Bagaimana rasanya dihancurkan oleh orang-orang yang seharusnya melindungimu? Dari orang tua yang egois hingga 'cinta' yang berujung pada tindak kriminal dan hilangnya kehormatan. Novel ini adalah perjalananku menghadapi kenyataan bahwa dunia tidak pernah adil. Tentang bagaimana berdiri di antara pengkhianatan keluarga dan trauma masa remaja yang merusak harga diri. Saat pintu-pintu baru mulai terbuka, justru ingin lari. Karena tahu, tidak semua yang datang berniat menyembuhkan beberapa mungkin hanya ingin mematahkan apa yang sudah retak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjelisitinjak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 25
Matahari pagi mulai menyelinap masuk melalui celah gorden, namun sinarnya yang hangat terasa seperti sembilu yang menyayat kulitku.
Aku mencoba bangkit dari tempat tidur, namun gravitasi seolah menarikku kembali ke dasar jurang keputusasaan.
Tubuhku terasa sangat berat, seolah-olah seluruh beban dosa dan luka dunia ditumpukkan di pundakku malam tadi.
Kepalaku berdenyut hebat, setiap detakannya membawa rasa sakit yang menusuk hingga ke saraf mata. Rasanya kepalaku hampir pecah.
Saat aku mencoba memaksakan diri untuk berdiri, duniamu mendadak berputar hebat. Pandanganku mengabur, bintik-bintik hitam menari di depan mataku, dan lututku lemas seketika. Aku terhuyung, nyaris tersungkur ke lantai jika tanganku tidak cepat-cepat mencengkeram pinggiran nakas.
"Akhh..."
aku melenguh pelan, suaraku serak dan nyaris hilang.
Getir. Itulah satu-satunya rasa yang tersisa di lidahku. Aku menyeret langkahku menuju cermin, dan sosok yang terpantul di sana benar-benar membuat siapa pun yang melihatnya akan merasa miris.
Mataku bengkak hingga nyaris tertutup, wajahku pucat pasi tanpa darah, dan bibirku pecah-pecah. Aku tidak lagi melihat Hana sang Manajer yang cerdas dan berwibawa. Aku hanya melihat sisa-sisa kehancuran seorang wanita yang baru saja dipukuli habis-habisan oleh kenyataan.
Bayangan foto Wira dengan wanita lain itu masih terpatri jelas di ingatanku, seperti luka bakar yang tak kunjung dingin.
Dan di sisi lain, bayangan wajah tulus Tomi yang mungkin sekarang sudah berada di depan rumah, menanti sebuah jawaban yang tak sanggup kuberikan.
Badanku lemas sekali, bahkan untuk sekadar bernapas pun rasanya butuh usaha yang luar biasa. Aku merasa jiwaku sudah pergi, meninggalkan raga yang kosong dan rusak ini sendirian. Aku kembali luruh ke lantai, bersandar di kaki tempat tidur, memeluk tubuhku yang gemetar karena kedinginan meski udara pagi mulai menghangat.
Tok Tok Tok!
Suara ketukan di pintu kamarku terasa seperti dentuman palu yang menghantam kepalaku yang sudah berdenyut hebat. Aku tetap bergeming di lantai, memeluk lututku, tidak punya tenaga bahkan hanya untuk sekadar menyahut.
"Hana? Sayang, kamu sudah bangun?"
suara Mama terdengar lembut dari balik pintu.
"Tomi sudah ada di depan, Nak. Katanya semalam kalian sudah janji mau berangkat ke kantor bareng. Dia sudah menunggu dari tadi."
Mendengar nama Tomi, jantungku serasa diremas.
Rasa bersalah karena meninggalkannya semalam bercampur dengan rasa muak pada diriku sendiri setelah melihat foto Wira dini hari tadi.
Aku memejamkan mata rapat-rapat, air mata yang kupikir sudah habis ternyata kembali merembes di sudut mataku.
"Ma..." suaraku parau, nyaris berupa bisikan. "Hana nggak bisa..."
Mama sepertinya menangkap nada keputusasaan dalam suaraku.
Beliau perlahan membuka pintu yang memang tidak kukunci. Begitu pintu terbuka dan cahaya lampu kamar menyinari tubuhku yang masih meringkuk di lantai, Mama memekik pelan.
"Astaga, Hana!"
Mama langsung berlari menghampiriku, berlutut dan memegang keningku.
"Badanmu panas sekali, Nak! Kenapa kamu di lantai seperti ini?"
"Sakit, Ma... semua badanku sakit," isakku pelan.
"Hana nggak mau ke kantor. Hana nggak mau ketemu siapa-siapa. Tolong bilang ke Tomi, Hana nggak bisa berangkat..."
Langkah kaki berat terdengar mendekat.
Papa muncul di ambang pintu dengan wajah yang semula tegas, namun seketika berubah cemas melihat keadaanku.
Papa mendekat, menatapku dengan tatapan yang sangat dalam. Sepertinya Papa mengerti bahwa "sakit" yang kualami bukan sekadar demam biasa, tapi luka batin yang kembali berdarah.
Papa menghela napas panjang, lalu mengusap kepalaku dengan tangan tuanya yang hangat.
"Ya sudah, kalau memang kamu tidak sanggup, jangan dipaksakan. Hari ini Papa yang ambil alih semua agenda kamu di kantor. Kamu istirahat total, ya?"
"Tapi Pa, Tomi di depan..."
Mama menoleh ke arah Papa dengan bimbang.
Papa terdiam sejenak, lalu menatapku seolah meminta konfirmasi.
Aku hanya bisa menggeleng lemah, menyembunyikan wajahku di pundak Mama. Aku tidak sanggup melihat Tomi. Aku tidak sanggup berpura-pura baik-baik saja di depannya sementara hatiku baru saja dihancurkan lagi oleh bayang-bayang Wira.
"Biar Papa yang bicara pada Tomi," ucap Papa tegas namun lembut.
"Papa akan katakan kalau Hana sedang sakit dan butuh waktu untuk istirahat sendiri. Tomi anak yang baik, dia pasti mengerti."
Papa kemudian berdiri dan melangkah keluar, mungkin menuju ruang tamu untuk menemui pria yang selama enam bulan ini begitu tulus menjagaku.
Sementara itu, Mama membantuku naik kembali ke tempat tidur, menyelimutiku, dan mengusap air mataku.
Aku memejamkan mata, namun yang terbayang justru wajah kecewa Tomi di ruang tamu saat ini. Aku merasa seperti orang paling jahat di dunia. Aku menghancurkan harapan Tomi karena luka yang dibuat oleh pria lain yang bahkan sudah tidak peduli padaku.
Setelah Papa berbicara dengan Tomi di bawah, aku mendengar deru mesin mobil Tomi yang perlahan menjauh.
Ada rasa lega yang amat sangat, namun diiringi dengan rasa pedih yang menghujam jantung. Aku benar-benar merasa menjadi wanita paling jahat karena telah mengabaikan ketulusan pria seperti dia.
Tak lama kemudian, pintu kamarku kembali terbuka perlahan. Papa masuk dengan langkah yang berat, raut wajahnya yang biasanya tegas sebagai seorang pengusaha kini luluh, menyisakan gurat kesedihan seorang ayah yang melihat putrinya hancur berkeping-keping. Sepertinya Mama sudah menceritakan semuanya tentang ketakutanku, tentang rasa tidak pantasku, dan mungkin tentang luka tujuh tahun lalu yang kembali terbuka.
Papa duduk di tepi ranjang, lalu menarikku ke dalam pelukannya. Aku kembali terisak di dada Papa, tempat yang dulu selalu kurasa sebagai benteng terkuat di dunia.
"Hana, dengerin Papa,"
suara Papa bergetar, ia mengelus kepalaku dengan sangat lembut.
"Hati Papa rasanya jauh lebih sakit melihat kamu seperti ini daripada saat Papa kehilangan proyek paling besar sekalipun. Kamu itu putri Papa satu-satunya, Nak. Harta paling berharga yang Papa punya."
Aku hanya bisa terisak, membasahi kemeja kerja Papa yang sudah rapi.
"Papa nggak peduli apa yang sudah terjadi di masa lalu. Bagi Papa, kamu tetap Hana yang sama putri kecil Papa yang kuat dan hebat. Kamu nggak boleh begini terus, Sayang. Jangan biarkan masa lalu itu mencuri masa depanmu. Kamu pantas bahagia, dan Papa akan lakukan apa pun supaya kamu bisa melihat betapa berharganya diri kamu."
Papa memelukku erat sekali, seolah-olah sedang mencoba menyatukan kembali kepingan-kepingan jiwaku yang berserakan. Kehangatan pelukan Papa sedikit meredakan gemetar di tubuhku, meskipun rasa sesak itu belum sepenuhnya hilang.
"Papa harus ke kantor sebentar karena ada meeting yang tidak bisa ditinggal. Tapi janji sama Papa, kamu harus makan dan minum obat ya? Biar Mama yang temani di sini," ucap Papa sambil mencium keningku lama.
Aku hanya mengangguk lemah. Setelah Papa pergi, Mama masuk membawa segelas air hangat dan tak lama kemudian Dokter Aris, dokter keluarga kami datang.
Beliau memeriksa denyut nadiku dan suhu tubuhku yang ternyata mencapai 39°C.
"Ini efek kelelahan fisik dan tekanan batin yang terlalu berat, Bu,"
bisik Dokter Aris pada Mama, namun aku masih bisa mendengarnya.
"Hana butuh ketenangan total. Saya beri vitamin dan obat penenang agar dia bisa istirahat tanpa gangguan pikiran."
Setelah disuntik vitamin, mataku perlahan mulai terasa sangat berat.
Rasa kantuk yang dipaksakan oleh obat mulai menyerang. Namun, sebelum aku benar-benar terlelap, pikiranku kembali melayang pada Wira yang tertawa bahagia di foto itu, dan Tomi yang mungkin sedang menatap jalanan dengan perasaan terluka.
...----------------...
Tiga hari telah berlalu, namun waktu seolah berhenti berputar di dalam kamarku. Suasana di sini terasa kedap, abu-abu, dan sunyi. Selama tujuh puluh dua jam itu, aku praktis hanya berpindah dari tempat tidur ke kamar mandi, lalu kembali meringkuk di bawah selimut.
Mama dan Papa secara bergantian masuk ke kamarku. Mereka tidak lagi memaksaku untuk bicara banyak. Kadang Mama hanya masuk untuk mengganti kompres, menyuapiku beberapa sendok bubur yang rasanya hambar di lidahku, atau sekadar mengusap punggungku sampai aku tertidur lagi.
Papa pun sama setiap pulang kantor, ia pasti menyempatkan diri duduk di tepi ranjangku, bercerita tentang hal-hal ringan di kantor seolah-olah semuanya baik-baik saja, mencoba memancing senyumku yang sudah hilang entah ke mana.
Namun, semangat yang mereka berikan rasanya hanya memantul di dinding pertahananku. Aku masih larut dalam kegelapan yang pekat. Di mataku, setiap kali aku melihat cermin, yang tampak hanyalah sosok wanita yang gagal. gagal menjaga diri, gagal menjadi ibu bagi anak yang tak sempat lahir, dan sekarang gagal menjadi pasangan yang pantas untuk pria sebaik Tomi.
Ponselku? Benda itu masih tergeletak di sudut tempat tidur, tertimbun bantal dan selimut, persis di tempat aku melemparnya dengan amarah dan luka tiga hari yang lalu. Aku sengaja membiarkannya mati atau kehabisan baterai.
Aku takut menyentuhnya.
Aku takut jika aku menyalakannya, aku akan kembali tergoda untuk melihat foto Wira yang sedang berbahagia di atas penderitaanku. Dan yang lebih menakutkan lagi... aku takut melihat puluhan, atau mungkin ratusan pesan dari Tomi. Aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskan kepadanya bahwa alasanku menjauh bukan karena aku tidak mencintainya, tapi karena aku terlalu benci pada diriku sendiri.
"Hana..."
suara Mama memecah keheningan sore itu. Beliau masuk membawa nampan berisi teh hangat.
"Ini sudah hari ketiga, Sayang. Udara di luar sedang bagus. Mau Mama buka gordennya sedikit?"
Aku hanya menggeleng lemah, menarik selimut hingga menutupi dagu.
"Nanti saja, Ma."
"Tomi datang lagi tadi siang," ucap Mama pelan, seolah berhati-hati agar tidak memicu ledakan emosiku.
"Dia tidak masuk ke rumah karena tahu kamu belum mau bertemu siapa pun. Dia hanya menitipkan ini di depan pintu."
Mama meletakkan sebuah kotak kecil di meja nakas, tepat di samping ponselku yang membisu.
"Dia bilang, dia tidak butuh jawaban sekarang. Dia hanya ingin kamu tahu kalau dia tetap di sini, menunggu sampai kamu siap bicara."
Aku melirik kotak itu dengan sudut mataku. Dadaku kembali sesak. Ketulusan Tomi justru menjadi beban yang menyakitkan.
Bagaimana bisa dia begitu sabar menghadapi wanita sepertiku? Semakin dia baik, semakin aku merasa menjadi orang paling jahat karena terus menyembunyikan luka yang "kotor" ini darinya.
Setelah Mama keluar, aku menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Tiba-tiba, rasa ingin tahu yang aneh muncul. Tanganku bergerak perlahan, meraba ke sudut tempat tidur, mencari benda pipih yang sudah tiga hari ini kutinggalkan.
Aku meraih ponsel itu. Dingin. Aku menekannya lama sampai logo produsen ponsel itu muncul di layar. Saat layar terkunci terbuka, rentetan notifikasi langsung menyerbu masuk seperti air bah.