"Dunia ini memang nggak adil, Hana. Tapi, malam ini kita yang akan membajak mesinnya."
Kalimat dingin Kaito Fujiwara memecah kesunyian di atap sekolah. Tokyo tahun 2026 telah menjadi penjara bagi mereka yang kalah dalam undian kelahiran. Hana Tanaka, siswi pintar yang menyembunyikan kemiskinannya, harus menghadapi kenyataan pahit saat dana beasiswanya dicuri untuk kampanye politik kotor. Bersama Akane si aktivis digital, Ren sang mantan atlet yang cacat, Yuki si peretas jenius, dan Kaito sang putra politisi yang pemberontak, mereka membentuk aliansi rahasia.
Dari gang gelap Shinjuku hingga pembajakan layar raksasa di persimpangan Shibuya, lima remaja ini mempertaruhkan nyawa untuk meruntuhkan sistem yang bobrok. Di dunia yang diyakini bahwa nasib orang ditentukan sejak lahir, mampukah mereka memutar balik roda takdir? Ataukah mereka hanya akan menjadi tumbal berikutnya dari keserakahan para penguasa? Persahabatan ini adalah satu-satunya senjata mereka dalam melawan ‘gelapnya kota’.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulan Separuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30. Bayang-bayang di Balik Kelulusan
Pagi hari di sekolah menengah atas elit itu terlihat sangat sibuk sekali. Ribuan kelopak bunga sakura berjatuhan dan menutupi permukaan aspal jalanan yang berwarna abu-abu. Hana Tanaka berdiri di depan gerbang sekolah sambil merapikan rok seragamnya yang sudah mulai terlihat sedikit kusam.
Dia menatap gedung sekolah yang megah itu dengan perasaan yang sangat datar dan juga tidak menentu. Hari ini adalah hari kelulusan bagi angkatan mereka setelah melewati badai kasus korupsi yang sangat hebat. Hana memegang map ijazahnya dengan sangat erat di dalam dekapan tangannya yang masih sedikit gemetar.
Dia menyadari bahwa selembar kertas ini tidak akan otomatis mengubah nasib ekonominya yang sangat sulit. Ibu Hana sudah bisa pulang dari rumah sakit namun tagihan medis masih menumpuk di atas meja makan mereka. Hana harus bekerja paruh waktu lebih keras lagi untuk melunasi seluruh utang-utang keluarga tersebut.
Di dalam aula sekolah yang sangat besar suara pidato kepala sekolah yang baru terdengar sangat membosankan. Beliau berbicara tentang masa depan cerah dan juga tentang kontribusi bagi negara Jepang yang tercinta. Namun Hana melihat wajah-wajah teman seangkatannya yang terlihat sangat lelah dan juga sangat tidak bersemangat.
Mereka semua adalah korban dari sistem pendidikan yang hanya memuja nilai ujian dan juga memuja status sosial. Hana melirik ke arah Kaito Fujiwara yang duduk tiga baris di depan posisi duduk Hana sekarang. Kaito terlihat sangat rapi namun punggungnya tidak setegak biasanya seperti saat mereka berada di atap sekolah.
Kaito sedang menghadapi kenyataan bahwa seluruh aset kekayaan ayahnya sekarang sedang dalam proses penyitaan oleh negara. Yayasan pendidikan yang dia impikan masih berupa sebuah draf rencana yang sangat sulit untuk diwujudkan. Hukum di Jepang sangat rumit dan juga sangat lambat dalam memproses izin bagi orang yang memiliki latar belakang keluarga kriminal.
Setelah upacara selesai mereka berlima berkumpul di atap sekolah yang menjadi saksi bisu perjuangan mereka. Angin musim semi bertiup dengan sangat kencang dan juga membuat rambut Hana menjadi sangat berantakan sekali. Yuki Nakamura sedang sibuk menatap layar ponselnya dengan tatapan mata yang sangat cemas dan juga penuh ketakutan.
Yuki baru saja mendapatkan notifikasi bahwa beberapa peretas pro pemerintah mulai menyerang akun media sosial miliknya. Mereka tidak menyukai tindakan Yuki yang sudah membongkar rahasia digital milik Haruo Fujiwara beberapa waktu yang lalu. Akane Sato juga terlihat sangat diam sambil terus memegang tas sekolahnya dengan kedua tangannya yang sangat pucat.
Akane menerima banyak sekali pesan kebencian dari kelompok pendukung konservatif yang menganggapnya sebagai pengkhianat bangsa. Mereka menganggap aksi protes yang dilakukan Akane telah merusak citra stabilitas politik negara Jepang di mata dunia internasional.
Ren Ishida mencoba untuk mencairkan suasana dengan memberikan beberapa kaleng minuman kopi hangat kepada teman-temannya. Namun Ren sendiri berjalan dengan sangat pincang karena cedera lututnya kembali terasa sangat sakit sekali hari ini. Dia sudah diterima di akademi kepolisian namun dia merasa sangat ragu dengan kemampuan fisiknya untuk menjalani latihan berat.
Ren juga merasa takut jika suatu saat nanti dia harus menjadi bagian dari sistem yang dulu pernah dia lawan. Dia khawatir bahwa idealismenya akan luntur saat dia sudah mengenakan seragam polisi yang sangat kaku tersebut. Mereka berlima berdiri berjajar di pinggir pagar kawat yang sudah mulai berkarat dimakan oleh waktu yang lama.
Mereka menatap pemandangan kota Tokyo yang sangat luas dan juga dipenuhi oleh gedung-gedung pencakar langit yang tinggi. Kota ini terlihat sangat indah dari kejauhan namun mereka tahu ada banyak kegelapan yang bersembunyi di dalamnya.
Hana Tanaka mulai berbicara mengenai rencana kuliahnya yang akan segera dimulai dalam waktu beberapa minggu ke depan. Dia mendapatkan beasiswa namun beasiswa tersebut hanya menutupi biaya pendidikan di dalam kampus saja. Dia masih harus memikirkan biaya tempat tinggal dan juga biaya makan sehari-hari yang sangat mahal di Tokyo.
Hana berencana untuk mengambil tiga pekerjaan paruh waktu sekaligus agar bisa bertahan hidup secara mandiri. Dia tidak ingin menjadi beban bagi ibunya yang baru saja mulai pulih dari penyakit yang sangat parah. Kaito Fujiwara mendengarkan cerita Hana dengan tatapan mata yang sangat sedih dan juga penuh rasa empati.
Kaito ingin membantu Hana namun dia sendiri sekarang tidak memiliki akses ke uang simpanan keluarganya sedikit pun. Dia merasa sangat tidak berdaya karena statusnya sebagai anak koruptor membuat banyak orang menjauhinya dengan sangat cepat.
"Dunia luar ternyata jauh lebih menakutkan daripada yang saya bayangkan sebelumnya," kata Hana dengan suara lirih.
Kaito menganggukkan kepalanya dengan sangat pelan sambil terus menatap ke arah matahari yang mulai terbenam di ufuk barat. Dia mengatakan bahwa sistem demokrasi perak di Jepang masih sangat kuat dan juga sangat sulit untuk diruntuhkan. Para politisi tua di parlemen mulai menyusun undang-undang baru untuk membatasi ruang gerak aktivis muda di media sosial.
Mereka ingin memastikan bahwa kasus seperti Haruo Fujiwara tidak akan pernah terulang lagi dengan cara membungkam kritik. Kaito merasa bahwa kemenangan mereka di pengadilan kemarin hanyalah sebuah kemenangan kecil di tengah perang yang sangat besar. Musuh yang mereka hadapi bukan hanya satu orang saja tetapi sebuah sistem yang sudah mengakar selama puluhan tahun.
Yuki Nakamura menambahkan bahwa pengawasan digital di Tokyo akan semakin diperketat setelah kejadian besar yang mereka buat kemarin. Yuki merasa bahwa privasi manusia sekarang sudah menjadi barang mewah yang tidak bisa dibeli dengan uang sebanyak apa pun.
Mereka berlima kemudian turun dari atap sekolah dan berjalan menuju stasiun kereta api bawah tanah yang sangat ramai. Suara deru kereta dan juga langkah kaki ribuan orang menciptakan kebisingan yang sangat memekakkan telinga mereka. Mereka berdiri di peron stasiun sambil menunggu kereta yang akan membawa mereka ke tujuan masing-masing yang berbeda.
Ini adalah momen perpisahan yang sangat nyata dan juga sangat menyesakkan dada mereka semua secara bersamaan. Yuki akan berangkat ke kota Sapporo malam ini juga dengan menggunakan kereta cepat yang sangat mahal harganya.
Akane akan segera pindah ke kota Kyoto untuk tinggal bersama neneknya sambil menempuh pendidikan sastra di sana. Ren harus segera masuk ke asrama akademi kepolisian yang lokasinya sangat terpencil di pinggiran kota Tokyo yang sunyi. Hana dan Kaito akan tetap tinggal di Tokyo namun mereka akan sangat sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Kereta menuju arah utara akhirnya masuk ke dalam peron stasiun dengan hembusan angin yang sangat kuat dan dingin. Yuki Nakamura masuk ke dalam gerbong kereta tanpa menoleh ke belakang lagi karena dia tidak ingin teman-temannya melihatnya menangis.
Dia hanya melambaikan tangan dari balik kaca jendela yang sudah mulai berembun karena hawa dingin dari luar. Tidak lama kemudian kereta menuju Kyoto juga berangkat dan membawa Akane Sato pergi jauh dari kehidupan Hana Tanaka. Ren Ishida memberikan sebuah pelukan singkat kepada Kaito dan Hana sebelum dia berjalan pergi menuju pintu keluar stasiun.
Sekarang hanya tinggal Hana dan Kaito yang berdiri di tengah kerumunan orang yang sedang berlalu lalang dengan sangat cepat. Mereka berdua merasa sangat asing di tengah keramaian stasiun yang tidak pernah berhenti berdetak ini.
Hana menatap layar televisi besar yang ada di dinding stasiun yang sedang menayangkan berita tentang politik terbaru. Pembawa berita mengatakan bahwa seorang politisi senior baru saja ditunjuk untuk menggantikan posisi Haruo Fujiwara di yayasan sekolah.
Politisi tersebut memiliki rekam jejak yang hampir sama dengan Haruo namun dia jauh lebih pintar dalam menyembunyikan jejak. Hana menyadari bahwa posisi yang ditinggalkan oleh satu orang jahat akan segera diisi oleh orang jahat yang lainnya. Gacha kehidupan masih terus berlangsung bagi jutaan anak-anak remaja lainnya yang ada di seluruh penjuru negara Jepang.
Mereka yang lahir di keluarga miskin akan tetap berjuang di garis yang sama tanpa ada bantuan yang berarti. Keadilan yang mereka perjuangkan kemarin terasa sangat rapuh dan juga sangat mudah untuk dihancurkan kembali oleh penguasa.
"Apakah menurut kamu kita benar-benar sudah melakukan perubahan yang berarti bagi dunia ini?" tanya Hana kepada Kaito.
Kaito Fujiwara tidak langsung menjawab pertanyaan Hana karena dia sendiri tidak yakin dengan jawaban yang ada di pikirannya. Dia hanya menggenggam tangan Hana dengan sangat lembut untuk memberikan sedikit rasa hangat di tengah dinginnya malam.
Kaito mengatakan bahwa setidaknya mereka sudah mencoba untuk berani bersuara meskipun dunia mungkin tidak akan berubah. Dia tidak tahu apakah yayasannya akan berhasil berdiri ataukah akan hancur sebelum sempat berkembang dengan baik. Kaito juga tidak tahu apakah hubungan persahabatan mereka berlima akan tetap terjaga setelah mereka semua berpisah jauh.
Masa depan adalah sebuah kegelapan yang sangat besar dan juga sangat penuh dengan segala macam ketidakpastian. Mereka berdua berjalan keluar dari stasiun Shinjuku dan segera menghilang di balik kerumunan massa yang sangat padat.
Cahaya lampu neon di distrik Shinjuku mulai menyala dengan sangat terang dan juga sangat menyilaukan mata Hana. Hana melihat sekelompok remaja yang sedang berkumpul di area Toho-yoko dengan wajah yang sangat kusam dan lelah.
Mereka adalah anak-anak yang lari dari rumah karena tidak tahan dengan tekanan orang tua dan juga tekanan sekolah. Hana ingin menghampiri mereka namun dia menyadari bahwa dia sendiri masih memiliki banyak masalah yang harus diselesaikan. Dia hanya bisa menatap mereka dari kejauhan dengan rasa sedih yang sangat mendalam di dalam lubuk hatinya.
Perjuangan untuk menyelamatkan generasi muda Jepang masih sangat panjang dan juga sangat berliku jalannya. Hana merasa bahwa dia sekarang hanyalah seorang dewasa muda yang sedang mencoba untuk tetap bertahan hidup setiap hari.
Hana berjalan menuju apartemen kecilnya sambil terus memikirkan kata-kata ibunya tentang arti sebuah ketabahan hidup. Dia menyadari bahwa menjadi dewasa tidak berarti semua masalah akan selesai dengan cara yang sangat indah.
Menjadi dewasa berarti memiliki kekuatan untuk tetap berjalan meskipun jalan yang dilalui sangat gelap dan berlubang. Hana masuk ke dalam kamarnya dan dia segera duduk di depan meja belajarnya yang sangat kecil dan sederhana. Dia membuka sebuah buku catatan kosong dan dia mulai menuliskan sebuah kalimat di halaman pertama buku tersebut.
Kalimat itu berbunyi bahwa hari esok adalah sebuah misteri yang harus dihadapi dengan keberanian yang sangat tulus. Hana mematikan lampu kamarnya dan dia mencoba untuk tidur di tengah kesunyian malam kota Tokyo yang sangat dingin.
akane mungkin gak terlalu terdampak, tapi hana kan bergantung sama beasiswa untuk sekolah.
masa depan mereka udah di setting semulus jalan tol
negara defisit, pajak dinaikin, yang kaya tambah kaya, yang miskin tambah miskin😂, si hana juga, kemiskinan bukan aib, jangan terlalu takut dulu, dia pasti ngiranya ga ada yang mau temenan sama dia kalo tau dia miskin🤭😭
,, entah gaji rendah, pajak naik, barang2 mahal, kritik masyarakat... bahkan sirkel pertemanan yg canggung karena perbedaan ekonomi...
,, tapi buat Akane, semoga kamu bisa menjadi sahabat terbaik buat Hana 😌👍