Menikah tanpa kehadiran suami bukanlah impian Sheena. Ia terpaksa menandatangani dokumen pernikahan di catatan sipil hanya didampingi oleh ibu mertuanya, sementara Mark Smith—sang suami—lebih memilih merayakan kelulusan S2-nya di Universitas of Oxford tanpa sedikit pun memberi kabar.
Tiga bulan penuh pengabaian membuat hati Sheena mendingin. Saat Mark pulang dengan aura black flag yang kaku dan dingin, Sheena dipaksa pindah ke mansion pribadi pria itu. Mark bersikap seolah Sheena hanyalah orang asing yang menumpang hidup, karena hatinya masih tertahan pada sosok gadis kecil di halte bus bertahun-tahun lalu—satu-satunya orang yang membolehkannya menangis.
Mark tidak sadar, sapu tangan yang ia simpan bagai nyawa adalah milik wanita yang kini ia abaikan di rumahnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, apakah Sheena masih mau menunggu pria yang sudah membuang waktunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai di Media Sosial dan "Suap" Malam Hari
Sheena tidak pernah menyangka bahwa satu kecupan singkat di dahi dari seorang Mark Smith bisa meluluhlantakkan ketenangannya dalam hitungan jam. Begitu ia melangkah masuk ke koridor fakultas kedokteran, suasana mendadak senyap. Semua mata tertuju padanya, dan bisikan-bisikan tajam mulai berdengung seperti lebah.
"Itu dia! Gadis yang turun dari Maybach putih tadi!" "Gila, itu kan CEO SM Corp? Siapa sih dia sebenarnya? Anak simpanan?" "Bukan, lihat deh postingan di akun gosip kampus. Fotonya sudah viral!"
Sheena mempercepat langkahnya, jantungnya berdegup kencang. Ia segera merogoh ponselnya dan benar saja—notifikasi Instagram-nya meledak. Seseorang telah memotret momen Mark mengecup dahinya dari kejauhan dengan kualitas gambar yang sangat jernih.
Judulnya: "The Ice King of Makati Just Melted? Siapa Mahasiswi Kedokteran Beruntung Ini?"
"Sheena! Kau benar-benar berutang penjelasan padaku!" Seru Mika, sahabatnya, yang langsung menyergapnya di depan pintu lab. "Itu benar-benar Mark Smith? Pria paling tampan dan berbahaya di Filipina itu? Kenapa dia menciummu di depan umum?!"
Wajah Sheena memerah padam. Ia ingin menghilang saat itu juga. "Dia... dia hanya sedang gila, Mika. Tolong jangan bahas itu sekarang, aku ada ujian!"
Sepanjang hari, Sheena merasa seperti hewan di kebun binatang. Bahkan dosennya pun sempat meliriknya dengan tatapan penuh tanya. Konsentrasinya buyar total. Setiap kali ia mencoba menghafal anatomi, yang terbayang justru hangatnya bibir Mark di kulit dahinya.
Pukul tujuh malam, Sheena pulang dengan bahu yang lemas. Begitu masuk ke mansion, ia mendapati Mark sudah duduk di ruang tamu, sedang membaca tablet kerjanya dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa pagi tadi.
"Kau sudah pulang?" Tanya Mark tanpa menoleh, suaranya terdengar jauh lebih tenang daripada kemarin.
Sheena berdiri di depannya dengan tangan bersedekap. "Kau tahu apa yang kau lakukan tadi pagi? Aku viral, Mark! Seluruh kampus membicarakanku seolah aku adalah tontonan sirkus!"
Mark meletakkan tabletnya, lalu mendongak menatap Sheena. "Baguslah. Dengan begitu, tidak akan ada 'monyet' lain yang berani menyentuh tanganmu di halte lagi. Anggap saja itu tanda kepemilikan yang sah."
"Kau benar-benar egois!" Rengek Sheena, meski ia tidak bisa menutupi rasa gugupnya.
Mark tidak membalas omelan itu. Ia justru berdiri dan mengambil sebuah kotak kecil bermerek pastry terkenal dari Perancis yang hanya ada di pusat kota Makati. Ia menyodorkannya pada Sheena.
"Makanlah. Aku dengar ujianmu sulit hari ini. Aku membelikannya saat pulang tadi sebagai... permintaan maaf jika kau merasa terganggu," ucap Mark, meski kata "minta maaf" terdengar sangat kaku di lidahnya.
Sheena tertegun. Ia tahu toko pastry ini—antreannya bisa berjam-jam dan harganya sangat mahal. Ia menerima kotak itu dengan ragu. "Kau menyuapku dengan kue?"
"Bukan suap. Aku hanya tidak ingin kau pingsan karena terlalu banyak mengomel," balas Mark datar, namun ada binar jenaka yang tersembunyi di matanya.
Sheena membuka kotak itu dan menemukan macaron warna-warni yang tertata sangat rapi—sesuai dengan urutan warna pelangi. Mata Sheena berbinar melihat kerapian itu. Mark sengaja meminta pelayan toko untuk menyusunnya agar sesuai dengan OCD Sheena.
"Kenapa warnanya berurutan begini?" Tanya Sheena pelan.
"Aku pikir kau akan lebih menyukainya jika terlihat simetris," jawab Mark sambil berjalan menuju kamarnya. "Habiskan semuanya. Aku tidak suka melihat sisa makanan di rumahku."
Sheena menatap punggung Mark yang menjauh. Di satu sisi ia kesal karena dijadikan bahan gosip, namun di sisi lain, perhatian kecil Matthias tentang susunan kue itu menyentuh bagian terdalam hatinya.
"Dasar robot aneh," gumam Sheena sambil tersenyum tipis, mulai mencicipi satu kue yang terasa sangat manis di lidahnya—semis manis perasaan yang mulai menyelinap di antara mereka.