NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Insinyur Di Era Tanam Paksa

Reinkarnasi Insinyur Di Era Tanam Paksa

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Time Travel
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Jatmika adalah seorang genius di bidang mekanika dan kimia yang tewas dalam kecelakaan pesawat. Namun, maut bukan akhir baginya. Ia terbangun di tahun 1853, masa di mana Nusantara sedang dicekik oleh sistem Cultuurstelsel (Tanam Paksa) yang kejam. Hidup sebagai anak nelayan miskin di pesisir Kendal, Jatmika menyaksikan sendiri bagaimana rakyat mati kelaparan sementara gudang-gudang Belanda penuh dengan rempah dan emas. Berbekal ingatan masa depan, Jatmika memulai "perang" yang berbeda. Bukan dengan bambu runcing, melainkan dengan logistik dan ilmu pengetahuan.
Dapatkah Jatmika membawa Nusantara melompati satu abad perkembangan teknologi untuk merdeka lebih awal? Ataukah ilmu pengetahuan yang ia bawa justru menjadi kutukan yang memicu kehancuran lebih besar bagi rakyat yang ingin ia selamatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Monster Besi Di Muara

Kemenangan di Alun-alun Kendal memang membakar semangat rakyat, namun bagi Jatmika, itu hanyalah lonceng pembuka perang yang lebih besar. Kapten Van De Berg yang dipermalukan tidak tinggal diam. Ia segera memanggil bantuan dari armada laut di Semarang.

Dua hari kemudian, di cakrawala Laut Jawa, muncul siluet yang mengerikan. Sebuah kapal uap perang lapis baja (ironclad) milik Kerajaan Belanda, HNLMS De Leeuw, bersandar di muara Sungai Bodri. Meriam-meriam kaliber besar di geladaknya berkilat tertimpa matahari, siap meratakan pemukiman mana pun yang dicurigai menyembunyikan "Sang Pembawa Badai".

"Jatmika, mereka akan membombardir desa-desa pesisir jika kita tidak menyerah," lapor Suro dengan wajah pucat. "Meriam kita... mortir bambu itu... tidak akan sanggup menjangkau kapal sejauh itu."

Jatmika menatap kapal perang itu dari balik teleskopnya. Ia tahu, melawan kapal uap lapis baja dengan serangan frontal adalah bunuh diri. Ia harus menyerang dari bawah—tempat di mana baja mereka paling tipis dan air adalah sekutunya.

"Kita tidak akan menembak mereka dari atas," kata Jatmika pelan. "Kita akan mengirimkan Hantu Bawah Air."

Jatmika segera memimpin timnya ke bengkel rahasia di tepi sungai. Ia mulai merancang sebuah Torpedo Statis (Ranjau Laut). Ia menggunakan tong-tong kayu yang diperkuat dengan getah damar dan lilitan besi agar kedap air. Di dalamnya, ia memasukkan campuran mesiu murni miliknya yang dikombinasikan dengan bubuk aluminium untuk meningkatkan daya ledak penghancur (high explosive).

"Masalahnya adalah pemicunya, Raden," ujar Darman. "Bagaimana cara meledakkannya saat kapal itu lewat tanpa kita harus berada di sana?"

Jatmika tersenyum tipis. Ia menggunakan prinsip Pemicu Kimiawi Asam. Ia menempatkan botol kaca kecil berisi asam sulfat yang diletakkan di atas piringan timah tipis. Di bawah piringan itu terdapat kalium klorat dan gula. Jika tong itu terbentur lambung kapal, botol asam akan pecah, membakar campuran kimia di bawahnya, dan memicu ledakan besar.

"Kita butuh arus sungai untuk membawa mereka," perintah Jatmika. "Kita akan lepaskan sepuluh unit saat air pasang mulai surut. Arus sungai Bodri akan membawa mereka tepat ke arah kapal yang sedang membuang sauh di muara."

Malam itu, di bawah perlindungan kabut muara, Jatmika dan pasukannya perlahan menghanyutkan tong-tong maut tersebut. Mereka diatur sedemikian rupa dengan pemberat agar melayang sedikit di bawah permukaan air—tidak terlihat dari atas dek kapal, namun mematikan bagi lambung kapal.

Di atas HNLMS De Leeuw, para serdadu Belanda merasa aman. Mereka merasa sebagai penguasa laut yang tak terkalahkan. Kapten Van De Berg berdiri di geladak, menatap daratan dengan kebencian yang mendalam.

"Besok pagi, kita ratakan hutan itu," perintah Van De Berg.

Tiba-tiba, sebuah guncangan hebat terasa dari bawah kapal.

BOOOMMM!

Air laut membumbung tinggi seperti air mancur raksasa. Lambung kapal De Leeuw yang terbuat dari baja itu berderit hebat. Ledakan pertama menghantam bagian buritan, menghancurkan baling-baling kapal. Tak selang lama, ranjau kedua dan ketiga yang hanyut bersama arus menghantam bagian tengah.

"Ledakan di bawah air! Kita diserang monster!" teriak para awak kapal dengan panik.

Air mulai masuk dengan cepat. Kapal perang kebanggaan Belanda itu mulai miring ke sisi kiri. Mesin uapnya mengeluarkan suara mendesis yang memekakkan telinga sebelum akhirnya padam total. Kapal raksasa itu kini tidak lebih dari sebuah setrikaan panas yang perlahan tenggelam di lumpur muara.

Jatmika berdiri di tepi hutan, menyaksikan pemandangan itu. Tidak ada sorak sorai. Hanya keheningan yang berat. Ia tahu, dengan tenggelamnya kapal ini, Belanda akan mengirimkan seluruh divisi militer mereka ke Kendal.

"Dunia akan menyebut ini terorisme," bisik Jatmika pada dirinya sendiri. "Tapi aku menyebutnya pertahanan diri."

Ia berbalik menuju pengikutnya. "Kemasi semua barang. Kita pindah ke markas batu kapur di pedalaman. Mulai besok, kita tidak lagi hanya menyabotase. Kita akan membangun Republik."

Perlawanan Jatmika kini telah bertransformasi. Dari seorang anak nelayan yang cerdik, menjadi pemimpin revolusi teknologi yang ditakuti kekaisaran.

1
Nemi yaa
kereen😍
Sastra Gulo: Terimakasih ka :)
total 1 replies
anggita
terus berkarya tulis👌. moga novelnya lancar.
Sastra Gulo: Amin kak. support selalu ya🙏😍
total 1 replies
anggita
Jatmika.. 👍💣💥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!