NovelToon NovelToon
Istri Sementara Di Bawah Hujan Luka

Istri Sementara Di Bawah Hujan Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Di malam ketika hujan mengguyur tanpa ampun, Raya diusir dari rumah yang dulu ia sebut surga. Suaminya menolak kehadirannya hanya karena ia tak mampu memenuhi harapan keluarga—seorang anak laki-laki. Dengan hati hancur dan tubuh gemetar, Raya berjalan tanpa tujuan hingga akhirnya tersungkur di trotoar. Di ambang putus asa, sebuah mobil berhenti di depannya. Pria asing bernama Arya menawarkan sesuatu yang terdengar tak masuk akal: sebuah pernikahan pura-pura sebagai solusi bagi masalah mereka masing-masing.
Arya membutuhkan seorang istri untuk meredam tekanan keluarganya, sementara Raya membutuhkan tempat berlindung dari dunia yang telah menolaknya. Tanpa cinta, tanpa janji manis, hanya sebuah kesepakatan dingin yang mengikat dua jiwa terluka. Namun di balik perjanjian tanpa perasaan itu, perlahan mereka mulai menemukan kehangatan yang tak direncanakan. Dari hubungan yang semula sekadar sandiwara, tumbuh benih perasaan yang menguji batas antara kewajiban dan cinta sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34

Malam semakin larut. Kota mulai hening, hanya suara angin yang lembut menyapu dedaunan di halaman rumah keluarga Atmajaya. Lampu-lampu sudah dimatikan, kecuali satu kamar yang masih menyala, kamar Arya.

Arya duduk di ranjangnya, namun matanya tak kunjung terpejam. Berkali-kali ia memejamkan mata, berharap kantuk menyerangnya, namun yang ada justru bayangan-bayangan kenangan bersama Raya berkelebat di kepalanya.

Dengan tubuh lelah namun pikiran yang terus bergejolak, Arya bangkit dan membuka pintu menuju balkon. Udara malam menyapa wajahnya, segar namun mengandung keheningan yang menghantui.

Ia duduk di kursi rotan balkon, menyandarkan tubuhnya sambil menatap langit malam yang dihiasi bintang-bintang. Angin pelan memainkan helaian rambutnya. Di tengah kesunyian itu, Arya mulai berbicara... bukan pada siapa-siapa, tapi pada dirinya sendiri.

"Aneh banget ya... gimana semua ini bisa sampai ke titik sekarang?"

Ia menghela napas panjang, menunduk, dan menggenggam tangan sendiri.

"Waktu itu... pertama kali ketemu dia berjalan sendirian di tengah derasnya hujan, dia tampak begitu rapuh, tapi sorot matanya... keras, penuh luka. Aku bahkan sempat berpikir, siapa gadis keras kepala ini?"

Arya tersenyum tipis. Kenangan itu begitu segar seolah baru kemarin terjadi. Dia ingat bagaimana Raya tak pernah benar-benar tersenyum padanya di awal pertemuan mereka. Semua yang dilakukan Raya tampak penuh kehati-hatian, seolah selalu siap melindungi dirinya dari dunia yang telah menghancurkannya.

"Tapi dari situ... dari luka-luka itu, aku lihat dia kuat. Dia jalan terus, bahkan ketika semua orang meremehkannya. Bahkan aku sendiri dulu..."

Arya terdiam, lalu tertawa kecil, mengejek dirinya sendiri.

"Dan sekarang? Sekarang aku duduk di sini, memikirkan dia... memikirkan pernikahan besok yang awalnya cuma perjanjian. Gila."

Ia memejamkan mata, bersandar pada sandaran kursi. Angin malam semakin menusuk kulitnya, namun hati Arya justru terasa hangat-campur aduk.

"Nggak mungkin ini cinta. Nggak mungkin aku... jatuh cinta."

Ia membuka matanya perlahan, menatap bintang-bintang.

"Raya pun nggak mungkin mikirin aku seperti itu. Dia cuma fokus membalas orang-orang yang nyakitin dia. Daffa... keluarga yang ninggalin dia... dia hanya punya satu tujuan. Dan aku cuma bagian untuk memuluskan rencananya."

Arya tersenyum pahit. Tapi hatinya tak sepenuhnya sepakat.

"Tapi kalau bukan cinta, kenapa aku takut kehilangan dia? Kenapa setiap dia sedih, aku ikut nyesek? Kenapa waktu dia pendarahan itu... rasanya seperti dunia mau runtuh?"

ini. Arya memejamkan mata lagi, lebih lama kali

"Aku nggak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Entah nanti pernikahan ini bakal berakhir seperti yang dia bilang, atau... mungkin justru baru akan dimulai. Tapi satu hal yang aku tahu..."

Ia menatap ke dalam kamar, bayangan baby Alif dan Raya yang sedang tertidur muncul dalam pikirannya.

"...sampai detik ini, aku akan ada untuk dia. Untuk Raya. Untuk Alif. Karena... walaupun semuanya cuma perjanjian, rasa ini, perasaan yang perlahan tumbuh dan nggak bisa aku bendung itu nyata."

Arya menghela napas panjang, mencoba menenangkan gelombang emosinya. Ia berdiri dari kursi balkon, menatap langit malam untuk terakhir kalinya sebelum kembali ke kamar.

"Besok... aku akan menikah dengan wanita yang mungkin tidak mencintaiku. Tapi aku akan tetap berdiri di sampingnya. Karena kadang... cinta tidak harus dibalas untuk tetap ada."

Ia berbalik, membuka pintu kamar, dan perlahan kembali ke tempat tidurnya. Namun malam itu, meski tubuhnya akhirnya terbaring, hatinya belum benar-benar tertidur.

Karena dalam diam, Arya telah benar-benar jatuh cinta.

Pagi itu terasa berbeda. Matahari memancarkan sinarnya dengan hangat seolah turut menyambut hari bahagia yang dinanti. Di kediaman keluarga Atmajaya, suasana tampak sibuk namun penuh sukacita. Para tamu mulai berdatangan, suara lantunan ayat suci terdengar lembut diiringi aroma melati dan bunga-bunga segar yang menghiasi pelaminan.

Hari ini adalah hari pernikahan Arya dan Raya.

Meski berawal dari sebuah perjanjian, namun getaran hati yang menyertai keduanya tak bisa lagi disangkal. Mereka berdua memang tak pernah secara terang-terangan mengaku saling mencintai, namun setiap perhatian, setiap sentuhan, dan setiap kebersamaan yang mereka lalui telah menanamkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kata-kata.

Di kamar pengantin wanita, Raya berdiri di depan cermin mengenakan kebaya putih berpayet lembut. Hijabnya senada, dilengkapi dengan aksesori bunga melati yang menjuntai anggun. Matanya berkaca-kaca, bukan karena sedih, melainkan karena hatinya bergetar, tak percaya bahwa hari ini benar-benar terjadi.

Bu Atika tersenyum haru, "Mashaallah... cantik sekali kamu, Raya. Seperti bidadari turun dari langit."

Raya hanya menunduk pelan, mencoba menenangkan degup jantungnya yang berlari kencang. Di dalam hatinya, ada campuran rasa bahagia, gugup, dan ketakutan akan masa depan yang belum tentu.

Raya berbisik dalam hati, "Andai semua ini bukan karena perjanjian... andai dia benar-benar memilihku karena cinta..."

Sementara itu di ruang utama, Arya duduk di pelaminan mengenakan beskap putih gading. Sorot matanya tajam namun menyimpan kegugupan yang ia sembunyikan dengan sangat baik. Dia menanti Raya dengan tenang, tapi telapak tangannya mulai berkeringat.

Lalu, seolah waktu berhenti... Raya berjalan perlahan ke pelaminan.

Arya menoleh, dan saat matanya menangkap sosok wanita yang kini menjadi pengantinnya... ia terdiam.

Arya berbisik lirih, "Ya Allah..."

Ia nyaris tidak percaya. Wanita yang selama ini hanya ia kenal dengan sikap keras kepala dan tatapan tajam, kini berdiri di hadapannya dalam balutan putih yang suci, anggun dan lembut.

Arya tersenyum dan berkata pelan, "Kamu cantik sekali, Ray."

Raya hanya tersenyum tipis, menyembunyikan perasaan yang berkecamuk di dadanya. Ia duduk di samping Arya, dan mereka saling bertukar pandang sejenak, tanpa kata.

Kemudian acara dimulai. Wali nikah bersiap. Arya maju, duduk di depan penghulu dan wali nikah. Tangan kanan Arya digenggam oleh sang wali.

Penghulu mengucapkan ijab, dan dengan suara lantang namun khidmat... Tak lama terdengar suara Arya mengucapkan akad dengan satu tarikan nafas dan lancar.

Hening sesaat. Lalu...

Para saksi serempak, "Sah! Sah!"

Ucapan syukur terdengar di seluruh ruangan.

Bu Atika menutup mulutnya, air mata kebahagiaan tak bisa dibendung. Pak Harun memejamkan mata sejenak, lalu mengangguk penuh kebanggaan.

Raya menunduk. Dadanya berdegup lebih kencang dari sebelumnya. Ternyata... saat akad itu diucapkan, bukan hanya kata yang keluar. Tapi juga... getaran. Yang menyentuh hati.

Kemudian Arya menggenggam tangan Raya. Ia mengambil sebuah kotak kecil, membuka isinya, dan mengeluarkan cincin emas putih sederhana namun elegan.

"Bismillahirrahmanirrahim, sekarang kamu resmi sebagai istriku..."

Arya menyematkan cincin itu di jari manis Raya. Lalu Raya, dengan gemetar, mencium tangan suaminya. Sebuah tanda penghormatan dan ketundukan yang menggetarkan.

Arya membalasnya dengan mencium ubun-ubun Raya. Perlahan, penuh hormat. Semua yang menyaksikan adegan itu terharu tak menyangka jika pernikahan ini terasa begitu tulus dan sakral.

Bu Atika berbisik pada suaminya, "Lihat, Mas... mereka terlihat benar-benar saling mencintai..."

Pak Harun tersenyum tipis,

"InshaAllah selamanya seperti kita ya sayang.

Cinta kadang tidak berawal dengan manis, tapi bisa tumbuh lewat kebersamaan dan pengorbanan."

"Lagi nggak ngegombalkan?" Ledek Bu Atika.

"Anggap saja iya. Karena aku tahu kamu suka selalu suka dengan gombalanku, hahaha."

Bu Atika dan Pak Harun tertawa bersama.

Sementara itu, Arya dan Raya saling menatap.

Tak ada janji yang diucapkan saat itu, tapi dalam hati masing-masing... mereka menyimpan harapan yang sama,

Semoga ini bukan hanya perjanjian. Semoga ini adalah permulaan dari segalanya.

Pagi itu, di lantai paling atas kantor pusat perusahaan tempat Dafa bekerja, suasana tampak tenang namun penuh ketegangan. Di balik dinding kaca besar yang menampakkan pemandangan kota, seorang pria tampak duduk dengan serius di depan layar laptopnya. Dialah Dafa, mengenakan kemeja putih rapi dengan dasi biru tua, wajahnya penuh konsentrasi.

Meja kerjanya dipenuhi berkas-berkas, grafik, cetak biru, dan proposal-proposal yang telah melewati puluhan kali revisi. Semua demi satu hal, proyek besar yang akan dipresentasikan dalam waktu beberapa minggu ke depan.

Dafa bermonolog, mengusap dagunya, "Semua data sudah masuk... analisa biaya, potensi keuntungan, bahkan dampak sosial lingkungannya juga sudah aku susun rapi."

Tangannya lincah menelusuri lembar demi lembar laporan, sesekali ia membandingkan catatan di laptopnya. Layar monitor memunculkan diagram alur proyek, time table, dan daftar stakeholder yang akan dilibatkan.

Tak ada celah untuk kesalahan. Ini adalah momen krusial baginya. Proyek ini bukan hanya soal gengsi, tapi tentang kemerdekaan.

Dafa menyandarkan tubuhnya, tersenyum kecil, "Kalau aku berhasil dapat proyek ini... selesai sudah urusan dengan Pak Yandris. Aku bisa mandiri, tanpa perlu tunduk lagi sama pria tua itu."

Senyumnya berkembang menjadi licik. Bukan karena ia ingin menghancurkan siapa pun, tapi karena ia merasa hampir bebas dari ikatan yang selama ini membelenggunya.

Tiba-tiba pintu ruangannya diketuk.

Sekretaris masuk dengan sopan, "Maaf, Pak Dafa. Ini file revisi dari tim teknis. Dan juga, tim marketing ingin mengonfirmasi tentang presentasi minggu depan, apakah tetap menggunakan konsep visual 3D atau hanya slide biasa?"

Dafa mengambil dokumen yang diberikan lalu membacanya sekilas. Pandangannya tajam, fokus, penuh perhitungan.

"Kita gunakan 3D. Kita harus tampil beda. Aku mau investor langsung bisa membayangkan proyek ini sebagai sesuatu yang hidup, bukan cuma data di atas kertas."

"Baik, Pak. Saya akan teruskan ke tim kreatif."

Dafa mengangguk singkat, "Dan bilang ke mereka... semua harus sempurna. Nggak boleh ada satu pun kesalahan. Kita bertarung untuk proyek ratusan miliar. Ini bukan uji coba."

"Baik, Pak."

Sekretaris itu pergi, meninggalkan Dafa yang kembali tenggelam dalam pikirannya.

Ia berdiri dan berjalan ke jendela, menatap langit yang cerah dengan kota megapolitan terbentang di bawah sana.

Dafa berbisik pelan, "Setelah proyek ini berhasil... aku akan punya kuasa. Aku tidak akan lagi jadi boneka bagi siapapun, termasuk Pak Yandris..."

Dafa tersenyum miring, "Dan kalau Laras masih berpikir bisa mengaturku dengan air mata dan drama maka dia salah besar. Dunia ini untuk orang kuat, bukan yang cengeng. Jika masih mau jadi istriku, jadilah wanita kuat."

Ia menghela napas panjang, lalu kembali duduk.

Tangannya kembali menari di keyboard, menyusun kalimat demi kalimat pembuka untuk presentasinya. Presentasi ini harus memukau, harus berkesan, harus menjadi tiket keluar dari bayang-bayang Pak Yandris.

Dafa berbisik penuh tekad, "Bersiaplah dunia... Dafa Hartawan akan melesat. Dan kali ini, tidak ada yang bisa menghentikanku."

1
Ariany Sudjana
Arya ini bodoh sekali, baru juga kalang kabut kehilangan raya, sekarang sudah buka celah untuk jalang murahan masuk dan menghancurkan rumah tangga kamu dengan raya. kamu ga bisa jujur dengan raya, berarti kamu masih berharap rujuk lagi dengan Herlin, dasar ga tegas kamu Arya
Yeni Yeni: waoowwww.... 🤣🤣🤣kita lihat nanti😄
total 1 replies
Ariany Sudjana
ini ada pelacur murahan, Herlin, waspada terus yah Arya
Yeni Yeni
😄😄😄😄😄😄cerita nya luar biasa, cara penyampaian nya seperti obrolan sehari hari, beda author, beda cara penyampaian nya☺🤭
Iry: hehehe gitu deh😁🤗
total 1 replies
Yeni Yeni
iyalah raya menikah setelah akte cerai telah keluar... kalau tidak, mana mungkin bisa sah secara hukum negara
Yeni Yeni
bener ya author 10 bab Tiap-tiap hari sampai tamat... janjiiii😄
Yeni Yeni: 😍😍😍😍😍😍😍😍😍
total 2 replies
Yeni Yeni
author numpukin bab nih, sekian lama menunggu akhirnya.... 😄
Yeni Yeni
km ngumpulin bab author? saya jd geregetan nunggu nya. sekali muncul langsung 8bab🤭☺☺
Yeni Yeni: ☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺☺
total 2 replies
Aviciena
ikutan dulu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!