NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Paksa Sang Dewa Kegelapan

Reinkarnasi Paksa Sang Dewa Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Kultivasi Modern
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Upaya bunuh diri Onad Nevalion berakhir dengan kegagalan. Alih-alih menemukan kematian, ia justru dibangkitkan oleh Dewa Kegelapan dan dikirim ke Solmara, sebuah dunia asing yang hancur oleh konflik antar entitas ilahi.

Onad terpilih sebagai wakil sang dewa untuk menghadapi Dewa Iblis di dunia Solmara. Dewa Kegelapan tidak dapat turun langsung karena campur tangannya akan melanggar hukum keseimbangan antar dunia.

Satu-satunya hal yang diinginkan Onad hanyalah menghilang dari kesialan hidupnya di dunia. Namun, mengapa kesialan itu justru mengejarnya hingga ke dunia lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hukum & Anomali

Sunyi.

Sunyi lagi.

Membunuh Dewa Iblis?

Apa-apaan ini?

Bagaimana mungkin Onad bisa melakukannya?

Dari yang ia dengar sebelumnya, para pendahulunya dan para Terpilih dari dewa-dewa lain pun gagal. Kemungkinan besar mereka semua mati, termasuk orang yang dipanggil sebelum dirinya.

Jadi bagaimana dia bisa berhasil?

Menyelamatkan dunia memang terdengar keren kalau cuma ada di cerita, atau kalau orang lain yang melakukannya.

Siapa juga yang mau mempertaruhkan hidup cuma buat bisa membanggakan orang lain?

Onad menatap dua makhluk agung di hadapannya dengan ekspresi seperti mereka baru saja membunuh anjingnya. Khelgar yang biasanya kaku dan tanpa emosi kini malah memalingkan wajah, seakan sedang berpikir, cuacanya bagus hari ini.

Keduanya bisa menghancurkan satu negara hanya dengan lambaian tangan. Namun sekarang, mereka justru menghindari tatapan seorang manusia karena merasa malu atas permintaan itu.

Akhirnya Dewa Kegelapan memberanikan diri menatapnya.

“Jadi bagaimana? Kau menerima tawaran kami?”

Onad langsung berteriak, “Nggak. Nahi. Nay. Nada. Nako. Nie. Ie. Ani. Méiyǒu!”

Ia menolak dalam semua bahasa yang ia tahu.

Onad lalu duduk di lantai yang sebenarnya tidak ada, memegangi kepalanya. Ia merasa ingin mati sekali lagi saja. Ia kembali memaki dua sosok ilahi itu.

“Persetan sama lo! Persetan sama emak lo! Persetan sama saudara lo! Persetan sama satu keluarga lo!”

Ia terus meracau, mengutuk leluhur Dewa Kegelapan dan Khelgar sampai delapan belas generasi ke atas.

Kali ini, keduanya tidak memancarkan niat membunuh. Mereka hanya berdiri seperti anak kecil yang sedang dimarahi orang tua, kepala tertunduk, menahan semuanya.

Setelah sepuluh menit memaki tanpa henti, Onad akhirnya berhenti. Ia mulai berpikir mencari cara keluar dari situasi ini.

“Gimana kalau gue tetap nolak? Lo jelas enggak bisa maksa gue, kan? Makanya lo butuh persetujuan gue,” katanya dengan wajah puas.

Namun Dewa Kegelapan kembali berbicara, kali ini dengan ekspresi penuh perhitungan.

“Kau benar. Kami tidak bisa memindahkan jiwamu ke dunia kami tanpa izinmu. Tapi bukan berarti kau punya pilihan lain. Saat ini kita berada di Batas Dunia. Lihat kubah di sekeliling kita. Itu ruang pribadi yang kuciptakan saat memanggil jiwa-jiwa dari duniamu. Tanpa itu, tak seharusnya ada apa pun yang bisa bertahan di tempat ini.”

“Berarti kalau gue keluar dari kubah ini gue bakal mati? Cocok banget,” jawab Onad riang. Itu memang tujuannya sejak awal. Mati untuk selamanya.

Dewa Kegelapan menggeleng.

“Bukan begitu cara kerjanya. Di tempat ini, tak seharusnya ada apa pun yang eksis. Jika kau keluar dari kubah, kau akan menjadi bagian dari Batas Dunia itu sendiri. Kau akan terikat di sini selamanya. Kau tidak akan bisa pergi, dan tentu saja tidak akan mati. Kau hanya akan terikat di tempat ini sampai akhir waktu. Menurutmu kenapa bahkan dewa sepertiku perlu menciptakan penghalang untuk melindungi diri?”

Onad akhirnya mulai mengerti. Semuanya masuk akal.

Ia melihat sekelilingnya lagi. Di luar kubah itu benar-benar tidak ada apa-apa. Tidak ada cahaya, tidak ada tanah, tidak ada air, bahkan udara pun tidak. Tadi ia mengira jika keluar ia akan lenyap begitu saja. Namun setelah penjelasan itu, ia mulai percaya.

Kenapa Dewa Kegelapan yang jelas-jelas seorang dewa harus membuat penghalang untuk melindungi diri kalau tidak ada bahaya?

Kalau ia bisa masuk dan keluar sesuka hati, tak mungkin ia repot-repot menciptakan kubah ini. Berarti memang ada risiko terikat selamanya pada Batas Dunia itu.

Kalau Onad keluar dari penghalang itu, ia hanya akan menjadi bagian dari tempat ini dan terus ada sampai Batas Dunia hancur. Itu jelas mustahil dan tidak akan terjadi bahkan dalam miliaran tahun. Ia akan terjebak di sini sampai kehilangan akal.

Memikirkannya saja membuat jiwanya gemetar. Ia menghela napas panjang dan menerima kenyataan. Ia tidak bisa mati, dan tidak bisa pergi dari tempat ini. Satu-satunya jalan keluar hanyalah jika Dewa Kegelapan mengirimnya ke dunia mereka, Solmara.

Sepertinya memang tidak ada pilihan lain selain menerima tawaran itu.

“Baiklah! Gue bakal lakuin. Segila apa pun gue pungin mati, gue enggak mau terjebak di sini selamanya sampai jadi gila,” katanya dengan nada tak nyaman.

“Bagus. Senang kita bisa mencapai kesepakatan,” jawab Dewa Kegelapan ceria. Khelgar pun mengangguk puas.

“Tapi .…” Onad menggantungkan kalimatnya. Ia menatap keduanya, seakan sedang memikirkan sesuatu yang sangat penting. “Gue mau jelas dulu. Gue enggak mau banting tulang cuma buat nyoba-nyoba ngerjain tugas lo. Dewa Iblis itu juga dewa beneran kayak lo, kan?”

“Tidak sepenuhnya,” jawab Dewa Kegelapan. “Aku dan para Dewa lainnya lahir dari berbagai aspek realitas dan hukum keberadaan di dunia kami. Masing-masing dari kami memiliki kendali sempurna atas hukum yang melahirkan kami. Selama dunia kami ada, kami akan tetap ada. Namun Dewa Iblis lahir dari ribuan tahun kebencian dan niat jahat. Ia adalah keberadaan yang tidak wajar, sesuatu yang seharusnya tidak pernah ada. Jika bukan karena sepuluh ribu tahun perang dan pertumpahan darah yang terus terjadi di dunia kami, makhluk seperti dia tak akan pernah terwujud.”

Ia menatap Onad dengan ekspresi tak berdaya.

“Kami para Dewa hanya bisa merepresentasikan hukum dunia dan menguasainya sepenuhnya. Kami tidak bisa ikut campur secara langsung. Sekarang kami lebih seperti pengawas. Ketika berbagai ras di dunia kami mencapai puncak peradaban mereka, perang demi bertahan hidup, sumber daya, dan keyakinan yang ditanamkan para Dewa pun tak terhindarkan. Lima ribu tahun terakhir menjadi bukti dampaknya yang paling besar. Dewa Iblis, yang lahir sebagai anomali, terus menyerap semua itu dan semakin kuat. Saat ini ia belum sampai setengah kekuatan salah satu dari Dua Belas Dewa. Tapi dengan laju seperti ini, dalam seratus tahun ke depan ia bisa menyamai kami dan menanamkan Hukumnya sendiri ke dalam dunia.”

Onad, yang dulu memang bukan orang bodoh, langsung menangkap maksudnya.

“Jadi kalau omongan lo bener, begitu dia berhasil menanamkan Hukum Keberadaannya di dunia lo, dia bakal jadi dewa sepenuhnya kayak lo dan yang lain. Dan bakal jadi makhluk yang enggak bisa dibunuh, kecuali seluruh dunia Solmara dihancurin. Artinya para Dewa, termasuk lo, juga bakal ikut lenyap, dong.”

Dewa Kegelapan menatapnya takjub.

“Kau bisa menyimpulkan sejauh itu hanya dari penjelasanku yang singkat.” Ia mengangguk pelan. “Dan itu belum semuanya. Karena ia lahir dari perang, kebencian, dan pertumpahan darah di seluruh dunia, setelah menjadi Dewa ia akan terus bertambah kuat sampai titik di mana tak satu pun dari Dua Belas Dewa mampu menghentikannya. Berbeda dengan kami, ia tidak akan terikat pada hukum realitas dunia. Ia bisa ikut campur secara langsung. Ia bisa memusnahkan semua makhluk hidup dan mencapai tingkat di mana bahkan kami para Dewa tak lebih dari semut di hadapannya.”

“Nggak masuk akal! Mana mungkin ada yang bisa melampaui para Dewa? Lo bohong,” kata Onad, setengah tak percaya.

“Aku berharap itu tidak benar. Namun berbeda dengan duniamu, dunia kami dipenuhi sihir dan energi alami dalam jumlah yang begitu besar hingga bahkan kami para Dewa pun tidak bisa sepenuhnya mengendalikan atau menahannya. Karena kami masing-masing mewakili Hukum Realitas yang berbeda, dunia justru menolak kami saat mencoba menggabungkan kekuatan. Dunia memperlakukan kami seperti entitas luar, seperti orang asing yang memaksa masuk ke rumahmu. Kami sudah mencobanya ratusan kali dan selalu gagal. Karena itu, tiga ribu tahun lalu para Dewa membuat perjanjian untuk mencari solusi. Setelah puluhan tahun penelitian, kami menemukan satu cara … memanggil makhluk dari dunia lain.”

Akhirnya alasan sebenarnya terungkap. Jadi itu sebabnya Onad dibawa ke sini.

“Tapi gue masih enggak ngerti. Kenapa harus manusia? Bukannya di alam semesta pasti ada makhluk yang lebih unggul?” tanya Onad.

“Jika aku tidak membaca ingatanmu, aku pun tak akan mengerti arti ‘alam semesta’,” jawab Dewa Kegelapan. “Masalahnya, manusia dari dunia lain memiliki kecocokan paling tinggi dengan sihir dan energi alami dunia kami. Dengan kata lain, kalian bisa menjadi semakin kuat tanpa batas seiring bertambahnya kekuatan sihir dan pengalaman. Kalian memiliki potensi untuk mencapai tingkat yang bisa disebut setengah dewa. Seperti Khelgar di sini.”

Ia menunjuk pelayannya yang paling dipercaya.

“Jadi lo setengah dewa?” tanya Onad, menatap Khelgar dengan kaget.

“Benar. Tapi berbeda denganmu atau para Terpilih lainnya, aku bukan berasal dari dunia lain. Aku lahir di dunia kami Solmara dan mencapai tingkat setengah dewa dengan usahaku sendiri. Butuh ribuan tahun untuk mencapainya. Namun tidak seperti Dewa Iblis, aku tetap terikat pada hukum dunia karena aku makhluk alami sejak awal. Aku juga tidak bisa lagi ikut campur langsung. Kalau Dewa Iblis lahir di zamanku dulu, mungkin sudah kubunuh sendiri. Tapi itu sudah lama lewat,” ujar Khelgar pelan.

Mendengar itu, Onad mulai memahami betapa seriusnya situasinya. Dunia mereka berada di ambang kehancuran, dan para makhluk tertinggi pun tak berdaya.

Dunia sendiri menolak campur tangan mereka. Tidak heran para Dewa terpaksa mengandalkan manusia dari dunia lain.

“Tunggu. Ada satu hal lagi yang gue enggak ngerti. Lo bilang semua Dewa sepakat buat bunuh Dewa Iblis bareng-bareng. Tapi kenapa pengikut lo malah diboikot? Lo enggak nyembunyiin sesuatu dari gue, kan?” tanya Onad dengan tatapan curiga.

Dewa Kegelapan tampak tak berdaya.

“Karena di antara para Dewa, aku dan Dewa Cahaya adalah yang terkuat. Namun aku mewakili kematian dan akhir dari keberadaan makhluk hidup. Tidak banyak yang ingin menyembah Dewa yang identik dengan kematian, bukan?” katanya dengan nada canggung.

“Jangan muter-muter. Kalau nggak, lupain aja gue nerima tawaran lo,” kata Onad tegas.

Ia bukan orang bodoh. Selama ada kehidupan, pasti ada kematian. Itu bagian dari siklus alami. Bahkan hal paling kuat sekalipun akan lenyap suatu saat. Jadi penjelasan tadi jelas belum utuh, atau malah kebohongan sang dewa.

Dewa Kegelapan kembali terdiam.

Kenapa manusia ini begitu kritis?

Apa karena pengalaman hidupnya membuatnya tak mudah percaya?

Atau memang ia terlalu waspada?

“Baik. Akan kuceritakan semuanya,” kata Dewa kegelapan akhirnya dengan wajah tegang.

“Pastikan Lo ceritain semuanya,” balas Onad.

“Karena manusia terpilih kedelapanku … sebelumnya ... sebelum dirimu … dia .…” Dewa Kegelapan terhenti. Ia bersandar di takhtanya, seakan teringat kenangan buruk. Setelah beberapa saat, ia melanjutkan. “Dia membunuh semua manusia terpilih lainnya.”

1
Amir Machmud
thor..ayo dilanjut..aku tambah penasaran...tak tunggu..
Amir Machmud
lanjut bab...beli coin atau lihat seponsor...
Amir Machmud
gimana kelanjutannya...
azizan zizan
sudah lah buang aja lah dari rak baca.... cerita tah apa2 tah ini...
azizan zizan
Thor kau bercerita apa kau menjelas...??????🤔🤔
DityaR: Oh, maksudnya Pacing cepat,
aku sengaja ga pakai itu. Feel-nya kurang dapet, lagian itu monolog dari persepsi Noah kok, biar konflik batin dia dapet. kan dia udah ga pingin hidup itu, sekalian jelasin latar belakang dia sama motif dia. itu di bab awal broo, kalau aku kasih sat set, gak dapat latar belakangnya si Noah itu karakternya gimana, soalnya ga cukup kalau cuma di tulis 1 paragraf buat jelasin Noah itu kek gimana, jadinya kek formulir pendaftaran ekskul wkwkwk.
jadi aku sampirin di monolog, di narasinya.

Iya paham novel online pembacanya suka yang sat set alias Pacing cepat kan?

Coba kita buat vibe yang beda ....

Jadi kalau lagi buru-buru, gpp skip aja.
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!