"Ya Allah, ini ayah mertuaku... yang memberiku restu... yang kutitipi janji menjaganya."
Pedang di tangannya bergetar. Antara cinta pada Halimah dan cinta pada tanah air, ia harus memilih yang satu.
"Ayah... maafkan menantumu. Bukan karena aku tega, tapi karena tanah ini lebih besar dari cinta kita semua."
Pedang itu melesak. Bersamaan dengan ruh ayah mertuanya, ruh Maringgih pun ikut mati separuh.
---
Suara Nurani Halimah
Ia melihat dari kejauhan. Mulut terbuka, suara mati di tenggorokan.
"Suamiku... kau membunuh ayahku?"
Bukan marah yang pertama hadir. Tapi tanya yang lebih dalam:
"Berapa luka yang kau pendam, Maringgih, sampai kau sanggup melakukan ini?"
Air matanya jatuh untuk dua lelaki sekaligus. Untuk ayah yang rebah. Untuk suami yang kini harus hidup dengan bayangan mayat ayah mertuanya sendiri.
"Aku kehilangan ayah hari ini... tapi aku juga kehilanganmu, Maringgih."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: KATA-KATA YANG MEREMUKKAN HATI
Kereta itu berhenti tepat di tepi kebun. Pintu terbuka.
Datuk Maringgih turun.
Semua orang membeku.
---
Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang bersuara. Hanya angin pagi yang berdesir, membawa bau darah dan getah pala yang hancur.
Maringgih berdiri di tepi kebun. Destar sutra melingkar di kepalanya. Baju hitam rapi tanpa noda. Keris pusaka terselip di pinggang. Tidak setitik pun lumpur di sepatu kulitnya—kontras dengan medan perang di depannya yang penuh darah dan becek.
Matanya menyapu seluruh kebun dalam satu pandangan. Melihat Pak Rahmat tergeletak dengan kepala berdarah. Melihat Sarif pingsan di pangkuan Pak Kadir. Melihat buah pala berserakan, hancur, bercampur lumpur dan darah.
Wajahnya tidak berubah. Tapi di matanya, ada api yang mulai menyala.
Satu per satu, warga menunduk. Bukan karena takut, tapi karena hormat. Kepada cucu Kyai Agung Mahmud. Kepada lelaki yang selama ini membela mereka dalam diam.
Centeng-centeng Samsul yang tadi begitu garang, kini ikut menunduk. Mereka tahu siapa Datuk Maringgih. Bukan hanya saudagar kaya, tapi orang yang pengaruhnya sampai ke Batavia. Melawan dia berarti melawan nasib.
Bahkan kuda Sulaiman mundur setengah langkah, seolah merasakan aura yang memancar dari lelaki itu.
Tidak ada satu pun yang berani menatap langsung ke arah Maringgih.
---
Datuk Sulaiman—yang sedari tadi memaki-maki warga dari atas kuda, yang melontarkan sumpah serapah tanpa henti—tiba-tiba terdiam.
Mulutnya masih setengah terbuka, siap melontarkan makian berikutnya. Tapi kata-kata itu mati di tenggorokan.
Matanya bertemu dengan mata Maringgih.
Hanya sekejap. Tapi cukup untuk membuat dadanya sesak.
Ia melihat Maringgih berdiri di sana—tenang, berwibawa, seperti pohon beringin tua yang tidak bisa digoyahkan badai. Dan tiba-tiba, semua amarahnya menguap. Yang tersisa hanya sesuatu yang tidak ingin ia akui: rasa takut.
---
Maringgih melangkah maju.
Satu langkah.
Debu di bawah kakinya seolah ikut diam.
Dua langkah.
Dan tanpa sadar, Datuk Sulaiman turun dari kudanya.
Bukan karena diperintah. Bukan karena sadar. Tapi karena tubuhnya bergerak sendiri, merespons wibawa yang terpancar dari lelaki di depannya.
Kakinya menyentuh tanah becek. Untuk pertama kalinya pagi itu, ia berdiri sejajar dengan warga yang ia hinakan.
---
Maringgih tidak peduli pada Sulaiman. Ia berjalan melewatinya. Melewati centeng-centeng yang menunduk. Melewati papan-papan bertuliskan VOC yang masih terpacak.
Ia berjongkok di samping Pak Rahmat.
Tangannya yang putih—tangan bangsawan—meraba nadi lelaki tua itu. Samar, tapi masih ada. Hidup.
"Bawa ke tabib," katanya pada Dullah yang mengikuti dari belakang. "Sekarang. Biaya tanggunganku."
Dullah mengangguk. Jafar dan Kasim segera mengangkat Pak Rahmat dengan hati-hati.
Maringgih beralih ke Sarif. Ia memeriksa lukanya. Kepala bengkak, tapi napasnya masih teratur.
"Ia kuat," bisik Maringgih pada Pak Kadir. "Anakmu kuat. Jangan khawatir."
Pak Kadir menangis. "Datuk... Datuk datang..."
Maringgih menepuk pundaknya. "Maafkan aku, Kadir. Aku lama."
Ia berdiri. Memandang semua warga yang terluka.
"Semua yang luka akan kuobati. Kalian tidak sendiri."
Warga menangis. Bukan sedih. Tapi lega. Sangat lega.
---
Setelah semua korban mulai dievakuasi, setelah Dullah mengatur warga yang masih bisa berdiri, Maringgih berjalan mendekati Sulaiman.
Jarak mereka kini hanya dua langkah. Berhadapan. Dua Datuk. Dua laki-laki yang selama ini berseberangan.
Wajah Maringgih merah legam—warna yang jarang muncul, hanya saat amarahnya mencapai puncak. Tapi ia tetap tenang.
Sulaiman tetap berdiri di tempatnya. Tidak mundur. Tidak bisa mundur. Seolah kakinya terpaku di tanah becek itu.
---
Maringgih mulai berbicara. Pelan. Tidak tinggi. Tapi setiap kata seperti sembilu yang mengiris hati Sulaiman.
"Sulaiman."
Satu nama. Cukup untuk membuat dada Sulaiman sesak.
"Lihat sekelilingmu."
Sulaiman tidak bergerak. Tapi matanya mengikuti arahan tangan Maringgih.
"Ini yang kau lakukan. Ini yang kau perjuangkan."
Maringgih menunjuk ke arah bekas darah di tanah.
"Darah. Luka. Air mata."
Ia menunjuk ke arah warga yang masih berkumpul.
"Orang-orang ini adalah petani miskin yang hanya ingin hidup tenang. Bukan musuhmu. Bukan lawan VOC. Mereka hanya ingin makan, ingin anak-anak mereka kenyang, ingin mati dengan tenang di tanah yang mereka rawat turun-temurun."
Sulaiman menunduk.
"Tanah ini," Maringgih menginjak tanah di bawahnya, "adalah satu-satunya yang mereka punya. Bukan istana. Bukan emas. Bukan kekuasaan. Hanya tanah. Dan kau—kau ingin merebutnya?"
Sulaiman membuka mulut. Ingin bicara. Tapi Maringgih belum selesai.
"Apa yang kau cari, Sulaiman? Kekayaan? Kau sudah kaya. Kekuasaan? Kau sudah punya jabatan. Lalu apa? Darah mereka? Air mata mereka?"
Suara Maringgih tidak tinggi. Tapi berat. Sangat berat.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu. Aku tidak tahu kapan kau berubah. Tapi lihatlah mereka."
Ia menunjuk ke arah Pak Kadir yang masih menangis.
"Itu Pak Kadir. Ingat dia? Dulu dia pernah memberi kita makan saat kita berburu di hutan."
Ia menunjuk ke arah istri Pak Rahmat.
"Itu Mak Tini. Ingat dia? Dulu dia menjahitkan baju untukmu saat kau belum punya apa-apa."
Ia menunjuk ke arah yang lain.
"Mereka semua kenal kau. Mereka semua pernah membantumu. Dan kau lakukan ini pada mereka?"
Sulaiman terhuyung. Wajahnya pucat.
---
"Ada suratnya!" bentak Sulaiman tiba-tiba. Suaranya pecah. "Tanah ini sudah tercatat sebagai milik VOC! Aku hanya menjalankan perintah!"
Maringgih tersenyum. Senyum dingin.
"Surat? Surat dari mana? Dari VOC? Kau tahu sendiri, VOC juga bisa salah. VOC juga bisa ditipu."
Sulaiman terdiam.
"Aku tidak bilang kau jahat, Sulaiman." Maringgih melanjutkan. "Tapi kau salah. Sangat salah. Dan orang-orang ini—mereka yang harus menanggung kesalahanmu."
Sulaiman menggigit bibir.
"Kau bisa saja membawa surat itu ke pengadilan. Kau bisa saja berdebat secara hukum. Tapi kau pilih cara ini. Kekerasan. Pemukulan. Ancaman." Maringgih menggeleng. "Itu bukan cara orang beradab."
Sulaiman tidak bisa menjawab.
---
Sulaiman tidak bisa berkata-kata lagi. Semua kata-kata mati di tenggorokan.
Maringgih tidak pernah menghinanya. Tidak pernah menjatuhkan martabatnya di depan umum. Setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah kebenaran telanjang—tapi disampaikan dengan cara yang tidak membuatnya merasa kecil.
Justru itu yang paling menyakitkan.
Jika Maringgih membentak, ia bisa membalas. Jika Maringgih menghina, ia bisa marah.
Tapi Maringgih hanya berbicara pelan. Dengan fakta. Dengan kebenaran. Dengan hati.
Dan itu lebih meremukkan daripada seribu makian.
Sulaiman berdiri terpaku. Dadanya naik turun. Matanya basah. Tapi ia tidak bisa menangis di depan semua orang. Harga dirinya masih tersisa.
Ia hanya bisa diam. Hancur. Tak berdaya.
Maringgih menatapnya lama. Lalu menghela napas.
"Kau masih bisa memperbaiki ini, Sulaiman. Masih ada waktu. Kembalikan tanah ini pada mereka. Minta maaf. Berhenti."
Sulaiman diam. Tidak bergerak.
---
Dari pinggir kebun, Halimah menyaksikan semuanya.
Ia melihat ayahnya—laki-laki yang selama ini ia hormati—kini berdiri terpaku, hancur oleh kata-kata Maringgih.
Ia melihat Maringgih—lelaki yang dicintainya—berdiri tegak, berbicara dengan penuh wibawa, tanpa sekali pun menjatuhkan martabat lawannya.
Setiap argumen Maringgih masuk ke dalam hatinya. Tentang kemanusiaan. Tentang tanah. Tentang mereka yang lemah.
Halimah terpukau.
Bukan hanya karena Maringgih tampan atau berwibawa. Tapi karena ia melihat kebenaran berpihak padanya. Ia melihat keberanian yang lahir dari keyakinan, bukan dari kekuasaan.
Ini dia, pikirnya. Ini lelaki yang kucintai.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak ragu lagi.
---
Tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar suara gemuruh.
Bukan suara biasa. Tapi suara sepatu bot. Banyak. Berat. Teratur. Juga suara derap kuda—puluhan, mungkin.
Semua menoleh ke arah jalan.
Debu beterbangan. Bendera merah-putih-biru berkibar.
Serdadu VOC.
Puluhan serdadu dengan seragam loreng, senapan terhunus, berbaris rapi memasuki area kebun. Di depan mereka, di atas kuda putih, seorang laki-laki berwajah dingin dengan kumis tebal—Van der Berg.
Van der Berg turun dari kuda. Matanya menyapu kebun. Melihat papan-papan VOC yang terpacak. Melihat warga yang terluka. Melihat Maringgih dan Sulaiman berhadapan.
Ia tersenyum. Senyum yang tidak ramah.
"Wat is hier aan de hand?" suaranya keras memecah keheningan.
(Apa yang terjadi di sini?)
Semua orang diam. Suasana berubah tegang.
Maringgih menatap Van der Berg. Sulaiman menunduk. Warga gemetar.
Dan Halimah, dari pinggir kebun, merasakan jantungnya berhenti sejenak.
Ya Allah, apa yang akan terjadi sekarang?
---
[Bersambung ke Bab 29...]
---