Wei Chen, CEO perusahaan teknologi dan energi terkemuka di Asia Tenggara, mati di usia 40 tahun karena diracun oleh rekan bisnisnya sendiri, Hartono Lim — orang yang selama 15 tahun ia percayai.
Namun takdir berkata lain. Wei Chen terbangun di tubuh seorang pemuda di dunia asing: Shenzhou, dunia Murim yang dihuni para kultivator, pedang terbang, dan klan-klan besar yang menguasai segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saundra Handara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PELAJARAN PERTAMA TENTANG DAGANG
Pagi pertama di toko Toke Wijaya.
Wei Chen bangun lebih awal dari biasanya. Langit masih gelap saat dia sudah berdiri di sumur, membasuh muka dengan air dingin. Udara pagi menusuk kulit, tapi dia tidak peduli.
Di dapur, Mei Ling sudah sibuk. Asap mengepul dari tungku kayu. Aroma bubur hangat memenuhi ruangan kecil itu.
"Makan dulu," katanya saat Wei Chen masuk. "Kerja keras butuh perut kenyang."
Wei Chen duduk di bangku kayu. Mangkuk bubur di depannya masih mengepul. Dihiasi sedikit sayur dan telur rebus — sama seperti biasa. Tapi setiap pagi, rasanya tetap... hangat.
"Kau tidak perlu repot-repot," katanya.
"Aku selalu repot." Mei Ling duduk di seberangnya dengan mangkuk sendiri. "Dari dulu juga begitu. Masak untuk diri sendiri. Sekarang masak untuk dua orang." Dia tersenyum. "Lebih seru."
Wei Chen diam. Menikmati buburnya.
Setelah selesai, dia berdiri. "Aku pergi."
"Hati-hati." Mei Ling menatapnya. "Toke Wijaya... dia licik. Jangan mudah percaya."
"Aku tahu."
Wei Chen melangkah keluar. Langit timur mulai memerah. Ayam-ayam berkokok bersahutan. Desa perlahan bangun.
Toko Toke Wijaya terletak di ujung desa, dekat jalan utama menuju kota. Bangunannya besar — dua lantai, dengan halaman luas yang dipenuhi karung-karung dan gerobak.
Toke Wijaya sudah menunggu di teras, memegang teko teh.
"Tepat waktu," sambutnya. "Aku suka."
Wei Chen mengangguk. Masuk ke dalam toko.
Di dalam, berbagai barang berjejer rapi. Beras, gula, garam, minyak, tembakau, kain, peralatan dapur — semacam toko serba ada.
"Ini tokoku," kata Toke Wijaya bangga. "Semua orang di desa ini belanja di sini. Bahkan dari desa tetangga juga kadang datang."
Wei Chen mengamati. Matanya — mata CEO yang terbiasa menganalisis — langsung melihat beberapa hal.
Tata letak yang tidak efisien. Barang-barang yang seharusnya dekat kasir malah jauh. Label harga yang tidak konsisten. Debu di beberapa rak.
Tapi dia tidak bilang apa-apa.
"Hari pertama, kau bersih-bersih dulu." Toke Wijaya menunjuk sapu dan kain lap. "Setelah itu, kau lihat bagaimana aku melayani pembeli."
Wei Chen mengambil sapu. Mulai bekerja.
Dua jam kemudian, toko mulai ramai.
Ibu-ibu datang belanja kebutuhan dapur. Bapak-bapak beli tembakau. Anak-anak beli gula-gula murah.
Toke Wijaya melayani dengan ramah. Tapi Wei Chen memperhatikan — timbangannya tidak pernah pas. Sedikit kurang. Harga yang disebut selalu sedikit lebih tinggi dari yang tertulis. Kembalian yang diberikan selalu sedikit lebih sedikit.
Licik, pikir Wei Chen. Tapi tidak terlalu pintar.
Dia terus menyapu, tapi matanya tidak berhenti mengamati. Merekam semua trik kecil itu. Menganalisis pola-pola transaksi.
Saat toko sepi, Toke Wijaya memanggilnya.
"Kau lihat sendiri," katanya. "Ini rahasia dagang. Bukan hanya jual barang, tapi juga jual... kepercayaan."
Wei Chen mengangguk.
"Tapi kau juga harus tahu," Toke Wijaya menurunkan suaranya. "Kadang, kepercayaan saja tidak cukup. Kadang kau harus... ambil sedikit lebih. Itu untung."
Wei Chen tidak menjawab. Tapi dalam hati, dia mencatat.
Siang harinya, Toke Wijaya mengajaknya ke pasar kota.
Naik gerobak selama setengah hari, melewati sawah dan bukit-bukit kecil. Sepanjang jalan, Toke Wijaya bercerita tentang pedagang-pedagang lain, tentang harga-harga, tentang siapa yang bisa dipercaya dan siapa yang tidak.
Wei Chen mendengarkan dengan seksama. Menyimpan semua informasi.
Pasar kota Rembang ramai. Ribuan orang berdesakan. Bau rempah, ikan asin, dan keringat bercampur jadi satu.
Toke Wijaya membawanya ke beberapa kios langganan. Membeli barang-barang yang akan dijual di desa.
"Lihat," katanya sambil menawar. "Beras dari sini 5 koin per kilo. Di desa, bisa dijual 8 koin. Untung 3 koin. Tapi ongkos gerobak 1 koin. Jadi untung bersih 2 koin per kilo."
Wei Chen mengangguk. Sederhana. Tapi di bumi, dia mengelola rantai pasok yang jauh lebih kompleks.
"Mau coba?" Toke Wijaya menyerahkan uang. "Beli 50 kilo beras. Tawar sampai 4,5 koin."
Wei Chen mengambil uang itu. Menghampiri penjual.
Dia tidak hanya menawar. Dia berbicara. Tentang kualitas. Tentang cuaca. Tentang panen tahun ini. Tentang pesaing penjual itu di seberang sana.
Lima menit kemudian, dia kembali dengan 50 kilo beras — harga 4,2 koin per kilo.
Toke Wijaya terbelalak. "4,2? Bagaimana caranya?"
"Dia punya utang ke penjual sebelah. Butuh uang cepat." Wei Chen menyerahkan kembaliannya. "Aku tawari bayar tunai, dia turunkan harga."
Toke Wijaya mengamatinya dengan rasa hormat baru.
"Kau... sudah pernah dagang sebelumnya?"
"Pernah." Wei Chen tidak berbohong. "Tapi di tempat yang jauh."
Malam harinya, Wei Chen pulang dengan gerobak penuh barang.
Mei Ling sudah menunggu di beranda. Melihatnya turun dari gerobak dengan pegal di sekujur tubuh, dia tertawa.
"Kau kelihatan seperti habis dihajar."
"Hampir." Wei Chen duduk di bangku kayu, meregangkan punggung. "Dagang itu melelahkan."
"Tapi kau suka?" Mei Ling duduk di sampingnya.
Wei Chen berpikir. Suka? Di bumi, dagang adalah hidupnya. Membangun perusahaan dari nol, mengalahkan pesaing, memperluas pasar — itu yang membuatnya bersemangat.
Dan hari ini, meski hanya belanja beras di pasar kecil, dia merasakan getaran yang sama.
"Aku suka," jawabnya jujur.
Mei Ling tersenyum. "Syukurlah. Aku takut kau tidak betah."
"Mengapa?"
"Karena... kalau kau betah, kau akan tinggal lebih lama."
Wei Chen menatapnya. Wajah Mei Ling di bawah cahaya lampu minyak — lembut, tapi ada kesedihan di matanya.
"Aku akan tinggal," katanya. "Sampai urusanku selesai."
"Urusan apa?"
"Menyembuhkanmu."
Mei Ling diam. Lalu, tiba-tiba, dia tertawa. Tapi tertawanya aneh — campuran antara haru dan sedih.
"Kau keras kepala."
"Aku fokus."
Mereka diam. Suara jangkrik mengisi malam.
"Chen... terima kasih."
"Untuk apa?"
"Untuk... tidak menyerah." Suaranya pelan. "Untuk tetap di sini. Untuk peduli."
Wei Chen tidak menjawab. Tapi tangannya — tanpa sadar — meraih tangan Mei Ling.
Malam itu, mereka duduk berdua. Berpegangan tangan. Tidak bicara.
Tapi cukup.
Tiga minggu kemudian...
Wei Chen sudah hafal ritme kerja di toko.
Setiap pagi, bangun sebelum subuh. Sarapan dengan Mei Ling. Lalu ke toko. Bersih-bersih, melayani pembeli, kadang ikut Toke Wijaya ke pasar. Pulang sore. Malamnya, kultivasi dengan Mei Ling. Tidur.
Sederhana. Tapi produktif.
Suatu sore, saat toko sepi, Toke Wijaya memanggilnya.
"Duduk."
Wei Chen duduk.
"Aku sudah lihat caramu bekerja." Toke Wijaya menuang teh. "Kau cepat belajar. Lebih cepat dari siapa pun yang pernah kualami."
Wei Chen tidak menjawab.
"Kau juga punya bakat dagang. Bakat alami." Toke Wijaya menatapnya. "Aku mau tawari sesuatu."
"Apa?"
"Jadi mitraku." Toke Wijaya tersenyum. "Bukan karyawan lagi. Tapi partner. Aku kasih modal, kau urus operasi. Untung dibagi dua."
Wei Chen diam. Memikirkan tawaran itu.
Di bumi, dia memulai dari jauh lebih kecil. Tapi di sini... ini bisa jadi batu loncatan.
"Aku terima," katanya akhirnya.
Toke Wijaya tertawa. "Bagus! Mulai besok, kau resmi jadi mitraku."
Malam harinya, Wei Chen cerita pada Mei Ling.
Dia terkejut. "Mitra? Dengan Toke Wijaya?"
"Iya."
"Tapi dia... dia licik."
"Aku tahu." Wei Chen tersenyum tipis. "Tapi orang licik itu bisa diprediksi. Yang bahaya adalah orang yang tidak terduga."
Mei Ling menggeleng. "Kau aneh."
"Sudah kubilang."
Tapi dia tersenyum. Senyum bangga.
"Selamat, Chen."
Wei Chen mengangguk.
Di dalam hatinya, satu langkah lagi menuju tujuannya.
Uang. Koneksi. Kekuatan.
Untuk menyembuhkan Mei Ling.
Malam itu, setelah kultivasi, Wei Chen duduk sendiri di beranda.
Bulan hampir purnama lagi. Sebulan sudah dia di desa ini.
Dalam satu bulan, dia punya tempat tinggal. Punya pekerjaan. Punya... seseorang yang berarti.
Di bumi, butuh 20 tahun untuk sampai di sini, pikirnya. Di sini, hanya sebulan.
Mungkin ini awal baru. Mungkin ini kesempatan kedua.
Tapi di bayang-bayang, masih ada Hartono. Masih ada pengkhianatan yang belum terbalas.
Suatu hari, pikir Wei Chen. Suatu hari aku akan cari kau.
Tapi untuk sekarang... dia di sini. Di desa kecil ini. Di samping Mei Ling.
Dan untuk pertama kalinya, dia merasa... damai.
Chapter 5 END.