Di usianya yang ke-33, Raditya Mahardika harus menerima perjodohan konyol dengan Bianca Adyatama, gadis 20 tahun yang masih kuliah dan merupakan putri rekan bisnis keluarganya. Ragu dan curiga, Raditya punya rencana gila: menyamar menjadi supir di rumah keluarga Adyatama.
Sebagai 'Rio', supir barunya, Radit menyaksikan realitas yang mengejutkan. Bianca bukan hanya manja, tapi juga arogan dan suka merendahkan orang.
Namun, di tengah kekecewaannya, mata Radit justru tertuju pada sosok lain: Kirana Adyatama. Kakak Bianca yang berusia 27 tahun. Di mata keluarganya, Kirana hanyalah barista kafe, bahkan sering diperlakukan seperti pelayan. Tapi, di balik seragam kafe dan senyum hangatnya, Kirana menyimpan rahasia besar.
Mana yang akan dipilih Radit? Calon istri yang dijodohkan, atau kakak yang menyimpan mutiara tersembunyi? Bagaimana jika rahasia penyamarannya terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Terik matahari Surabaya siang itu terasa membakar kulit, namun suasana di Lobby Utara Galaxy Mall jauh lebih panas karena amarah seorang Bianca Adytama. Gadis itu berdiri dengan kaki yang mulai pegal di atas heels dua belas sentimernya, dikelilingi oleh kantong belanjaan dari butik-butik ternama. Wajahnya yang dipoles riasan sempurna tampak ditekuk kesal, matanya terus melirik jam tangan berliannya dengan tidak sabar.
Ketika mobil sedan hitam mewah keluarga Adytama akhirnya berhenti tepat di depannya, Bianca langsung melangkah maju bahkan sebelum mobil itu berhenti sempurna. Raditya turun dengan tenang dan segera membukakan pintu untuknya.
"Rio! Kamu tahu tidak aku sudah menunggu berapa lama? Panas tahu!" teriak Bianca langsung meledak begitu pintu terbuka. Suaranya yang melengking menarik perhatian beberapa pengunjung mall di sekitar mereka.
Raditya tetap menunjukkan wajah datar di balik kacamatanya. Ia membungkuk sedikit, menunjukkan sikap hormat yang formal.
"Mohon maaf, Non Bianca. Tadi saya harus kembali ke rumah dulu untuk menukar mobil sesuai pesan Mbak Kirana. Mbak Kirana bilang Non tidak akan nyaman jika saya jemput menggunakan mobil Mbak Kirana."
Mendengar nama kakaknya disebut, Bianca semakin meradang. Ia masuk ke dalam mobil dengan kasar, membanting tas belanjaannya ke jok kulit.
"Mbak Kirana lagi, Mbak Kirana lagi! Rio, dengerin ya. Kamu itu direkrut Ayah untuk jadi supir pribadiku, bukan supir pribadi Mbak Kirana! Kamu itu harus siaga buat aku, bukan malah asyik mengantar barista itu keliling kota!"
Raditya menutup pintu penumpang, lalu masuk ke kursi kemudi. Ia tidak langsung menjalankan mobil. Ia menoleh sedikit ke belakang, menatap Bianca melalui spion tengah. Ada sesuatu dalam tatapan itu—sebuah kilatan tegas dan berwibawa yang selama ini ia sembunyikan sebagai supir.
"Mohon maaf sebelumnya, Non Bianca," suara Raditya terdengar rendah dan tenang, namun memiliki tekanan yang kuat. "Saya bekerja untuk keluarga Adytama atas perintah Pak Haris. Pak Haris berpesan agar saya memastikan mobilitas kedua putrinya terpenuhi. Jika Non Bianca sedang tidak membutuhkan saya, apakah saya harus duduk diam di pos satpam dan makan gaji buta? Saya pikir, lebih produktif jika saya juga membantu keperluan Mbak Kirana jika Non sedang ada agenda lain."
Bianca tertegun. Ia biasanya bisa menindas para pekerja di rumahnya dengan mudah, tapi kata-kata Rio barusan terasa begitu logis dan sulit dibantah. Terlebih lagi, cara Rio menatapnya saat ini tidak terlihat seperti seorang pelayan yang ketakutan. Ada aura dominasi yang membuat Bianca tiba-tiba merasa sedikit gentar dan kehilangan kata-kata.
"Ya... ya sudahlah! Tapi lain kali kalau aku panggil, kamu harus langsung sampai! Titik!" Bianca membuang muka ke arah jendela, mencoba menyembunyikan rasa gugupnya yang tiba-tiba muncul. Dalam hatinya, ia merasa aneh. Kenapa supir berpakaian kaos gelap dan celana kargo ini bisa membuatnya merasa sekecil ini hanya dengan beberapa patah kata?
Raditya tidak menjawab lagi. Ia hanya mengulas senyum miring yang sangat tipis—senyum seorang CEO yang baru saja memenangkan negosiasi—lalu memacu mobilnya dengan sangat halus menuju rumah Adytama.
**
Sementara itu, di sudut Kafe Teras Senja yang lebih tenang, Kirana sedang duduk di ruang staf kecil di lantai dua. Apron cokelatnya masih terpasang, namun di depannya kini bukan lagi mesin kopi, melainkan sebuah laptop tipis dengan layar penuh data statistik dan grafik pertumbuhan farmasi.
Ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah nama muncul di layar: Rika - KiraPharma. Kirana segera mengangkatnya, suaranya berubah drastis dari suara ramah seorang barista menjadi suara tegas seorang pemimpin perusahaan.
"Ya, Rika. Ada apa?" tanya Kirana cepat.
"Mbak Kirana, mohon maaf mengganggu. Saya baru saja mengecek jadwal, dan Mbak belum juga sampai di kantor pusat. Tim peneliti sudah menunggu di laboratorium untuk pengecekan sampel formula baru obat herbal yang akan kita patenkan bulan depan. Dan jangan lupa, sore ini pukul empat ada pertemuan penting dengan delegasi investor dari Jepang di hotel Grand City," suara Rika terdengar sedikit cemas di seberang sana.
Kirana menghela napas pendek, memijat pelipisnya. Kehidupannya sebagai barista sekaligus CEO farmasi memang sangat melelahkan, tapi ia mencintai keduanya.
"Rika, tolong sampaikan permohonan maafku kepada tim laboratorium. Tadi ada sedikit kendala karena supirku harus menjemput Bianca di mall. Tolong undur jadwal kunjungan laboratorium menjadi sore ini setelah rapat. Dan untuk investor Jepang, pastikan semua dokumen kerjasama sudah siap dalam format dua bahasa."
"Baik, Mbak Kirana. Akan segera saya koordinasikan dengan tim. Mbak Kirana akan langsung ke hotel?"
"Iya, aku akan usahakan tepat waktu. Terima kasih, Rika," Kirana menutup teleponnya.
Ia menatap jam di dinding. Pukul satu siang. Ia harus segera berangkat jika ingin mempersiapkan diri sebelum menghadapi investor Jepang yang dikenal sangat disiplin soal waktu. Namun, ada satu masalah. Mobil antiknya tadi dibawa kembali oleh Rio ke rumah atas permintaannya.
Kirana menggigit bibir bawahnya, menimbang-nimbang. Ia sebenarnya bisa saja memesan taksi online, tapi itu akan memakan waktu lebih lama sedangkan dia membutuhkan waktu yang cepat. Kemudian, Ia mengambil ponselnya kembali dan mencari kontak nomor supir barunya.
"Mas Rio sudah selesai dengan urusan Bianca belum ya?" gumamnya pelan.
Ada rasa tidak enak hati harus memanggil Rio kembali setelah pria itu mungkin baru saja habis dimarahi oleh Bianca di mall tadi. Kirana tahu persis bagaimana tabiat adiknya. Namun, ia juga sangat membutuhkan bantuan Rio sekarang.
Kirana mengetik pesan singkat: Mas Rio, kalau urusan dengan Bianca sudah selesai, apa bisa jemput saya di kafe lagi? Ada keperluan mendesak yang harus saya urus di luar. Tapi kalau Mas Rio lelah atau masih ada urusan lain, tidak apa-apa.
Sambil menunggu balasan, Kirana melepas apronnya. Di balik kemeja kerjanya, ia mengenakan pakaian yang cukup formal namun tetap terlihat kasual agar tidak mengundang kecurigaan jika dilihat orang rumah. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, mencoba menenangkan debaran jantungnya.
Baginya, Rio bukan sekadar supir. Ada sesuatu pada pria itu—cara dia berbicara, cara dia mengamati lingkungan sekitar—yang membuat Kirana merasa aman. Seolah-olah Rio memiliki kekuatan besar di balik penampilan sederhananya.
Di dalam mobil menuju kediaman Adytama, ponsel Raditya bergetar. Ia melirik layar sekilas dan melihat pesan dari Kirana. Sudut bibirnya terangkat sedikit.
"Rio, siapa yang kirim pesan? Fokus menyetir!" tegur Bianca ketus dari kursi belakang.
Raditya tetap tenang. "Hanya pesan dari Mbak Kirana, Non. Beliau menanyakan apakah saya sudah selesai menjemput Non."
"Hih, perhatian sekali sih dia sama supir baru," cibir Bianca.
Raditya terdiam sejenak, tidak terpengaruh dengan cibiran Bianca.
“Tapi nanti kalau aku mau ke salon bagaimana?”
“Bukankah lebih nyaman kalau memanggil orang salon ke rumah, Non? Jadi Non Bianca tidak terlalu lelah.” Raditya memberikan opsi supaya dia bisa mengantar Kirana dan tidak terjebak di sisi Bianca.
“Hmmm….” Bianca terdiam, menimbang-nimbang ucapan Raditya. “Bagus juga idemu.” Bianca langsung mengangguk setuju.
Raditya pun tersenyum samar, merasa lega idenya diterima Bianca.
"Cepat jalankan mobilnya!"
“Baik, Non.” Raditya menginjak pedal gas lebih dalam. Pikirannya sudah melayang ke Kafe Teras Senja.
Ia penasaran, urusan mendesak apa yang membuat seorang "barista" seperti Kirana harus pergi siang-siang begini? Apakah ini berhubungan dengan kecurigaannya bahwa Kirana memiliki pekerjaan sampingan yang jauh lebih besar?
Sebagai pewaris Mahardika Group, Raditya sangat menyukai tantangan dan misteri. Dan Kirana Adytama adalah misteri tercantik yang pernah ia temui di Surabaya. Ia tak sabar untuk segera sampai di depan kafe, membukakan pintu untuk wanita itu, dan mungkin... sedikit demi sedikit mengupas rahasia yang disembunyikan Kirana di balik senyum tulusnya.
***