Hafiz mengira dunia ada dalam genggamannya. Harta, tahta, dan wanita pemuja dusta menjadi santapan hariannya. Ia terperosok dalam kubangan kesombongan, lupa bahwa ia adalah seorang lelaki yang seharusnya menjadi pelindung.
Namun, badai datang meruntuhkan segalanya. Di titik nadir saat semua orang meninggalkannya, ia menemukan sebuah oase bernama Zahra. Wanita yang kesuciannya terjaga, yang doanya menembus langit, dan yang hatinya menjadi tempat persembunyian terakhir bagi Hafiz dari kejahatan dirinya sendiri.
"Maafkan kebodohanku yang tak bisa membimbingmu, Zahra. Izinkan aku belajar menjadi imam, meski langkahku penuh noda."
Mampukah Hafiz menjaga amanah saat jarak memisahkan dan masa lalu kembali menagih janji? Akankah doa Qurrata A'yun menyatukan mereka dalam cinta yang direstui penduduk langit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RETAKAN DI DINDING KACA
Hafiz melempar ponselnya ke karpet tebal, lalu bangkit berdiri dengan langkah yang limbung.
Ia segera menuju kamar mandi, menyiram wajahnya dengan air dingin berkali-kali untuk mengusir rasa pening dan kepanikan yang mulai merayap.
"Tenang, Hafiz. Tenang. Mungkin Robi cuma kelelahan dan ponselnya mati," gumamnya pada pantulan dirinya di cermin.
Namun, wajah di cermin itu tidak tampak yakin; mata yang biasanya tajam dan angkuh kini mulai digeluti kecemasan.
Ia segera berpakaian rapi, menyambar jasnya, dan berlari menuju lobi tanpa menunggu supir pribadinya.
Hafiz mengendarai mobil sport-nya dengan kecepatan tinggi menuju gedung kantor pusat PT Duta Properti.
Sepanjang jalan, ia mencoba menghidupkan radio bisnis untuk mengalihkan pikirannya, namun yang ia dengar justru membuat genggamannya pada setir menguat.
"Kabar mengejutkan datang dari sektor properti pagi ini, di mana beredar rumor adanya ketidaksesuaian dana dalam proyek reklamasi besar..."
Hafiz segera mematikan radio itu dengan kasar, napasnya memburu cepat.
"Berita sampah! Siapa yang berani menyebarkan gosip murahan begitu?" teriaknya di dalam kabin mobil yang kedap suara.
Begitu sampai di lobi kantor, Hafiz merasakan atmosfer yang sangat berbeda dari biasanya.
Para karyawan yang biasanya menunduk hormat kini justru berbisik-bisik sambil mencuri pandang ke arahnya.
Hafiz mengabaikan mereka dan langsung menuju lift khusus CEO dengan langkah lebar yang angkuh.
Di depan ruangannya, ia mendapati Siska, sekretaris utamanya, sedang berdiri dengan wajah pucat pasi.
"Mana Robi?" tanya Hafiz tanpa salam, suaranya menggelegar di lorong kantor yang sunyi.
"P-pak Robi belum datang, Pak. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi sejak subuh tadi," jawab Siska dengan suara bergetar.
Hafiz mendengus kesal, lalu mendorong pintu ruangannya dengan kasar.
Ia mendapati meja kerjanya masih rapi, namun ada sesuatu yang janggal; beberapa map penting yang seharusnya ada di sana raib.
"Siska! Masuk kamu!" teriak Hafiz dari dalam ruangan.
Siska segera masuk dengan buku catatan yang gemetar di tangannya, tidak berani menatap mata bosnya.
"Jelaskan padaku, kenapa ada isu miring soal dana operasional di radio tadi pagi? Siapa yang bocorin?"
"Itu dia, Pak... Sejak jam tujuh tadi, banyak investor yang menelepon kantor dengan nada marah."
"Mereka bilang mereka menerima laporan anonim soal penggelapan dana yang masuk ke rekening bayangan," jelas Siska pelan.
Hafiz tertawa hambar, tawa yang terdengar sangat dipaksakan dan penuh nada meremehkan.
"Rekening bayangan? Itu gila! Semua keuangan kita diawasi oleh Robi dan tim audit!"
"Tapi Pak... tim audit internal kita tadi pagi juga melaporkan bahwa mereka tidak bisa mengakses server utama keuangan," tambah Siska.
Darah Hafiz seolah berhenti mengalir. Ia terduduk di kursi kebesarannya yang empuk, namun terasa sangat dingin.
"Maksudmu, server kita di-hack?" tanya Hafiz, mencoba mencari alasan yang paling masuk akal bagi logikanya.
"Kami belum tahu, Pak. Bagian IT sedang berusaha memulihkannya, tapi sepertinya ada kunci enkripsi baru yang dipasang dari dalam."
Hafiz memijat pelipisnya yang semakin berdenyut, bayangan wajah ibunya semalam tiba-tiba melintas.
Jangan terlalu tinggi terbangnya, nanti kamu lupa jalan pulang ke bumi...
"Keluar kamu, Siska! Cari Robi sampai ketemu! Cari ke apartemennya, ke rumah orang tuanya, ke mana saja!" perintah Hafiz.
Setelah Siska keluar, Hafiz langsung menyalakan laptopnya dan mencoba masuk ke sistem internal melalui jalur darurat.
Tangannya masih gemetar. Setiap kali ia mencoba masuk, layar hanya menampilkan logo perusahaan yang berputar-putar tanpa akhir.
Tiba-tiba, pintu ruangannya terbuka tanpa diketuk.
Seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi masuk dengan wajah yang sangat serius. Dia adalah Pak Suno, investor terbesar di proyek reklamasi.
"Hafiz! Apa maksudnya ini? Dana 500 miliar raib dalam semalam dan kau masih duduk santai di sini?" tanya Pak Suno tanpa basa-basi.
Hafiz bangkit berdiri, mencoba mempertahankan sisa-sisa wibawanya yang mulai runtuh.
"Pak Suno, tenang dulu. Itu hanya kesalahan teknis sistem. Robi sedang mengurusnya," ucap Hafiz mencoba berbohong.
"Robi? Robi yang kau bangga-banggakan itu? Dia bahkan tidak ada di kantor!" bentak Pak Suno sambil melemparkan sebuah amplop cokelat ke meja Hafiz.
"Baca itu! Seseorang mengirimkan salinan transaksi yang menunjukkan namamu menyetujui transfer keluar ke rekening di luar negeri pukul dua pagi tadi!"
Hafiz menyambar dokumen di dalam amplop itu dengan gerakan cepat.
Matanya membelalak. Di sana tertera tanda tangan elektroniknya, tanda tangan yang sangat rahasia dan hanya ia serta Robi yang mengetahuinya.
"Ini... ini palsu! Saya tidak pernah menandatangani ini! Semalam saya sedang pesta!" seru Hafiz dengan suara yang mulai pecah.
"Pesta? Di saat uang investor mengalir keluar, kau justru mabuk-mabukan? Kau benar-benar sudah gila, Hafiz!" Pak Suno menunjuk wajah Hafiz dengan penuh amarah.
"Saya akan beri waktu sampai sore ini. Jika uang itu tidak kembali atau penjelasannya tidak masuk akal, saya akan bawa ini ke jalur hukum!"
Pak Suno keluar dari ruangan dengan membanting pintu, meninggalkan Hafiz yang kini berdiri mematung di tengah ruangannya yang luas.
Hafiz merasa dinding kaca di sekelilingnya mulai retak, dan ia berada tepat di bawah reruntuhannya.
Ia mencoba menelepon Robi lagi. Satu kali. Dua kali. Tiga kali.
Tiba-tiba, panggilan itu tersambung.
Jantung Hafiz seolah meledak karena rasa lega yang sesaat.
"Halo! Rob! Robi! Di mana kamu? Kenapa ponselmu mati? Kantor kacau, Rob!" teriak Hafiz ke arah ponselnya.
Hening sejenak di seberang sana. Hanya terdengar suara embusan angin yang cukup kencang, seperti suara di pelabuhan atau bandara.
"Halo? Robi! Jawab aku!"
"Tenanglah, Bos... kenapa suaramu gemetar begitu?" Suara Robi akhirnya terdengar, namun nadanya sangat tenang, terlalu tenang untuk situasi segawat ini.
Hafiz menghela napas panjang, mencoba meredakan amarahnya. "Rob, Pak Suno ke sini. Ada isu penggelapan dana. Kau di mana sekarang? Cepat ke kantor."
Terdengar tawa kecil dari seberang telepon. Bukan tawa hormat yang biasa Hafiz dengar, melainkan tawa dingin yang meremehkan.
"Kantor? Sepertinya aku tidak akan pernah kembali ke sana, Bos. Lagipula, kau kan punya 'sistem yang kuat'?" ucap Robi, mengulangi kata-kata sombong Hafiz semalam.
Hafiz membeku. Bulu kuduknya berdiri tegak saat mendengar nada bicara asistennya yang berubah total.
"Maksudmu apa, Rob? Jangan bercanda. Ini bukan waktunya buat lelucon!"
"Aku tidak sedang bercanda, Hafiz. Aku hanya sedang menikmati hasil kerja kerasku selama bertahun-tahun melayanimu yang sok suci itu."
"Kau... kau yang melakukan ini? Kau yang memindahkan dana itu?" suara Hafiz hampir hilang di tenggorokan.
"Kau yang menandatanganinya sendiri, ingat? Di tablet itu, saat kau sedang mabuk dan merasa jadi raja. Kau bahkan tidak membaca apa yang kau tanda tangani, kan?"
Hafiz terduduk lemas di lantainya yang berlapis marmer mahal. Seluruh dunianya serasa berputar terbalik dalam hitungan detik.
"Kenapa, Rob? Aku sudah kasih kamu segalanya! Mobil, bonus, kepercayaan... kenapa?" tanya Hafiz dengan suara parau, air mata mulai menggenang di matanya yang merah.
"Kepercayaan? Kau hanya menjadikanku bayanganmu, Hafiz. Kau sombong, kau angkuh, bahkan ibumu sendiri kau injak-injak demi uang."
"Aku hanya mengambil apa yang menurutku pantas aku dapatkan. Dan sekarang, biarkan dunia melihat siapa raja yang sebenarnya jatuh ke tanah."
"Rob! Balikkan uang itu! Kita bisa bicarakan ini, aku akan kasih kamu lebih banyak lagi!" mohon Hafiz, suaranya kini terdengar sangat menyedihkan.
"Sudah terlambat, Bos. Nikmatilah hadiah terakhir dariku. Sebentar lagi, tamu-tamu istimewa akan datang menjemputmu di kantor."
"Rob! Robi! Jangan tutup teleponnya! ROBI!" teriak Hafiz histeris.
Klik.
Sambungan terputus....!