NovelToon NovelToon
Takdir Cahaya & Kegelapan

Takdir Cahaya & Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: fernan Do

raja kegelapan dan ratu cahaya" 2 entitas yang tidak seharusnya bisa bersatu dan kekuatan yang seharusnya saling tolak menolak namun dikalahkan oleh takdir yang berjalan secara mutlak...menjalin sebuah cinta yang membuat kesucian cahaya menjadi dianggap najis dan kekejaman kegelapan dianggap lemah karena hubungan yang mereka jalanii

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fernan Do, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

perdebatan di garis cakrawala

Saat peperangan itu berlalu Ferdi seperti merasakan hal yang aneh di setiap malam nya...dia tidak bisa membunuh Vani dengan pedangnya

"sialan apa yang dia lakukan padaku?"gumam Ferdi yang berdiri di depan kaca

Ferdi yang tidak kuat dengan perasaan ini akhirnya memilih untuk keluar secara diam diam tanpa ada orang tau.

Ferdi berjalan menuju perbatasan kerajaan luxeria dan nocturnis Ferdi menatap kerajaan itu di bawah pohon beringin besar tanpa dia sadari.

Vani juga berada disana ternyata Vani merasakan hal yang sama seperti apa yang dirasakan Ferdi....

"OOO jadi kau disini juga raja kejam...apa kau tidak bisa tidur juga"? Tanya Vani dengan tatapan sinis

"kenapa kau kesini"? Tanya Ferdi terkejut karena keberadaan Vani

"aku hanya keliling sebentar karena tidak bisa tidur"?jawab Vani

"ternyata yang katanya ratu agung ternyata tidak bisa tidur juga yaa....hahahah!"balas Ferdi mengejek

Malam itu menjadi pertemuan yang tidak terduga antara raja kegelapan dan ratu cahaya mereka tidak bertarung hanya berbincang.namun anehnya malam malam berikutnya juga mereka bertemu tanpa janji sama sekali dan tanpa di sengaja.

*************************. ***************************

2 Minggu berlaku mereka makin sedikit akrab mereka tidak lagi membahas peperangan namun membahas hal hal konyol seperti buah mati di tanah kerajaan Ferdi.bunga matahari yang bau nya tidak sedap di kerajaan Vani mereka layaknya anak kecil yang sedang bermain dan bercanda

Ferdi yang awalnya dingin kini menjadi mulai sedikit menunjukan sisi kemanusiaan nya...dia di kenal kejam dan dingin kini mulai sedikit merasakan hal aneh 1 hari saja tidak mendengar suara Vani dia seperti kesepian..

"aku benci mengnalmu Vani kau sangat cerewet berbeda sifatmu dulu saat kita berperang beberapa Minggu lalu!"gumam Ferdi dengan nada dingin

"kau kira aku tidak benci mengenalmu laki laki yang dingin dan sok keren...... huhhhhh!"jawab Vani kesal

Pertemuan mulai sangat rutin tanpa perjanjian hanya lewat insting dan lewat beberapa bulan kemudian

************************************************************

Garis Cakrawala selalu menjadi tempat yang aneh. Di sini, rumputnya berwarna perak keunguan, hasil dari pertemuan abadi antara cahaya matahari Luxeria dan kabut malam Nocturnis.

Di bawah pohon perak yang daunnya gemerincing ditiup angin, suasana seharusnya sunyi dan sakral. Namun, malam ini, kesunyian itu pecah oleh suara melengking yang sudah sangat akrab di telinga Raja Ferdi.

"Kau terlambat tiga menit, Ferdi! Tiga menit!" Vani berdiri berkacak pinggang, jubah putihnya yang suci sedikit ternoda lumpur karena ia terus mondar-mandir sejak tadi.

"Sebagai penguasa kegelapan yang katanya sangat disiplin dan ditakuti, ketepatan waktumu benar-benar memprihatinkan. Apakah jalanan dari istana obsidianmu itu tertimbun salju, atau kau tersesat di kamarmu sendiri?"

Ferdi yang baru saja muncul dari balik bayangan pohon, berjalan dengan santai.

Ia tidak mengenakan baju zirah perangnya, hanya jubah hitam kasual yang kancing atasnya sengaja dibuka. Ia menguap lebar, mengabaikan tatapan tajam Vani.

"Tiga menit, Vani? Aku menghabiskan seratus tahun untuk tidak membunuhmu, dan kau meributkan tiga menit?"

Ferdi duduk di atas batu besar, menyandarkan punggungnya dengan posisi yang sangat tidak berwibawa bagi seorang raja.

"Lagipula, aku tidak terlambat. Kau saja yang terlalu bersemangat menungguku. Kau merindukanku, ya?"

Wajah Vani mendadak merah padam, seolah-olah seseorang baru saja menyulut api di pipinya.

"Merindukanmu?! Dalam mimpimu yang paling liar pun itu tidak akan terjadi! Aku di sini hanya untuk memastikan kau tidak melanggar perjanjian gencatan senjata. Kau tahu, kan? Aku harus mengawasi setiap pergerakanmu karena kau itu

licik!"

"Oh, tentu saja," sahut Ferdi dengan nada datar yang menyebalkan. "Kau mengawasiku dengan sangat teliti sampai-sampai kau memperhatikan ketepatan waktuku hingga ke hitungan detik. Sangat berdedikasi, Ratu Cahaya. Rakyatmu pasti bangga memiliki ratu yang begitu... terobsesi padaku."

"Aku tidak terobsesi!" Vani berteriak, suaranya membuat burung-burung malam beterbangan.

"Aku hanya benci ketidakteraturan! Dan kau, dengan jubahmu yang berantakan dan rambut yang tidak disisir itu, adalah definisi dari ketidakteraturan! Lihat dirimu, apakah kau tidak punya cermin di Nocturnis? Atau semua cerminmu pecah karena tidak kuat melihat wajah surammu itu?"

Ferdi terkekeh pelan. Ia memetik sehelai daun perak dan memainkannya di jemari.

"Wajah suram ini adalah alasan kenapa kau tidak pernah melewatkan satu malam pun di perbatasan ini selama seratus tahun, bukan? Akui saja, Vani. Kau suka melihatku. Kau suka bagaimana kegelapanku membuat cahayamu terlihat lebih terang."

Vani mendengus keras, ia duduk di atas rumput dengan kasar, berusaha menjaga jarak setidaknya dua meter dari Ferdi.

"Jangan terlalu percaya diri. Aku hanya suka udara di sini. Lebih segar daripada udara di Luxeria yang terkadang terlalu banyak bau bunga matahari. Dan bicara soal bunga, kenapa kau membawa tanaman aneh itu lagi?"

Vani menunjuk ke sebuah kantong kecil yang dibawa Ferdi, yang berisi tanaman berduri hitam dengan kelopak ungu gelap.

"Ini bunga Night-Shade," jawab Ferdi tenang. "Aku membawanya karena kau terus-menerus mengeluh bahwa Luxeria tidak punya tanaman yang bisa bertahan tanpa sinar matahari. Aku pikir, mungkin kau ingin mencoba menanam sesuatu yang sedikit lebih... berkarakter, daripada mawar merahmu yang membosankan itu."

"Mawar tidak membosankan! Mawar itu klasik!"

Vani langsung menyambar bunga itu dari tangan Ferdi, meskipun ia melakukannya dengan gerakan kasar seolah sedang merebut senjata musuh.

"Tapi baiklah, aku akan mengambilnya. Bukan karena aku suka pemberianmu, tapi karena aku merasa kasihan pada tanaman ini jika harus tinggal bersamamu. Dia pasti akan mati kekeringan karena kau terlalu malas untuk menyiramnya."

"Terserah kau saja, Cerewet," ejek Ferdi sambil tersenyum tipis.

"Ngomong-ngomong, roti yang kau bawa minggu lalu... rasanya seperti batu. Kau yakin itu roti? Atau kau sedang mencoba meracuniku secara perlahan?"

Vani tersentak, ia langsung berdiri lagi dengan emosi yang meledak-ledak.

"Itu roti gandum terbaik di Luxeria, dasar lidah jelata! Aku sendiri yang mengawasi pembuatannya di dapur istana! Jika rasanya keras, itu karena kau memakannya tiga hari setelah aku memberikannya! Kau pikir sihir kegelapanmu bisa mengawetkan makanan? Bodoh!"

"Aku sengaja menyimpannya," potong Ferdi dengan suara yang tiba-tiba melunak, namun matanya tetap menatap ke arah langit.

"Kenapa? Mau kau jadikan bahan penelitian sihir hitam?" tanya Vani sinis.

"Tidak. Aku hanya ingin memastikannya tetap ada di mejaku sedikit lebih lama. Setidaknya baunya mengingatkanku pada seseorang yang tidak berhenti bicara bahkan saat aku sedang mencoba tidur," sahut Ferdi sambil melirik Vani dari sudut matanya.

Vani terdiam sesaat. Jantungnya berdegup kencang, namun ego-nya yang setinggi langit segera mengambil alih.

"Tentu saja kau merindukan suaraku! Tanpa omelanku, hidupmu pasti sangat sunyi dan membosankan, kan? Kau pasti hanya duduk di singgasana itu sambil menghitung berapa banyak debu yang menempel di pilar obsidianmu."

"Mungkin," jawab Ferdi singkat,

membuat Vani semakin kesal karena tidak mendapat perlawanan kata-kata yang sepadan.

"Hanya 'mungkin'? Benar-benar jawaban yang tidak kreatif!" Vani terus mengoceh.

"Kau tahu, Ferdi? Kadang aku berpikir, kenapa takdir mempertemukanku dengan orang sepertimu? Kau itu dingin, sombong, menyebalkan, dan tidak punya selera fashion sama sekali. Hitam, hitam, dan hitam. Apa kau tidak punya warna lain?"

"Aku punya warna abu-abu sekarang," Ferdi menatap Vani dengan intens. "Sejak aku mengenalmu, duniaku tidak lagi hitam pekat. Ada banyak warna abu-abu yang membingungkan. Dan semua itu gara-gara kau yang selalu datang dengan baju zirah perakmu yang menyilaukan mata."

Vani memalingkan wajahnya, berusaha menyembunyikan senyum kecil yang mulai terbentuk di bibirnya. "Itu pujian yang paling buruk yang pernah kudengar. Kau benar-benar tidak romantis, Ferdi. Pantas saja tidak ada wanita di Nocturnis yang mau mendampingimu."

"Aku tidak butuh wanita di Nocturnis," Ferdi bangkit dari batunya dan berjalan mendekati Vani. Langkahnya pelan, tidak mengancam, namun penuh aura dominasi yang tenang.

"Untuk apa aku mencari di sana, jika setiap malam ada seorang Ratu Cahaya yang rela menempuh perjalanan jauh hanya untuk memarahi ketepatan waktuku?"

"Aku... aku hanya menjalankan tugas diplomatik!" Vani mundur satu langkah, namun punggungnya membentur batang pohon perak.

Ferdi kini berdiri tepat di depannya. Ia lebih tinggi satu kepala dari Vani. Bau harum kayu cendana dan dinginnya malam menguar dari tubuh Ferdi, membuat pertahanan Vani sedikit goyah.

"Diplomatik, ya?" Ferdi berbisik, tangannya terulur untuk mengambil sehelai kelopak bunga yang tersangkut di rambut emas Vani.

"Lalu kenapa tanganmu bergetar setiap kali aku mendekat? Apakah itu juga bagian dari protokol diplomatik Luxeria?"

"Ini... ini karena udara malam yang dingin! Aku kedinginan, tahu!" seru Vani, suaranya sedikit gemetar namun tetap berusaha keras untuk terdengar galak. "Dan jangan berani-berani menyentuh rambutku tanpa izin!"

Ferdi tidak menarik tangannya. Ia justru membiarkan jemarinya menyentuh ujung telinga Vani yang mulai memerah.

"Kau sangat berisik, Vani. Tapi anehnya, jika kau diam, aku merasa dunia ini benar-benar akan berakhir."

Vani menatap mata Ferdi. Di sana, ia tidak melihat lagi monster yang ingin menghancurkan dunianya. Ia melihat seorang pria yang kesepian, yang hanya bisa mengekspresikan kasih sayangnya melalui ejekan dan sindiran.

"Kau juga menyebalkan, Ferdi," bisik Vani, suaranya melunak secara drastis. "Sangat menyebalkan sampai-sampai aku ingin menghancurkan wajah sombongmu ini dengan tongkat perakku."

"Lakukan saja," tantang Ferdi dengan senyum miringnya yang khas.

"Tapi setelah itu, siapa yang akan membawakanmu bunga Night-Shade? Siapa yang akan mendengarkan keluhanmu tentang harga gandum di pasar Luxeria selama berjam-jam?"

Vani terdiam. Ia mengepalkan tangannya di dada, mencoba menahan gejolak perasaan yang meledak-ledak. "Aku benci mengakui ini, tapi... mungkin kau benar. Hidup tanpa mengejekmu mungkin akan sedikit... hambar."

"Hanya hambar?" Ferdi mengangkat alisnya, sengaja memancing emosi Vani lagi.

"SANGAT HAMBAR! PUAS?!" teriak Vani tepat di depan wajah Ferdi.

Ferdi tertawa terbahak-bahak. Suara tawanya yang berat dan tulus menggema di seluruh Lembah Eternum. Ia merasa menang malam ini.

Bukan menang karena peperangan, tapi menang karena berhasil membuat Ratu Cahayanya yang gengsi itu mengakui sedikit saja perasaannya.

"Sudah, jangan tertawa! Berhenti tertawa atau aku akan benar-benar pergi dan tidak akan kembali selama seratus tahun lagi!" ancam Vani dengan wajah yang masih merah padam.

"Kau tidak akan sanggup, Vani," ucap Ferdi sambil menatapnya lembut. "Karena aku pun tidak akan membiarkanmu pergi sejauh itu."

Mereka berdiri di sana, di bawah naungan pohon perak, saling menatap dengan penuh ejekan namun tangan mereka perlahan saling bertautan di balik jubah.

Di perbatasan itu, fajar mulai menyingsing, menandakan berakhirnya malam ke-seratus tahun mereka. Sebuah hubungan yang lahir dari kebencian, dipupuk dengan gengsi, namun kini mulai mekar dengan keindahan yang tak terlukiskan.

1
Anonymous
jadi kerajaan luxeria itu penuh dengan sejarah yaa
fernan Do: yup saya memang sengaja membuat bab 1 agar langsung berkonflik nah nanti di bab bab special bakal terungkap mengapa mereka berperang dan konflik konflik terdahulu
total 1 replies
Anonymous
ceritanya penuh plot wist yaa ternyata
fernan Do: hehe iyaa agar tidak terlalu sejalan harus ada kejutan juga kak
total 1 replies
Anonymous
lanjut besok yaaaa🙏😍
fernan Do: oke kak terimakasih sudah mau baca yaa saya akan upload setiap hari cerita saya hehe🙏🙏🙏😍
total 1 replies
Anonymous
semangat autor
Ahmad Muhajir
semangat thor wkwkwk
fernan Do: yoii bang semangat juga bang 🙏🙏🙏💪
total 1 replies
Anonymous
wahh aku tau niat Ferdi baik namun dia malah buat Vani khawatir
Anonymous
disini Ferdi seperti ingin sekali membuat Vani bahagia namun dia malah membuat Vani ngomel ngomel🤣
fernan Do: hahaha betul sekali Ferdi terlihat konyol padahal dia adalah raja kuat dahulu
total 1 replies
Anonymous
bagus ceritanya sedikit nyambung cuman aku harap bisa diperbaiki yaa semangat
fernan Do: makasih saya akan memperbaiki kesalahan saya dan membuatnya lebih baik lagi terima kasih yaa 🙏😍😍
total 1 replies
fernan Do
semangat
fernan Do
semangat meskipun gada yang liat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!