Dituduh Cinta karena kesalahan. Rama membuktikan kalau cintanya bukan kesalahan, murni rasa dari mata turun ke hati. Usaha mendapatkan cintanya seolah didukung oleh jagat raya meski berawal dari kesalahpahaman.
“Nggak masalah nikah karena digrebek, yang penting sah.”
“Siapa kamu, berani mencintai seorang Bimantara.”
“Di dunia ini, Rama jodohnya Gita.”
Kisah cinta Rama Purwangga dan Gita Putri Bimantara, jadilah saksi seberapa darurat cinta mereka.
Spin off Bosku Perawan Tua dan Diam-diam Cinta
=== Mohon dengan sangat agar tidak baca dengan melompat bab dan ikuti sampai akhir ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Usaha Rama
Bab 7
“Serius dia ada di sini?”
Lisa terkejut Rama sudah berdiri di depan nurse station rawat inap VIP. Belum ada satu jam dia menyampaikan masalah Gita. Rama sudah mirip jelangkung mendadak datang
“I-ya ada. Kamu bukannya libur?”
“Masuk malam gue,” sahut Rama lalu berbalik menatap deretan kamar rawat inap. Pandangannya tertuju pada pintu VIP 5.
“Jatuh cinta kamu kayak gitu ya, sampe belain dateng kemari padahal masuk malam.” Lisa menunduk fokus mengisi tindakan medis pada pasien di sistem. “Mbak, VIP 1-5 sudah aku input ya,” ucap Lisa pada rekan sejawatnya.
“Oke, sip."
“Si cinta lagi ngapain Sa?” tanya Rama.
“Sama keluarganya. Eh, yang bawa ke UGD waktu Gita sakit itu … kamu Ram?”
“Hoh, jelaslah. Gue yang gendong terus pindahin ke kursi roda dan gue juga yang angkat dia ke ranjang. Kurang gesit apa gue sebagai laki-laki.” Rama menepuk dad4nya dengan bangga lalu mengacak rambutnya memperbaiki penampilan. Meski pandangan tetap tertuju pada pintu kamar VIP.
Lisa tersenyum. Kalau saja ia mengatakan Gita dan keluarga sedang membicarakan Rama, bisa besar kepala. Biar saja Rama memastikan perasaannya dan berjuang untuk cintanya itu.
“Yakin suka sama gadis itu?”
“Awalnya gue cuma kagum aja, kayak lihat cewe cantik lainnya. Nyatanya yang ini beda. Kayak ada tanda dari tuhan, kalau dia jodoh gue. Buktinya udah berapa kali gue ketemu dia.”
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Pintu ruang VIP 5 terbuka dan sosok yang dibicarakan pun muncul.
“Sa, itu cinta gue. Ya Allah, mimpi apa gue semalem dapat rejeki nomplok begini.” Rama mengusap wajahnya. Lisa sampai berdiri dari nurse station ikut menoleh ke arah tatapan Rama.
“Nggak usah lebay, Ram.”
“Neng Gita, Abang di sini. Jodohmu neng.”
Langkah Gita semakin mendekat dan memang menuju nurse station. Pandangannya dan Rama pun bertemu, ia lalu tersenyum.
“Mbak."
Lisa beranjak. “Iya, bisa dibantu?”
“Hm. Mama aku bilang ujung perbannya nggak enak. Bisa dilihat atau diganti, kayaknya udah gak nempel."
Rama masih mematung memperhatikan Gita berdiri di sampingnya sambil mengu-lum senyum.
“Oh iya. Saya cek ya. Kenapa nggak panggil dari kamar aja, nanti saya langsung ke sana.”
“Nggak masalah. Sekalian aku mau nyusul papa. Makasih ya, mbak."
“Sama-sama. Saya langsung cek deh.” Lisa mengambil baki aluminium dan membawa peralatan medis sesuai dengan keluhan pasiennya.
Gita mengangguk pada Rama.
“Mau kemana?” tanya Rama
“Ke cafe. Eh, iya, cafenya di mana? Aku belum hafal.”
Wajah Rama sepertinya mirip gps, bukan kali ini saja Gita bertanya arah.
“Yuk, diantar. Kebetulan searah,” sahut Rama sempat melirik Lisa dan mengerlingkan matanya.
Lebih tahu rute rumah sakit, termasuk rute terjauh dan terpendek. Rama membawa Gita memutar agar lebih lama sampai café. Meski hanya berjalan mengitari rumah sakit cukup membuat jantung keduanya kebat kebit dan agak canggung
“Udah sembuh?” Rama bertanya sambil menatap Gita yang berjalan di sampingnya.
“Udah,” jawab Gita lalu menunduk.
“Sering kambuh gitu asmanya? Apa karena malam itu dingin kali ya.”
Gita menoleh. “Mungkin.”
Ya ampun gemes banget sih neng. Rasanya pengen Abang bawa ke KUA sekarang juga
“Nggak main lagi ke kampung sawah?”
“Kampung sawah?” tanya Gita lagi-lagi dia menoleh.
“Iya, kosan Bela.”
Gita berhenti melangkah menatap Rama sambil mengernyitkan dahi. “Kenal sama Bela? Kok tahu aku pernah ke Kampung Sawah.”
Rama terkekeh. Apa sih neng yang nggak abang tahu.
“Tahu-lah. Nggak asing sama kamu, pernah ketemu sebelumnya. Aku juga tinggal di daerah sana.”
“Owh, gitu.” Gita mengangguk paham, kembali melangkah. Ponselnya bergetar, pesan dari papa Arya menanyakan jadi atau tidak menyusul ke café. “Ini masih jauh?”
“Di belokan depan,” jawab Rama. “Kamu alergi apa?”
Gita kembali menoleh lalu mengedikan bahu. “Nggak ngerti. Kata dokter bisa udara kotor, bisa makanan atau cuaca. Entahlah.”
“Syukurlah. Kirain alergi sama cowok ganteng.”
Gita terkekeh. “Kalau iya, aku udah sekarat kali. Papa sama kakak aku semua ganteng-ganteng.”
“Sekarang juga udah kej4ng kali ya, secara aku juga ganteng.”
Gita semakin melebarkan senyumnya.
“Udah sampe tuh." Rama menunjuk ke arah cafe. "Mau dianter kemana lagi?"
Gita menggeleng, wajahnya tersipu malu.
"Takutnya mau dianter ke tempat lain. Misal, KUA. Aku duluan ya. Semoga Mamanya cepat sehat dan kamu makin cantik eh, maksudnya sehat selalu.”
“iya, makasih.” Gita mengu-lum senyum dan Rama melambaikan tangan lalu berbalik ke arah lain.
Entah bagaimana penampilan Gita sekarang. Mendadak pipinya terasa panas dan menjalar ke telinga. Bahkan senyum enggan pudar dari wajahnya. Baru kali ini berinteraksi dengan pria selain dari klan Bimantara, meski yang disampaikan pria tadi bukan hal serius. Namun, berhasil menyentuh hati dan jantung yang mendadak berdetak tidak normal.
Ia menggigit bibir bawahnya, berusaha tidak tertawa saat memasuki café. Inikah rasanya … menyukai seseorang. Tunggu, apa iya dia menyukai pria itu.
Langkah Gita terhenti lalu berbalik.
“Namanya siapa ya, kenapa lupa tanya.”
“Gita. Kenapa?”
Tersadar karena tepukan papa di bahu, ia menoleh dan menggeleng. Papa bahkan menatap keluar dan sekeliling.
“Kamu sama siapa?”
“Papa udah selesai ngopi? Aku mau makan ya, tungguin.” Mengalihkan pembicaraan, mana mungkin ia jujur diantar seorang pria.
Tidak jauh, Rama yang melangkah sambil bersiul bahkan sampai berlari kecil. Mendadak ia terdiam. “Kenapa nggak minta nomor hpnya ya. Ck, jatuh cinta, bikin gue mendadak b0lot gini.”
Ponselnya berdering, ternyata telpon dari ibunya.
“Iya, bu.”
“Kamu di mana Ram?
“di SM Bu, kenapa?” tanya Rama, khawatir wanita itu butuh dirinya.
“Nggak pa-pa, tapi bukannya masuk malam?”
“Jadwal kerja emang malam, ini lagi usaha cari menantu buat ibu.”
“Udah ada? Nggak usah lama-lama, biar ibu lamarin buat kamu. Bapak pasti ikut senang kamu serius mau menikah,” seru ibu di ujung sana.
“Semoga nggak lama bu, doakan ya.”
...Tim Pencari Kitab Suci🤸...
Lisa Kanaya : Ramaaaaa 😀
Beni Ganteng : Orangnya nggak denger
Lisa Kanaya : Rama lagi sama Gita. Dibawa kemana itu anak gadis orang
S4pri : Serius ini? Ada di mana, saya samperin deh
Yuli Imut : Duh, penasaran sama cewek itu
Beni Ganteng : Yang jelas cantik
Rama P. : Cantiklah masa ganteng. Dokter Oka saksinya
Asoka Harsa : Cantik dan imut, tapi lebih cantik Lisa Kanaya
Rama P. : Halah, takut suruh tidur di luar
Lisa Kanaya : Hihi, aku percaya suamiku jujur. Ram, Gita dibawa kemana?
Rama P. : Ya ampun, gue cowok baik-baik. Neng cinta gue anter nemuin bapaknya. Mana lupa tanya nomor telpon, definisi duniaku teralihkan karena senyumnya, anjayyyy
Beni Ganteng : Posisi di mana, ngopi nggak?
Rama P. : Bentar bang, lagi memantau pergerakan dulu 🫣. Gue harus pastikan calon ibu anak-anak gue selamat kembali ke VIP
Yuli Imut : Stress si Rama
S4pri : Baru tahu, mbak? kayaknya udah lama sih
Rama P. : Sapri makin kesini makin berani ya, rasanya pengen gue sedot ubun-ubunya pake vacum
dah tau pake nanya 🤭
orang tua kalian juga kalau tau kelakuan kalian begitu pasti kecewa 😔
denger arlan orang baik mah pasangannya sama orang baik, nah situ maniak cewe dapetnya juga tar yang sama kaya kamu 😏
Kalian yang jomblo & dokter vampire duda tambah ngiri aja ya, jangan sampe nganan itu lampu shein hatinya, ngiri aja 😜
ndak jujur az kalo ketangkep basah ma Camer???
hadew....