NovelToon NovelToon
REINKARNASI ALKEMIS SUCI

REINKARNASI ALKEMIS SUCI

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Kelahiran kembali menjadi kuat / Reinkarnasi / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: ARIYANTO

Xue Xiao adalah seorang alkemis hebat nomor satu di alam abadi, bahkan bakatnya di gadang-gadang akan mampu memecahkan batasan alam abadi dan membuka jalur kenaikan menuju alam Dewa yang telah tersegel selama jutaan tahun melalui Dao alkimia.

Namun pada suatu saat, Xue Xiao dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya untuk merebut Artefak Dewa yang dimiliki Xue Xiao.

Selama ratusan tahun, Xue Xiao hanya berfokus pada Dao Alkimia. Meskipun kultivasinya tinggi, namun dibandingkan mereka yang menempuh jalur Dao beladiri tentu ia tidak bisa menjadi lawan.

Hingga akhirnya, Xue Xiao yang terpojok dan putus asa, memilih untuk meledakkan dirinya dan menyeret para penghianat itu untuk menemaninya di jalan kematian.

Tapi tak disangka, Artefak Dewa yang ia miliki justru menyelamatkan jiwanya disaat-saat terakhir dan membawanya ke dunia yang sama sekali baru, bahkan merekonstruksi tubuh fisiknya yang sudah hancur berkeping-keping.

bagaimana perjalanan Xue Xiao di dunia baru, ikuti terus cerita ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARIYANTO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33

Kegelapan di dalam Klinik Medis Xue malam ini terasa berbeda. Ia tidak lagi berbau obat-obatan herbal yang menenangkan, melainkan berbau amis besi dan aroma melati busuk yang menyengat. Xue Xiao duduk di tengah ruangan, membiarkan jubah rami hitamnya menyapu lantai kayu yang mulai lembap oleh embun malam. Di tangannya, ia memutar-mutar sebuah botol porselen kecil berisi madu hutan yang belum sempat ia campurkan ke dalam ramuan.

Sret... sret...

Suara itu datang dari plafon, lalu dari balik lemari obat yang kini tampak seperti raksasa bisu dalam kegelapan. Xue Xiao tidak bergerak, namun indranya yang tajam sudah menangkap keberadaan lima makhluk yang merayap di sekelilingnya.

"Kalian terlalu lama bersembunyi," ucap Xue Xiao datar. "Keluar, sebelum aku memutuskan untuk meratakan gedung ini bersama kalian di dalamnya."

KRAK!

Langit-langit klinik jebol. Empat sosok mendarat dengan posisi mengepung. Penampilan mereka jauh dari kata manusiawi. Salah satunya bertubuh bungkuk dengan tangan yang sangat panjang hingga menyentuh lantai, kulitnya berwarna abu-abu pucat seperti mayat yang diawetkan. Yang lainnya memiliki wajah yang dijahit kasar, dengan mata yang tidak simetris, satu besar dan melotot, satu lagi menyempit seperti lubang jarum. Mereka mengenakan jubah hitam compang-camping yang mengeluarkan uap ungu beracun.

"Xue Xiao..." sosok yang bertangan panjang mendesis, lidahnya yang bercabang menjilat bibirnya yang hitam. "Tuan Besar Wang mengirim salam. Dia bilang, dia ingin tulang belulangmu dijadikan hiasan di gerbang rumahnya."

Xue Xiao menatap mereka dengan tatapan meremehkan. 'Sekte Gagak Hitam...' batinnya. 'Di Alam Abadi, sekte sampah seperti ini biasanya hanya digunakan untuk membersihkan kotoran di kandang naga. Tapi di dunia yang kekurangan energi ini, mereka merasa seperti penguasa kegelapan.'

"Hanya kalian berempat?" tanya Xue Xiao sambil membuka tutup botol madunya. "Dan satu lagi yang bersembunyi di atas sana... Bau busukmu sulit disembunyikan, bahkan oleh ribuan bunga melati sekalipun."

"SOMBONG! SERANG!"

Keempat mahluk aneh itu melesat. Si Tangan Panjang mengayunkan lengannya yang elastis seperti cambuk baja, menghantam lemari obat di samping Xue Xiao hingga hancur berkeping-keping. Etalase kayu mahal itu meledak, mengirimkan serpihan tajam ke segala arah.

Xue Xiao tidak menghindar. Ia hanya mengangkat tangan kirinya, menangkap lengan elastis itu dengan gerakan santai.

"Lengan yang menarik," gumam Xue Xiao. "Tapi terlalu banyak lemak. Kau butuh sedikit... pengencangan."

Xue Xiao menyentakkan tangan si pembunuh. Tubuh bungkuk itu tertarik maju dengan kecepatan yang mematahkan lehernya sendiri. Sebelum ia sempat berteriak, Xue Xiao sudah melumuri telapak tangannya dengan madu kental yang ia bawa tadi.

PLAK!

Tamparan manis itu mendarat tepat di wajah si wajah jahit. Madu lengket itu menutupi mata dan hidungnya.

"Kau tahu," Xue Xiao berbisik di telinga si pembunuh yang kini meronta buta. "Di Alam Abadi, ada sebuah teknik penyiksaan yang disebut 'Pesta Semut Langit'. Kita melumuri musuh dengan madu paling manis, lalu meletakkannya di atas sarang semut merah yang lapar. Sayangnya, aku tidak punya semut merah di sini... tapi aku punya sesuatu yang lebih baik."

Xue Xiao menendang dada si wajah jahit hingga terpental menembus jendela depan klinik. Tubuhnya mendarat di trotoar, tepat di bawah tiang lampu jalan yang kebetulan dikerumuni oleh ribuan laron dan serangga malam yang tertarik pada cahaya. Madu di wajahnya mulai menarik serangga-serangga itu masuk ke dalam mulut dan hidungnya yang terbuka lebar karena teriakan sakit.

"SATU!" seru Xue Xiao.

Tiga pembunuh lainnya gemetar. Si Tangan Panjang mencoba menarik lengannya, namun Xue Xiao mencengkeramnya begitu kuat hingga tulang lengannya terdengar retak.

"LEPASKAN AKU, MONSTER!" teriak si Tangan Panjang. Ia mengeluarkan belati dari balik jubahnya dan mencoba menusuk perut Xue Xiao.

Dentang!

Belati itu patah saat mengenai perut Xue Xiao, seolah-olah menghantam dinding granit.

Xue Xiao tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat kejam di ruangan yang gelap itu. 'Menyenangkan sekali memiliki tubuh yang keras. Di masa lalu, aku harus menggunakan jimat pelindung tingkat tinggi. Sekarang? Cukup dengan sedikit mengeraskan otot perut, mereka sudah patah hati.'

Xue Xiao menarik lengan si Tangan Panjang, lalu memelintirnya hingga membentuk simpul yang mustahil bagi anatomi manusia. "Kau suka menggaruk, bukan? Bagaimana kalau kau menggaruk punggungmu sendiri... dari arah dalam?"

Xue Xiao menghantamkan siku pria itu ke arah dadanya sendiri. Suara tulang rusuk yang remuk bergema seperti suara ranting kering yang diinjak gajah. Pria itu jatuh tersungkur, sambil memuntahkan darah hitam yang kental.

"DUA!"

Dua pembunuh yang tersisa kini benar-benar ketakutan. Mereka mengeluarkan asap ungu dalam jumlah besar, mencoba menciptakan ilusi untuk melarikan diri. Namun, Xue Xiao hanya menghentakkan kakinya ke lantai.

BUM!

Gelombang tekanan udara menyapu asap itu dalam sekejap, menghancurkan meja pendaftaran dan kursi-kursi tunggu hingga menjadi debu. Dua pembunuh itu terlempar ke dinding belakang, tergantung di sana karena tekanan udara yang diciptakan Xue Xiao.

Xue Xiao berjalan mendekat. Ia mengambil seikat bulu ayam dari atas meja yang hancur, alat pembersih debu milik Pak Tua Han.

"Pernahkah kalian merasa sangat gatal tapi tidak bisa menggaruknya karena tangan kalian patah?" tanya Xue Xiao dengan senyum iblis.

Ia mulai menggelitik telapak kaki salah satu pembunuh dengan bulu ayam tersebut, namun ia menambahkan sedikit getaran frekuensi tinggi melalui tangannya. Setiap sentuhan bulu itu terasa seperti ribuan jarum listrik yang menusuk saraf sensorik lawan.

"HAHAHA... TIDAK! AMPUN! HAHAHA... UHUK!" Pembunuh itu tertawa histeris hingga paru-parunya mulai kekurangan oksigen, matanya melotot, dan pembuluh darah di wajahnya mulai pecah satu per satu karena tekanan tawa yang dipaksakan. Ini adalah penyiksaan yang paling mematikan, mati karena kebahagiaan yang dipaksakan.

"TIGA!"

Xue Xiao melepaskan cengkeramannya, membiarkan mahluk itu jatuh tak bernyawa karena gagal jantung. Ia kemudian menatap pembunuh terakhir yang kini sudah mengencingi jubah hitamnya sendiri.

"Siapa namamu?" tanya Xue Xiao pelan.

"U-Utusan... bukan... aku hanya pengawal Utusan Mo..." rintihnya.

"Di mana dia?"

"Di... di balkon lantai dua..."

Xue Xiao mendongak. Ia melihat sesosok bayangan yang berdiri diam di balik pagar balkon lantai dua. Hawa membunuh dari sosok itu jauh lebih dingin dan stabil. Bau melati busuk itu terkonsentrasi sepenuhnya di sana.

"Utusan Mo," suara Xue Xiao menggelegar, meruntuhkan sisa-sisa kaca jendela yang masih menempel di bingkainya. "Turunlah. Jamuan madu ini masih tersisa banyak, dan aku baru saja menemukan sarang semut di halaman belakang yang sangat cocok untuk kulitmu yang pucat itu."

Utusan Mo perlahan melangkah ke tepi balkon. Tudung hitamnya terbuka, memperlihatkan wajah yang sangat runcing dengan kulit transparan hingga pembuluh darahnya terlihat jelas. Matanya berwarna abu-abu tanpa pupil.

"Xue Xiao," suara Utusan Mo terdengar seperti gesekan pisau di atas batu nisan. "Kau telah menghancurkan mainan-mainanku. Sekarang, aku sendiri yang akan memastikan dagingmu dipisahkan dari tulangmu dengan cara yang paling artistik."

Xue Xiao membuang botol madunya yang sudah kosong. Ia meregangkan lehernya hingga berbunyi patah-patah. "Artistik? Bagus. Karena aku sudah bosan dengan cara-cara kasar. Mari kita lihat seberapa Seni kematianmu malam ini."

1
Mujib
/Good//Good//Good//Good//Good/
Mujib
/Pray//Pray//Pray//Pray//Pray/
Mujib
/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Mujib
/Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt/
Mujib
/Sun//Sun//Sun//Sun//Sun/
Mujib
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Mujib
/Drool//Drool//Drool//Drool//Drool/
Mujib
/Angry//Angry//Angry//Angry//Angry/
Mujib
/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
Mujib
/Casual//Casual//Casual//Casual//Casual/
Mujib
/Frown//Frown//Frown//Frown//Frown/
Mujib
/Smile//Smile//Smile//Smile//Smile/
Mujib
🤣🤣🤣🤣🤣
Mujib
/Coffee//Coffee//Coffee//Coffee//Coffee/
Mujib
😅😅😅😅😅
Mujib
👀👀👀👀👀
Mujib
🤔🤔🤔🤔🤔
Mujib
🖕🖕🖕🖕🖕
Mujib
💪💪💪💪💪
Mujib
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!