Di tengah beban hidup yang menghimpit, Xiao Han— pemuda 22 tahun yang menjadi tulang punggung keluarga, berjuang mati-matian menghidupi ibunya yang lumpuh serta membiayai pendidikan adik perempuannya yang baru kelas 1 SMP. Gaji sebagai tukang antar surat tak pernah cukup untuk menutupi biaya pengobatan dan kebutuhan sehari-hari.
Dengan putus asa namun tekad kuat, Xiao Han akhirnya membuka jasa panggilan pria, dan mempromosikannya secara diam-diam di media sosial. Awalnya hanya sebagai cara bertahan hidup, layanan ini perlahan membawanya masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: pertemuan-pertemuan rahasia, rahasia klien, dan batasan moral yang terus diuji.
Hingga suatu malam, satu panggilan khusus datang, sebuah pengalaman yang tak terduga, penuh risiko, dan emosi yang mengubah segalanya. Pertemuan itu bukan hanya mengguncang hidupnya saat ini, melainkan juga membuka pintu menuju masa depan yang akan mengubah kehidupannya secara drastis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Vina masih terbaring telentang di atas seprai putih yang sudah kusut dan sedikit basah oleh minyak dan keringat. Napasnya perlahan mulai stabil, tapi matanya yang besar dan gelap itu tetap terpaku pada Xiao Han. Wajahnya memerah, bibirnya sedikit terbuka, dan ada kilau samar di sudut matanya, bukan air mata, tapi sisa ekstasi yang belum sepenuhnya surut.
Xiao Han duduk di pinggir tempat tidur, tangannya masih licin oleh minyak ylang-ylang dan jasmine. Dia hendak bangun untuk mengambil handuk dan membersihkan diri, tapi Vina tiba-tiba meraih pergelangan tangannya dengan lembut tapi tegas.
"Jangan pergi dulu," bisiknya, suaranya serak dan penuh permohonan. *Belum selesai."
Xiao Han menoleh. "Mbak Vina... tadi sudah—"
"Belum," potong Vina cepat. Dia duduk perlahan, rambut cokelatnya jatuh menutupi sebagian dada yang masih naik-turun. Kulitnya berkilau karena minyak dan keringat tipis, membuat tubuhnya terlihat seperti patung marmer yang hidup di bawah cahaya pagi yang lembut. “Aku ingin lebih, Kak. Bukan cuma pijatan dan lidah. Aku ingin merasakan kamu... sepenuhnya."
Dia merangkak mendekat, lututnya menyentuh paha Xiao Han. Jarak mereka hanya beberapa senti sekarang. Vina mengangkat tangan, menyentuh dada Xiao Han melalui kemeja yang sudah setengah terbuka karena gerakan tadi. Jari-jarinya menyusuri garis otot di perutnya, lalu turun ke pinggang celana.
"Kamu bisa tolak kalau nggak mau," katanya pelan, tapi matanya berkata sebaliknya, penuh harap dan hasrat yang sudah terbuka lebar. "Tapi aku bayar lebih kalau kamu mau lanjut. Sepuluh juta lagi sekarang, transfer langsung. Dan... kalau kamu stay sampai siang, aku tambah lagi."
Xiao Han menelan ludah. Pikirannya berputar cepat: uang itu bisa menutup hampir setengah DP terapi ibunya. Tapi di balik itu, ada rasa bersalah yang semakin menekan, Xiao Mei yang mungkin menunggu di rumah, ibu yang sesak napas pagi ini, dan Lin Qing yang pesannya belum dibalas sejak kemarin.
Tapi Vina tidak memberi waktu untuk berpikir terlalu lama. Dia mencondongkan tubuh, bibirnya menyentuh bibir Xiao Han dengan lembut dulu, lalu semakin dalam. Ciumannya manis, penuh rasa lapar yang belum terpuaskan. Tangannya membuka kancing kemeja Xiao Han satu per satu, lalu menariknya lepas.
Xiao Han tidak melawan. Tubuhnya bereaksi lebih cepat daripada pikirannya. Dia membalas ciuman itu, tangannya merangkul pinggang ramping Vina, merasakan kehangatan kulit yang masih licin minyak. Vina mengerang pelan di mulutnya, tubuhnya merapat lebih dekat.
Dia mendorong Xiao Han telentang ke kasur, naik ke atasnya dengan gerakan lincah. Dua gunung kecil yang tegas itu menekan dada Xiao Han, puncaknya menggesek kulitnya dengan setiap gerakan napas. Vina meraih buah pisang Xiao Han yang sudah tegang lagi, mengelusnya pelan dengan tangan yang masih hangat oleh minyak.
"Aku ingin merasakan kamu di dalam," bisiknya tepat di telinga Xiao Han. "Pelan dulu... biar aku nikmati setiap inci."
Xiao Han mengangguk pelan, tangannya memegang pinggul Vina. Gadis itu mengangkat tubuhnya sedikit, memposisikan danau surga yang sudah basah dan siap tepat di atasnya. Dia turun perlahan, sangat perlahan, matanya tertutup rapat saat merasakan Xiao Han memasukinya sepenuhnya.
"Akh..." desah Vina panjang, tubuhnya bergetar hebat. Pinggulnya mulai bergerak naik-turun dengan ritme lambat tapi dalam, setiap gerakan membuatnya mengerang lebih keras. Xiao Han memegang pinggulnya lebih erat, membantu mengatur irama, kadang mendorong ke atas untuk bertemu gerakan Vina.
Vina membungkuk, rambutnya jatuh menutupi wajah mereka berdua. Bibirnya mencari bibir Xiao Han lagi, ciuman yang basah dan penuh nafsu. Tangannya meremas dada Xiao Han, kuku-kukunya meninggalkan bekas merah tipis.
"Lebih cepat, Kak..." pintanya, suaranya pecah. "Aku mau... sampai lagi..."
Xiao Han membalikkan posisi dengan satu gerakan kuat. Kini Vina di bawah, kakinya melingkar di pinggang Xiao Han. Dia mendorong lebih dalam, lebih cepat, setiap dorongan membuat Vina menjerit kecil dan melengkungkan punggungnya. Tubuh mereka saling bertabrakan dengan ritme yang semakin liar, suara kulit bertemu kulit bercampur dengan desahan dan erangan yang tak lagi bisa ditahan.
Vina mencapai puncak kedua lebih cepat dari yang pertama. Tubuhnya menegang keras, danau surganya berdenyut kuat di sekitar Xiao Han, membuatnya ikut terbawa. Dia menarik diri tepat di saat terakhir, melepaskan di perut Vina yang rata dan berkilau minyak. Vina menggeliat pelan, jarinya menyentuh cairan hangat itu, lalu menjilat ujung jarinya dengan senyum puas.
Mereka berdua terbaring berdampingan, napas tersengal. Vina memeluk pinggang Xiao Han dari samping, kepalanya bersandar di dada pria itu.
"Terima kasih..." bisiknya. "Ini... lebih dari yang aku bayangkan."
Xiao Han menatap langit-langit kamar, pikirannya kembali ke realitas. Ponselnya bergetar di lantai, mungkin pesan dari Xiao Mei, atau dari Lin Qing yang mulai curiga kenapa dia tidak membalas.
Vina mencium pipinya pelan. "Stay sampai siang ya? Aku masak makan siang. Kita bisa... lanjut lagi kalau kamu mau."
Xiao Han diam sejenak, lalu mengangguk pelan, bukan karena ingin, tapi karena dia tahu, semakin dalam dia masuk ke dunia ini, semakin sulit keluar.
Dan pagi itu, di kamar mewah yang sunyi, dia merasa dirinya semakin jauh dari Xiao Han yang dulu, pemuda sederhana yang hanya ingin menyelamatkan keluarganya.