NovelToon NovelToon
Slaughtering The Heavens

Slaughtering The Heavens

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Fantasi Timur
Popularitas:24k
Nilai: 5
Nama Author: YUKARO

Seorang pemuda yang sejak lahir telah ditakdirkan menderita. Bakatnya dicuri, keluarganya dihancurkan, ia dijual sebagai budak. Namun dari abu kehancuran itu, ia bangkit sebagai api yang membakar segalanya.

Xu Hao bukan pahlawan biasa. Ia adalah pemberontak sejati, seseorang yang menolak takdir, menentang kehendak Langit, dan menempuh jalannya sendiri: Dao Pemberontakan. Dengan kekuatan ini, ia mampu melampaui batas-batas kultivasi konvensional, menghancurkan hukum alam, dan bahkan melukai makhluk yang dianggap dewa.

Namun di balik keganasannya, tersimpan luka yang tak pernah sembuh. Cintanya pada Lianxue, gadis yang setia menanti ribuan tahun, menjadi satu-satunya cahaya dalam kegelapan. Dan saat cahaya itu padam, Xu Hao kehilangan segalanya. Enam ribu tahun ia terpuruk dalam kegilaan, hanya mampu menyebut satu nama: Xue'er.

"Ayah ibuku dibunuh. Cintaku mati di pelukanku. Takdir telah mempermainkanku! Kini giliranku mempermainkan takdir."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pemurnian Jiwa Di Tengah Hutan

Saat sore hari, cahaya matahari mulai merambat kemerahan di ufuk barat. Mereka sampai di sebuah hutan besar. Pepohonan menjulang tinggi, ratusan meter, dengan dedaunan lebat yang memancarkan cahaya hijau redup. Di antara pepohonan, kabut tipis melayang, menciptakan suasana mistis.

Tanpa disuruh, Mei Mei, Jin Bao, dan Jin Yuji ingin bergerak melakukan tugas masing-masing. Tapi sebelum itu, mereka menghampiri Xu Hao terlebih dahulu.

"Senior, ini jiwa-jiwa yang kami kumpulkan," kata Mei Mei sambil menyerahkan satu botol kecil.

Jin Bao dan Jin Yuji juga menyerahkan botol mereka. Xu Hao menerimanya, lalu mengeluarkan jiwa-jiwa dari dimensi telapak tangannya. Dua puluh bola cahaya redup melayang di hadapannya, membentuk lingkaran rapat. Mereka berusaha kabur, tapi Dao Pemberontakan langsung membungkus mereka, membuatnya tidak berdaya.

Setelah menyerahkan jiwa-jiwa itu, ketiganya mulai bergerak.

Mei Mei membersihkan area di bawah pohon terbesar. Tangannya mengibas, dan rumput-rumput liar lenyap. Debu dan kotoran tersapu. Ia mengeluarkan tikar kecil dari cincin penyimpanannya, lalu menghamparkan di tanah. Di sekeliling tikar, ia menaburkan bubuk putih yang memancarkan cahaya redup. Bubuk pengusir binatang buas.

Jin Bao mengumpulkan kayu-kayu kering di sekitar. Setelah itu dia meletakkan di dekat Mei Mei, lalu dengan satu hentakan kaki, kayu-kayu itu tersusun rapi membentuk api unggun. Ia menjentikkan jari, dan api menyala. Bukan api biasa, tapi api spiritual berwarna oranye keemasan yang tidak menghasilkan asap.

Jin Yuji pergi berburu. Tak lama kemudian ia kembali dengan seekor binatang besar. Bentuknya seperti rusa, tapi bertanduk emas dan berbulu putih bersih. Tubuhnya sebesar kerbau. Binatang Ilahi Tingkat Menengah, dagingnya berkhasiat untuk pemulihan tenaga dan memperkuat tubuh.

Sementara saat mereka sibuk, Xu Hao berdiri menunggu. Ia mengatur napas, menenangkan pikirannya. Lalu kedua tangannya terangkat, telapak tangan menghadap ke atas.

"Tungku Pemurnian Ilahi."

Suaranya pelan. Di telapak tangannya, proyeksi tungku ungu mulai terbentuk. Tungku itu kecil, hanya sebesar kepalan.

Xu Hao memasukkan semua jiwa ke dalam tungku itu. Dua puluh bola cahaya masuk satu per satu. Begitu masuk, mereka tidak bisa keluar lagi.

Proses pemurnian dimulai.

Xu Hao memejamkan mata. Dao Pemberontakan di dalam tubuhnya bekerja, mengendalikan api ungu di dalam tungku. Api itu membakar jiwa-jiwa, tapi bukan untuk menghancurkan. Untuk memurnikan.

Lapisan pertama yang dibuang adalah karma buruk. Xu Hao bisa melihat kabut hitam keluar dari jiwa-jiwa itu, lalu menguap. Karma buruk dari pembunuhan, kejahatan, pengkhianatan, semuanya lenyap.

Lapisan kedua, niat buruk. Kabut merah keluar, lalu menghilang. Kebencian, iri hati, keserakahan, semua dilepaskan.

Lapisan ketiga, ingatan. Kabut abu-abu keluar, paling tebal. Kenangan masa lalu, suka duka, cinta benci, semua lenyap. Yang tersisa hanya inti murni dari jiwa itu.

Setelah semua lapisan kotor terbuang, yang tersisa di dalam tungku adalah gumpalan-gumpalan cahaya murni. Hukum alam, pemahaman Dao, energi ilahi murni, dan kekuatan jiwa. Semua menyatu menjadi cairan kental berwarna emas keunguan.

Xu Hao membuka matanya. Proses pemurnian selesai. Hanya setengah jam. Ia tersenyum puas.

Sebenarnya ia tidak perlu melakukan ini. Ia bisa langsung menelan jiwa-jiwa itu seperti biasa. Tapi karena ia berjanji membuat pil untuk Mei Mei, Jin Bao, dan Jin Yuji, ia sekalian saja membuat pil untuk dirinya juga. Lagipula, pil lebih mudah disimpan dan lebih efisien penyerapannya.

Cairan di dalam tungku mulai mengental. Xu Hao mengendalikan api dengan hati-hati, membagi cairan itu menjadi dua puluh bagian sama besar. Lalu ia mendinginkannya perlahan.

Setelah beberapa saat, dua puluh pil terbentuk sempurna. Pil-pil itu sebesar kelereng, berwarna emas dengan urat ungu di dalamnya. Aroma manis dan menenangkan tercium darinya, membuat siapa pun yang menciumnya merasa damai.

Xu Hao menamakannya Pil Fragmen Ilahi.

Mei Mei, Jin Bao, dan Jin Yuji yang telah selesai bersiap, kini duduk di dekat api unggun. Mereka menunggu dengan penuh harap. Mata mereka berbinar-binar melihat pil-pil itu.

Xu Hao tersenyum melihat ekspresi mereka. "Kemarilah!"

Ketiganya langsung mendekat dengan wajah berseri-seri.

Xu Hao memberikan lima pil pada Mei Mei. "Ini untukmu. Ambillah."

Mei Mei menerima pil-pil itu dengan kedua tangan, wajahnya bersyukur. "Terima kasih, senior."

Xu Hao mengangguk. Lalu memberikan lima pil pada Jin Bao. "Ini untukmu."

Jin Bao menerimanya dengan hati-hati. Matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, senior sesat! Semoga senior selalu sesat!"

Xu Hao bibirnya berkedut mendengar ucapan itu. Ia mengalihkan pandangan ke Jin Yuji. Memberinya lima pil juga.

"Ini untukmu."

Jin Yuji menerimanya. Matanya berbinar, lalu ia membuka mulut. "Terima kasih, senior. Jika tidak keberatan, mungkin setelah ini senior mau..."

Xu Hao mengangkat tangannya cepat. "Aku keberatan."

Jin Yuji terkekeh, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Padahal aku hanya ingin mengajak senior mengamati presisi bokong patungku setelah pertarungan."

Mei Mei terkikik. "Karena itu senior keberatan, Yuji."

Jin Yuji menghela nafas dramatis. "Sayang sekali. Padahal menurut analisaku, setelah pertempuran besar, mengamati hal-hal indah bisa mempercepat pemulihan jiwa."

Xu Hao menghela nafas panjang. Tapi kemudian ia tersenyum tipis.

"Baiklah, aku sengaja membaginya rata agar tidak ada yang iri. Lima pil untuk masing-masing. Gunakan dengan bijak."

Ketiganya mengangguk patuh.

Lalu mereka menuju ke api unggun, lalu duduk di tikar yang dipersiapkan Mei Mei.

Jin Bao lalu mempersiapkan daging rusa emas yang sudah dipanggang Jin Yuji tadi, kini disajikan di atas daun besar. Daging itu berwarna keemasan, berkilauan karena lemak yang meresap. Aromanya harum, menggugah selera.

Jin Bao juga mengeluarkan dua guci arak ilahi. Guci itu dari tanah liat hitam, dengan segel merah di mulutnya.

"Mari kita makan dulu sebelum meditasi, senior," ajak Jin Bao. "Daging ini enak sekali, apalagi dimakan hangat-hangat."

Xu Hao mengangguk lalu mengambil sepotong daging. Saat digigit, daging itu lumer di mulut. Juicy, gurih, dan penuh energi ilahi. Hangatnya menyebar ke seluruh tubuh.

Perlu diketahui, sebenarnya untuk seorang dewa, makan sama sekali tidak diperlukan. Tubuh mereka sudah bisa menyerap energi ilahi langsung dari alam. Tapi kebiasaan makan sejak di dunia fana, sering kali sulit dihilangkan. Apalagi setelah bertarung, makan dan minum arak sambil bercerita adalah hal paling disukai, bahkan oleh para Dewa Kuno sekalipun.

Mereka makan sambil mengobrol. Jin Bao bercerita tentang pertarungannya melawan tiga Dewa Langit bintang sembilan sendirian. Matanya berbinar, tangannya bergerak-gerak memeragakan adegan pertarungan.

"Aku pukul yang satu, brakk! Kepalanya muter! Yang kedua aku tendang, duss! Dadanya penyok! Yang ketiga..."

"Kau lupa yang ketiga hampir membunuhmu kalau aku tidak membantu," potong Jin Yuji sambil menggigit daging.

Jin Bao tertawa keras. "Ah, iya juga. Tapi tetap saja, aku hebat kan?"

Mereka tertawa bersama. Xu Hao hanya tersenyum tipis, menikmati momen langka ini. Sudah lama ia tidak merasakan kehangatan seperti ini.

Waktu berlalu. Gelap malam menyelimuti hutan. Api unggun tetap menyala, memancarkan cahaya hangat di tengah dinginnya malam. Bintang-bintang di langit mulai bermunculan, berkelap-kelip indah.

Setelah kenyang, Mei Mei, Jin Bao, dan Jin Yuji menyerahkan semua cincin penyimpanan yang mereka kumpulkan. Xu Hao menghitungnya. Ada dua puluh tujuh cincin dari para Dewa Langit yang mereka kalahkan.

Xu Hao mengambil lima cincin, sisanya ia kembalikan. "Ini untuk kalian. Bagi rata."

Mereka bertiga berseri-seri. Isi cincin-cincin itu pasti banyak. Kristal ilahi, pil, senjata, bahan-bahan langka. Lumayan untuk modal perjalanan.

Setelah itu, mereka duduk bersila di posisi masing-masing. Xu Hao di tengah, Mei Mei di kiri, Jin Bao di kanan, Jin Yuji di belakang. Mereka memejamkan mata, mulai bermeditasi.

 

Keesokan paginya, cahaya matahari menembus dedaunan. Xu Hao membuka matanya. Ia sudah siap.

Ia mengeluarkan lima Pil Fragmen Ilahi. Pil-pil itu berkilauan di telapak tangannya. Tanpa ragu, ia memasukkannya ke mulut sekaligus.

Pil-pil itu larut seketika. Energi luar biasa membanjiri tubuhnya. Xu Hao segera memejamkan mata, mengendalikan aliran energi itu dengan Dao Pemberontakan.

Di dalam Dantiannya, proses pelarutan terjadi. Energi dari lima jiwa Dewa Langit murni itu menyebar ke seluruh tubuh. Meridian-meridian melebar, tulang menguat, jiwa membesar.

Waktu berlalu.

Bintang di dahi Xu Hao mulai berubah. Dari bintang satu, perlahan naik ke bintang dua. Lalu bintang tiga. Lalu bintang empat.

Xu Hao tidak berhenti. Ia membuka mata sebentar, mengambil dua pil dari cincin penyimpanan musuh. Pil yang tidak ia kenali, tapi energi di dalamnya sangat kuat. Mungkin pil ciptaan alkemis handal.

Ia menelan kedua pil itu sekaligus.

Energi liar membanjiri tubuhnya. Xu Hao mengendalikannya dengan susah payah. Dao Pemberontakan bekerja keras, memadatkan, memurnikan, menyerap. Dan Xu Hao juga menyerap energi ilahi dari hutan itu untuk menambahkan efektivitas.

Waktu terus berlalu. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan.

Setahun kemudian.

Xu Hao membuka matanya. Cahaya ungu berpendar di kedua matanya, lalu meredup. Ia menyentuh dahinya.

Sembilan bintang. Dewa Langit bintang sembilan. Dan bukan sembarang sembilan. Fondasinya sangat kokoh, sangat padat. Ia bisa merasakan kekuatan yang mengalir di tubuhnya, berkali-kali lipat dari sebelumnya.

Ia menoleh. Mei Mei masih bermeditasi, dan auranya sudah berbeda. Dari bintang tiga, ia kini di bintang sembilan. Jin Bao di bintang sepuluh. Jin Yuji juga di bintang sepuluh.

Xu Hao mengangguk puas. "Bagus. Satu tahun bermeditasi membawa hasil yang memuaskan. Kalian benar-benar sesat."

Mendengar itu, Mei Mei, Jin Bao, dan Jin Yuji membuka mata. Mereka tertawa terbahak-bahak.

Jin Bao memegang perutnya, air mata hampir keluar. "Senior ini sangat pandai bergurau! Jika kami sesat, lalu senior apa? Leluhur Kesesatan?"

Mei Mei tertawa makin keras. Jin Yuji menambahkan, "Mei Mei dari bintang tiga ke bintang sembilan, untuk ukuran orang sesat, itu wajar. Aku dan Bao juga wajar. Tapi senior?" Ia menggeleng-gelengkan kepala dramatis. "Senior itu seorang sesat yang sedang tersesat!"

Mereka tertawa terbahak-bahak. Suara tawa mereka menggema di hutan, membuat burung-burung beterbangan.

Xu Hao bibirnya berkedut. Ia berdiri, membersihkan jubahnya.

"Berhentilah. Ayo lanjutkan perjalanan. Alam Tiga menunggu kita."

Ketiganya berhenti tertawa, lalu bangkit. Wajah mereka bersemangat.

Xu Hao menatap Mei Mei. "Tunjukkan jalan."

Mei Mei mengangguk. "Baik, senior. Ikuti aku."

Ia melesat ke langit. Jin Bao dan Jin Yuji menyusul. Xu Hao di belakang, melesat dengan kecepatan yang kini jauh lebih tinggi.

Mereka meninggalkan hutan itu, menuju petualangan berikutnya. Alam Tiga menanti, dengan segala tantangan dan misterinya.

1
OldMan
kau harus berjuang xu hao..perjuangkan lianxue ❤️❤️
Sarip Hidayat
waaah
Fajar Fathur rizky
thor kapan xuemo dan haoran naik ke alam dewa thor
Adriel Benedict
😂😂😂😂😂😂😂 bikin heboh ja gara2 minum arak tu lupa menghitung pukulannya 🤣
Dieng April
naikin...naikin...biar cepet selesai nih cerita...diem baca nikmati alur cerita....TOLLLL
EDI FITRIANTO
seru..
EDI FITRIANTO
👍👍👍
Fajar Fathur rizky
cepat naikin ranah kultivasi xuhao sampai ranah dewa kuno habis itu bantai dewa Agung qianyu beserta keluarganya thor bikin xuhao hancurkan klanya qianyu thor
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lanjut
xi tole
ahhhh lupa ingatan lagi🤭
Sarip Hidayat
waaaaah... salah ingatan
Fajar Fathur rizky
thor tolong di jawab thor kapan xuemo dan haoran ke alam dewa thor
Fajar Fathur rizky
cepat nanti bangkitkan kembali lianxue thor bikin anjak lianxue bantai dan hancurkan alam dewa
Dragon🐉 gate🐉
Thanks Up nya Thor lanjut 🍉💪🏻🔥🍉
Dragon🐉 gate🐉
level tertinggi dari Cinta adalah ikhlas...
dan Tahta tertinggi untuk Cinta adalah Cinta kpd Tuhan
Dragon🐉 gate🐉
pasti kontes otot lagi dia😁🤣🤣💪🏻
Dragon🐉 gate🐉
apakah Xu Hao & wanita ini akan seperti kisah Xue Mo & Bingwan 🤔
Dragon🐉 gate🐉
"... sepertinya pertarungan kita setahun yang lalu tidak membuatmu*jera*."
"...sepertinya pertarungan kita setahun yang lalu tidak memberikan efek jera padamu"
Dragon🐉 gate🐉
ternyata Lumo lbh sadiz drpd Xu Hao, 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!