NovelToon NovelToon
MAWAR DI TANGAN GAARA

MAWAR DI TANGAN GAARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam
Popularitas:798
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

Aku punya segalanya, tapi aku tidak punya hak atas hatiku sendiri."
Juliet adalah putri mahkota dari kerajaan bisnis properti yang hidup dalam sangkar emas. Baginya, bunga adalah satu-satunya teman yang tidak pernah menghakimi. Namun, dunianya jungkir balik saat ia mempekerjakan Gaara, tukang kebun misterius dengan tatapan sedingin es namun memiliki sentuhan tangan yang ajaib pada tanaman.
Saat benih cinta mulai tumbuh di sela-sela duri mawar, Adam—tunangan sempurna dari masa lalu—datang menagih janji pernikahan. Di tengah kecemburuan Vina yang licik dan tekanan keluarga, Juliet harus memilih: Menjadi mawar indah di dalam vas kaca milik Adam, atau tumbuh liar dan bahagia di tanah bersama Gaara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: SURAT DARI SYDNEY DAN DURI YANG MENANCAP

Pagi itu, suasana di meja makan kediaman Wijaya terasa sebeku es di dalam freezer. Tidak ada denting sendok yang biasanya beradu dengan piring porselen mahal. Vina duduk dengan mata sembab, sesekali melirik Juliet dengan tatapan benci yang tidak lagi disembunyikan. Sementara itu, Pak Wijaya sibuk dengan tabletnya, sesekali menyesap kopi hitam tanpa gula—kebiasaannya setiap kali ada masalah besar di kantor yang sedang ia pikirkan.

Juliet hanya menunduk, memutar-mutar sendok di dalam mangkuk serealnya. Pikirannya melayang pada sentuhan tangan Gaara di pinggangnya semalam. Panasnya masih terasa, seolah-olah kulitnya telah ditandai oleh pria itu.

"Juliet," suara Pak Wijaya berat, memecah kesunyian.

Juliet tersentak. "Iya, Yah?"

"Adam menelpon tadi pagi. Dia mengirimkan sesuatu lewat kurir ekspres. Katanya itu dokumen penting untuk persiapan kepindahannya ke sini bulan depan. Atau mungkin... kepindahanmu ke sana."

Pak Wijaya memberi kode pada Bi Ijah, yang kemudian datang membawa sebuah amplop besar berwarna cokelat dengan stempel maskapai internasional.

Juliet menerimanya dengan tangan gemetar. Ia membukanya perlahan. Di dalamnya bukan hanya dokumen hukum atau kontrak pra-nikah, tapi juga sebuah foto ronsen tapak tangan dan selembar surat tulisan tangan.

“Juliet, Sayang. Aku baru saja mengalami kecelakaan kecil di lokasi proyek. Tanganku sedikit retak, tapi jangan khawatir. Aku hanya ingin kamu tahu, setiap rasa sakit yang aku rasakan di sini, aku obati dengan membayangkan wajahmu saat kita berdiri di altar nanti. Aku merindukanmu, Mawar kecilku.”

Juliet merasakan mual yang mendadak. Mawar kecilku. Sebutan itu biasanya terdengar manis, tapi pagi ini, setelah mendengar bagaimana Gaara bicara tentang mawar yang sesungguhnya, sebutan dari Adam terasa seperti label harga pada sebuah pajangan.

"Dia terluka, Yah," ucap Juliet datar.

"Itulah pengorbanan lelaki untuk masa depan keluarganya, Juliet," sahut Pak Wijaya tanpa menatap anaknya. "Kau harus lebih memperhatikannya. Jangan biarkan pikiranmu terganggu oleh hal-hal sepele di rumah ini."

Vina tiba-tiba terisak kecil, sengaja menarik perhatian. "Paman... aku ingin pulang ke rumah Ibu saja. Aku merasa tidak nyaman di sini lagi."

Pak Wijaya mengerutkan kening. "Kenapa, Vina? Apa ada pelayan yang kurang ajar padamu?"

Vina melirik Juliet, sebuah senyum kemenangan tersirat di balik akting sedihnya. "Bukan pelayan, Paman. Tapi... aku merasa ada rahasia di rumah ini yang membuatku merasa seperti orang asing. Juliet... dia sangat berubah sejak tukang kebun baru itu datang."

Juliet membeku. Ia tahu ini saatnya. Vina akan meledakkan bomnya.

"Vina, jangan mulai," bisik Juliet tajam.

"Kenapa? Aku salah bicara?" Vina menoleh pada Pak Wijaya. "Paman, aku melihat mereka semalam. Di taman. Sangat dekat. Aku hanya takut Juliet melakukan kesalahan yang akan mempermalukan nama besar Wijaya dan merusak hubungannya dengan Adam."

Pak Wijaya meletakkan tabletnya dengan suara brak yang cukup keras. Matanya kini tertuju sepenuhnya pada Juliet. Ruangan itu mendadak terasa kekurangan oksigen.

"Juliet? Apa yang sepupumu bicarakan?"

Juliet menarik napas dalam. Ia tahu jika ia menyangkal, Vina akan terus memojokkannya. Tapi jika ia jujur, Gaara dalam bahaya. "Aku hanya memastikan dia bekerja dengan benar, Yah. Vina hanya salah paham karena dia... dia punya perasaan pada Gaara."

"Apa?!" Vina memekik. "Kau memutarbalikkan fakta!"

"Cukup!" bentak Pak Wijaya. Ia berdiri, merapikan setelannya. "Juliet, ikut Ayah ke taman. Sekarang."

Mereka berjalan menuju area mawar Juliet Rose. Di sana, Gaara sedang berjongkok, membersihkan rumput liar dengan sangat tekun. Ia tidak menyadari kedatangan romnongan itu sampai bayangan Pak Wijaya menutupi area kerjanya.

Gaara berdiri perlahan. Ia melepaskan topi cap-nya, menampakkan rambutnya yang sedikit berantakan dan wajahnya yang berkeringat.

"Selamat pagi, Pak," ucap Gaara sopan, namun tetap dengan nada yang tegak. Tidak ada bungkukan rendah yang biasanya dilakukan pelayan lain.

Pak Wijaya memperhatikan Gaara dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tatapan seorang predator yang sedang menilai mangsanya. "Jadi, kau yang bernama Gaara?"

"Benar, Pak."

"Anak buahku bilang kau bekerja cukup baik. Tapi aku tidak suka ada gangguan di dalam rumahku. Terutama gangguan yang melibatkan putriku."

Gaara melirik Juliet sejenak. Ia melihat kecemasan di mata gadis itu. "Saya di sini hanya untuk merawat bunga, Pak. Tidak lebih."

"Bagus kalau kau sadar diri," Pak Wijaya melangkah maju, memperpendek jarak. "Karena jika aku mendengar kau mencoba mendekati putriku lagi, atau jika kau mencoba mencari celah untuk 'naik kelas' melalui dia... aku tidak hanya akan memecatmu. Aku akan memastikan kau dan ibumu yang sedang sakit itu tidak punya tempat tinggal di negeri ini. Kau mengerti?"

Wajah Gaara mengeras. Rahangnya mengatup rapat. Juliet bisa melihat otot lengan Gaara menegang, seolah-olah pria itu sedang menahan ledakan amarah yang dahsyat. Rahasia tentang keluarganya yang bangkrut akibat rekan bisnis jahat itu pasti sedang bergejolak di dadanya.

"Mengerti, Pak," jawab Gaara pelan, suaranya terdengar seperti geraman yang diredam.

"Bagus. Juliet, masuk ke dalam. Vina, kau juga. Jangan biarkan aku melihat kalian di taman ini lagi tanpa pengawasan Bi Ijah."

Juliet ingin protes. Ia ingin berteriak bahwa ayahnya tidak berhak mengancam orang seperti itu. Tapi saat ia melihat mata Gaara, pria itu memberikan isyarat kecil—sebuah gelengan kepala yang sangat halus. Jangan.

Juliet berbalik dan berjalan menuju rumah dengan hati yang hancur. Vina mengikuti di belakang dengan langkah angkuh, merasa telah memenangkan pertempuran pertama.

Sepanjang hari, Juliet mengurung diri di kamar. Ia tidak menyentuh dokumen dari Adam. Ia hanya menatap ke jendela, melihat Gaara yang terus bekerja tanpa henti di bawah terik matahari, seolah-olah pria itu sedang melampiaskan kemarahannya pada tanah.

Sore harinya, saat ayahnya sudah berangkat ke kantor untuk rapat malam dan Vina sedang pergi ke mal untuk menghibur diri, Juliet nekat keluar. Ia tidak peduli pada peringatan Bi Ijah. Ia harus bicara pada Gaara.

Ia menemukan Gaara di dekat gudang alat. Pria itu sedang mencuci tangannya yang berlumuran lumpur di bawah keran air.

"Gaara," panggil Juliet lirih.

Gaara tidak menoleh. Ia terus menyiram tangannya dengan air dingin. "Pulanglah, Nona. Ayah Anda tidak bercanda soal ancamannya."

"Aku minta maaf," ucap Juliet, suaranya bergetar. "Ayahku... dia memang keras. Dia pikir uang bisa mengatur segalanya."

Gaara mematikan keran. Ia berbalik, menatap Juliet dengan mata yang terlihat sangat lelah. "Dia benar, Nona. Di dunia ini, uang memang mengatur segalanya. Termasuk harga diri orang-orang seperti saya."

"Tidak untukku!" Juliet melangkah maju. "Bagiku, caramu merawat mawar itu jauh lebih berharga daripada semua berlian yang dikirim Adam dari Australia!"

Gaara tertawa sinis. "Jangan bicara omong kosong. Anda bicara begitu karena Anda tidak pernah merasakan perut lapar. Anda tidak pernah merasakan bagaimana rasanya melihat ibu Anda sesak napas karena tidak mampu beli tabung oksigen."

Juliet terdiam. Ia merasa tertampar oleh kenyataan hidup Gaara yang begitu pahit.

"Pergilah, Juliet," Gaara menyebut namanya tanpa embel-embel 'Nona' untuk pertama kalinya. "Kita hidup di dunia yang berbeda. Anda adalah mawar yang dipajang di vas kristal, dan saya hanyalah tanah kotor yang Anda injak setiap hari."

"Tapi mawar tidak akan bisa hidup tanpa tanah, Gaara!" teriak Juliet.

Gaara tertegun. Ia menatap Juliet dalam-dalam. Keberanian gadis ini mulai meruntuhkan tembok pertahanan yang ia bangun selama bertahun-tahun.

Tiba-tiba, suara mobil terdengar memasuki gerbang depan. Itu bukan mobil ayah Juliet. Itu adalah taksi.

Seorang wanita paruh baya dengan pakaian sederhana namun rapi turun dari taksi. Wajahnya pucat, tapi matanya memancarkan ketegasan yang sama dengan Gaara.

"Gaara?" panggil wanita itu lemah.

"Ibu?" Gaara segera berlari menghampiri wanita itu. "Kenapa Ibu ke sini? Ibu seharusnya di rumah sakit!"

"Ibu tidak betah, Nak. Ibu rindu rumah. Dan... ada seseorang yang mengirimkan uang untuk biaya perawatan Ibu secara anonim. Ibu ingin tahu siapa dia."

Juliet membeku di tempatnya berdiri. Ia teringat minggu lalu, ia diam-diam meminta Bi Ijah mengirimkan sejumlah uang melalui kurir ke alamat rumah sakit yang ia temukan di formulir pendaftaran Gaara.

Gaara menoleh ke arah Juliet. Matanya yang tajam seolah menembus jantung gadis itu. "Nona... apa itu Anda?"

Juliet tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa menunduk.

Di saat yang sama, Vina baru saja kembali dan turun dari mobilnya. Ia melihat pemandangan itu—Gaara, ibunya yang sakit, dan Juliet yang tampak bersalah.

"Wah, wah... pertemuan keluarga?" sindir Vina, melangkah mendekat. "Juliet, apa kau sedang mencoba membeli cinta si tukang kebun ini dengan uang Paman?"

Ibu Gaara menatap Vina, lalu beralih pada Juliet. "Jadi ini putri Pak Wijaya?"

Juliet mengangguk pelan. "Iya, Bu. Saya Juliet."

Ibu Gaara tersenyum pahit. "Wajahmu mirip sekali dengan ibumu. Tapi sayangnya, kau berada di rumah yang salah."

"Ibu, ayo masuk ke paviliun. Ibu harus istirahat," ajak Gaara, mencoba menjauhkan ibunya dari Vina dan Juliet.

Vina tidak tinggal diam. Ia segera mengeluarkan ponselnya dan memotret kejadian itu. "Adam pasti akan sangat senang melihat calon istrinya sedang berurusan dengan keluarga 'pengemis' ini."

"Vina, cukup!" teriak Juliet.

Gaara berhenti melangkah. Ia menyerahkan kunci paviliun pada ibunya, lalu berbalik menghadapi Vina. Kali ini, auranya benar-benar menakutkan.

"Nona Vina," ucap Gaara dengan suara serendah mungkin namun penuh ancaman. "Silakan kirim foto itu. Tapi pastikan Anda juga memberitahu Adam, bahwa alasan saya berada di sini bukan hanya untuk tanaman ini. Tapi karena saya sedang menunggu waktu yang tepat untuk mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik keluarga saya."

Vina mengernyit. "Apa maksudmu?"

"Tanya pada Pamanmu," balas Gaara dingin.

Juliet merasa jantungnya berhenti berdetak. Rahasia besar itu... rahasia tentang pengkhianatan bisnis ayahnya dan keluarga Gaara... tampaknya akan segera meledak menjadi badai yang menghancurkan segalanya.

Malam itu, mawar-mawar di taman tampak lebih merah dari biasanya, seolah-olah mereka telah meminum darah dari luka-luka yang belum kering. Juliet duduk di mejanya, memandang surat dari Adam dan uang sisa yang ia miliki. Ia tahu, pilihannya bukan lagi sekadar antara dua pria, tapi antara kebenaran yang menyakitkan atau kebohongan yang nyaman.

Di luar, suara senandung rendah Gaara kembali terdengar. Namun kali ini, nadanya tidak lagi menenangkan. Nada itu terdengar seperti genderang perang.

Catatan Penulis untuk Pembaca:

Ancaman Gaara benar-benar nyata! Apa yang sebenarnya dilakukan Pak Wijaya pada keluarga Gaara di masa lalu? Dan apakah Vina akan benar-benar mengirim foto itu pada Adam? Terus ikuti kisahnya!

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!