Bagi orang lain, ia adalah definisi kemandirian yang sempurna. Namun, di balik punggungnya yang tegap, tersimpan luka yang tak pernah dipeluk siapa pun.
Ia tumbuh dalam rumah yang penuh, tetapi merasa seperti yatim piatu di tengah hiruk-pikuknya. Sejak kecil, ia dipaksa menelan rindu pada orang tua yang merantau, hanya untuk kembali dan mendapati dirinya sebagai orang asing yang selalu salah. Tanpa pembelaan, tanpa kasih sayang, ia belajar satu hal: satu-satunya orang yang bisa ia andalkan adalah dirinya sendiri.
Namun, sampai kapan seseorang bisa terus menjadi "langit" yang kokoh tanpa pernah runtuh? Ketika semua keinginan harus dipenuhi sendiri dan setiap air mata harus disembunyikan, ia mulai kehilangan jejak akan perasaannya sendiri.
Di rumah yang seharusnya menjadi pelabuhan, ia justru tenggelam dalam kesepian yang paling sunyi. Mampukah ia menemukan jalan pulang ke dirinya sendiri, ataukah ia akan terus menopang langit itu sampai hancur berkeping-keping?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Langkah kaki mereka bergema pelan di koridor hotel yang beralas karpet tebal. Suasana hening, hanya suara mesin AC yang berdengung halus. Pradipta berjalan di samping Alana, menjaga jarak yang sangat dekat namun tetap sopan, seolah ingin memastikan tidak ada hal buruk yang bisa menyentuh wanita itu malam ini.
Sesampainya di depan pintu kamar nomor 702, Alana berhenti dan berbalik. Ia menggenggam kartu aksesnya dengan erat, merasa canggung dengan kehadiran Pradipta yang menjulang tinggi di hadapannya.
"Terima kasih untuk makan malamnya... Dipta," ucap Alana pelan, memaksakan diri menyebut nama itu meski lidahnya masih terasa kaku. "Hati-hati besok dalam penerbangan ke Jakarta." ucapnya lagi
Alana baru saja hendak menempelkan kartu aksesnya ke pintu, namun gerakan tangan Pradipta yang cepat menahan pergelangan tangannya. Pria itu tidak menekannya, hanya menyentuhnya dengan kehangatan yang membuat jantung Alana berdebar tidak karuan.
"Alana, tatap aku sebentar," pinta Pradipta dengan suara rendah yang serak.
Alana perlahan mendongak, terjebak dalam tatapan mata cokelat gelap Pradipta yang tampak sangat jujur di bawah lampu koridor yang temaram.
"Aku harus kembali ke Jakarta besok pagi, dan aku tahu apa yang akan kamu lakukan begitu aku pergi," ujar Pradipta, jemarinya mengusap pelan punggung tangan Alana. "Kamu akan kembali memasang topeng dingin itu. Kamu akan kembali menjadi asisten manajer yang kaku, dan kamu akan mulai membangun tembok profesional setinggi mungkin agar aku tidak bisa menjangkaumu lagi."
Alana terdiam, karena tepat itulah yang sedang ia rencanakan dalam kepalanya.
"Tolong, jangan lakukan itu," lanjut Pradipta, suaranya kini terdengar seperti permohonan yang tulus. "Jangan bangun tembok itu lagi di antara kita. Meskipun aku di Jakarta dan kamu di sini, jangan kembali menyimpan' semuanya sendirian. Biarkan celah itu tetap terbuka untukku."
Alana menggigit bibir bawahnya, matanya mulai terasa panas. "Tapi ini sulit, Dipta. Dunia kita berbeda, jabatan kita berbeda, dan masalahku... masalahku terlalu kotor untuk kamu sentuh."
"Biarkan aku yang memutuskan apakah itu kotor atau tidak," sahut Pradipta tegas. Ia melepaskan tangan Alana, lalu beralih merapikan anak rambut Alana yang menutupi wajahnya. "Janji padaku, Alana. Tetaplah menjadi Alana yang tadi duduk di depanku saat makan malam. Jangan kembali menjadi mesin."
Alana tidak menjawab dengan kata-kata, namun ia memberikan anggukan kecil yang nyaris tak terlihat. Itu sudah cukup bagi Pradipta.
"Masuklah. Istirahat yang cukup," ujar Pradipta sambil memberikan ruang bagi Alana untuk membuka pintu. "Dan jangan berani-berani mematikan ponselmu jika aku menelepon besok malam."
Alana tersenyum tipis, sebuah senyum tulus yang jarang ia perlihatkan. "Selamat malam, Dipta."
Begitu pintu kamar tertutup, Alana menyandarkan punggungnya di balik pintu, memegang dadanya yang berdegup kencang. Di luar sana, Pradipta masih berdiri sejenak, memastikan Alana benar-benar aman di dalam, sebelum ia melangkah pergi menuju kamarnya untuk berkemas menuju Jakarta.
Alana masih menyandarkan punggungnya di balik pintu kayu yang dingin, namun pikirannya melayang jauh ke sebuah percakapan rahasia yang pernah mereka bagikan beberapa waktu lalu. Kata-kata Pradipta malam itu kembali terngiang, berputar-putar di kepalanya seperti kaset lama yang rusak.
"Melihatmu itu seperti melihat diriku sendiri dalam versi wanita, Alana."
Kalimat itu awalnya terasa janggal bagi Alana, namun setelah Pradipta membuka sedikit demi sedikit tirai hidupnya, Alana mulai memahami kedalaman luka di balik jas mahal pria itu.
Alana memejamkan mata, membayangkan ekspresi Pradipta saat bercerita: "Saya anak tunggal yang memikul semua ambisi ayah saya. Saya bekerja delapan belas jam sehari untuk menyelamatkan perusahaan keluarga yang hampir bangkrut. Saya tidak punya teman, tidak punya waktu untuk jatuh cinta, bahkan tidak punya waktu untuk berduka saat ibu saya meninggal."
Alana merasa jantungnya berdenyut nyeri. Ia ingat betapa saksama ia mendengarkan saat itu, menyadari bahwa di balik otoritas CEO yang dingin, Pradipta adalah seorang pria yang juga pernah "dirantai" oleh tuntutan keluarga.
"Ayah saya terus menuntut lebih. Saat saya berhasil menyelamatkan perusahaan, dia meminta saya membeli aset-aset mewah untuk gengsinya. Sampai suatu hari, saya tumbang. Serangan jantung ringan di usia tiga puluh dua," suara Pradipta dalam ingatan Alana terdengar begitu getir. "Dan kamu tahu apa yang ayah saya katakan saat saya di rumah sakit? Dia tidak bertanya apakah saya sakit. Dia bertanya, 'Siapa yang akan menandatangani kontrak besok kalau kamu di sini?'"
Air mata yang sejak tadi ditahan Alana akhirnya luruh juga. Ia tidak menyangka pria sekuat Pradipta memiliki luka yang serupa dengannya. Bedanya, Alana menjadi mesin uang untuk menutupi hutang dan gaya hidup ibu dan adiknya, sementara Pradipta menjadi mesin ambisi untuk gengsi ayahnya.
Mereka berdua adalah dua jiwa yang sama-sama dipaksa tumbuh tanpa kasih sayang yang tulus, melainkan diukur berdasarkan nilai angka yang bisa mereka hasilkan.
"Pantas saja kamu begitu gigih melindungiku, Dipta," bisik Alana pada kesunyian kamar. "Karena kamu tahu rasanya tidak ada yang bertanya 'apakah kamu lelah?' saat duniamu sedang runtuh."
Mengingat persamaan itu membuat Alana merasa tidak lagi sendirian. Di tengah teror ibunya dan tuntutan Rian yang tak tahu diri, setidaknya ada satu orang di dunia ini yang benar-benar mengerti arti dari setiap helaan napas beratnya.
Alana berjalan menuju tempat tidur dengan perasaan yang sedikit lebih ringan. Meskipun Pradipta akan pergi ke Jakarta besok pagi, ia tahu bahwa di kota yang berbeda, ada seseorang yang sedang berjuang dengan hantu masa lalu yang sama dengannya.