NovelToon NovelToon
Milik Sang Penguasa

Milik Sang Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:34k
Nilai: 5
Nama Author: Vaelisse

Arabelle, seorang barista, tak menyangka hidupnya akan berubah ketika Lorenzo Devereaux, pemimpin dunia bawah yang dikenal sebagai Damon, datang menagih utang ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17

Lorenzo melepaskan ciumannya perlahan tapi tidak langsung menjauh, hanya berdiri di jarak yang sangat kecil, memandangi Arabelle dengan mata cokelat madunya yang selalu terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.

Arabelle tidak tahu kapan persisnya ia mulai hafal warna mata seseorang.

"Aku ke ruang kerja." Tangannya mengusap rambutnya sekali. "Santai saja, anggap ini rumahmu."

"Oke."

Ia tersenyum kecil, ekspresi yang masih terasa seperti barang langka setiap kali muncul, lalu pergi.

**

Arabelle duduk di sofa besar di ruang tengah, membuka ponsel, dan menemukan nama Hailey berkedip di layar.

"Hei."

"Hai! Lagi di mana? Mau jalan bareng nggak?"

"Aku di tempat Lorenzo. Kita baru sarapan tadi."

"Oh, aku tahu. Foto kalian sudah beredar."

Arabelle duduk lebih tegak. "Foto apa?"

"Banyak. Dari tadi pagi. Paparazzi rupanya. Kamu tidak tahu?"

"Tidak." Arabelle menarik napas. "Oke."

"Santai, kamu keliatan bagus di fotonya kok." Suara ibunya Hailey terdengar di belakang. "Aduh, aku harus pergi dulu. Nanti kita ketemuan ya?"

"Nanti kabari."

Telepon ditutup.

Arabelle meletakkan ponsel di pahanya dan menatap langit-langit beberapa saat. Foto-foto. Lagi. Ia tidak tahu harus merasa apa, terganggu, terbiasa, atau sesuatu di antaranya yang belum punya nama.

Ia bangkit dan pergi mencari Lorenzo.

**

Ruang kerjanya ada di lantai yang butuh lift untuk dicapai, Arabelle menemukannya setelah beberapa menit mengikuti petunjuk arah yang tidak tertulis di mana-mana. Pintu terbuka.

Lorenzo duduk di depan layar komputer dengan ekspresi yang berbeda dari biasanya, lebih terfokus, lebih tertutup, seperti seseorang yang sedang di dalam mode lain. Kemejanya terbuka satu kancing di atas, dan ada gelas wiski di sisi mejanya.

Ia menoleh begitu Arabelle masuk.

"Ada apa?"

"Kamu tahu kita difoto lagi hari ini?"

"Paparazzi?" Ia bersandar ke sandaran kursi. "Sudah biasa."

"Buatku tidak." Arabelle duduk di kursi di depan mejanya. "Rasanya tidak nyaman. Seperti ada orang yang terus-terusan mengintip."

Lorenzo bangkit, berjalan ke arahnya, dan mengangkat dagunya dengan dua jari. "Ini bagian dari hidupku, Arabelle. Mereka akan selalu ada. Kamu akan terbiasa."

"Kamu yakin?"

"Aku yakin." Matanya memandangi wajahnya sebentar. "Tapi kalau ada yang melewati batas, bilang ke aku."

Arabelle mengangguk.

"Bosan?" tanyanya kemudian, dengan nada yang sedikit berbeda.

"Sedikit."

Sudut bibirnya naik. "Mau berenang?"

**

Ternyata Lorenzo punya dua kolam renang.

Arabelle berdiri di depan kolam renang dalam yang airnya biru kehijauan, uap tipis mengambang di permukaannya, dipanaskan, tentu saja, karena ini Lorenzo Devereaux dan mengapa tidak.

"Aku tidak bawa baju renang."

"Kamu punya pakaian dalam."

Arabelle mempertimbangkan ini selama tiga detik. "Oke."

Lorenzo pergi ke kamar ganti. Arabelle melepas pakaiannya dan duduk di tepi kolam, mencelupkan kakinya. Air hangat langsung menyambutnya.

Beberapa menit kemudian Lorenzo kembali dengan dua handuk dan celana renang hitam, tanpa kaos. Tato di lengannya, di sisi perutnya, semua terlihat lebih jelas di bawah cahaya ruangan ini. Arabelle mencatat ini dengan cara yang ia putuskan untuk tidak dianalisis lebih lanjut.

"Kenapa tidak langsung masuk?" tanyanya.

"Menunggu kamu."

Ekspresinya bergerak ke sesuatu yang hangat. "Masuk."

Arabelle melompat.

Air menutup di atas kepalanya sebentar, dingin dan hangat sekaligus, lalu ia muncul ke permukaan dengan rambut menempel di wajah. Lorenzo sudah di air di sebelahnya, ia masuk tanpa suara, seperti biasa.

Mereka mengapung, berbicara tanpa topik yang serius, tertawa beberapa kali karena hal-hal kecil. Lorenzo menariknya ke arahnya setelah beberapa saat, tangannya di pinggangnya, mendudukkan Arabelle di atas pahanya di tepi tangga kolam, airnya sampai di pinggang mereka.

"Kamu menatap lagi," kata Arabelle.

"Karena kamu cantik." Tangannya memindahkan satu helai rambut basah dari wajah Arabelle. "Dan lebih cantik lagi kalau merah begini."

"Kamu sengaja."

"Iya."

Arabelle mencubit lengannya, dan ia tertawa benar-benar tertawa, bukan senyum kecil atau desahan pelan, tapi tertawa dengan suara dan Arabelle membekukan diri sebentar karena itu masih selalu mengejutkan.

"Apa?" tanyanya.

"Tidak ada." Tapi Arabelle ikut tersenyum tanpa bisa mencegah.

Tidak lama kemudian bibirnya sudah menemukan bibirnya, ringan dulu, seperti biasa, lalu lebih dalam, lebih lambat, dengan air hangat di sekeliling mereka dan tidak ada suara lain selain itu.

Gila, aku mencintainya, pikir Arabelle di balik ciuman itu.

"Aku mencintaimu," bisiknya ketika mereka terpisah sejenak.

Lorenzo menekan dahinya ke dahinya. "Aku juga," gumamnya dan Arabelle tahu ia tidak terbiasa mengatakannya dengan mudah, yang membuat setiap kalinya terasa lebih berat dari biasanya.

Telepon Lorenzo berdering dari tepi kolam.

Ia meraih napas pendek, lalu naik dari air dan menjawab.

"Apa." Bukan pertanyaan.

Sebentar hening dari sisinya.

"Aku tahu. Satu jam lagi."

Ia menutup telepon dan mengambil handuk.

"Harus pergi?" tanya Arabelle dari kolam.

"Ya." Ia melempar handuk satunya ke arah Arabelle. "Aku antar pulang dulu."

**

Arabelle naik dari kolam, mengeringkan diri, lalu kembali ke pakaiannya. Rambutnya disisir dan dibiarkan turun, tidak ada yang bisa ia lakukan dengan rambut basah tanpa alat. Riasannya sudah lama menghilang; ia membersihkan sisanya dengan tisu.

Lorenzo sudah di depan pintu ketika ia selesai, kemeja putih yang sedikit ketat di lengan, jins hitam, ikat pinggang, dan jam tangan yang harganya mungkin bisa membeli semua isi lemari Arabelle dua kali.

Mereka keluar menuju Lamborghini matte hitam yang diparkir di depan, diam tapi terasa seperti sedang mengeluarkan energi hanya dengan berdiri di sana.

Arabelle masuk ke kursi penumpang.

"Ke mana kamu mau pergi?" tanyanya ketika mobil mulai bergerak.

"Kerja."

"Yang legal atau yang tidak?"

Lorenzo meliriknya. "Kenapa kamu tanya?"

"Penasaran."

Ia tidak menjawab langsung. "Yang tidak perlu kamu khawatirkan."

Arabelle menoleh ke jendela, memandang jalanan Roma yang mulai padat. "Oke."

Beberapa detik berlalu.

"Kenapa kamu senyum?" tanya Arabelle tiba-tiba.

Lorenzo meliriknya lagi dari sudut mata. "Karena kamu cantik dan sudah kutahu sejak tadi kamu menahan senyum juga."

Arabelle memalingkan muka ke jendela, tapi senyumnya lolos.

Dia benar-benar membuatku bahagia, pikirnya, tanpa berusaha menghentikan pikiran itu. Lebih dari yang pernah aku bayangkan seseorang bisa.

Tidak seperti Brian.

Tapi itu cerita untuk lain waktu.

1
Amoyy
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!