Takdir memang gemar memainkan jalannya sendiri, mempertemukan hal-hal yang tampak mustahil dalam satu waktu yang sama. Di masa ini, takdir mempertemukan dua arus waktu yang saling berlawanan. Seseorang dari masa depan yang kembali ke masa lalunya, dan seseorang yang bangkit dari masa lalunya untuk menapaki kembali jalan yang pernah ia lalui.
Apa yang akan terjadi pada takdir keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang Dialog Dibuka
Aura kematian yang keluar dari Pedang Neraka Kegelapan terasa begitu kuat. Bukan sekadar tekanan biasa, melainkan kegelapan yang seolah memiliki wujud. Setiap helai rumput merunduk, setiap daun berhenti bergoyang, bahkan suara serangga pun lenyap seakan keberadaan mereka dipadamkan oleh sesuatu yang tidak boleh dilawan. Tekanan itu… melampaui aura kematian yang sebelumnya dilepaskan Sha Nuo.
Sha Nuo sendiri menyipitkan mata. Ia bisa merasakan perbedaannya dengan jelas. Aura miliknya adalah kematian seorang pembantai, dingin, tajam, dan tanpa emosi. Namun aura dari Pedang Neraka Kegelapan milik Boqin Changing adalah kematian kuno… kematian yang seakan telah ada sebelum kehidupan lahir.
Para siluman gemetar. Satu demi satu mereka mundur tanpa sadar. Beberapa siluman tingkat rendah bahkan jatuh terduduk, tubuh mereka bergetar hebat. Beberapa bahkan pingsan. Raja siluman yang tersisa pun tidak jauh berbeda. Naluri bertahan hidup mereka berteriak keras.
Ketakutan. Ketakutan yang nyata. Di dalam pikiran mereka hanya ada satu kesimpulan. Aura kematian itu berasal dari tubuh pemuda di hadapan mereka.
Namun kebenaran sesungguhnya jauh lebih menakutkan. Aura itu bukan berasal dari Boqin Changing… melainkan dari pedang yang ia genggam. Sha Nuo tentu sudah mengetahui soal itu.
Di langit, kedua naga juga merasakannya. Tubuh naga merah muda menegang. Luka di sisiknya seolah terlupakan saat pupil matanya mengecil.
“Celaka… sepertinya pemuda itu bukan pemuda biasa,” ucapnya dengan suara berat.
Naga hijau mengangguk perlahan. Tatapannya menembus pepohonan, langsung menuju sosok yang berdiri di tengah lautan mayat siluman.
“Kita harus kembali… jika tidak, semua rekan siluman kita akan mati.”
Naga merah muda tidak membantah. Untuk pertama kalinya sejak mereka menjaga hutan ini, rasa gentar muncul di hatinya.
Dalam sekejap, kedua naga itu bergerak. Langit bergetar saat tubuh raksasa mereka menukik turun. Angin badai tercipta dari kepakan sayap, cabang-cabang pohon patah, dedaunan beterbangan mengikuti jalur jatuh mereka.
Boom!
Kedua binatang suci mendarat di hutan. Kehadiran mereka seperti dinding raksasa yang tiba-tiba berdiri di depan para siluman. Para siluman yang semula diliputi ketakutan akhirnya sedikit lega. Setidaknya… mereka tidak sendirian menghadapi kegelapan itu.
Namun rasa lega itu hanya bertahan sesaat. Sebuah bayangan lain jatuh dari langit, Sha Nuo.
Ia mendarat ringan di samping Boqin Changing, jubahnya berkibar perlahan sebelum kembali diam. Tidak ada kata yang keluar. Tidak ada tatapan saling menyapa.
Namun posisi mereka sudah menjelaskan segalanya. Dua manusia. Dua monster. Keduanya kini berdiri berdampingan.
Di hadapan mereka, dua binatang suci dan barisan siluman tersisa. Angin berhenti. Suara hutan menghilang. Tidak ada yang bergerak. Dalam diam, dua sisi kekuatan itu kembali saling berhadapan.
Naga hijau menatap lurus ke arah dua sosok manusia di hadapannya. Pupil matanya yang besar berkilau samar, menandakan pikirannya sedang bergerak cepat.
Ia tahu… sebagai pemimpin hutan ini, keputusan harus segera diambil. Sebagai binatang suci yang telah hidup selama lama, kecerdasan naga hijau tidak bisa diremehkan. Banyak badai telah ia lalui. Banyak pertarungan telah ia saksikan. Ia mampu bertahan hingga saat ini bukan hanya karena kekuatan, tetapi karena kemampuan membaca situasi.
Situasi kali ini… sangat buruk. Awalnya, ia mengira pria paruh baya yang datang bersama pemuda itu adalah sosok utama. Seorang pendekar hebat, mungkin seorang guru, sementara pemuda itu hanyalah murid berbakat yang ikut menumpang nama besar gurunya.
Namun kenyataan yang terungkap di hadapannya benar-benar berbeda. Pemuda itu… justru terasa lebih menakutkan.
Naga hijau perlahan menarik napas panjang. Ia mengingat kembali perhitungannya sebelumnya. Jika seluruh penghuni hutan, para siluman, raja siluman, bahkan dirinya bersama naga merah muda bersatu melawan pria paruh baya itu, peluang kemenangan masih ada. Tipis… tetapi tetap ada.
Namun setelah kemampuan pemuda itu tersingkap, setelah aura kematian kuno itu memenuhi hutan, setelah ratusan siluman dan raja siluman kera tumbang seperti daun kering… perhitungannya berubah total.
Kemungkinan menang? Hampir nol.
Sebagai pemimpin bagi para siluman hutan ini, ia tidak bisa membiarkan mereka mati sia-sia hanya demi harga diri.
Tubuh naga hijau perlahan merendah. Tubuhnya yang besar menutup sedikit, menciptakan bayangan luas di tanah. Gerakan itu membuat para siluman di belakangnya terkejut. Bahkan naga merah muda memandangnya dengan sorot mata yang sulit dipercaya.
Namun naga hijau tidak goyah. Ia membuka mulutnya, suara berat dan dalam bergema di seluruh hutan.
“Manusia… kami mengakui kesalahan kami.”
Ucapan itu membuat seluruh siluman terdiam.
“Kami salah menilai kedatangan kalian. Serangan kami adalah tindakan gegabah.”
Suara dedaunan yang bergesekan menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar. Tidak ada siluman yang berani bersuara. Tidak ada yang berani menyela. Naga hijau melanjutkan dengan nada yang lebih tenang.
“Kami tidak lagi mempermasalahkan jika kalian berdua hendak mencari sesuatu di hutan ini. Selama kalian tidak menghancurkan keseimbangan hutan, kami tidak akan menghalangi.”
Itu adalah bentuk menyerah. Bukan menyerah karena takut semata… melainkan keputusan rasional demi kelangsungan hidup seluruh penghuni hutan.
Boqin Changing menatap naga hijau itu tanpa ekspresi beberapa saat. Angin tipis melewati rambutnya. Pedang Neraka Kegelapan dan Pedang Penguasa masih berada di tangannya, aura kematian pekat berdenyut pelan seperti napas makhluk hidup.
Lalu perlahan… sudut bibirnya terangkat. Senyum tipis. Namun senyum itu tidak membawa kehangatan sedikit pun.
“Kau berani berkata seperti itu… setelah semua siluman menyerangku?” ucap Boqin Changing dengan suara datar.
Kalimat sederhana itu membuat suhu hutan terasa turun beberapa derajat. Para siluman kembali menegang. Beberapa bahkan tanpa sadar mundur selangkah. Naga merah muda mengerutkan kening, sementara naga hijau tetap menatap pemuda itu tanpa menghindar.
Ia sudah menduga. Permintaan maaf tidak selalu cukup. Terlebih kepada seseorang seperti pemuda di hadapannya.
Boqin Changing mengangkat sedikit Pedang Neraka Kegelapan. Aura kematian di sekitarnya berdenyut lebih kuat, membuat bayangan pepohonan seolah memanjang dan terdistorsi.
Tatapannya menyapu seluruh siluman. Mayat-mayat yang berserakan. Tanah yang retak. Udara yang dipenuhi bau darah. Lalu matanya kembali berhenti pada naga hijau.
“Apa menurutmu… kata maaf bisa menghapus semua ini?”
Hutan kembali tenggelam dalam keheningan. Untuk pertama kalinya sejak mengambil keputusan, naga hijau merasakan sesuatu yang jarang ia alami selama hidupnya. Ketidakpastian.
Naga hijau itu terdiam. Pupil matanya yang besar berkilau pelan, menatap pemuda di hadapannya tanpa berkedip. Ucapan pemuda itu masih menggema di dalam pikirannya. Sebagai binatang suci yang telah hidup lama, ia terbiasa menghadapi konflik. Ia pernah menyaksikan perang antar ras, perebutan wilayah, bahkan kemunculan manusia-manusia kuat yang mencoba menaklukkan hutan ini.
Namun situasi sekarang berbeda. Bukan karena jumlah korban. Bukan pula karena kekuatan yang ditunjukkan pemuda itu. Melainkan karena dirinya tidak dapat membaca ujung dari konflik ini.
Jika ia bersikeras melawan, kemungkinan kehancuran hutan sangat besar. Jika ia menyerah sepenuhnya, harga diri para siluman akan runtuh. Dan jika ia mengambil keputusan yang salah… generasi siluman berikutnya mungkin tidak akan pernah melihat matahari lagi di hutan ini.
Naga hijau perlahan menarik napas panjang. Angin di sekitarnya ikut bergerak pelan mengikuti hembusan napas itu, membuat dedaunan bergetar halus. Ia memejamkan mata sejenak, seolah menata pikirannya, sebelum akhirnya kembali menatap Boqin Changing.
Suara beratnya kembali terdengar, kali ini tidak mengandung perlawanan, tidak pula sepenuhnya menyerah.
“Apa yang bisa kami lakukan… agar permasalahan ini tidak semakin meruncing?”
Kalimat itu sederhana. Namun bagi para siluman di belakangnya, kalimat tersebut terasa seperti guntur yang jatuh dari langit.
Naga merah muda menoleh tajam ke arah naga hijau. Para raja siluman saling bertukar pandang. Mereka memahami makna di balik pertanyaan itu. Pemimpin mereka… sedang membuka ruang negosiasi.
Di sisi lain, Sha Nuo sedikit melirik ke arah Boqin Changing. Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya, namun sudut matanya menunjukkan ketertarikan. Ia tahu karakter Boqin Changing. Ia tahu pemuda itu tidak pernah melakukan sesuatu tanpa tujuan.
Benar saja. Senyum tipis perlahan muncul di wajah Boqin Changing. Senyum itu kecil. Hampir tidak terlihat.
Namun bagi siapa pun yang memahami situasi, senyum itu jauh lebih menakutkan dibanding ancaman terbuka. Seakan… segala sesuatu berjalan sesuai rencananya.
Boqin Changing menurunkan sedikit Pedang Neraka Kegelapan. Aura kematian di sekitarnya masih ada, tetapi tidak lagi meledak-ledak. Ia melangkah satu langkah maju, suara pijakannya terdengar jelas di tanah yang dipenuhi daun kering. Tatapannya tetap tertuju pada naga hijau.
“Aku tidak suka konflik yang tidak perlu,” ucapnya pelan.
Nada suaranya datar, namun setiap kata terdengar jelas di seluruh hutan.
“Aku juga tidak tertarik membantai penghuni hutan ini tanpa alasan.”
Ucapan itu membuat beberapa siluman tanpa sadar menghela napas lega, meskipun ketegangan masih mencengkeram dada mereka.
Boqin Changing memiringkan sedikit kepalanya, matanya menyipit tipis.
“Aku hanya ingin memastikan satu hal.”
Ia mengangkat satu jari.
“Aku akan bertanya beberapa hal.”
Hening. Tidak ada yang berani menyela.
"Jika jawaban dari kalian memuaskanku,” lanjut Boqin Changing, suaranya tetap tenang, “aku tidak akan memperpanjang masalah ini.”
Kata-kata itu jatuh seperti batu ke permukaan danau yang tenang, menciptakan riak yang menyebar ke seluruh pihak yang hadir. Para siluman menegang. Naga merah muda menatap Boqin Changing dengan sorot waspada. Sementara naga hijau… justru merasa beban berat di dadanya sedikit berkurang.
Itu bukan jaminan keselamatan. Namun itu adalah kesempatan.
Bagi seorang pemimpin yang baru saja melihat kemungkinan kehancuran total, kesempatan sekecil apa pun adalah sesuatu yang harus digenggam.
Naga hijau menundukkan sedikit kepalanya. Gerakan kecil, namun cukup untuk menunjukkan sikapnya.
“Katakan apa yang ingin kau tanyakan? Aku akan menjawabnya.”
Di tengah hutan yang dipenuhi aura kematian, mayat siluman, dan ketegangan yang belum sepenuhnya mereda… Ruang dialog akhirnya terbuka. Semua yang hadir memahami satu hal yang sama.
Pertanyaan dari pemuda itu selanjutnya… akan menentukan nasib seluruh hutan ini.