Dunia telah retak, bukan hanya di permukaannya, melainkan di benak dan jiwa segala yang bernyawa. Kegelapan Umbra bukan sekadar musuh yang bisa ditusuk pedang, melainkan kabut tebal yang memisahkan hati dari hati, harapan dari kenyataan, dan cahaya dari tempatnya berpijak. Alam semesta kini hanyalah kepingan-kepingan kaca yang pecah, masing-masing memantulkan bayangan kesendirian yang suram, menunggu tangan yang berani menyatukannya kembali.
Di tengah kehampaan itu, hadirlah Luminar. Bukan sebagai benda, bukan pula sebagai sosok yang bisa dipeluk atau dilihat mata telanjang. Luminar adalah bisikan yang melayang di sela-sela angin, adalah denyut nadi yang tak terlihat namun terasa di setiap detak jantung yang masih berharap. Ia adalah entitas misterius yang wujudnya berubah-ubah bagaikan cahaya yang menembus prisma—kadang berupa aurora yang menari di langit malam, kadang berupa kilatan samar yang hanya muncul di sudut mata saat kita merasa paling sepi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nostalgic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Saat Duka Menutup Mata dari Bahaya
Tiba-tiba, suara alarm rumah sakit memekakkan telinga terdengar di seluruh gedung. Suara itu berulang-ulang, penuh urgensi dan ketakutan, mengumumkan bahwa ada serangan monster di dekat area tersebut.
Heras tersadar seketika dari lamunannya. Jantungnya berdegup kencang. Ia segera menoleh ke arah jendela, matanya mencari-cari arah kerusuhan, mencari sumber bahaya yang sedang mengancam. Namun, di sampingnya, pria paruh baya itu hanya berdiri tegak di tempatnya, diam saja seolah tidak ada hal buruk yang sedang terjadi.
Heras bisa merasakan tatapan tajam pria itu terus mengikutinya, seolah sebuah rantai tak terlihat yang mengikatnya di tempat ini. "Jika dia masih di sini, aku tidak bisa pergi ke sana," batin Heras gelisah. Ia tidak bisa bertransformasi atau pergi bertarung selagi mata pria itu terus mengawasinya.
"Kenapa kau masih di sini dan tidak pergi menyelamatkan orang?" tanya Heras dengan nada mendesak, menahan rasa frustrasi yang membara. "Bukankah kau adalah anggota pasukan? Kenapa kau tidak bertindak?"
Pria itu menatapnya datar, lalu menjawab dengan nada yang tenang namun penuh wibawa: "Aku adalah ahli strategi pasukan. Kenapa aku harus turun langsung ke medan pertempuran ketika ada orang lain yang bisa melakukannya?"
Jawaban itu membuat Heras ingin meledak, tapi ia tahu ia harus tetap tenang. Ia butuh alasan untuk pergi. "Baiklah, izinkan aku ke toilet," katanya sekenanya.
"Aku akan antarmu, nak," jawab pria itu tanpa ragu, langkahnya sudah siap mengikuti.
"Sialan, orang ini sangat bebal," gerutu Heras dalam hati. Ia hanya diam, menatap tajam pria itu, otaknya bekerja cepat mencari cara untuk lolos.
"Kenapa, nak? Mau di sini saja dan ngompol di celana?" ejek pria itu dengan senyum mengejek, seolah menikmati ketegangan yang dialami Heras.
Saat itulah, suara ledakan dahsyat terdengar dari arah luar, memecah ketegangan di ruangan. Heras refleks menoleh ke belakang, ke arah jendela. Asap tebal dan hitam mengepul tinggi, menyelimuti salah satu area perumahan yang tidak jauh dari sana. Pemandangan itu membuat mata Heras terbelalak ngeri.
"Ini bukan saatnya untuk takut pada pasukan! Luminar telah memilihku, dia percaya padaku!" batin Heras, dan seketika itu juga, tekad yang menggebu-gebu meledak di dalam dadanya, mengalahkan rasa takutnya pada pria di sampingnya.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Heras bergegas menuju pintu koridor. Dengan sigap, ia mengelabui pria itu. Ia mendorong kursi rodanya dengan kekuatan penuh, melesat keluar lebih dulu sebelum pria itu sempat menahannya. Begitu kakinya melangkah keluar ruangan, Heras dengan cepat memutar kunci pintu dari luar, mengunci pria itu di dalam.
Klik!
Pintu terkunci rapat. Heras tidak menunggu. Ia segera menekan dadanya dengan kuat. Cahaya terang menembus keluar dari dadanya, menyilaukan pandangan. Ia menarik tangannya ke samping, dan seketika cahaya itu menyelimuti seluruh tubuhnya dengan kilau yang mempesona. Dalam sekejap, sosok Luminar Putih berdiri tegak di koridor.
Heras—kini dalam wujud Luminar—dengan cepat berlari menuju pintu evakuasi yang ada di sudut lorong. Di sana, sebuah balkon terbuka menghadap ke langit biru yang kini terlihat suram karena asap. Tanpa ragu sedikitpun, ia melompat dari sana, meluncur turun dari ketinggian gedung rumah sakit.
BUM!
Tanah berhamburan saat ia mendarat dengan kuat, menciptakan retakan kecil di aspal. Tanpa menghiraukan apa pun di sekitarnya, ia dengan cepat bergegas menuju tempat kejadian, menembus kepulan asap dan suara kepanikan warga.
Namun, apa yang terlihat di depan matanya membuat napasnya tercekat. Itu adalah pemandangan yang mengerikan dan memilukan. Darah semburat merah di mana-mana, membasahi jalanan dan dinding bangunan. Di hadapannya, terdapat sekelompok monster kuda laut dalam jumlah yang sangat banyak.
Di tengah kerumunan monster itu, seekor kuda laut berukuran besar terus menerus menghasilkan telur-telur raksasa. Telur-telur itu pecah dengan cepat, menetas menjadi kuda laut muda yang siap bertempur dalam hitungan detik. Mereka adalah gerombolan yang sangat mengandalkan jumlah. Dengan perut mereka yang keras dan keras, mereka menabrak apa saja yang ada di hadapan mereka, bekerja sama untuk menjepit dan menghancurkan manusia yang berusaha lari.
Heras merasa perutnya mual melihat kekacauan dan pembantaian itu. Namun, di tengah suara hiruk-pikuk dan raungan monster, ia mendengar sesuatu yang lain—suara rintihan lemah seorang anak kecil.
Hati Heras tersentak. Ia segera mendekati sebuah gang sempit di dekat sana, mengikuti sumber suara itu. Dan apa yang ia temukan di sana membuat dunianya seakan runtuh.
Seekor kuda laut sedang asyik memakan tubuh seorang gadis kecil. Tubuh gadis itu sudah tersisa setengah, namun wajahnya masih utuh. Heras menatap wajah itu yang penuh berlumuran darah. Matanya kosong dan dingin, kulitnya pucat pasi, dan ekspresi ketakutan yang kaku membeku di wajahnya.
Terlambat. Ia terlambat menyelamatkannya.
Heras mengenali wajah itu. Itu adalah gadis kecil yang pernah ia tolong dulu saat terjadi kebakaran. Kenangan itu berputar cepat di kepalanya, beradu dengan kenyataan pahit di hadapannya. Pikiran Heras menjadi kacau balau, melayang ke mana-mana. Hatinya terasa kosong, seolah ditarik keluar dari rongga dadanya. Ia menjadi kalang kabut, fokusnya pada medan pertempuran lenyap begitu saja. Ia tidak sadar, tidak menyadari bahwa di belakangnya, seekor kuda laut lain sudah diam-diam mendekat, siap untuk menyerang.