NovelToon NovelToon
"Rahasia Laut Pasuruan"

"Rahasia Laut Pasuruan"

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Istana/Kuno / Penyelamat
Popularitas:825
Nilai: 5
Nama Author: Kristinawati Wati

Berlatarkan masa kejayaan Kerajaan Panjalu (Singhasari) di wilayah Pasuruan, sebuah prasasti kuno yang ditemukan oleh Gadis nelayan, Mira, mengungkap rahasia pelabuhan perdagangan rempah-rempah yang hilang selama berabad-abad. Bersama dengan Jaka, seorang budak kerajaan yang ahli membaca naskah kuno, keduanya harus mengurai misteri di balik prasasti tersebut sebelum kekayaan dan sejarah kerajaan jatuh ke tangan yang salah. Di tengah ombak laut dan rahasia yang terpendam, apakah mereka berhasil menyelamatkan warisan leluhur?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kristinawati Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28: "Perjuangan di Dasar Laut dan Rahasia Bunga Bakung"

Dini hari sebelum matahari mulai muncul, kapal Pak Darmo sudah berlayar menuju lokasi yang ditandai pada peta kuno yang ditemukan Jaka di Pulau Cemara Kecil. Udara pagi di laut Pasuruan terasa sangat sejuk, dengan kabut tipis yang menyelimuti permukaan air yang kini tenang seperti kaca. Laras sudah mengenakan alat selam yang disiapkan Pak Darmo—meskipun sederhana, alat itu sudah terbukti aman untuk menyelam ke kedalaman yang dibutuhkan.

“Kita hanya punya waktu sampai tengah hari,” ucap Pak Darmo sambil memeriksa kompas dan peta. “Bunga bakung laut hanya akan mekar penuh selama tiga jam setelah matahari muncul, dan setelah itu akan kembali menyembunyikan diri di balik batu karang raksasa. Kalau terlewatkan, kita harus menunggu satu bulan lagi.”

Jaka mengangguk, tangannya sedang memeriksa tali pengaman yang akan menghubungkannya dengan Laras dan Pak Darmo saat menyelam. Dia sudah membawa sebuah ember khusus yang dilapisi dengan daun pisang untuk menyimpan bunga bakung laut, sesuai dengan petunjuk yang tertulis di peta kuno. “Saya akan tetap berada di dekat Laras setiap saat,” janjinya dengan suara tegas.

Setelah kapal mencapai titik yang tepat, mereka mulai mempersiapkan diri untuk menyelam. Laras sekali lagi menyentuh kalung perak di lehernya—cahaya keperakannya kini lebih terang dari biasanya, seolah memberikan kekuatan dan arahan padanya. Sebelum melompat ke dalam air, Pak Darmo memberikan satu lagi peringatan penting: “Jangan pernah menghadapkan punggung ke arah batu karang yang berbentuk seperti kepala naga. Itu adalah tempat tinggal penjaga bunga bakung laut—seekor arwana laut besar yang telah menjaganya selama berabad-abad.”

Segera setelah mereka masuk ke dalam air, dunia bawah laut yang menakjubkan terbentang di hadapan mata mereka. Terumbu karang berwarna-warni penuh dengan kehidupan laut—ikan-ikan kecil berenang dengan lincah, bulu babi laut yang mengambang lembut, dan berbagai jenis koral yang indah seperti taman bawah laut. Namun semakin dalam mereka menyelam, warna-warni itu perlahan menghilang dan digantikan oleh suasana yang lebih tenang dan sedikit menakutkan.

Laras merasakan kalungnya mulai menariknya ke arah satu arah tertentu. Mengikuti arahan itu, mereka sampai di sebuah lembah bawah laut yang dikelilingi oleh batu karang besar yang memang benar-benar berbentuk seperti kepala naga dengan mulut terbuka lebar. Di dalam mulut batu karang itu, terdapat sebuah kawasan kecil yang dikelilingi oleh rumput laut berwarna putih keemasan, dan di tengahnya tumbuh satu batang bunga bakung laut yang luar biasa indah—bunga dengan kelopak putih bersih yang memiliki aksen biru muda di ujungnya, dan pusat bunga yang bersinar seperti permata mutiara.

Saat mereka mulai mendekat, sebuah bayangan besar tiba-tiba muncul dari balik batu karang. Seekor arwana laut yang sangat besar—panjangnya hampir tiga meter—dengan sisik berwarna keemasan yang bersinar di bawah air, menghadang jalan mereka. Matanya yang besar memancarkan cahaya kuning keemasan, seolah sedang menilai apakah mereka datang dengan niat baik atau tidak.

Jaka segera menghentikan langkahnya dan menghadapkan diri ke arah arwana tersebut, siap melindungi Laras dan Pak Darmo jika ada yang terjadi. Namun Laras malah melangkah maju dengan tenang, melepaskan tali pengaman dari pergelangan tangannya dan mengangkat kalung perak di lehernya ke arah arwana. Saat cahaya kalung menyentuh cahaya mata arwana, terjadi kilatan cahaya terang yang membuat mereka terpaksa menutup mata sebentar.

Ketika mereka membuka mata kembali, arwana laut besar itu sudah bergerak ke sisi lain dan memberikan jalan. Tidak hanya itu—di permukaan batu karang di sekitar bunga bakung laut, muncul aksara kuno yang mulai bersinar dan terbaca oleh Laras. “Hanya mereka yang datang dengan cinta dan keinginan untuk menyelamatkan, bukan untuk mengambil atau menguasai, yang layak mendapatkan bunga bakung laut. Kau adalah keturunan dari mereka yang pernah membantu kami di masa lalu—sekarang waktunya untuk menyelesaikan apa yang belum selesai.”

Pak Darmo dengan hati-hati mendekat ke bunga bakung laut dan memotong batangnya dengan pisau yang sudah dibasahi air kelapa sebelumnya, sesuai dengan tradisi yang dia ketahui. Setelah bunga tersebut ditempatkan ke dalam ember khusus, mereka mulai bersiap untuk kembali ke permukaan. Namun saat itu juga, tanah bawah laut mulai bergoyang hebat—seolah ada sesuatu yang sedang terbangun dari kedalaman yang lebih dalam.

“Kita harus cepat kembali!” teriak Pak Darmo dengan suara yang terdengar samar melalui alat selam. “Pembukaan makam yang sebenarnya sudah dimulai—bunga bakung laut adalah kuncinya, dan sekarang kita harus segera ke Pulau Cemara Kecil untuk menyelesaikan semuanya!”

Perjalanan kembali ke permukaan terasa lebih sulit karena arus yang mulai kacau dan gempa bawah laut yang membuat air menjadi keruh. Namun dengan bantuan arwana laut yang ternyata membimbing mereka dari belakang, mereka berhasil mencapai kapal dengan selamat. Saat mereka naik ke atas kapal dan melihat ke arah Pulau Cemara Kecil di kejauhan, ada cahaya terang yang muncul dari tengah pulau—cahaya berwarna ungu keemasan yang menyinari langit pagi yang sudah mulai menerangi langit.

Laras melihat bunga bakung laut yang ada di dalam ember—kelopak bunganya kini mulai mekar lebih lebar dan memancarkan aroma yang sangat harum, seolah membawa pesan kedamaian dari dasar laut. Dia tahu bahwa perjuangan yang sebenarnya baru saja dimulai, dan bahwa makam karam yang selama ini menjadi misteri akan segera mengungkapkan seluruh rahasianya. Jaka berdiri di sebelahnya, tangan nya menepuk bahu Laras dengan penuh dukungan, sementara Pak Darmo sudah mulai mengatur arah kapal untuk segera kembali ke pulau tersebut.

Di tengah laut yang kini mulai bergelora lagi, mereka bisa melihat sekelompok ikan besar yang berenang menyusuri kapal mereka—seolah menjadi garda pengawal dalam perjalanan mereka menuju akhir dari misteri yang telah mengikat laut Pasuruan selama berabad-abad. Laras merenungkan kata-kata neneknya yang selalu terngiang di telinganya: “Laut tidak pernah menyembunyikan rahasia dengan sengaja—hanya kita yang belum siap untuk melihat kebenarannya.” Dan kini, waktunya telah tiba untuk melihatnya dengan mata kepala sendiri…

1
Anna
Thor maaf sekali, tapi ini cerita kamu sebener ee mau novel apa cerpen kok tiap bab beda. bukan beda alur tapi beda isi cerita. padahal tema judul kamu bagus lho. 🙏🙏
Anna
kok agak bingung ya, kan di bab 2 mira sudah kabur sama jaka, kenapa di bab 3 baru ketemu? tapi di awal ada mereka ketemu, eh ketemu atau belum ketemu 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!