NovelToon NovelToon
The Blood Master’S

The Blood Master’S

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Action / Spiritual
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Di sekolah ia di-bully karena tak punya kekuatan, namun di dunia bawah ia adalah dewa yang ditakuti monster. Arkan memberikan kesempatan kedua bagi lima anak yang sekarat untuk menjadi pasukannya, sementara ia sendiri bersembunyi di balik kacamata retak bangku sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 12: paru-paru hijau yang membusuk

Hutan Amazon, Brasil – Sektor J-19, Pukul 03.00 Dini Hari.

Amazon yang dulunya dikenal sebagai paru-paru dunia kini telah berubah menjadi tenggorokan yang tersedak oleh lendir Abyss. Di kedalaman hutan hujan yang tak tersentuh manusia, sebuah fenomena yang disebut 'Verdant Corruption' sedang berlangsung. Pepohonan purba yang seharusnya memberikan oksigen kini bermutasi menjadi tentakel raksasa yang dilapisi duri-duri berbisa. Daun-daunnya berubah menjadi mulut-mulut kecil yang terus-menerus mengeluarkan spora hitam yang mampu meluluhkan daging manusia dalam hitungan detik.

Lebih dari sepuluh desa adat telah hilang dalam satu minggu. Pemerintah Brasil telah mengirimkan tim Hunter elit 'Serpent Guard', namun tak satu pun dari mereka kembali. Hutan itu kini memiliki kesadarannya sendiri, sebuah entitas kolektif yang dikendalikan oleh 'Abyss Heart' yang bersembunyi jauh di bawah akar pohon tertua.

"Julian, distorsi ruang di sini sangat parah. Kompas mana milik militer yang tergeletak di tanah ini berputar seperti gila," suara Elara (Seer) terdengar jernih melalui jaringan Blood-Link.

Elara berdiri di atas dahan pohon yang bergetar. Penutup matanya telah ia lepas, menampakkan mata merah dengan pupil silang emas yang bersinar menembus kabut spora. Di sampingnya, Rehan (Plague) berdiri diam, mengenakan jubah ungu tua yang menutupi seluruh tubuhnya kecuali matanya yang kini memancarkan aura kehijauan yang sakit.

Di markas Sanguine Throne, Julian memproses data yang dikirimkan melalui mata Elara. "Seer, perbesar fokusmu pada koordinat 45 derajat di bawah permukaan tanah. Aku mendeteksi aliran nutrisi yang tidak wajar. Itu adalah nadi utama dari Abyss Heart. Plague, kau siap? Spora di sekitarmu memiliki tingkat toksisitas Kelas S. Jika kau salah langkah, kau akan menjadi pupuk bagi hutan ini."

Rehan menarik napas dalam-dalam, menghirup spora mematikan itu seolah-olah itu adalah udara pegunungan yang segar. "Racun ini... terlalu amatir, Julian. Ini seperti mencoba memberi makan singa dengan rumput kering."

Seoul, SMA Gwangyang – Pukul 10.00 Pagi.

Di dalam kelas yang tenang, Arkan sedang menatap papan tulis yang dipenuhi rumus kimia organik. Pak Kim, guru kimia yang paling ditakuti, sedang menjelaskan tentang struktur polimer. Arkan tampak sangat fokus mencatat, namun di balik kacamata tebalnya, ia sedang menyaksikan pemandangan hutan Amazon melalui mata Elara.

'Rehan, jangan hanya menghancurkan permukaannya. Masukkan racunmu ke dalam sistem vaskular hutan itu. Aku ingin kau melakukan 'Grafting Sanguine'. Ubah hutan ini menjadi bagian dari wilayah kekuasaanku,' perintah Arkan secara telepatis.

Rehan yang berada ribuan kilometer jauhnya mendadak bergetar. 'Tuan... Anda menonton?'

'Aku selalu menonton. Jangan buat aku malu dengan pembersihan yang berantakan,' balas Arkan dingin.

Rehan segera berlutut di tanah yang lembek dan berlendir. Ia melepaskan sarung tangannya, memperlihatkan tangan yang dipenuhi urat-urat ungu kehitaman yang berdenyut.

"Sanguine Art: Plague Rooting!"

Rehan menghujamkan telapak tangannya ke dalam tanah. Seketika, pembuluh darah di tangannya memanjang keluar, masuk ke dalam tanah seperti akar-akar buatan yang terbuat dari esensi darah Sovereign. Gelombang warna ungu pekat merambat dengan cepat di bawah permukaan tanah, memburu akar-akar Abyss Heart.

Di permukaan, hutan itu mulai bereaksi. Pepohonan raksasa itu mengerang, mengeluarkan suara jeritan yang memilukan. Tentakel-tentakel berduri melesat ke arah Rehan dan Elara.

"Kakak, tetaplah fokus! Aku akan menjaga punggungmu!" Elara menarik busur tulangnya.

Dalam hitungan detik, Elara melepaskan ratusan panah cahaya merah. Setiap panah tidak hanya menebas tentakel, tapi meledak tepat di titik saraf tanaman tersebut, melumpuhkan gerakan mereka secara instan. Elara bergerak seperti penari di atas dahan, matanya yang tajam mengunci setiap pergerakan bahkan sebelum monster tanaman itu sempat menyerang.

"Tiga detik lagi, Rehan! Akar utama akan mencuat ke permukaan!" teriak Elara.

"Datanglah padaku, sampah hijau!" Rehan berteriak.

Tiba-tiba, tanah meledak. Sebuah jantung raksasa yang terbuat dari jalinan akar hitam dan mata-mata merah besar muncul ke permukaan, mencoba menelan Rehan. Namun, Rehan tidak menghindar. Ia justru melompat masuk ke dalam mulut jantung tersebut.

"Rehan?!" Elara terkejut.

Jangan khawatir, Seer. Dia sedang melakukan 'Internal Decomposition, suara Julian menenangkan melalui Blood-Link.

Di dalam perut Abyss Heart, Rehan melepaskan seluruh cadangan racun yang selama ini ia simpan di dalam tubuhnya. Ia tidak lagi menahan diri. Seluruh tubuhnya berubah menjadi kabut ungu yang sangat panas dan korosif.

"Makanlah ini! Sanguine Plague,Cell Meltdown!"

Dari luar, jantung raksasa itu tiba-tiba membengkak. Cairan hitam kental menyembur keluar dari celah-celahnya, namun cairan itu segera berubah menjadi uap saat bersentuhan dengan kabut Rehan. Dalam waktu kurang dari satu menit, jantung yang seharusnya bisa meratakan satu negara itu mulai mencair, layu, dan akhirnya hancur menjadi abu ungu yang harum.

Hutan Amazon yang tadinya gelap dan mengancam, perlahan-lahan kembali ke warna hijaunya yang alami. Spora-spora hitam menghilang, digantikan oleh aroma bunga yang segar. Racun Rehan telah memurnikan infeksi Abyss dengan cara memakan infeksinya sendiri.

Dunia internasional kembali terguncang.

Satelit militer Brasil menangkap gambar dua sosok remaja yang berdiri di atas sisa-sisa abu Abyss Heart. Elara yang memegang busur megah dan Rehan yang tertutup kabut ungu misterius. Logo Crimson Eclipse terpampang jelas di jubah mereka sebelum mereka menghilang tertelan bayangan.

"Mereka membersihkan Amazon hanya dalam sepuluh menit?!" teriak Direktur WHA di Jenewa saat melihat laporan tersebut. "Siapa sebenarnya mereka ini? Mereka bergerak tanpa izin, tanpa protokol, dan memiliki kekuatan yang menghina semua peringkat Hunter yang kita buat!"

Di tengah kekacauan informasi global, para pemimpin dunia mulai menyadari satu hal: tatanan dunia lama telah berakhir. Ada kekuatan baru yang tidak tunduk pada hukum mana pun.

Seoul, SMA Gwangyang – Jam Istirahat.

Arkan berjalan menuju kantin bersama Liora. Gadis itu tidak berhenti bicara tentang berita Amazon yang baru saja pecah di internet.

"Arkan! Kamu lihat nggak? Anggota Crimson Eclipse yang baru muncul! Katanya mereka bisa mengendalikan tanaman dan punya mata yang bisa melihat masa depan! Namanya Plague dan Seer!" Liora menunjukkan layar ponselnya dengan sangat antusias.

Arkan memesan nasi gorengnya dengan tenang. "Sepertinya mereka sibuk sekali ya. Kemarin di Rusia, sekarang di Brasil. Mereka pasti punya jet pribadi yang sangat cepat."

"Jet pribadi? Mana ada jet secepat itu! Banyak yang bilang mereka punya portal dimensi sendiri!" Liora duduk di depan Arkan, matanya menyipit penuh selidik. "Aneh ya... setiap kali mereka muncul, kamu selalu kelihatan tenang-tenang saja. Padahal seluruh dunia lagi panik."

Arkan menyuap nasi gorengnya. "Mungkin karena aku merasa mereka orang baik, Liora. Kalau mereka ingin menghancurkan kita, mereka sudah melakukannya sejak lama, kan?"

Liora terdiam, menatap Arkan dengan dalam. "Kadang-kadang aku merasa... kamu tahu lebih banyak daripada yang kamu katakan. Kemarin di sekolah, saat gerbang Parasite terbuka... kamu benar-benar tidak melihat siapa yang menolong kita?"

Arkan menatap mata Liora balik, memberikan tatapan yang paling tulus yang bisa ia buat. "Aku hanya melihat kilatan merah, lalu semuanya selesai. Mungkin itu keberuntungan kita, Liora."

Liora menghela napas, menyerah untuk sementara. "Yah, mungkin kamu benar. Tapi kalau aku ketemu Sovereign itu, aku ingin tanya satu hal: Kenapa dia memilih untuk tetap bersembunyi?"

Arkan hanya tersenyum tipis. 'Karena jika aku muncul, kau tidak akan bisa makan nasi goreng dengan tenang di depanku seperti ini, Liora.'

Tiba-tiba, ponsel Arkan bergetar di sakunya. Sebuah sinyal darurat dari Julian yang memiliki tingkat prioritas tertinggi.

Ayah, gawat. Asosiasi Hunter Dunia (WHA) baru saja melacak sisa-sisa frekuensi portal darah kita. Mereka telah mengirimkan 'The Hound'—tim pelacak paling mematikan yang dipimpin oleh Hunter Kelas SSS, Arthur Pendragon. Mereka menuju Seoul. Mereka menduga sang pemimpin ada di sekitar koordinat sekolahmu.

Arkan meletakkan sendoknya perlahan. Matanya berkilat merah di balik kacamata, sebuah pemandangan yang untungnya tersembunyi karena ia sedang menunduk.

'Biarkan mereka datang,' balas Arkan dalam hati. 'Bastian, Hana, Rehan, Elara... siapkan penyambutan di luar kota. Aku ingin kalian memberikan mereka "ujian masuk" untuk melihat seberapa kuat pahlawan dunia itu sebenarnya. Jangan bunuh mereka, tapi hancurkan harga diri mereka hingga mereka tidak berani lagi mengendus jejakku.'

'Segala kemuliaan bagi Sang Sovereign!' jawab kelimanya serempak.

Arkan kembali mengangkat kepalanya, tersenyum pada Liora. "Liora, sepertinya besok aku tidak bisa masuk sekolah. Aku merasa badanku agak sedikit hangat, mungkin aku butuh istirahat."

Liora menyentuh dahi Arkan dengan cemas. "Eh? Iya, badanmu agak panas. Ya sudah, istirahatlah. Aku akan buatkan catatan pelajaran untukmu besok."

"Terima kasih, Liora. Kamu memang yang terbaik," ucap Arkan sambil berdiri, meninggalkan kantin dengan langkah tenang namun di dalamnya, Sang Raja sedang mengasah pedang darahnya, siap menyambut tamu tak diundang dari belahan dunia lain.

1
Aprilia
hilangkan aja kocak ingatan perempuan SMA yg itu
kirno
lanjutkan 🤭
kirno
lanjutkan
Xiao Lian Na ¿?
Lah, perasaan Julian belum??
Xiao Lian Na ¿?: owhhh
total 4 replies
Xiao Lian Na ¿?
Eh... Julian?
Xiao Lian Na ¿?
ga kebayang sakitnya gimana
Xiao Lian Na ¿?
Wahh,, suka bet sama bahasanya👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!