Menikah tanpa kehadiran suami bukanlah impian Sheena. Ia terpaksa menandatangani dokumen pernikahan di catatan sipil hanya didampingi oleh ibu mertuanya, sementara Matthias—sang suami—lebih memilih merayakan kelulusan S2-nya di The Spire Of Wisdom tanpa sedikit pun memberi kabar.
Tiga bulan penuh pengabaian membuat hati Sheena mendingin. Saat Matthias pulang dengan aura black flag yang kaku dan dingin, Sheena dipaksa pindah ke mansion pribadi pria itu. Matthias bersikap seolah Sheena hanyalah orang asing yang menumpang hidup, karena hatinya masih tertahan pada sosok gadis kecil di halte bus bertahun-tahun lalu—satu-satunya orang yang membolehkannya menangis.
Matthias tidak sadar, sapu tangan yang ia simpan bagai nyawa adalah milik wanita yang kini ia abaikan di rumahnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, apakah Sheena masih mau menunggu pria yang sudah membuang waktunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akta Merah di Calapan
Udara di Balai Kota Calapan terasa hangat, namun Sheena Katrina merasa seluruh tubuhnya mendingin. Di depannya, sebuah map dokumen pernikahan sudah terbuka lebar. Di sana tertera nama pria yang bahkan wajahnya tidak pernah ia lihat secara langsung: Matthias Smith, putra mahkota dari dinasti bisnis raksasa SM Corp.
Sheena melirik ke arah kirinya. Bukan Matthias yang duduk di sana, melainkan Lee Young Ae, ibu mertuanya yang keturunan Korea. Wanita itu sangat cantik dan lembut, tangannya yang halus terus menggenggam tangan Sheena seolah ingin menyalurkan kekuatan.
"Maafkan anak Ibu ya, Sheena. Matthias baru saja mengirim pesan, dia terjebak jadwal ujian akhir di Oxford. Tapi dia berjanji akan memberikan yang terbaik untukmu nanti," ucap Lee Young Ae dengan nada yang begitu tulus.
Sheena hanya bisa mengangguk pelan. Di sudut ruangan, ibu dan ayahnya—Batanes Tizon—menatapnya dengan sorot mata penuh harap. Sheena teringat ucapan ayahnya minggu lalu di rumah mereka di Calapan: "Sheena, Ayah jarang meminta sesuatu darimu." Kalimat sakti itu yang meruntuhkan benteng pertahanan Sheena. Sebagai anak bungsu dari empat bersaudara, Sheena selalu dimanja, dan ini adalah pertama kalinya ayahnya meminta sesuatu yang besar.
Lagipula, Sheena tahu kenapa ayahnya seburu-buru ini. Gaya berpakaiannya yang tomboy, hobinya yang lebih suka bergaul dengan siapa saja tanpa pandang bulu, membuat ayahnya parno Sheena akan terjerumus ke pergaulan WLW (Woman Love Woman) yang sedang marak dibicarakan.
Sret. Sret.
Nama Sheena Katrina Smith kini resmi tercatat. Di usia 20 tahun, di saat teman-temannya di Makati sibuk dengan tugas semester III kedokteran, Sheena justru sudah mengikat janji dengan bayangan.
Tiga Bulan Kemudian...
Apartemen Sheena di Makati sudah hampir kosong. Sebagai mahasiswi kedokteran, harinya biasanya diisi dengan tumpukan buku tebal, namun hari ini ia harus bersiap pindah ke kediaman pribadi Matthias.
Sambil mengemasi barang, Sheena menemukan sebuah kotak kecil di laci mejanya. Ia membukanya, melihat isinya yang sudah acak-acak. Ia merasa pernah memiliki sesuatu yang berharga—sehelai kain? Namun, karena kesibukan kuliah kedokteran yang gila-gilaan, memorinya tentang masa kecil di Calapan mulai mengabur. Ia lupa bahwa dulu ia pernah memberikan sebuah sapu tangan jahitan tangan ibunya kepada seorang anak laki-laki yang menangis di halte bus.
"Ah, mungkin tertinggal di rumah Calapan," gumam Sheena sambil menutup kopernya dengan kasar.
Di belahan bumi lain, di sebuah jet pribadi yang sedang melintasi samudera, Matthias Smith duduk dengan tatapan dingin yang tajam. Sebagai generasi ke-4 SM Corp, beban di pundaknya sangat besar. Namun, di balik setelan jas mahalnya, ada sisi lembut yang ia sembunyikan rapat-rapat.
Matthias melipat sapu tangan itu dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah kain itu terbuat dari kaca yang mudah pecah. Setelah memastikan benda itu tersimpan aman di saku dekat jantungnya, wajahnya kembali mengeras, sedingin es.
"Langsung ke mansion, Paolo. Tidak perlu ke Calapan, sisanya kabari Ibu dan Nenek kalau aku sudah sampai," perintah Matthias pada asistennya tanpa menoleh.
Sejak ayahnya meninggal lima tahun lalu, dinamika keluarga Smith memang berubah. Ibu Lee Young Ae—sosok malaikat pelindungnya—memilih untuk meninggalkan kemegahan mansion utama di Metro Manila dan kembali ke Calapan untuk menemani nenek Matthias di perumahan J.P. Rizal. Ibunya lebih memilih ketenangan di sana daripada terjebak dalam hiruk-pikuk bisnis SM Corp yang kini sepenuhnya berada di pundak Matthias dan kakak perempuannya.
Bagi Matthias, kepulangannya kali ini bukan untuk merayakan pernikahan. Pernikahan dengan Sheena hanyalah sebuah kontrak penghormatan terhadap persahabatan mendiang ayahnya dan Ayah Batanes Tizon.
"Tuan, Nyonya Sheena sudah menunggu di sana. Beliau baru saja pindah dari apartemennya hari ini," ucap Paolo hati-hati.
Matthias mendengus dingin. "Biarkan saja. Berikan dia kamar sayap kiri. Aku tidak punya waktu untuk mengurus mahasiswi yang bahkan belum lulus kuliah. Selama dia tidak mengganggu ruang pribadiku, dia bisa tinggal di sana sampai dia bosan."
Matthias tidak tahu, bahwa mahasiswi kedokteran semester III yang ia anggap sebagai "beban titipan" itu adalah pemilik asli sapu tangan yang selama belasan tahun ini ia rawat dengan penuh puja.
–Di Mansion Pribadi Matthias, Makati.
Sheena berdiri di tengah ruang tamu yang luas namun terasa hampa. Langit-langitnya tinggi dengan lampu kristal yang megah, namun suasananya terasa mencekam. Ia baru saja meletakkan tas kedokterannya di atas sofa kulit.
Ia menatap ke arah jendela besar yang memperlihatkan pemandangan gedung-gedung pencakar langit Metro. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menyerang. Ia merindukan rumahnya di Calapan, merindukan kelembutan Ibunya dan ketegasan Ayah Batanes.
Tiba-tiba, suara deru mobil mewah terdengar dari halaman depan. Pintu besar mansion terbuka, memperlihatkan sesosok pria jangkung dengan aura black flag yang begitu pekat. Matthias melangkah masuk tanpa senyum, tanpa sapaan, bahkan tanpa menoleh sedikit pun ke arah Sheena yang berdiri mematung.
Matthias berjalan lurus menuju tangga, namun saat kakinya menginjak anak tangga pertama, ia berhenti sejenak tanpa berbalik.
"Jangan pernah menyentuh area pribadiku di lantai atas, dan jangan pernah berharap ada makan malam romantis di rumah ini," ucap Matthias dengan nada datar yang menusuk. "Kau punya duniamu sendiri, dan aku punya duniaku sendiri. Mari kita tetap seperti itu."
Setelah itu, Matthias menghilang di balik pintu kamarnya, meninggalkan Sheena yang tertegun.
Sheena mengepalkan tangannya. "Sombong sekali," gumamnya kesal. "Kalau bukan karena permintaan Ayah, aku juga tidak sudi ada di rumah dingin ini!"
Sheena tidak sadar, bahwa pria sombong yang baru saja menghinanya itu adalah anak laki-laki yang dulu menangis di halte bus Calapan—pria yang hidupnya terselamatkan hanya karena selembar sapu tangan darinya.