NovelToon NovelToon
00:00: 12 Menit Menuju Hatimu

00:00: 12 Menit Menuju Hatimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:95
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Sepuluh tahun bersahabat, satu menit untuk jatuh cinta, dan dua belas menit untuk mempertaruhkan segalanya.

Tepat pukul 23:48 di malam pergantian tahun, Arka memiliki satu misi gila: Menyatakan cinta pada Lala, sahabat masa kecilnya, sebelum kembang api pertama meledak. Namun, semesta seolah sedang bercanda. Mulai dari sinyal yang timbul tenggelam, serangan video call grup keluarga yang heboh, hingga baterai ponsel yang tersisa 1%.

Di tengah riuhnya Jakarta, setiap detik adalah pertaruhan. Apakah pesan "Aku suka kamu" akan sampai sebelum jam berubah menjadi 00:00? Ataukah Arka harus menahan rindu dan penyesalan satu tahun lagi?

"Ikuti perjalanan chat paling mendebarkan dalam 12 menit terakhir tahun ini!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Video Call Massal: Ancaman Pertama

Bab 18: Video Call Massal: Ancaman Pertama

Waktu masih mencekik di angka 23:49, namun ketenangan mikroskopis yang kucoba pertahankan sejak Bab 1 kini meledak menjadi kekacauan total. Tepat setelah stiker kucing Paman Harris menghilang (Bab 17), sebuah entitas digital yang jauh lebih destruktif mengambil alih seluruh layar ponselku.

Ponsel di tanganku tidak lagi sekadar bergetar pendek; ia berguncang hebat dengan ritme yang konstan dan mendesak. Sebuah panggilan video grup dari "Keluarga Besar Bani Mansyur" meledak di permukaan layar.

Secara fisiologis, aku merasakan lonjakan adrenalin yang mematikan. Gelombang elektromagnetik dari panggilan ini seolah-olah beresonansi langsung dengan detak jantungku yang sudah tidak sinkron (Bab 1). Antarmuka WhatsApp berubah secara radikal; kolom chat Lala yang berisi huruf 'L' tunggal itu lenyap, digantikan oleh latar belakang hitam pekat dengan ikon gagang telepon yang menari-nari.

Di tengah layar, terpampang nama-nama yang saat ini menjadi musuh bagi misiku: Paman Harris, Tante Lastri, Sepupu Rina, dan 7 orang lainnya sedang memanggil...

Kepanikan motorik segera melanda. Secara mikroskopis, aku memperhatikan bagaimana jempol kananku—yang tadi bersiap mengetik huruf 'A'—kini kehilangan presisinya. Otot adductor pollicis di pangkal jempolku mengalami tremor frekuensi tinggi. Aku harus mematikan ini. Aku harus kembali ke Lala.

Dua ikon bulat besar muncul di bagian bawah layar: Merah di kiri untuk menolak, dan Hijau di kanan untuk menerima.

Secara logika, pilihannya sangat sederhana. Namun, dalam kondisi overload sensorik akibat dentum musik panggung dan bau sulfur kembang api (Bab 9), koordinasi mata dan tanganku mengalami desinkronisasi. Aku berniat menekan ikon merah. Namun, tepat saat ujung jempolku yang lembap oleh keringat dingin (Bab 7) bergerak menuju sisi kiri, ponselku sedikit bergeser karena getarannya sendiri di atas telapak tanganku yang licin.

Tap.

Aku merasakan sensasi haptik yang salah. Bukan getaran penolakan yang sunyi, melainkan getaran koneksi yang aktif. Layar hitam itu mendadak terbagi menjadi kotak-kotak kecil yang mulai memuat gambar secara acak.

"Oh, tidak," desisku.

Aku baru saja menekan tombol "Terima".

Seketika, kamera depan ponselku aktif. Sebuah titik cahaya hijau kecil di samping lensa kamera menyala, menandakan bahwa privasiku kini menjadi konsumsi publik. Dalam hitungan milidetik, wajahku muncul di salah satu kotak kecil di layar. Aku melihat pantulan diriku sendiri secara mikroskopis: dahi yang mengkilap karena peluh, mata yang membelalak karena horor, dan latar belakang lampu kota Jakarta yang blur.

"ARKA! ITU ARKA!" Suara cempreng Tante Lastri meledak dari speaker ponsel, bersaing dengan hiruk pikuk di sekitarku.

Wajah Paman Harris muncul di kotak utama, sangat dekat dengan kamera hingga aku bisa melihat pori-pori kulitnya dan sisa jagung bakar di giginya. "Woi, Arka! Ke mana aja kau? Sombong kali!"

Analisis risiko di otakku bekerja secepat prosesor octa-core.

* Risiko Identitas: 142 anggota keluarga potensial bisa melihatku.

* Risiko Lokasi: Mereka akan menyadari aku tidak sedang di rumah.

* Risiko Fatal: Kamera sudut lebar (wide-angle) ponselku mungkin menangkap siluet Lala yang berdiri hanya tiga puluh sentimeter di sampingku (Bab 5).

"Ka? Itu siapa?" Lala bertanya, kepalanya sedikit condong ke arah layar ponselku.

Kepanikan absolut. Jika Lala masuk ke dalam bingkai kamera, malam ini akan berubah dari "pengakuan cinta" menjadi "sidang keluarga besar". Aku segera melakukan gerakan mikro: memiringkan posisi ponsel ke arah yang ekstrem (lebih ekstrem dari Bab 8), hingga punggungku menghalangi pandangan Lala terhadap layar, sekaligus memastikan kamera hanya menangkap dinding beton atau langit gelap di belakangku.

"Eh, Arka! Itu siapa di sampingmu? Cewek ya?" suara Sepupu Rina terdengar melengking, penuh nada interogasi.

Aku memperhatikan kotak kecil yang menampilkan wajahku di layar. Karena sudut pengambilan gambar yang rendah (akibat tanganku yang gemetar), daguku terlihat berlipat dan lubang hidungku tampak mendominasi bingkai. Ini adalah bencana estetika sekaligus bencana komunikasi.

Secara mikroskopis, aku melihat ikon mikrofon dan ikon kamera di bagian bawah layar panggilan. Aku harus mematikan kamera ini sekarang juga.

Namun, dalam kegelapan malam, pupil mataku kesulitan membedakan ikon-ikon tersebut di tengah kekacauan gambar wajah kerabatku yang terus bermunculan.

"Halo? Arka? Sinyalmu jelek ya? Kok diam aja?" Paman Harris berteriak-teriak, wajahnya bergerak-gerak secara kinetik di layar.

Aku merasakan panas baterai mulai merambat ke telapak tanganku (seperti yang akan dibahas lebih dalam di Bab 35). Beban kerja ponsel untuk melakukan encoding video secara real-time di tengah kerumunan yang juga menggunakan bandwidth besar membuat suhu perangkat meningkat drastis. Sensasi termal ini menambah beban mental; aku merasa seolah-olah ponsel ini adalah bom waktu yang sedang membakar kulitku.

Tanganku terus mencari tombol "End Call". Namun, layar ponselku mendadak mengalami lag. Frame rate video keluarga Bani Mansyur menurun, wajah Paman Harris membeku dalam posisi mulut terbuka, menciptakan ekspresi grotesk yang menghantui layarku.

Inilah ironi digital di menit 23:49. Aku ingin keluar, tapi perangkatku justru "mengunci" aku di dalam ruang virtual yang tidak kuinginkan.

"Arka, kok mukamu tegang banget?" Suara Lala terdengar sangat dekat di telinga kiriku. Dia belum menyerah untuk mencari tahu apa yang terjadi.

Aku melakukan manuver fisik terakhir. Aku menekan tombol power di samping ponsel secara paksa, berharap layar akan mati dan memutus koneksi secara sepihak. Namun, sistem operasi ponselku justru menampilkan menu "Restart" karena aku menekannya terlalu lama dalam kondisi panik.

"Sial," umpatku lagi.

Di layar yang setengah membeku, aku melihat notifikasi teks baru meluncur dari atas, menutupi wajah membeku Paman Harris.

Grup: Keluarga Besar Bani Mansyur

Tante Lastri: "Tadi Arka kayak sama cewek! Siapa ya? Kok langsung dimatiin?"

Spekulasi telah dimulai. Gosip keluarga sedang diproduksi secara massal dalam hitungan detik.

Akhirnya, koneksi terputus sendiri karena gangguan sinyal di area Bundaran HI yang sangat padat. Layar kembali ke tampilan chat WhatsApp. Huruf 'L' itu masih di sana, berkedip tenang seolah tidak terjadi apa-apa, sementara di belakangnya, duniaku baru saja mengalami invasi besar.

Aku menurunkan tangan, merasakan otot biceps dan deltoid-ku pegal luar biasa karena menahan posisi ponsel yang canggung. Aku menatap Lala.

Dia menatapku dengan alis terangkat, menuntut penjelasan yang tidak mampu kuberikan tanpa merusak seluruh draf perasaan yang sedang kususun.

Ancaman pertama dari Sub-Arc keluarga ini telah lewat, namun dampaknya baru saja dimulai. Aku menyadari bahwa sekarang bukan hanya waktuku yang sempit, tapi reputasiku di depan keluarga besar sedang dipertaruhkan jika aku tidak segera menyelesaikan urusanku dengan Lala.

Aku kembali menatap kursor itu. Karakter 'L' itu seolah bertanya: "Setelah semua kekacauan ini, apakah kau masih berani melanjutkan?"

Aku menarik napas panjang, mencoba menstabilkan sistem pernapasanku yang kembali dangkal (Bab 14). Namun, sebelum jempolku sempat menyentuh huruf 'A', sebuah getaran pendek kembali muncul.

Tante Lastri belum selesai. Sebuah pesan teks baru muncul di bilah notifikasi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!