NovelToon NovelToon
SELESAI MENJADI SABAR

SELESAI MENJADI SABAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Slice of Life / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Keluarga / Suami Tak Berguna
Popularitas:15.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Lima tahun Hana mengabdi sebagai istri dan menantu yang sempurna, meski hanya dianggap sebagai pelayan tak berbayar. Ia rela makan sisa rendang di ujung meja dan menelan hinaan setiap hari demi keutuhan rumah tangga.
Namun, saat Hana menemukan Aris—suaminya—sengaja menyembunyikan uang puluhan juta sementara putra mereka terancam putus sekolah karena SPP menunggak, Hana sadar: kesabarannya telah habis.
Hana pergi membawa ijazah akuntansi yang selama ini berdebu di gudang. Dari seorang ibu rumah tangga yang tertindas, ia bertransformasi menjadi akuntan tangguh di bawah bimbingan Adrian, CEO dingin yang membantunya mengungkap borok finansial keluarga Aris.
Hana tidak membalas dengan amarah, ia membalas dengan cara yang paling menyakitkan: menjadi jauh lebih sukses dan menghancurkan harga diri Aris di meja hukum. Ternyata, berhenti menjadi sabar adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Gema di Ruang Sidang

Pagi itu, udara di sekitar Pengadilan Negeri Jakarta Selatan terasa lebih berat dari biasanya. Bagi Hana, gedung ini bukan lagi tempat yang asing, namun setiap kali kakinya melangkah di atas ubin marmernya yang dingin, memori tentang perceraiannya yang menyakitkan seolah bangkit kembali. Namun, kali ini tujuannya berbeda. Ia hadir bukan sebagai istri yang memohon kebebasan, melainkan sebagai saksi pelapor sekaligus korban dalam kasus pemerasan dan pencemaran nama baik yang melibatkan Aris dan Pak Mulyono.

Di lorong pengadilan, Hana berdiri didampingi Baskara. Ia mengenakan setelan blazer berwarna cokelat tua yang senada dengan celana kainnya, memberikan kesan profesional sekaligus rendah hati. Rambutnya diikat rapi ke belakang, memperlihatkan rahangnya yang tegas.

"Ibu Hana, tenang saja. Semua bukti sudah masuk ke jaksa penuntut umum. Rekaman suara dan kesaksian dari tim keamanan gedung sangat memberatkan mereka," ujar Baskara sambil memeriksa beberapa berkas di tangannya.

Hana mengangguk pelan. "Saya hanya ingin ini cepat selesai, Pak Baskara. Saya lelah melihat wajah mereka."

Tak lama kemudian, sebuah mobil tahanan berhenti di samping pintu masuk khusus. Aris keluar dengan mengenakan rompi tahanan berwarna oranye mencolok. Tangannya terborgol di depan. Wajahnya yang dulu sering tampak sombong kini terlihat kusam, rambutnya acak-acakan, dan matanya cekung. Di belakangnya, Pak Mulyono berjalan dengan langkah yang diseret, tampak jauh lebih tua dari usia sebenarnya.

Saat mereka melewati Hana, Aris sempat berhenti sejenak. Matanya menatap Hana dengan tatapan yang sulit diartikan—antara benci, malu, dan barangkali sedikit penyesalan yang terlambat. Namun, Hana tidak membalas tatapan itu. Ia membuang muka, menatap lurus ke arah pintu ruang sidang utama.

Sidang dimulai dengan pembacaan dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum. Di kursi terdakwa, Aris tertunduk lesu, sementara Pak Mulyono berkali-kali terbatuk kecil, mencoba menarik simpati hakim dengan kondisinya yang tampak lemah. Namun, hakim ketua yang memimpin sidang adalah seorang wanita paruh baya yang terkenal sangat disiplin dan tidak mudah terpengaruh oleh sandiwara di ruang sidang.

"Saudara Terdakwa satu, Aris, apakah benar Anda yang merencanakan pengambilan foto-foto tersebut bersama Terdakwa dua?" tanya Hakim Ketua.

Aris berdiri dengan goyah. "Benar, Yang Mulia. Tapi... tapi saya melakukannya karena terdesak. Saya kehilangan pekerjaan, dan ibu saya sakit keras. Saya hanya ingin meminta bantuan dari mantan istri saya."

"Meminta bantuan dengan cara memeras satu miliar rupiah?" sela Hakim dengan nada dingin. "Itu bukan meminta bantuan, itu adalah tindak pidana."

Hana kemudian dipanggil ke kursi saksi. Saat ia duduk di sana, ia bisa merasakan tatapan tajam dari keluarga Aris yang duduk di bangku pengunjung. Deni dan bibinya ada di sana, menatap Hana dengan penuh kebencian. Namun, Hana menarik napas panjang dan mulai memberikan kesaksiannya dengan suara yang jernih dan sangat stabil.

Ia menceritakan kronologi sejak Pak Mulyono mendatanginya di kantor, ancaman yang diterima melalui paket foto, hingga konfrontasi di kafe. Hana tidak melebih-lebihkan, namun ia juga tidak mengurangi satu detail pun. Kejujurannya terasa sangat kontras dengan pembelaan Aris yang berbelit-belit.

"Yang Mulia," ujar Hana di akhir kesaksiannya. "Saya telah memberikan kesabaran saya selama lima tahun pernikahan kami. Saya bahkan tetap memberikan bantuan finansial pasca perceraian untuk pengobatan mantan mertua saya. Namun, apa yang mereka lakukan bukan lagi masalah keluarga, melainkan serangan terencana terhadap martabat dan karier saya. Saya memohon keadilan yang seadil-adilnya."

Setelah sesi kesaksian selesai, hakim menunda sidang untuk dilanjutkan minggu depan dengan agenda mendengarkan saksi ahli dan saksi dari pihak terdakwa. Saat Hana melangkah keluar dari ruang sidang, ia dihadang oleh bibi Aris di lorong.

"Hana! Kamu benar-benar tidak punya hati! Lihat Aris, dia hancur gara-gara kamu! Kamu senang melihat dia pakai baju oranye begitu?" teriak wanita itu sambil mencoba mendekat, namun segera dihalangi oleh petugas keamanan pengadilan.

Hana berhenti sejenak, menatap wanita itu dengan tenang. "Bukan saya yang memakaikan baju itu padanya, Tante. Dia sendiri yang memilih untuk memakainya saat dia memutuskan untuk memeras saya. Jangan salahkan saya atas kegagalan kalian mendidik Aris menjadi pria yang jujur."

Kalimat itu membungkam bibi Aris seketika. Hana terus berjalan menuju parkiran, di mana Adrian sudah menunggunya di samping mobil. Adrian tidak masuk ke ruang sidang untuk menghindari spekulasi publik, namun ia tetap hadir di sana sebagai pendukung yang tak terlihat.

"Bagaimana sidangnya?" tanya Adrian sambil membukakan pintu untuk Hana.

"Melelahkan, tapi saya rasa hakim sudah tahu siapa yang berbohong," jawab Hana. Ia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil, memejamkan mata sejenak untuk mengusir rasa pening yang menyerang.

"Kita mampir makan siang dulu? Ada tempat baru di dekat sini yang suasananya sangat tenang," tawar Adrian.

Hana mengangguk. "Ya, saya butuh suasana yang tidak berbau kayu tua dan kertas dokumen."

Restoran yang dipilih Adrian berada di sebuah rumah tua yang dikonversi menjadi galeri seni dan kafe. Suasananya sangat asri dengan banyak tanaman hijau dan suara gemericik air dari kolam ikan di tengah ruangan. Di sana, untuk pertama kalinya sejak pagi, Hana bisa benar-benar mengembuskan napas lega.

Sambil menunggu pesanan datang, Adrian menatap Hana dengan pandangan yang penuh apresiasi. "Kamu tahu, Hana? Setiap kali saya melihatmu di situasi sulit seperti tadi, saya selalu kagum. Kamu punya ketenangan yang tidak dimiliki banyak orang."

Hana tersenyum tipis. "Ketenangan ini mahal harganya, Adrian. Ini dibangun dari air mata bertahun-tahun. Saya hanya merasa... jika saya meledak sekarang, maka Aris menang. Dia ingin saya terlihat emosional dan tidak stabil. Saya tidak akan memberinya kepuasan itu."

"Ngomong-ngomong soal kantor," Adrian mengganti topik agar suasana tidak terlalu berat. "Pak Winata sangat puas dengan penangananmu terhadap masalah Pak Danu kemarin. Beliau bilang, integritasmu adalah aset terbesar divisi keuangan saat ini. Ada selentingan bahwa setelah proyek Vietnam ini sukses, kamu akan dipersiapkan untuk posisi yang lebih tinggi lagi."

Hana mengangkat alisnya. "Lebih tinggi dari Manajer Senior? Itu berarti level direksi?"

"Bisa jadi. Tapi tentu saja, tanggung jawabnya akan jauh lebih besar," ujar Adrian. "Apakah kamu siap?"

Hana terdiam sejenak. Ia memikirkan perjalanannya dari seorang istri yang tertekan hingga menjadi wanita karier yang diperhitungkan. "Saya siap untuk apa pun, Adrian. Selama itu atas hasil kerja keras saya sendiri, saya tidak akan takut."

Malam harinya, di apartemen, Hana kembali bertemu dengan kenyataan hidupnya yang jauh lebih sederhana namun hangat. Bi Inah telah menyiapkan semur daging kegemarannya. Sambil makan, Bi Inah bercerita bahwa Deni sempat menelepon lagi, namun Bi Inah langsung mematikan teleponnya sesuai instruksi Hana.

"Non Hana, tadi Bibi dengar dari tetangga lama di rumah Pak Aris," ujar Bi Inah ragu-ragu. "Katanya... rumah besar Pak Aris itu mau disita bank karena cicilannya sudah menunggak enam bulan."

Hana terhenti sejenak, sendoknya menggantung di udara. Rumah itu... rumah penuh kenangan pahit namun juga tempat ia menghabiskan lima tahun hidupnya. Aris memang selalu bergaya hidup mewah di luar kemampuannya, dan setelah Hana pergi, tidak ada lagi yang menambal kebocoran finansial pria itu.

"Biarkan saja, Bi. Itu sudah bukan urusan kita lagi," jawab Hana akhirnya.

Setelah makan, Hana duduk di meja kerjanya. Ia membuka laptop untuk memeriksa beberapa berkas terakhir untuk proyek Vietnam. Namun, pikirannya melayang ke rumah yang akan disita itu. Ia teringat bagaimana dulu ia bekerja lembur hanya untuk memastikan cicilan rumah itu terbayar tepat waktu, sementara Aris asyik dengan hobi mahalnya.

Tiba-tiba, sebuah ide muncul di benaknya. Ia mengambil ponselnya dan menelepon Baskara.

"Halo, Pak Baskara? Maaf mengganggu malam-malam. Saya ingin bertanya... jika sebuah rumah akan disita bank dan masuk lelang, apakah saya bisa ikut menawarnya secara anonim?"

Di seberang telepon, Baskara terdengar terkejut. "Tentu saja bisa, Bu Hana. Tapi kenapa? Apakah Anda ingin kembali ke rumah itu?"

Hana tersenyum kecil, sebuah senyum yang penuh dengan rencana. "Bukan untuk kembali, Pak Baskara. Saya ingin membeli rumah itu melalui perusahaan properti pihak ketiga, merenovasinya total, dan mengubahnya menjadi rumah aman atau shelter bagi para wanita korban kekerasan dalam rumah tangga. Saya ingin tempat yang dulu menjadi penjara bagi saya, berubah menjadi tempat perlindungan bagi orang lain."

Baskara terdiam sejenak, lalu terdengar nada kagum dalam suaranya. "Itu... itu adalah ide yang luar biasa, Bu Hana. Sangat puitis dan bermakna. Saya akan segera mencari tahu status lelang rumah tersebut."

Hana menutup telepon dengan perasaan puas yang luar biasa. Baginya, ini adalah bentuk kemenangan yang paling sempurna. Bukan hanya membalas dendam melalui hukum, tapi juga mengubah sisa-sisa kepahitan menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.

Malam itu, Hana tidur dengan senyum yang tulus. Ia membayangkan rumah tua yang suram itu akan dipenuhi dengan cahaya, tawa, dan harapan baru. Aris mungkin telah mencoba menghancurkan hidupnya, namun pada akhirnya, Aris justru memberinya jalan untuk menjadi pahlawan bagi orang lain.

Hana Anindita tidak lagi hanya sekadar bertahan hidup. Ia kini sedang membangun sebuah warisan. Dan ia tahu, ayahnya di sana pasti sedang tersenyum bangga melihat putrinya tumbuh menjadi wanita yang tidak hanya kuat, tapi juga memiliki jiwa yang besar.

1
arniya
Aris bukan d penjara??!
Mom Ilham
anaknya hana apa khabarnya ya
Lia Kiftia Usman
karyamu asyiik dibaca..thor..
Sefna Wati: terima kasih kkk sudah mampir baca novel karyaku ya ...
sehat selalu ya🥰🥰
jangan lupa tinggalkan like nya ya dan mampir di novel lainnya mana tau kakak juga suka dengan cerita yang lain🥰🥰🥰🥰
🥰🥰🥰
total 1 replies
Nor
Kok ceritanya aneh yaa, kenapa tiba² ada surat tanah peninggalan almarhum ayah hana. sebenarnya ayah hana itu masih hidup atau sudah meninggal?
Sefna Wati: kalau mau tau kelanjutannya baca terus ya kak biar gak penasaran 🥰🥰🥰
total 1 replies
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
terlambat sudah penyesalan mu Aris mau gimana pun kamu memohon agar Hana mau kembali tetep aja hasilnya nihil karna Hana sekarang bukan Hana yang dulu lagi
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kok gak Aris gak emak nya sama² ngeyel sih udah tau nanti kena ulti sama Hana eh masih aja mau gangguin Hana 😒
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
baguslah akhirnya sekarang Hana bisa hidup tenang dan terbebas dari hama² ini
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
pelajaran nya disini tu jangan pernah meremehkan orang dari penampilan nya,berawal dari Hana yang diperlakukan seperti babu sekarang malah lebih bersinar dari orang² yang dulu memerintah nya
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kapokkk modyar aee kau Aris bisa² habis sudah semua harta haram mu itu 😂😂
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
sok²an meremehkan ni si Aris jangan kira karna Hana dulu diperlakukan seperti babu bukan berarti fungsi kepintaran di otak nya udah gak kerja yaa 😏
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
karma mu Aris bahkan anak mu aja gak Sudi lagi sama kamu lagian bisa² nya dia beli keramik baru tapi anak nya aja nunggak SPP 😒
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kok si Aris makin gak ngotak ya emang gak punya tangan ya buat mijet doang masak Hana Mulu yang gerak 😑
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
emang sih semua orang itu punya batas kesabaran gak semua orang itu tahan disakiti berkali kali apa lagi sama keluarga nya sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!