NovelToon NovelToon
SURA Penahluk Siluman

SURA Penahluk Siluman

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Fantasi Isekai
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Elprasco

Berada di tengah laut jawa, Pulau Koriyaksa dihuni para siluman dalam segala bentuk, dipimpin oleh siluman tanpa nama berwujud menakutkan. Akhirnya setelah 50 tahun berperang, sebuah perjanjian damai ditandatangani.
Setiap malam satu suro, bangsa manusia wajib mengirim tumbal untuk dipersembahkan pada Sang Raja.
Namun Sura mahasiswa yang terlempar ke dalam buku harus menjadi tumbal ke-100, anehnya dia justru berhasil merebut hati Sang Penguasa. WARNING! HATI-HATI DALAM MEMILIH BACAAN!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Setengah siluman

Malam ritual pun tiba.

Keberhasilannya menumbuhkan bunga tidak berdampak apapun. Justru sejak hari itu, Raja tak pernah menunjukkan batang hidungnya.

"Argh...sial!" mengumpat dalam hati,

Sura berdiri di dalam ruang luas bercahaya lilin. Entah kenapa malam ini hanya ada sedikit obor yang menerangi istana,

BLAR! Terdengar suara petir ditemani kilatan cahaya,

Tiupan angin kencang masuk melalui jendela, diikuti percikan air hujan yang terus mengguyur sejak tadi pagi.

"Di luar sedang badai...cocok sekali suasananya." batin Sura tersenyum sepat,

"Apa aku akan mati malam ini?"

Sura berdiri tegak menatap kaca yang menampilkan tubuh kekarnya dibalut seutas kain menutupi pinggang.

"Aku gatau kalau tumbal harus potong rambut dulu.." seru Sura merasa risih,

"Tentu saja. Tumbal tidak boleh kotor dan harus dibersihkan dengan benar!" sahut Anubis dengan ketus,

Berdiri di samping, melihat pelayan berwujud tikus yang memotong pendek rambut pirang milik Sura. Pelayan itu juga mengelap dada telanjang Sura dengan kain rendaman anggur,

"Waduh, udah kaya wagyu A5 nih..." masih berusaha tersenyum,

"Kelelawar bagaimana penampilanku?"

"Kamu terlihat sangat menggoda!"

"Kamu benar. Aku memang tampan,"

"Diam kalian!" sontak Anubis merasa muak melihat kedekatan di antara mereka.

Setelah selesai, Anubis mengambil rantai sihir untuk dipasangkan pada tangan dan kaki Sura.

"Ayo pergi! Tumbal harus masuk ke tempat ritual sebelum bulan muncul."

Anubis berjalan keluar diikuti oleh Sura, menyusuri lorong.

Berbekal lentera siluman itu melangkah ke halaman belakang, melewati pintu rahasia yang hanya diketahui beberapa siluman.

"Hais...sial! Kenapa rantai ini terasa dingin sekali?" umpat Sura, telapak kakinya berkedut, tubuhnya gemetar seperti berendam dalam air es.

"Hh, rasakan...bukankah kamu selalu mengeluh, udara disini sangat panas?" lugas Anubis tersenyum puas.

"Itu berbeda! Posisinya sekarang lagi hujan badai, dan kamu membuatku telanjang!" berteriak dalam hati.

Sura diam menggertakkan gigi, berusaha tenang agar tak memancing keributan. Matanya melirik ke sekeliling, tidak ada penjaga satu pun, seakan tempat itu dibiarkan kosong.

"Dimana Raja? Aku tidak melihatnya."

"Raja tidak akan muncul selama hari ritual." menjawab singkat,

"Kenapa? Apa ini semacam tradisi?"

"Tidak, aturan ini dibuat oleh Raja sekarang. Dan tidak ada siapapun yang berhak bertanya apalagi menentang,"

"Sudah jangan banyak tanya! Tugasmu cuma perlu menunggu dalam altar pemujaan." tegas Anubis kehabisan sabar,

Keduanya berhenti di depan pintu berukuran besar. Dengan kedua tangan Anubis mendorong pintu hingga terbuka lebar,

Sedangkan Sura hanya terdiam melihat Anubis yang mulai berjalan ke sisi lain, "Mau kemana---"

"Hh!!"

Tubuhnya terdorong masuk. Siapa sangka Anubis berpindah tempat hanya untuk menendang tubuh Sura dari belakang,

"DASAR ANJING SIALAN!!" pekik Sura menatap kesal gerbang yang mulai tertutup.

"ARGHH!!"

Akhirnya Sura terjebak dalam ruang gelap gulita. Tak ada cahaya sedikitpun, hanya warna hitam memenuhi mata.

"Ergh...aku tak bisa lihat apa-apa," Sura menoleh,

Merentangkan tangan guna meraba sekitar, perlahan melangkah ke tengah ruang. Lantainya sedikit licin, mungkin sebab air hujan yang berhasil menetes ke dalam.

"...?" Sura mengernyit, mendengar samar suara langkah kaki di belakangnya.

"Raja? Dimana ka---"

SLASH! Bunyi tebasan pisau mengarah padanya, nyaris saja mengenai, beruntung Sura sempat menghindar walau harus jatuh ke belakang.

"Ck! Sepertinya ada siluman lain disini." bergumam dalam hati, berusaha bangun.

"Hh!" suara Sura tersedak, dikejutkan oleh uluran lengan yang melilit lengan.

Dalam kegelapan Sura mampu merasakan bilah pisau yang diarahkan langsung ke lehernya.

"Aku sudah lama menunggu malam ini, saat raja lengah dan tidak ada pengawal di dalam istana. Disaat ini lah---"

"Aku akan bertukar tempat denganmu lalu membunuh raja."

Matanya bersinar kekuningan, berbeda dari manusia. Beberapa siluman memiliki kemampuan melihat meski dalam kegelapan,

"Kenapa kamu ingin membunuh raja?"

Sura sengaja mengulur waktu sembari mencari celah lalu kabur. Jikalau gagal, dia akan mencoba kelihaiannya dalam berbicara untuk menjalin kesepakatan.

"Dia tak pantas menjadi raja! Baru-baru ini aku mendengar, kebenaran yang disembunyikan oleh para tetua..."

"Raja sebenarnya adalah wanita."

"Wanita? Jadi benar tebakanku," batin Sura terkejut.

"Lagipula kamu akan tetap mati, daripada disiksa dan dimakan olehnya...lebih baik aku duluan yang membunuhmu,"

"Sial! Aku tidak mau mati di tangan siapapun!" seru Sura mencoba merebut senjata,

Namun terlalu gelap, rantai itu juga menghalangi.

"Haha...manusia lemah sepertimu tidak akan bisa melawanku." tertawa puas karena berhasil melukai telapak tangan Sura.

"His...kenapa rasanya sakit sekali?" merengek kesakitan.

Siluman itu menjaga jarak, sepertinya mulai mewaspadai sikap Sura yang memberi perlawanan.

"Rasakan ini..."

JLEB! Senjata itu berhasil menusuk tubuh,

"Argh!" Sura terpejam ketakutan.

Namun anehnya, tak merasakan sakit sedikitpun, "Eh?? Apa yang terjadi?"

"Hh?!" Matanya terbelalak,

SRASH...

Hujan deras tak lagi berjatuhan, badai pun berhenti berganti dengan angin menyejukkan. Awan hitam menghilang,

Seketika mendatangkan cahaya rembulan yang menerangi ruangan. Memperlihatkan seorang manusia yang berdiri di depan Sura,

TES...

TES...

TES...

Cucuran darah menetes membasahi lantai, entah mengapa orang asing itu berhasil menangkis serangan tadi.

"Pengawal Raja?! Sejak kapan kamu disini?"

Siluman itu tersentak kaget, tubuhnya reflek menjauh merasakan ancaman dari sosok yang tertutup jubah hitam. Karena panik dia tidak sadar kalau berhadapan dengan seorang manusia,

"Cuma manusia rendahan, kenapa harus dijaga pengawal?!"

"Argh...masa bodoh, akan kubunuh kalian berdua!" pekiknya bersiap menyerang,

Berhasil menebas punggung lawan, sayatan lebar membuat jubah hitam itu robek, menampakkan tubuh telanjang tanpa bulu.

Kulit putih dengan rambut cokelat terurai panjang, sepasang pupil biru menyala yang terasa familiar bagi Sura.

"Ternyata wanita..." tertegun melihat tangan mungil yang dipenuhi luka sayatan.

"M-manusia?"

Siluman itu tampak panik hendak kabur, namun... "CRAT!"

Darah mengucur deras dari lehernya, tertebas oleh sebilah pisau yang tadi masih menancap di tangan lawan.

"Hh?!"

Sura terkejut dan tak mengira wanita itu sanggup melakukan pembunuhan. Tubuh siluman kadal langsung tergeletak tak bernyawa,

"Anu---" ucapan Sura tak jadi keluar,

Melihat wanita itu duduk berjongkok, menjadikan mayat tersebut sebagai santapan.

Dia merobek dada mayat sebelum mengeluarkan seluruh organ, darahnya mengalir menggenang ke seluruh ruang,

"KRAUK! KRAUK!" suara gigitan,

Melahap setiap bagian sampai habis tak tersisa.

"Huek..." Sura memalingkan muka, perutnya terasa mual mencium bau anyir yang kian menguat.

Berulang kali Sura menarik nafas guna menenangkan diri.

"Ng...?"

Melirik kembali dan melihat wanita yang telah berdiri mengusap sisa darah di mulutnya.

Kali ini terlihat sangat jelas, meski memiliki tubuh manusia, dua tanduk kecil di kepalanya persis seperti para siluman.

Lagipula mana mungkin ada manusia pemakan bangkai? Dari warna rambut dan juga matanya, tidak salah lagi...

"Apa kamu putri Raja siluman?"

"EH?!" wanita itu tercengang mendengar tuduhan tadi,

"Kudengar dia belum menikah, apa jangan-jangan anak haram? Tapi kenapa tidak punya bulu---"

"Eurgh...aku bukan anak haram Raja, dan Raja tidak pernah memiliki anak." menggertakkan gigi,

Sura diam keheranan melihat reaksi lawan. Dia pun melangkah maju, semakin mendekat hingga membuat seseorang tertekan,

Wanita itu tampak panik memalingkan muka, berusaha menghindar agar mata mereka tak saling menatap.

"Dari seluruh siluman, cuma Raja yang punya mata biru menyala seperti ini. Jadi...kalau bukan anaknya---" matanya menyipit,

"Berarti kamu ini...adalah Raja?!"

1
penulis hiatus
🤣biar ga nyangkut jd rambutnya dipotong
Lili
Seru thor😍
Lili
😍dapat rejeki banyak kalau gini
Ruby
💪Gacor banget si Sura😍🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!