NovelToon NovelToon
Mafia Kejam Jatuh Cinta

Mafia Kejam Jatuh Cinta

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: erinaCalistaAzahra

Marvel Dewangsa sadar bahwa hatinya sudah lama mati. Mungkin dari pengkhianatan oleh wanita yang ia sayangi, ditambah ia yang berkecimpung di dunia bawah yang tidak memerlukan simpati untuk bertahan hidup. Ia akhirnya percaya bahwa hidupnya akan seallau gelap sampai mati.

Namun, entah keajaiban apa, di hari itu seorang wanita yang bernama Elara , datang dan perlahan selalau ada di kehidupannya. Apakah marvel Dewangsa akan menerima Elara di kehidupannya dan hatinya akan luluh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ungkapan cinta 21 +

Marvel menepi di sebuah vila terpencil yang bertengger di atas tebing karang. Hanya ada suara deburan ombak dan deru napas mereka yang masih memburu. Ketegangan maut tadi berubah menjadi ketegangan jenis lain—sesuatu yang lebih pekat dan membakar.

Marvel turun dari kapal, lalu menggendong Elara yang masih lemas karena syok. Ia membawanya masuk ke kamar utama yang luas, hanya diterangi cahaya bulan yang menembus kaca besar.

"Marvel ... luka-lukamu," bisik Elara aat Marvel meletakkannya di atas tempat tidur sutra.

Marvel tidak menjawab. Ia melepas kemeja putihnya yang koyak dan penuh noda darah, memperlihatkan tubuhnya yang dipenuhi tato dan bekas luka lama—peta dari setiap perang yang pernah ia menangkan. Namun matanya, yang biasanya sedingin es kutub, kini menatap Elara dengan rasa lapar yang tertahan.

"Darah ini bukan milikku, Elara ," suara Marvel rendah, bergetar di tenggorokan. "Dan malam ini, aku tidak ingin memikirkan kematian."

Marvel mendekat dan duduk di tepi tempat tidur, membiarkan keheningan malam menyelimuti mereka. Ketegangan dari pelarian tadi perlahan mereda, digantikan oleh kesadaran akan keselamatan yang baru saja mereka raih. Elara menyentuh lengan Marvel , memastikan bahwa pria itu benar-benar ada di sana, hidup dan melindunginya.

Di bawah naungan cahaya bulan, mereka menyadari bahwa dunia di luar sana masih penuh dengan ancaman, namun untuk saat ini, dinding vila itu menjadi benteng yang kokoh. Marvel berjanji dalam hati bahwa tidak akan ada lagi yang bisa menyentuh Elara selama ia masih bernapas.

Malam itu menjadi titik balik bagi keduanya, sebuah momen tenang di tengah badai kehidupan yang penuh kekerasan. Kepercayaan yang mulai tumbuh di antara mereka menjadi modal utama untuk menghadapi apa pun yang akan datang esok hari.

Marvel mengunci pintu kamar dengan suara klik yang bergema di keheningan. Di bawah cahaya remang lampu dinding, suasana yang semula penuh mesiu kini berubah menjadi panas yang menyesakkan.

Marvel melangkah mendekat, matanya menatap Elara dengan intensitas yang sulit dibaca. Di tengah ketegangan yang masih tersisa dari konflik sebelumnya, ia berdiri cukup dekat hingga Elara bisa merasakan kehadirannya yang mendominasi ruangan.

"Dunia ini tidak aman bagimu selama kau bersamaku, Elara ," ucap Marvel dengan nada rendah yang penuh peringatan. Tangannya terangkat, seolah ingin menyentuh namun tertahan oleh beban kenyataan dari hidup yang ia jalani.

Elara membalas tatapan itu dengan keberanian yang mengejutkan. "Keamanan adalah ilusi di tempat seperti ini. Setidaknya di sini, aku tahu siapa yang berdiri di sampingku."

Keheningan kembali menyelimuti mereka, namun kali ini bukan karena ketakutan, melainkan karena kesadaran akan ikatan rumit yang baru saja terbentuk di antara mereka. Elara akhirnya mengangguk pelan, sebuah tanda pengakuan atas loyalitas Elara yang tak tergoyahkan di tengah badai kekacauan yang mengelilingi kehidupan mereka.

marvel berdiri mematung di depan jendela besar yang menghadap ke laut lepas. Suara ombak yang menghantam karang seolah menjadi detak jantungnya yang biasanya beku. Elara melangkah mendekat, bayangannya jatuh di lantai marmer yang dingin.

Marvel tidak berbalik, namun suaranya pecah, lebih rendah dari biasanya. "Seharusnya aku membiarkanmu di gang itu, Elara . Mencintaimu adalah hukuman mati bagi kita berdua."

Elara berhenti tepat di belakangnya. Ia bisa melihat otot punggung marvel yang menegang. "Kau menyelamatkanku berkali-kali malam ini, Marvel . Itu bukan karena tugas. Itu karena kau peduli."

Marvel berbalik perlahan. Matanya yang biasanya sewarna abu-abu baja kini tampak redup, menyimpan badai emosi yang selama bertahun-tahun ia kunci rapat. Ia melangkah maju, memperpendek jarak hingga napas mereka bersatu.

"Aku tidak tahu cara mencintai seperti orang normal," bisik Marvel , tangannya yang kasar perlahan menyentuh pipi Elara dengan kelembutan yang menyakitkan. "Cintaku itu kotor, penuh darah, dan berbahaya. Aku adalah monster yang akan menghancurkan apa pun yang kusentuh".

Elara tidak mundur. Ia justru menggenggam tangan Marvel , menempelkannya erat ke wajahnya. "Kalau begitu, biarkan aku menjadi satu-satunya hal yang tidak kau hancurkan. Aku tidak takut pada monstermu, Marvel . Aku takut pada kesepianmu."

Di bawah cahaya remang, pertahanan "The Glacier" runtuh. Marvel menarik Elara ke dalam pelukannya, mendekapnya seolah gadis itu adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak tenggelam dalam kegelapan.

"Aku mencintaimu," ucap Marvel , tiga kata yang terdengar seperti pengakuan dosa sekaligus sumpah setia. "Dan siapa pun yang mencoba mengambilmu dariku... aku akan meratakan dunia ini untuk menemukannya."

Elara mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata abu-abu Marvel yang selama ini selalu tampak seperti badai yang membeku. Ia tidak gentar dengan pengakuan gelap pria itu. Sebaliknya, jemarinya yang mungil justru menyusup ke sela-sela jemari Marvel yang kasar dan penuh bekas luka.

"Marvel , dengarkan aku," suara Elara lembut namun setajam belati yang menghujam keheningan. "Jangan minta maaf karena telah mencintaiku. Dunia yang kau jalani memang gelap, tapi kau adalah alasan kenapa aku masih bernapas malam ini."

Elara berjinjit, mendekatkan wajahnya hingga kening mereka bersentuhan. Bau maskulin Marvel yang bercampur dengan aroma samar mesiu terasa begitu nyata.

"Jika mencintaimu adalah hukuman mati, maka aku akan menerimanya dengan kepala tegak," bisik Elara tegas. "Aku tidak butuh pria normal yang memberikan bunga. Aku butuh pria yang akan membakar dunia demi melindungiku, dan pria itu adalah kau."

Elara menarik napas panjang, menatap Marvel dengan binar yang tak pernah luntur. "Aku juga mencintaimu, Marvel . Sangat mencintaimu. Jangan pernah berfikir untuk mendorongku pergi demi keselamatanku, karena keselamatanku ada di dalam pelukanmu."

Mendengar itu, pertahanan Marvel benar-benar hancur. Ia tidak lagi melihat Elara sebagai kelemahan, melainkan sebagai kekuatan baru. Ia mencium kening Elara dengan penuh khidmat, seolah sedang menyucikan diri dari segala dosa masa lalunya.

"Mulai detik ini," desis Marvel di depan bibir Elara , "siapa pun yang menatapmu dengan cara yang salah, mereka harus melewati mayatku lebih dulu."

Marvel tidak lagi menahan diri. Segala dinding es yang ia bangun selama bertahun-tahun runtuh dalam satu tarikan napas saat ia menyatukan bibirnya dengan bibir Elara . Ciuman itu tidak lembut—itu adalah ciuman penuh rasa lapar, keputusasaan, dan pengakuan akan nyawa yang nyaris hilang di jalanan tadi.

marvel mengangkat tubuh Elara dengan mudah, membawanya ke tempat tidur besar yang menghadap ke laut lepas. Di bawah siraman cahaya bulan yang perak, suasana menjadi sangat intim:

Tangan Marvel yang kasar, yang biasanya hanya memegang senjata dan mengirim nyawa ke neraka, kini menyentuh kulit elara dengan gemetar yang asing. Ia memperlakukan Elara seolah gadis itu adalah karya seni paling rapuh yang pernah ia temukan.

Di tengah keheningan vila, hanya terdengar deru napas mereka yang saling memburu. Vico melepaskan seluruh atribut mafianya—jasnya, senjatanya, dan topeng "Glacier"-nya—hanya menyisakan seorang pria yang haus akan kasih sayang di depan wanita yang ia cintai.

Sumpah dalam Keheningan: Setiap sentuhan Marvel adalah cara ia berkata "maaf" atas kegelapan dunianya, dan setiap balasan Elara adalah cara ia berkata "aku menerima seluruh dirimu". Di atas ranjang sutra itu, mereka bukan lagi bos mafia dan pelukis jalanan, melainkan dua jiwa yang mencari perlindungan di tengah badai.

Malam itu, Marvel melakukan sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada berperang: ia membiarkan dirinya menjadi lemah di hadapan Elara. Ia menyerahkan seluruh kendali dirinya kepada wanita itu.

Saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur, marvel memeluk Elara dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu gadis itu sambil menatap matahari terbit.

"Mulai hari ini," bisik Vico di telinga Elara, "kau adalah ratuku. Dan aku adalah pedangmu."

Kemenangan ini terasa lengkap, namun di luar sana, sisa-sisa pasukan musuh mungkin sedang merencanakan sesuatu.

1
Dysha♡💕
bagus
Dysha♡💕
ceritanya bagus,tapi terlalu singkat dan cepat,,jadi kurang menghayati gitu,,,
erin
jangan bosan untuk membaca
erin
jangan lupa mampir🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!