Perjalanan 50 KM, Tabungan Sebulan, Berakhir di Centang Biru.
Rafi, siswa SMA dengan uang saku pas-pasan, rela makan nasi garam selama sebulan demi satu proyek besar: mengajak Nisa berkencan ke Irian Kisaran. Menempuh 50 KM demi bioskop 5D dan makan di McD, semuanya tampak sempurna hingga mereka berpisah di terminal.
Di dalam bus pulang yang sunyi menuju Tanjung Balai, Rafi mengirimkan pesan terindahnya. Ia menunggu dalam cemas hingga bus tiba di tujuan, namun harapannya hancur saat layar HP hanya menunjukkan status paling menyakitkan: "Dibaca."
Apakah pengorbanan keringat dan harga diri Rafi hanya dianggap hiburan satu hari bagi Nisa? Di dunia di mana perasaan diukur dari kecepatan membalas chat, Rafi harus belajar bahwa investasi hati tak selamanya berbalas janji.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Di Dalam Ruang 5D
## Bab 29: Di Dalam Ruang 5D
Kegelapan di dalam studio 5D Cinema Irian Kisaran memiliki kepadatan yang berbeda. Udara di sini terasa lebih lembap, berbau pelumas hidrolik mesin dan sedikit aroma karet dari kacamata 3D yang baru saja dibagikan oleh petugas. Rafi melangkah dengan hati-hati, memastikan kakinya tidak tersandung kabel atau pijakan kursi yang tidak rata, sementara tangan kirinya sedikit terentang ke belakang, menjadi navigasi bisu bagi Nisa.
"Di sini, Nis. Kursi nomor tiga dan empat," bisik Rafi.
Mereka duduk di kursi merah yang terasa dingin dan kaku. Secara teknis, ini bukan kursi bioskop pada umumnya; ini adalah platform mekanis yang bertumpu pada piston-piston besi di bawah lantai. Rafi memasang kacamata 3D-nya. Dunianya seketika berubah menjadi buram dan sedikit lebih gelap. Ia melirik Nisa. Gadis itu sedang meraba-raba sandaran tangan kursinya, tampak sedikit sangsi dengan sabuk pengaman yang melintang di pangkuannya.
"Fi, kursinya tinggi banget ya?" Nisa berbisik, suaranya sedikit bergetar di tengah keheningan studio yang mulai mencekam.
"Tenang aja, Nis. Ini sistemnya hidrolik. Dia cuma goyang-goyang sesuai gambar," jawab Rafi, berusaha memberikan penjelasan logis meski sebenarnya ia juga baru pertama kali mencoba wahana ini. Secara skeptis, ia berharap mesin tua ini tidak mengalami kerusakan mekanis saat mereka di atas sana.
Lampu studio perlahan mati sepenuhnya. Gelap total.
Tiba-tiba, layar di depan mereka menyala dengan cahaya putih yang menyilaukan. Logo perusahaan film horor pendek muncul, disusul dengan suara *surround sound* yang menggelegar dari sudut-sudut ruangan. Frekuensi basnya begitu rendah hingga Rafi bisa merasakan getarannya merambat dari telapak kakinya ke tulang belakang.
*Srekk... srekk...*
Suara gesekan kayu di dalam film dimulai. Di layar, kamera bergerak masuk ke dalam sebuah lorong rumah tua yang terbengkalai. Saat itulah, simulasi dimulai. Kursi yang mereka duduki tiba-tiba tersentak ke depan.
"Aaa!" Nisa memekik kecil, secara refleks mencengkeram sandaran tangan kursinya—dan sebagian dari jemari Rafi yang sedang bersandar di sana.
Rafi tidak menarik tangannya. Ia membiarkan jemari Nisa yang mendingin karena takut itu bertumpu pada punggung tangannya. Secara analitis, detak jantungnya sendiri kini sudah melewati angka seratus per menit, namun bukan karena hantu di layar, melainkan karena kontak fisik yang tak terencana ini.
Film berlanjut. Saat kamera di layar seolah-olah melewati semak-semak berduri, sebuah hembusan angin kencang keluar dari lubang kecil di samping kepala mereka.
*Wusss!*
Sensasinya begitu nyata hingga Rafi sempat berkedip berkali-kali. Lalu, adegan berpindah ke sebuah rawa yang berkabut. Seekor monster air tiba-tiba muncul dan menyemburkan air ke arah kamera.
*Cisss!*
Sepasang nosel kecil di depan mereka menyemprotkan uap air tipis ke wajah. Rafi merasakan butiran air dingin hinggap di pipinya. Nisa kembali berteriak, kali ini lebih keras, sambil menyembunyikan wajahnya di balik bahu Rafi.
"Aduh, basah, Fi! Seram kali!" Nisa tertawa di tengah ketakutannya, sebuah tawa yang terdengar jujur dan lepas.
Rafi mencuri pandang ke arah Nisa melalui sudut kacamata 3D-nya. Di tengah keremangan cahaya film yang berkedip-kedip, ia melihat ekspresi Nisa yang campur aduk—takut, terkejut, namun sangat terhibur. Pada detik itu, seluruh ingatan tentang rasa malu saat makan nasi garam di pojok kelas (Bab 2) atau lelahnya begadang mengetik tugas teman (Bab 4) seolah tersapu bersih.
*Delapan puluh ribu untuk sepuluh menit ini,* batin Rafi sambil merasakan guncangan kursi yang semakin liar. *Secara ekonomi, ini adalah pemborosan. Tapi melihat dia tertawa begini... ini adalah transaksi paling menguntungkan yang pernah kulakukan.*
Tiba-tiba, film mencapai puncaknya. Sang hantu muncul tepat di depan layar dengan efek 3D yang seolah-olah tangannya keluar menembus kacamata mereka. Bersamaan dengan itu, sebuah cambuk karet kecil di bawah kursi menyabet kaki mereka dengan lembut namun mengejutkan.
*Plak!*
"Aaa! Rafi!" Nisa meloncat di kursinya dan kali ini ia benar-benar memegang lengan kemeja Rafi dengan erat.
Rafi merasa seperti pahlawan dalam film aksi. Ia tetap duduk tegak, mencoba menjadi penopang bagi Nisa, meski sebenarnya ia juga sempat terlonjak kaget karena sabetan di kakinya. Ia merasakan kehangatan tubuh Nisa yang mendekat ke arahnya demi mencari rasa aman.
Di dalam studio yang hanya berkapasitas delapan orang itu, suara teriakan penonton lain menjadi latar belakang yang samar. Fokus Rafi hanya pada dua hal: layar di depan dan genggaman tangan Nisa di lengannya. Ia bisa merasakan tekstur kain kemeja flanelnya yang teremas, dan ia berharap momen ini melambat, selambat tempo bus ekonomi yang membawanya dari Tanjungbalai tadi pagi.
Film berakhir dengan sebuah dentuman keras dan lampu studio yang tiba-tiba menyala terang. Kursi mereka berhenti bergerak dengan sentakan terakhir yang membuat mereka sedikit terlempar ke depan.
Hening kembali menguasai ruangan.
Nisa perlahan melepaskan pegangannya, wajahnya merah padam karena malu. Ia merapikan jilbabnya yang sedikit miring akibat guncangan kursi tadi. "Ya ampun... jantungku mau copot, Fi. Gila, kerasa beneran tangannya tadi di kaki."
Rafi melepas kacamata 3D-nya, matanya sedikit pedih karena pencahayaan yang berubah drastis. Ia tersenyum, kali ini senyum yang lebih rileks. "Gimana? Worthed nggak antre lama tadi?"
"Parah! Keren banget. Makasih ya, Fi, udah diajak ke sini. Aku nggak bakal berani kalau sendirian," ujar Nisa sambil mengelap sisa uap air di pipinya dengan tisu.
Rafi berdiri, kaki-kakinya terasa sedikit lemas karena getaran hidrolik tadi, namun hatinya terasa sangat ringan. Ia melihat Nisa berdiri dengan penuh semangat, menceritakan kembali adegan favoritnya dengan gerakan tangan yang lincah.
Saat mereka melangkah keluar dari studio melalui tirai hitam, Rafi meraba saku belakangnya. Dompetnya masih ada. Uang kembalian dua puluh ribu dari Bab 27 masih terselip aman di saku depan. Secara finansial, ia masih berada dalam jalur rencana. Namun secara emosional, ia merasa sudah melompat jauh ke depan.
Ia menatap punggung Nisa yang berjalan mendahuluinya keluar menuju lorong mall. Cahaya lampu Irian Kisaran kembali menyambut mereka. Bagi orang lain, mereka mungkin hanya dua anak SMA biasa yang sedang bermain di mall. Tapi bagi Rafi, sepuluh menit di dalam kegelapan tadi adalah bukti bahwa semua pengorbanannya tidak sia-sia.
Langkah Rafi mengikuti Nisa keluar, dengan rasa bangga yang mekar di dadanya. Ia telah memberikan "investasi" terbaiknya, dan sejauh ini, imbal hasilnya jauh melampaui ekspektasinya.
--