Putri Duke dari Kerajaan Aurelius, Elara Ravens, dikenal sebagai pewaris pedang keluarga. Namun sejak kecil ia selalu kalah dari kembarannya, dan selalu dibandingkan dan dicemooh sebagai kegagalan.
Tanpa menyadari bahwa tubuh Elara menyimpan sihir besar yang pernah meledak saat ia berusia tiga tahun dan kemudian disegel.
Sampai sebuah undangan datang dari Kerajaan sihir, Elara memilih pergi ke akademi sihir dan ingin menaklukkan kekuatan dalam dirinya.
Di sana ia bertemu kembali dengan Aaron Oberyn, Rank 1 akademi dan teman masa kecilnya. Di tengah sistem ranking yang kejam dan tatapan meremehkan, Elara harus membuktikan bahwa ia bukanlah kegagalan atau aib keluarga.
Apakah Elara akan menjadi kesatria pedang atau memilih menjadi penyihir kelak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2. HUKUMAN
Langit di atas menara Akademi Kesatria Kerajaan Aurelius berwarna kelabu pucat ketika Elara Ravens berdiri di depan pintu kayu besar berukir lambang pedang bersilang.
Lambang kehormatan.
Lambang sumpah.
Lambang tempat di mana para calon kesatria ditempa bukan hanya dengan baja, tetapi juga dengan aturan.
Tangan Elara mengepal di sisi tubuh. Bekas lecet di telapak tangannya masih terasa perih. Namun rasa perih itu tidak ada apa-apanya dibanding panas yang masih membara di dadanya.
Elara tahu mengapa ia dipanggil.
Guru yang dipukulnya tentu tidak tinggal diam.
"Elara Ravens?"
Suara penjaga di samping pintu membuat Elara menoleh. "Kepala Akademi menunggumu."
Elara menarik napas panjang.
Lalu mendorong pintu.
Ruangan Kepala Akademi luas, dipenuhi rak buku tebal dan peta pertempuran kuno yang tergantung di dinding. Di belakang meja kayu besar duduk seorang pria paruh baya dengan rambut keperakan dan sorot mata tajam namun tenang.
Kepala Akademi Armand Valerius.
Pria yang pernah memimpin pasukan kerajaan dalam tiga perang perbatasan.
Pria yang dihormati bahkan oleh Duke Alaric Ravens.
Dan satu-satunya orang di akademi ini yang tidak pernah menatap Elara dengan ekspresi kecewa atau membandingkannya dengan Evan.
"Elara?" panggil sang kepala akademi pelan.
Elara menunduk seperlunya. "Kepala Akademi."
"Duduklah," suruh Armand.
Elara menurut.
Suasana hening beberapa detik. Hanya suara jarum jam mekanik yang berdetak di sudut ruangan.
"Aku sudah mendengar laporan lengkap," kata Armand akhirnya. "Kau terlibat perkelahian dengan senior. Itu bukan hal baru di akademi ini."
Nada suaranya datar. Tidak marah. Tidak menghakimi.
"Namun ... kau juga memukul seorang guru," kata sang kepala Akademi.
Elara menegang.
"Kau tahu apa arti tindakan itu?" tanya Armand.
Elara tidak menjawab.
"Memukul sesama murid adalah pelanggaran disiplin. Tapi memukul guru adalah pelanggaran terhadap tatanan kehormatan," kata Kepala Akademi.
Elara mengangkat wajahnya. "Dia tidak hanya menghina saya tapi juga ibu saya."
Armand terdiam.
"Apa pun alasannya," lanjut Elara, suaranya bergetar menahan amarah, "tidak ada yang berhak menyebut Duchess Liora Ravens seperti itu."
Tatapan Armand melembut. "Aku tahu. Aku mengenal ibumu. Ia salah satu kesatria terbaik yang pernah aku lihat."
Kalimat itu membuat Elara diam.
"Aku juga tahu, kau tidak akan menyerang tanpa alasan," ucap Armand.
Hening kembali menyelimuti ruangan.
"Namun, Elara. Akademi ini berdiri atas satu prinsip. Semua murid setara. Tidak peduli putra Duke, anak pedagang, atau yatim piatu dari desa." Armand menatap Elara.
Elara menggigit bibirnya.
"Jika aku membiarkan tindakanmu tanpa konsekuensi karena kau adalah putri Duke Alaric Ravens, maka keadilan di tempat ini runtuh," lanjutnya.
"Saya tidak meminta perlakuan khusus," potong Elara cepat.
"Aku tahu." Armand menyandarkan tubuhnya. "Justru itulah mengapa aku menghargaimu."
Elara terdiam.
"Namun kau harus memahami," lanjut Armand, "kehormatan seorang kesatria bukan hanya tentang seberapa keras ia bisa menyerang. Tetapi seberapa mampu ia menahan diri."
Elara mengepalkan tangannya. "Apakah menahan diri berarti membiarkan orang merendahkan keluarga kita?" tanyanya tajam.
"Menahan diri berarti memilih waktu dan cara yang tepat untuk bertindak," kata Armand.
"Dan jika waktu itu tidak pernah datang?" suara Elara meninggi. "Jika setiap hari yang datang hanya ejekan? Perbandingan? Bisikan tentang betapa sempurnanya Evan Ravens dan betapa gagalnya aku?"
Nama itu menggema di ruangan.
Armand menatap Elara lama. "Aku tidak pernah melihatmu sebagai gagal, Elara."
Kalimat itu membuat Elara terdiam.
"Tahukah kau," lanjut Armand pelan, "mengapa aku tidak pernah membandingkanmu dengan Evan?"
Elara tidak menjawab.
"Karena kau bukan Evan," ujar Armand.
Jawaban sederhana itu membuat tenggorokan Elara terasa sesak.
"Kau memiliki gaya bertarung yang berbeda. Refleksmu cepat. Analisis pertarunganmu tajam. Namun tubuhmu ... memiliki batas yang berbeda," Armand mengingatkan.
Batas.
Kata yang selalu Elara benci.
"Dan dunia tidak selalu adil pada batas itu," lanjut Armand.
Elara menatap meja kayu di depannya.
"Namun tetap saja," suara Armand kembali tegas, "kau telah melanggar aturan yang tidak bisa kuabaikan."
Elara menoleh cepat. "Apa maksud Anda?"
Armand menarik napas panjang. "Mau tidak mau, kau harus menerima skorsing."
Waktu seperti berhenti.
"Apa?" Elara terkejut setengah mati.
"Skorsing sementara dari seluruh kegiatan akademi," ulang Armand.
Elara membelalak. "Berapa lama?"
"Satu minggu," jawab sang Kepala Akademi.
Satu minggu.
Tiga hari lagi adalah pertandingan kenaikan ranking.
Pertandingan yang ditunggu semua murid.
Termasuk Elara.
"Tidak!" Elara berdiri mendadak. "Tiga hari lagi pertandingan ranking!"
"Aku tahu."
"Aku sudah berlatih untuk itu!" seru Elara tak terima.
"Dan kau seharusnya memikirkan konsekuensinya sebelum mengayunkan tinju pada seorang guru." Nada suara Armand tetap tenang, namun tegas.
Elara kembali dipenuhi amarah.
"Elara, aku tidak meragukan semangatmu. Namun jika kau tidak mampu mengendalikan emosimu, maka jalan kesatria akan menjadi jalan yang kejam bagimu," ucap Armand. Kata-kata itu terasa seperti vonis.
"Apakah Anda akhirnya mengatakan saya tidak cocok menjadi kesatria?" Elara menatap kesal pria itu.
Armand terdiam beberapa detik. "Aku mengatakan ... jalan ini membutuhkan lebih dari sekadar keberanian." Jawaban yang tidak langsung, namun cukup jelas.
Elara merasakan sesuatu runtuh di dalam dirinya.
"Aku tidak terima," kata Elara lirih namun keras.
"Keputusan sudah ditetapkan," tegas sang kepala akademi.
Sunyi kembali.
"Pergilah dan gunakan waktu ini untuk berpikir," ujar Armand.
Elara berdiri kaku beberapa detik, lalu berkata, "Sepertinya kualitas akademi ini sudah turun. Tidak hanya membiarkan para calon kesatria menghina kesatria lain. Tapi justru yang seharusnya dibela jadi penjahatnya. Kalian tidak pantas untuk dipanggil guru atau kesatria sama sekali."
Dan Elara berjalan keluar tanpa menoleh lagi.
Koridor akademi terasa lebih panjang dari biasanya. Langkah Elara berat. Amarah dan kekecewaan bercampur menjadi satu.
Skorsing.
Elara dilarang ikut pertandingan.
Kesempatan untuk menjadi kesatria resmi kini hilang sudah.
Semua karena satu pukulan untuk membela diri.
Saat Elara berbelok di ujung koridor, sosok familiar berdiri di sana.
Rambut hitam legam yang tertata rapi. Postur tegap. Seragam kesatria yang terpasang sempurna.
Evan Ravens.
Kembaran Elara.
"Elara?" Suara Evan tenang, namun ada ketegangan di dalamnya.
"Ada apa?" tanya Elara datar.
"Kepala Akademi memanggilku." Tatapan Evan tajam. "Katanya kau tidak hanya berkelahi, tapi juga memukul seorang guru."
Elara membuka mulut untuk menjelaskan.
Namun Evan memotong. "Kenapa kau harus menyelesaikan semuanya dengan kekerasan?"
Elara diam.
Nada suara Evan tidak tinggi, tapi cukup untuk menusuk. "Kau tahu ini akademi, bukan arena jalanan."
Elara menatap Evan tajam. "Kau tahu dengan pasti kenapa aku melakukan itu?"
Evan terdiam.
"Mereka merendahkanku. Mereka merendahkan Papa. Mama," beritahu Elara.
"Aku tahu," kata Evan cepat. "Tapi memukul guru?"
"Ia menghina Mama!" seru Elara.
"Kalau begitu kau bisa melapor pada Papa!" suara Evan mulai meninggi. "Papa akan mengurusnya."
Elara menatapnya lama.
Lalu tertawa kecil ... pahit.
"Kau enak bisa bicara seperti itu karena semua orang berpihak padamu," ujar Elara.
Evan mengerutkan kening.
"Kau tidak pernah merasakan berada di posisiku." Ucapan Elara mendingin.
"Elara-"
"Kau tidak pernah tahu rasanya direndahkan setiap hari! Selalu dibanding-bandingkan! Kau selalu dielu-elukan sebagai Tuan Sempurna!" seru Elara lepas kendali.
Beberapa murid yang lewat mulai melirik.
"Sedangkan aku?" suara Elara bergetar. "Aku hanya seseorang yang gagal!"
"Elara!" Evan berseru keras.
Suara itu menggema di koridor.
Elara terdiam.
Itu pertama kalinya Evan meninggikan suara padanya.
Evan menghela napas panjang. Bahunya sedikit turun.
"Kita tidak bisa menyelesaikan ini di sini," katanya lebih tenang. "Kita bicarakan di rumah. Bersama Papa dan Mama."
Elara menepis tangan Evan yang hendak menyentuh lengannya. "Tidak perlu. Lebih baik kau urus saja urusanmu."
"Elara-"
"Bukankah kau sibuk dengan upacara pengangkatanmu sebagai kesatria resmi kerajaan?" suara Elara dingin. "Jangan ganggu aku."
Langkah Elara cepat menjauh.
"Elara?!"
Evan memanggil lagi.
Namun Elara tidak menoleh.
Koridor panjang itu seolah menelan langkahnya.
Evan berdiri sendirian, rahangnya mengeras.
"Brengsek," gumam Evan pelan, bukan pada Elara, melainkan pada keadaan yang tak pernah sederhana bagi mereka berdua.
Dan di luar gedung akademi, angin musim semi berhembus lebih kencang.
Seolah tahu ...
Di antara dua anak Ravens, retakan kecil baru saja terbentuk.
Retakan yang mungkin akan kedekatan si kembar.
Retakan yang menyentuh harga diri, kehormatan, dan bayangan panjang dari nama besar keluarga Ravens.
tapi lucu banget, kebayang Lala ngejar" temen temennya
bukan nya takut malah tambah makin gemes 😜🤣🤣
𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐧𝐲𝐚𝐧𝐲𝐢 𝐥𝐚𝐠𝐮𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐩 🤪🤪
menjadi dewasa,dengan beban dan kewajiban yg mengikuti.
bahkan kita sudah lupa kapan terakhir kita bisa tertawa lepas 🥹
panik donk😜🤣🤣