NovelToon NovelToon
Chasing Her, Holding Him

Chasing Her, Holding Him

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / One Night Stand / Tamat
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Aku adalah saksi dari setiap cintamu yang patah, tanpa pernah bisa memberitahumu bahwa akulah satu-satunya cinta yang tak pernah beranjak."

Pricillia Carolyna Hutapea sudah hafal setiap detail hidup Danesha Vallois Telford
Mulai dari cara laki-laki itu tertawa hingga daftar wanita yang pernah singgah di hatinya.
Sebagai sahabat sejak kecil, tidak ada rahasia di antara mereka. Mereka berbagi ruang, mimpi, hingga meja kuliah yang sama. Namun, ada satu rahasia yang terkunci rapat di balik senyum tenang Pricillia, dia telah lama jatuh cinta pada sahabatnya sendiri.

Dunia Pricillia diuji ketika Danesha menemukan ambisi baru pada sosok Evangeline Geraldine Mantiri, primadona kampus yang sempurna. Pricillia kini harus berdiri di baris terdepan untuk membantu Danesha memenangkan hati wanita lain.

Di tengah tumpukan buku hukum dan rutinitas tidur bersama yang terasa semakin menyakitkan, Pricillia harus memilih, terus menjadi rumah tempat Danesha pulang dan bercerita tentang wanita lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Cahaya fajar menyelinap masuk, menyinari pemandangan yang kacau namun indah di atas tempat tidur. Danesha terbangun dengan sisa-sisa hormon yang masih berdenyut di nadinya. Ia menoleh ke samping dan melihat Pricillia masih terlelap, wajahnya tampak begitu tenang meski ada gurat kelelahan yang nyata.

Danesha tertegun saat menyibak selimut. Di atas sprei putih itu, terdapat bercak merah yang menjadi bukti bisu penyerahan paling berharga dari sahabatnya. Matanya memanas. Rasa syukur dan rasa bersalah bercampur menjadi satu. Ia mengingat setiap rintihan Pricillia semalam, bagaimana gadis itu memanggil namanya saat ia melepaskan semuanya di dalam.

"Gue benar-benar bajingan kalau sampai nyakitin lo lagi, Pris," bisik Danesha. Ia mencium kening Pricillia lama, lalu dengan gerakan protektif, ia menarik gadis itu ke dalam pelukannya, seolah tidak mau membiarkan udara dingin menyentuh kulit Pricillia.

Ponsel Danesha yang tergeletak di lantai bergetar hebat. Ada 50 panggilan tak terjawab dari Evangeline. Dengan tatapan dingin yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya, Danesha mengambil ponsel itu. Ia tidak menjauh; ia justru duduk di samping Pricillia yang mulai terbangun, ingin menunjukkan bahwa tidak ada lagi rahasia.

Danesha mengangkat telepon itu dan langsung mengaktifkan loudspeaker.

"Danesha! Kamu di mana?! Kamu tega banget ninggalin aku di club kemarin! Kita harus bicara..." suara melengking Evangeline memenuhi ruangan.

"Gak ada lagi yang perlu dibicarakan, Vang," potong Danesha datar. "Kita putus. Detik ini juga."

"Apa?! Kamu putusin aku cuma gara-gara kejadian semalam? Aku cuma mau kita senang-senang, Dan!"

Danesha terkekeh sinis, tangannya mengusap perut Pricillia di balik selimut. "Senang-senang dengan obat? Lo salah target, Vang. Semalam gue nemuin senang yang sesungguhnya. Dan itu bukan sama lo. Jangan pernah telepon gue lagi, jangan pernah temuin gue di kampus. Karena kalau lo berani muncul di depan mata gue atau Pricillia, gue nggak akan tinggal diam."

Bip.

Danesha mematikan telepon, lalu melempar ponselnya ke sudut kamar. Ia berbalik menatap Pricillia yang sedang tersenyum puas.

Danesha mendekatkan wajahnya ke perut datar Pricillia, mengecupnya berkali-kali dengan penuh pemujaan.

"Pris... semalam gue nggak pake pengaman. Semuanya gue kasih ke lo," gumam Danesha dengan suara rendah yang terdengar sangat jantan. "Kalau... kalau sampai ada sesuatu yang tumbuh di sini gara-gara semalam, lo jangan takut ya? Gue bakal jadi orang pertama yang sujud di depan orang tua lo buat minta restu."

Pricillia menarik kepala Danesha, memaksa pria itu menatap matanya. "Lo serius, Dan? Lo nggak bakal lari?"

Danesha mencium bibir Pricillia dengan dalam, ciuman yang kini terasa sangat berbeda, penuh dengan rasa memiliki.

"Lari ke mana? Rumah gue kan di sini. Gue mau anak-anak gue nanti mukanya mirip lo, tapi bandelnya kayak gue. Kita bikin satu lagi mau?" canda Danesha dengan tatapan yang kembali menggelap oleh gairah pagi.

Satu jam kemudian, saat mereka sampai dirumah Pricillia untuk sarapan dengan langkah yang sedikit canggung, Papa dan Mama Hutapea sudah menunggu di meja makan. Mereka melihat Danesha yang datang merangkul pinggang Pricillia, seolah jika ia melepasnya satu detik saja, dunia akan kiamat.

Papa Hutapea melirik bercak merah samar di leher putrinya, lalu beralih menatap Danesha. "Sudah selesai istirahatnya, Dan?"

Danesha berlutut di samping kursi Papa Hutapea, wajahnya serius. "Om... semalam saya sudah lancang. Saya sudah ambil apa yang seharusnya saya jaga. Tapi saya janji, seumur hidup saya, cuma Pricillia yang akan jadi satu-satunya wanita di samping saya."

Mama Hutapea hanya tersenyum sambil mengusap kepala Danesha. "Tante sudah tahu ini bakal terjadi, Dan. Cuma Tante nggak nyangka bakal secepat ini. Jaga dia ya, jangan bikin dia nangis lagi gara-gara perempuan murahan seperti yang kemarin."

Pricillia duduk dengan tenang, menikmati kemenangan mutlaknya. Ia telah mendapatkan segalanya, status, cinta, gairah, dan dukungan keluarga. Danesha sekarang adalah budak cintanya yang paling setia.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰🥰😍

1
Retno Isusiloningtyas
mdh2an happy ending
Retno Isusiloningtyas
mmm....
masih nyimak 🤣
Paon Nini
sinting
falea sezi
ngapain ngintil mulu g ada krjaan mending prgi sejauh nya lah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!