Bagaimana rasanya dihancurkan oleh orang-orang yang seharusnya melindungimu? Dari orang tua yang egois hingga 'cinta' yang berujung pada tindak kriminal dan hilangnya kehormatan. Novel ini adalah perjalananku menghadapi kenyataan bahwa dunia tidak pernah adil. Tentang bagaimana berdiri di antara pengkhianatan keluarga dan trauma masa remaja yang merusak harga diri. Saat pintu-pintu baru mulai terbuka, justru ingin lari. Karena tahu, tidak semua yang datang berniat menyembuhkan beberapa mungkin hanya ingin mematahkan apa yang sudah retak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjelisitinjak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 34
Hari ini aku merasa seperti baru saja memenangkan tender triliunan rupiah. Padahal, aku cuma habis makan bubur ayam dan membahas "kabinet bebek" di pinggir taman. Entahlah dari mana lelucon recehku keluar begitu saja haha sebenarnya kalo dipikir pikir itu lelucon aneh.
Tapi melihat Hana tertawa lepas benar-benar tertawa sampai matanya menyipit dan wajahnya merona itu adalah asupan energi paling gila yang pernah kudapatkan. Hehe mau bagaimana lagi sepertinya aku memang sudah sangat kecintaan sekali pada hana
Tadi malam aku benar-benar hampir gila menunggu balasannya. Enam pesan kukirim, mulai dari yang perhatian sampai yang paling konyol dengan ancaman "DEMO" di depan rumahnya. Aku sudah membayangkan yang tidak-tidak, mulai dari dia diculik alien sampai dia pingsan karena terlalu pintar.(wkwkwk diculik alien, emang karakter dia agak barbar ya😅🤣🤣🤣)
Tapi begitu subuh tadi dia membalas dan mengajak "bubar" alias bubur bareng, semua rasa kesalku menguap jadi kembang api.
"Gila, Tom. Lo beneran sudah jatuh sedalam ini ya?" gumamku sambil menatap spion, melihat pantulan wajahku sendiri yang cengar-cengir tidak jelas.
Aku ingat cara dia menatapku tadi di taman. Tatapannya beda. Lebih hangat, lebih tenang. Seolah-olah saat bersamaku, semua beban yang biasanya membuat bahunya merosot itu tiba-tiba hilang.
Aku senang bisa menjadi "udara segar" buat dia. (ci elahh pede aja duluuu😅)
Aku senang bisa membuat hal-hal paling tidak penting di dunia ini, seperti bebek yang berenang miring, jadi alasan dia untuk tidak sedih lagi.
Pas mengantar dia pulang tadi, aku juga senang bisa mengobrol sebentar sama Papa dan Mamanya. Mereka kelihatan sangat menyayangi Hana, dan aku ingin mereka tahu kalau anak perempuan mereka ada di tangan yang aman kalau sedang bersamaku.
"Mari, Om. Pamit dulu, sudah mengembalikan Hana dengan selamat dan kenyang," ucapku tadi ke Papanya dengan nada bangga yang kubuat-buat.
Sekarang, dalam perjalanan pulang ke rumahku sendiri, aku memutar musik dengan volume agak kencang. Tanganku mengetuk-ngetuk kemudi mengikuti irama lagu.
Pikiranku masih tertinggal di bangku taman tadi, di sela-sela bungkus gorengan dan plastik lupis.
Aku tahu Hana punya rahasia. Aku tahu dia masih sering mengecek ponselnya dengan tatapan cemas seolah ada hantu yang mengejarnya dari layar itu.
Tapi kalau setiap pagi aku bisa memberinya tawa sesegar tadi, aku tidak keberatan harus menjadi "pengamat bebek" atau "ahli penghilang awan mendung" selamanya buat dia.
"Hari yang bagus," ucapku sambil memarkirkan mobil di garasi.
Aku turun dari mobil dengan langkah ringan, hampir ingin melompat rasanya. Begitu masuk ke rumah, aku langsung melempar kunci mobil ke meja dan berteriak kecil saking senangnya. Mau bagaimana lagi? Aku benar-benar bahagia hari ini. Mencintai Hana itu ternyata bukan cuma soal perasaan, tapi soal bagaimana aku merasa lebih hidup hanya dengan melihat dia merasa aman di dekatku.
...----------------...
Enam bulan telah berlalu sejak hari wisuda yang penuh tawa tentang "kabinet bebek" itu. Hidupku berubah drastis, tapi pusat gravitasinya tetap sama Hana. Sekarang, status kami bukan lagi sekadar teman kuliah, melainkan rekan bisnis.
Aku fokus mengelola perusahaanku di bidang fashion dan entertainment, sementara Hana menunjukkan taringnya sebagai manajer operasional di perusahaan Papanya. Kerja sama ini membuat kami semakin akrab, profesionalitasnya luar biasa, tapi di balik itu semua, perasaanku padanya justru tumbuh menjadi raksasa yang sulit kukendalikan.
Malam ini, di restoran mewah yang penuh dengan aroma kesuksesan, aku melihatnya. Hana tampak begitu bersinar dengan gaun cantiknya, berdiri sejajar dengan para pebisnis hebat. Tapi aku bisa melihat kilat kecanggungan di matanya. Aku tahu dia merasa "kecil", maka aku mendekat, membisikkan kata-kata penguat bahwa dialah masa depan yang sebenarnya.
Aku ingat, enam bulan lalu di kampus, aku pernah menyatakan perasaan dan dia bilang "belum siap". Aku menghormati itu. Aku bersabar, memberi dia ruang untuk bernapas dan meniti kariernya. Tapi malam ini, saat melihat keakraban keluarga kami dan betapa indahnya dia di bawah sinar rembulan balkon restoran, aku merasa ini waktunya. Aku tidak bisa lagi menahannya.
"Dulu aku pernah mengatakannya di kampus, dan jawabannya mungkin saat itu 'belum'. Tapi malam ini, aku mau mengatakannya lagi," ucapku dengan sisa keberanian yang kupunya.
"Aku sangat menyayangimu, Hana. Aku ingin jadi orang yang berhak menjaga kamu."
Aku menumpahkan segalanya.
Aku menyatakan bahwa aku tidak peduli dengan masa lalunya yang dia anggap rumit. Bagiku, masa lalu itu hanyalah bayangan karena ada cahaya di depan kami ya walaupun memang aku tidak tau apa yang sebenarnya dia sembunyikan. Aku berusaha meyakinkannya bahwa dia lebih dari pantas untuk bahagia.
Aku bahkan menggenggam tangannya, mencoba menyalurkan semua kehangatan dan kepastian yang kumiliki.
Tapi, respon Hana kali ini berbeda. Sangat berbeda.
Bukannya jawaban manis atau anggukan pelan, wajahnya mendadak pucat pasi.
Matanya yang tadi teduh tiba-tiba dipenuhi kilat ketakutan dan luka yang sangat dalam seolah kata-kataku justru menjadi belati yang mengiris lukanya kembali. Dia menarik tangannya dengan cepat, seolah sentuhanku membakar kulitnya.
"Maaf, Tom... maaf,"
suaranya pecah, bergetar hebat.
"Han? Ada apa? Apa aku salah bicara?"
Aku berdiri dengan panik.
Jantungku berdegup kencang, bukan lagi karena cinta, tapi karena ketakutan melihatnya hancur di depanku.
"Nggak, Tom. Kamu nggak salah. Aku yang salah... aku... Kepalaku sakit sekali, Tom. Aku nggak sanggup. Maaf, aku harus masuk sekarang."
Tanpa menatapku, tanpa memberi kesempatan bagiku untuk menjelaskan atau sekadar menenangkannya, dia berbalik dan setengah berlari meninggalkanku sendirian di balkon yang sunyi ini.
Aku mematung, menatap punggungnya yang menjauh dan menghilang di balik pintu kaca restoran.
Angin malam yang tadinya terasa sejuk kini berubah menjadi dingin yang menusuk tulang.
Gelas kristal di tanganku terasa berat. Aku gagal. Bukan karena ditolak, tapi karena aku merasa baru saja mendorongnya masuk ke dalam lubang kegelapan yang selama ini dia hindari.
Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan, Han? batinku perih. Seberapa hancur masa lalumu sampai cintaku pun terasa seperti ancaman bagimu?
Aku menyandarkan tubuhku di pagar balkon, menatap lampu kota yang kini tampak buram di mataku. Aku mencintainya, sangat mencintainya. Tapi malam ini aku sadar, Hana bukan sekadar buku yang sulit dibaca dia adalah ruang rahasia yang terkunci rapat dari dalam, dan kunci itu sepertinya sengaja dia buang ke dasar laut terdalam.
Semalaman suntuk aku tidak bisa memejamkan mata. Bayangan Hana yang lari meninggalkan balkon restoran itu terus berputar seperti kaset rusak di kepalaku. Aku terus bertanya-tapa pada diriku sendiri Apa aku terlalu agresif? Apa kata-kataku salah? Atau memang ada luka yang begitu dalam sampai cintaku pun terasa seperti ancaman baginya?
Tapi satu hal yang pasti, aku tidak akan menyerah. Aku mencintai Hana, dan cinta bukan soal mundur saat keadaan menjadi sulit. Justru saat dia goyah, aku harus menjadi pondasi yang paling kokoh.
Pagi harinya, aku tetap menjalankan rutinitas seperti biasa. Aku memacu mobilku menuju rumah Hana, berharap pagi ini suasananya sudah mendingin dan kami bisa berangkat ke kantor bersama seperti hari-hari sebelumnya. Begitu sampai di depan gerbang, Tante Mama Hana menyambutku dengan senyum ramahnya yang khas.
"Pagi, Tante," sapaku sambil menyalami tangannya dengan sopan, mencoba menyembunyikan gurat lelah di wajahku.
"Eh, Nak Tomi. Pagi-pagi sudah sampai. Mau jemput Hana ya?" tanya Mama Hana dengan nada lembut.
"Iya, Tante. Rencananya mau berangkat bareng kalau Hananya sudah siap."
"Sebentar ya, Tante panggilkan dulu ke kamarnya. Dia sepertinya belum turun dari tadi," jawab beliau sambil melangkah masuk.
Aku menunggu di ruang tamu dengan perasaan was-was.
Menit demi menit berlalu, namun yang kudengar bukanlah langkah kaki ringan Hana, melainkan langkah berat yang sangat kukenali. Om Papa Hana muncul dari arah tangga dengan wajah yang tampak sangat cemas, jauh dari kesan tegas yang biasanya beliau tunjukkan di meja rapat.
"Tomi," sapa Papa Hana. Beliau menghampiriku dan menepuk pundakku pelan.
"Iya, Om. Hananya sudah siap?" tanyaku penuh harap.
Papa Hana menghela napas panjang, tatapannya terlihat sangat dalam seolah sedang menimbang sesuatu.
"Begini, Tom. Sepertinya Hana tidak bisa masuk kantor hari ini. Badannya panas sekali, dia sedang drop dan ingin istirahat total dulu di kamarnya."
Jantungku serasa jatuh ke lantai. Sakit? Apa ini gara-gara kejadian di balkon semalam?
"Sakit apa, Om? Apa perlu saya antar ke dokter sekarang?" tanyaku spontan, rasa panik mulai menguasai diriku.
Papa Hana menggeleng pelan, tersenyum tipis yang menyiratkan rasa terima kasih atas perhatianku.
"Tidak perlu, Tom. Biar Mama yang urus di atas. Dia cuma butuh waktu untuk sendiri dulu. Hari ini semua agendanya di kantor sudah Om ambil alih."
Aku terdiam sejenak. Aku ingin sekali berlari ke atas, mengetuk pintunya, dan memastikan dia baik-baik saja. Aku ingin bilang kalau aku minta maaf jika kejadian semalam membuatnya tertekan. Tapi aku tahu batasanku. Jika dia butuh waktu sendiri, memaksakan diri masuk ke ruangannya hanya akan memperburuk keadaan.
"Baik, Om. Saya mengerti. Tolong sampaikan ke Hana kalau saya mendoakan dia cepat sembuh. Kalau ada apa-apa atau butuh sesuatu, tolong langsung hubungi saya," ucapku dengan suara rendah yang berat.
"Iya, Tom. Terima kasih ya. Kamu anak yang baik, Om hargai itu," balas Papa Hana tulus.
Aku berpamitan dengan perasaan hancur. Begitu keluar dari rumah itu, suara deru mesin mobilku terasa sangat bising di telingaku yang sunyi. Sepanjang perjalanan menuju kantor, pikiranku tidak pernah lepas dari Hana. Bayangan dia yang meringkuk kesakitan di kamarnya membuat fokusku menguap entah ke mana.
Sampai di kantor pun, aku benar-benar kehilangan mood. Beberapa dokumen penting yang harus kutandatangani hanya kutatap kosong. Aku, Tomi yang biasanya sangat gila kerja dan perfeksionis, kini hanya bisa duduk termenung di balik meja kerja. Pikiranku justru tertinggal di kamar itu, bersama seorang gadis yang bahkan untuk melihat wajahku saja mungkin dia belum sanggup.
Apa yang sedang kamu tangisi di sana, Han? Dan kenapa aku tidak bisa menjadi alasanmu untuk berhenti menangis?
Sepertinya Hana gadis yang menyimpan banyak luka dan beban batin ya.....semangat Hana 💪💪