NovelToon NovelToon
Pura-Pura Jadi Supir

Pura-Pura Jadi Supir

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Konglomerat berpura-pura miskin / Menyembunyikan Identitas / Perjodohan
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

Di usianya yang ke-33, Raditya Mahardika harus menerima perjodohan konyol dengan Bianca Adyatama, gadis 20 tahun yang masih kuliah dan merupakan putri rekan bisnis keluarganya. Ragu dan curiga, Raditya punya rencana gila: menyamar menjadi supir di rumah keluarga Adyatama.
Sebagai 'Rio', supir barunya, Radit menyaksikan realitas yang mengejutkan. Bianca bukan hanya manja, tapi juga arogan dan suka merendahkan orang.
Namun, di tengah kekecewaannya, mata Radit justru tertuju pada sosok lain: Kirana Adyatama. Kakak Bianca yang berusia 27 tahun. Di mata keluarganya, Kirana hanyalah barista kafe, bahkan sering diperlakukan seperti pelayan. Tapi, di balik seragam kafe dan senyum hangatnya, Kirana menyimpan rahasia besar.
Mana yang akan dipilih Radit? Calon istri yang dijodohkan, atau kakak yang menyimpan mutiara tersembunyi? Bagaimana jika rahasia penyamarannya terbongkar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Matahari sore di Surabaya mulai meredup, menyisakan semburat jingga yang memantul pada gedung-gedung pencakar langit di sepanjang Jalan Walikota Mustajab. Setelah menyelesaikan urusan di kantor KiraPharma, suasana di dalam mobil terasa lebih sunyi namun dipenuhi ketegangan yang berbeda.

Kirana duduk di samping Raditya, jemarinya lincah menari di atas layar ponsel, sementara beberapa lembar dokumen teknis tentang formula farmasi berserakan di pangkuannya. Raditya sesekali melirik dari sudut matanya. Ia kini menatap Kirana dengan kacamata yang berbeda; bukan lagi sekadar majikan yang baik hati, melainkan seorang kolega bisnis yang tangguh dan cerdas.

"Mas Rio, kita langsung ke Hotel Grand City ya. Saya sudah terlambat sepuluh menit untuk bertemu delegasi dari Osaka," ucap Kirana, suaranya terdengar sedikit bergetar karena cemas.

"Baik, Mbak Kirana," jawab Raditya tenang.

Namun, di dalam hati, Raditya mulai waspada. Hotel Grand City adalah salah satu basis utama pertemuan bisnis kelas atas di Surabaya. Mahardika Group sering mengadakan simposium properti dan teknologi di sana. Peluang ia bertemu dengan jajaran direksi, relasi bisnis, atau bahkan teman-teman pergaulan kelas atasnya sangat besar.

Begitu mobil Mercedes-Benz tua itu memasuki area drop-off Hotel Grand City, Raditya segera menarik topi gelapnya lebih rendah dan sedikit menundukkan kepala. Ia melihat beberapa mobil mewah terparkir di sana, termasuk sebuah mobil yang ia kenali sebagai milik salah satu kontraktor di bawah naungan perusahaannya.

"Aduh, bagaimana ini..." Kirana tiba-tiba menghela napas panjang, wajahnya mendadak pucat setelah membaca sebuah pesan masuk.

"Ada masalah, Mbak?" tanya Raditya sambil mematikan mesin.

Kirana menoleh dengan tatapan frustrasi. "Rika baru saja mengabari, staf penerjemah bahasa Jepang yang seharusnya mendampingi saya mendadak pingsan karena asam lambung dan dilarikan ke UGD. Investor dari Jepang ini sangat konservatif, mereka tidak begitu lancar bahasa Inggris dan sangat menghargai jika kita berkomunikasi dengan bahasa mereka. Ini proyek kerjasama riset yang sangat krusial, Mas Rio. Kalau komunikasi kami terhambat, kerjasama ini bisa batal."

Raditya terdiam sejenak. Ia melihat Kirana yang tampak sangat terpukul. Jiwa pemimpinnya bergejolak. Ia tidak bisa membiarkan wanita sehebat Kirana gagal hanya karena kendala bahasa. Lagipula, Raditya pernah tinggal di Tokyo selama tiga tahun untuk mengurus ekspansi Mahardika Group, dan ia fasih bahasa Jepang tingkat bisnis.

"Kalau Mbak Kirana mengizinkan... saya bisa membantu menjadi penerjemah," ucap Raditya dengan nada datar namun meyakinkan.

Kirana tertegun. Ia menatap supirnya itu dengan mata membelalak, seolah-olah Raditya baru saja mengaku bisa terbang.

"Mas... Mas Rio bisa bahasa Jepang?"

Raditya mendehem pelan, mencari alasan yang masuk akal bagi seorang supir. "Dulu, sebelum bekerja dengan Pak Haris, saya pernah menjadi supir pribadi seorang ekspatriat Jepang di Jakarta selama tiga tahun. Karena sering mengantar beliau ke pertemuan bisnis, saya belajar bahasanya sedikit-sedikit, Mbak. Ya... lumayan untuk percakapan formal."

Kirana masih tampak sangsi, namun ia tidak punya pilihan lain. Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore lewat lima menit.

"Benarkah? Ini bukan bahasa Jepang biasa, Mas Rio. Ini istilah teknis farmasi dan negosiasi bisnis."

"Mbak bisa berikan berkasnya kepada saya sekarang. Saya akan pelajari selama kita berjalan menuju ruang pertemuan," jawab Raditya mantap.

Dengan ragu, Kirana menyerahkan map biru yang berisi dokumen profil perusahaan dan detail kerjasama. Raditya membukanya. Matanya bergerak cepat menyisir poin-poin penting. Istilah seperti investasi ekuitas, uji klinis fase tiga, dan distribusi logistik bukanlah hal asing baginya. Dalam waktu kurang dari dua menit, ia sudah memahami inti dari apa yang diinginkan pihak Jepang.

"Ayo, Mbak. Jangan biarkan mereka menunggu terlalu lama. Orang Jepang sangat benci ketidakteraturan waktu," ucap Raditya, kali ini nadanya lebih seperti seorang penasihat daripada supir.

Kirana terpaku sejenak melihat kepercayaan diri Rio. "Baiklah. Mas Rio ikut saya ke dalam. Tapi tolong... jangan jauh-jauh dari saya."

Mereka melangkah memasuki lobi hotel yang megah. Raditya berjalan satu langkah di belakang Kirana, menjaga postur tubuhnya agar tetap terlihat seperti asisten. Setiap kali ia melihat sosok yang ia kenali di lobi, ia segera membuang muka atau berpura-pura sibuk membaca dokumen. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut menghadapi investor, tapi karena takut penyamarannya terbongkar di tempat yang salah.

Mereka tiba di depan sebuah ruang private meeting eksklusif. Dua pria Jepang dengan setelan jas hitam yang sangat rapi berdiri di depan pintu, langsung membungkuk hormat.

"Konbanwa (Selamat malam)," sapa Raditya dengan pelafalan yang sempurna, bahkan lengkap dengan ojigi (membungkuk) pada sudut yang tepat.

Kirana melirik Raditya dengan rasa takjub yang tak bisa disembunyikan. Cara Rio berbicara barusan sama sekali tidak terdengar seperti "sedikit-sedikit". Suaranya terdengar sangat elegan dan berkelas.

Di dalam ruangan, telah menunggu Mr. Tanaka, seorang pria tua dengan tatapan mata yang tajam dan dingin. Suasana terasa sangat formal dan kaku. Kirana duduk di depan meja bundar, sementara Raditya berdiri di sampingnya, memegang map dengan sikap siaga.

Mr. Tanaka mulai berbicara dalam bahasa Jepang yang cepat dan bernada tinggi, tampak sedikit kesal karena keterlambatan dan absennya penerjemah resmi.

Raditya segera membungkuk dan menjawab dalam bahasa Jepang yang sangat halus (Keigo).

"Mohon maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan ini, Tanaka-sama. Saya adalah asisten pribadi Kirana-san. Penerjemah kami mengalami musibah kesehatan mendadak, namun Kirana-san sangat menghargai pertemuan ini sehingga beliau tetap hadir tepat waktu untuk menghormati Anda. Jika Anda berkenan, saya yang akan menjembatani diskusi kita sore ini."

Mendengar penjelasan Raditya, raut wajah Mr. Tanaka yang tadinya keras perlahan melunak. Ia tampak terkejut melihat seorang "asisten" yang memiliki kemampuan bahasa sefasih itu, bahkan menggunakan tingkatan bahasa yang paling hormat.

"Mas... Mas Rio bicara apa?" bisik Kirana cemas, tangannya dingin karena gugup.

"Saya bilang Mbak Kirana sangat menghormati beliau, jadi beliau tidak marah lagi. Silakan mulai presentasinya, Mbak. Bicara saja seperti biasa, nanti saya terjemahkan bagian teknisnya," bisik Raditya kembali.

Pertemuan pun dimulai. Kirana memaparkan visi KiraPharma dengan luar biasa. Ia menjelaskan bagaimana perusahaannya fokus pada pengobatan terjangkau namun berkualitas tinggi. Setiap kali Kirana berhenti, Raditya menerjemahkannya ke dalam bahasa Jepang dengan diksi bisnis yang sangat tepat, bahkan ia mampu menambahkan argumen-argumen strategis yang membuat Mr. Tanaka berkali-kali mengangguk kagum.

Kirana merasa seperti sedang bermimpi. Di depannya, Mr. Tanaka yang dikenal sangat sulit dipuaskan, mulai tersenyum dan memberikan pujian. Dan di sampingnya, supir barunya—pria yang tadi pagi hanya ia ajak makan nasi pecel di warung tenda—kini menjelma menjadi seorang negosiator ulung yang mampu mengimbangi pembicaraan tingkat tinggi.

Raditya sendiri merasa sangat bersemangat. Ia kembali ke "habitatnya". Meskipun ia harus menekan kewibawaan aslinya agar tidak terlalu menonjol, ia tidak bisa menyembunyikan kecerdasannya saat membahas angka-angka investasi.

Di tengah pembicaraan, Mr. Tanaka bertanya tentang struktur modal jangka panjang. Raditya melirik Kirana, lalu menjawab dengan penjelasan yang bahkan belum sempat Kirana katakan, namun sangat sesuai dengan data di dokumen.

"Tanaka-sama sangat terkesan dengan integritas Anda, Mbak Kirana. Beliau bilang, jarang melihat pemimpin muda yang memiliki asisten sekompeten ini," ujar Raditya saat memberikan jeda untuk Kirana minum.

Kirana menatap Raditya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa syukur, kagum, namun juga rasa penasaran yang membuncah. Siapa kamu sebenarnya, Rio? batinnya. Supir mana yang tahu perbedaan antara 'Joint Venture' dan 'Equity Participation' dalam bahasa Jepang kuno?

Setelah dua jam diskusi yang intens, Mr. Tanaka berdiri dan mengulurkan tangan kepada Kirana. Ia berbicara sesuatu yang cukup panjang sambil tersenyum lebar.

"Beliau bilang, beliau setuju untuk menandatangani MoU hari ini juga. Beliau sangat menyukai semangat Mbak Kirana," terjemah Raditya dengan senyum tipis.

Kirana hampir saja melompat kegirangan jika tidak ingat sedang berada di ruangan formal. Setelah proses administrasi selesai dan delegasi Jepang meninggalkan ruangan, Kirana terduduk lemas di kursinya, namun wajahnya berseri-seri.

Ia menoleh ke arah Raditya yang sedang merapikan berkas. "Mas Rio... saya tidak tahu harus bicara apa. Kamu baru saja menyelamatkan masa depan perusahaan saya."

Raditya meletakkan map itu di atas meja. "Saya hanya melakukan tugas saya, Mbak."

"Tidak, Mas. Ini jauh melampaui tugas seorang supir," Kirana berdiri, mendekati Raditya. Jarak mereka cukup dekat hingga Raditya bisa mencium aroma sisa kopi dan parfum elegan Kirana.

"Bahasa Jepangmu... itu bukan bahasa orang yang 'belajar sedikit-sedikit'. Kamu bicara seperti seorang profesional. Benarkah kamu hanya supir ekspatriat dulu?"

Raditya terdiam sejenak, menatap mata Kirana yang jernih dan penuh selidik. Untuk pertama kalinya, ia merasa terpojok oleh kecerdasan seorang wanita.

"Mungkin saya murid yang sangat cepat belajar, Mbak Kirana."

Kirana tertawa kecil, meskipun matanya tetap menunjukkan rasa tidak percaya. "Kamu penuh rahasia, Mas Rio. Tapi apa pun itu, terima kasih. Kamu benar-benar luar biasa sore ini."

Saat mereka berjalan keluar menuju lobi, Raditya kembali bersiaga. Dan benar saja, di dekat pintu keluar, ia melihat sosok yang paling ia hindari: Bram, asisten pribadinya di Mahardika Group, sedang berjalan bersama beberapa klien penting.

Raditya refleks menarik lengan Kirana dan membawanya berbelok menuju lorong samping yang mengarah ke parkiran belakang, menghindari area lobi utama.

"Loh, Mas Rio? Kenapa lewat sini? Mobilnya kan di depan," tanya Kirana bingung.

"Emm... tadi saya lihat ada kerumunan wartawan di depan, Mbak. Saya pikir Mbak Kirana ingin menghindari publikasi setelah pertemuan besar ini, kan? Supaya rahasia Mbak sebagai CEO tetap terjaga," kilas Raditya cepat, memberikan alasan yang sangat masuk akal bagi Kirana.

Kirana tertegun, lalu tersenyum kagum. "Kamu bahkan memikirkan privasi saya sedalam itu? Mas Rio, kamu benar-benar supir paling pengertian yang pernah ada."

Raditya menarik napas lega saat mereka sudah sampai di mobil. Penyamarannya masih aman, setidaknya untuk hari ini. Namun, ia tahu, setelah kejadian di ruang rapat tadi, Kirana tidak akan lagi melihatnya sebagai "Rio si supir biasa".

Malam mulai turun menyelimuti Surabaya. Di dalam mobil, suasana terasa hangat dan mulai akrab. Kirana tampak lebih rileks, ia bahkan menyandarkan kepalanya di jok sambil menatap keluar jendela dengan senyum yang tak kunjung hilang.

"Mas Rio," panggil Kirana pelan.

"Iya, Mbak?"

"Makan malam nanti... kita cari tempat yang enak ya? Sebagai perayaan kesuksesan hari ini. Dan kali ini, saya yang traktir di tempat yang Mas Rio suka. Jangan menolak ya?"

Raditya tersenyum di balik kemudi. "Tentu, Mbak Kirana. Saya tahu satu tempat yang tenang di pinggiran kota."

Perjalanan sore itu berakhir dengan sebuah kemenangan besar bagi Kirana, dan sebuah teka-teki besar bagi Raditya. Ia sadar, ia mulai masuk terlalu dalam ke dalam hidup Kirana, dan ia mulai menikmati setiap detik penyamaran ini—bukan karena permainannya, tapi karena wanita yang berada di sampingnya.

***

1
Ma Em
Raditya sdh terpikat dgn pesona Kirana , Raditya lbh baik sudahi penyamaran mu dan terus terang saja bahwa kamu sdh menyukai Kirana .
shabiru Al
masa gak nyadar sama perasaan nya sendiri,, raditya sudah jatuh cinta sama kirana
Nda
novelmu luar biasa thor
merry
Kirana cinta mu dit 😄😄😄 mky kmu melakukan hal. plg gila yg blm kmu lakukan,, klien triliunann kmu abaikn demi Kirana
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
🤗
Desi Santiani
double up thor seruuu bgttt
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up trs
shabiru Al
nah lho kayaknya kirana bakalan tau siapa rio sebenarnya
Reni Anjarwani
lanjut thor
Reni Anjarwani
bagus bgt ceritanya , doubel up thor
shabiru Al
waaahhh pertemuan apa ya,, sama siapa ya,, bianca kah ? atau kirana ?
shabiru Al
benar2 tipe perempuan yang merepotkan bianca itu
shabiru Al
jangan lama2 dong nyamar nya,, dah tau kan gimana bianca dan kirana spt apa
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
✦͙͙͙*͙*ᴍs.ʀ͠ᴇɴᴀ✨: up setiap jam 8 pagi, kak 😊
total 1 replies
shabiru Al
cocok banget visualnya
shabiru Al
udah mulai condong ke kirana nih
shabiru Al
buseeett holang kaya mah bebas ya...🤭
Ma Em
Semoga yg pertama Rio adalah Raditya bkn Bianca tapi Kirana , Bianca biar dia kerja magang di perusahaan nya Raditya tanpa tau Raditya adalah Rio agar Bianca TDK cari perhatian pada Rio .
merry
tu kn gk adil msk ank dr istri pertama yg kaya tdr dikmr biasa sdgkn ank dr bini kedua hdp penuh kemewahan,,, Bpk haris jg knp diem ajj si
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!