lebih suka menyendiri dari pada menghabiskan waktu bersama kami." Ungkap Devano.
Rora terhenyak. "Maafkan Rora om." Ucap Rora sambil menundukkan kepalanya. "Rora tidak bermaksud seperti itu. Rora hanya sudah terbiasa terabaikan.. Rora suka tinggal bersama om dan tante." Ia menjeda ucapannya. "Sebenarnya Rora hanya merasa tidak pantas untuk menjadi bagian dari keluarga om dan tante." Lanjut Rora. "Rora merasa dengan keterbatasan Rora hanya akan menjadi beban untuk om dan tante. Rora sudah sangat banyak merepotkan om dan tante.."
Devano meraih tangan Rora. "Apa kamu tahu sayang? Om dan tante membawa kamu untuk tinggal bersama kami karena kami sangat menyayangi kamu. Kami tidak pernah merasa terbebani dengan kehadiran kamu." Ucap Devano. "Tapi kalau memang kamu merasa lebih nyaman untuk tinggal di rumah kamu tidak apa- apa. Sepulang dari sini Om dan tante akan mengantar kamu untuk pulang ke rumah kamu."
Mendengar tawaran dari Devano membuat Rora meras senang, ia tersenyum. Tetapi saat kembali mengingat ucapan Laura membuat senyum di wajahnya menghilang lalu menggelengkan kepalanya. "Kenapa?" Tanya Devano.
Mungkin dengan mengiyakan tawaran Devano akan menjadi keputusan terbaik untuk dirinya tapi tidak dengan keluarganya. Setiap hari ia selalu berharap ada salah satu keluarganya yang akan mengunjungi dirinya tapi ternyata sampai sekarang tidak ada. Bahkan hanya untuk sekedar menanyakan kabar pun tidak.
"Rora rindu keluarga Rora, tapi untuk kembali tinggal disana Rora masih belum bisa om. Lagi pula dimanapun Rora tinggal semua akan tetap sama." Jawabnya sambil tersenyum miris. "Rora hanya akan tetap menjadi beban."
Devano menepuk- nepuk punggung tangan Rora. "Dengarkan om baik- baik." Ucap Devano. " Apapun keputusan kamu ingin tetap tinggal dengan kami atau pulang ke rumah papa mama kamu, om akan menghargai itu.. Dan dimanapun kamu berada, ingat. Kamu bukan beban."
"Rora ingin, tapi Rora tidak mau membuat papa dan mama kecewa. Rora hanya ingin menjadi anak yang berbakti.." Ucap Rora lirih lalu menghela nafasnya. "Rora yakin om dan tante pasti tahu bagaimana perlakuan mama kepada Rora selama ini." Ucap nya lagi dengan sedikit senyuman.
"Om tahu.. Sangat tahu.. Itu juga lah yang menjadi salah satu alasan kenapa kami ingin kamu tinggal disini bersama kami." Jawab Devano jujur. "Kamu anak yang baik.. "
"Jika Rora anak yang baik lalu kenapa Tuhan membuat hidup Rora seperti ini.." Potong Rora. "Tidak ada yang sayang Rora.. Tidak ada yang peduli dengan Rora. Rora hanya ingin di sayang om, Rora ingin di sayang mama dan papa. Tapi tuhan tidak pernah mengabulkan itu." Ucapnya dengan kedua mata yang berkaca- kaca.
"Tuhan itu maha pengasih sayang.. Jadi jangan selalu berprasangka buruk padanya. Dulu om juga melakukannya. Om selalu berprasangka buruk kepada tuhan sampai suatu hari om bertemu dengan seseorang. Orang itu mengatakan kepada om bahwa tuhan akan cepat mengabulkan setiap- setiap prasangka buruk mu.." Devano menggenggam tangan Rora. "Dan sejak itu om terus berusaha untuk berprasangka baik. Kalau yang kamu rencanakan baik maka Tuhan akan mengabulkan. Tapi kalau tidak sesuai dengan apa yang kamu ingin kan artinya Tuhan punya rencana yang lebih baik dari apa yang sudah kamu rencanakan. Yakinlah bahwa tuhan itu sebaik- baiknya perencana." Lanjutnya.
"Percayalah hal- hal baik pasti akan terjadi pada orang- orang yang berprilaku baik."
Jangan lupa tinggalkan jejak..