Alya Maheswari, seorang gadis dewasa yang harus menelan pahitnya percintaan. bagaimana tidak, kedua orang yang ia percaya, Randa sang pacar dan Relia adik kesayangannya. Keduanya tega bermain api di belakang dirinya.
Hingga suatu malam datang, di saat kedua orang tua Randa datang ke rumahnya, gadis itu sudah merasa berbunga-bunga, karena pasti kedatangan mereka ingin memintanya baik-baik.
Tapi kenyataannya tidak seperti itu, kedua orang tua Randa membawa kabar tentang gadis yang di maksud yaitu Ralia, sang adik yang saat ini tengah mengandung benih kekasihnya itu.
Hati Alya hancur, lebih parahnya lagi keluarganya sendiri menyuruhnya untuk mengalah dan menerima takdir ini, tanpa memikirkan perasaannya.
Karena sakit hati yang mendalam Alya pun memutuskan untuk ikut program transmigrasi ke suatu desa terpencil tanpa memberi tahu ke siapapun.
Di desa yang sejuk dan asri itu, Alya belajar bercocok tanam, untuk mengubah takdirnya, dari wanita yang tersakiti menjadi wanita tangguh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Pagi itu ladang cabai Alya belum ramai. Matahari baru naik separuh, menyentuh ujung daun dengan cahaya yang lembut. Alya berjalan menyusuri galengan, memeriksa satu per satu bibit yang mulai menancap di tanah. Daunnya masih kecil, hijau pucat, tapi hidup.
Ia jongkok, merapikan tanah di sekitar batang. Tangannya kotor, kukunya berdebu, tapi wajahnya tenang. Ada rasa puas yang tidak bisa ia jelaskan, perasaan memiliki sesuatu yang tumbuh karena ia bertahan.
Bayu datang tidak lama setelahnya. Tidak membawa alat, hanya berdiri di pinggir ladang, mengamati. Alya tahu kehadirannya tanpa perlu menoleh.
“Daunnya udah nggak layu,” ucap Alya lebih dulu.
Bayu mengangguk. “Mergo riko seng kesusu.” (Karena kamu tidak terburu-buru.)
Alya tersenyum kecil. Ia berdiri, menepuk-nepuk celananya, lalu mengambil botol air. Mereka berdiri berdampingan, memandang ladang yang masih setengah jadi itu.
Belum ada hasil. Tapi sudah ada harapan, akhirnya keduanya duduk di pematang, Bayu tersenyum kecil, melihat perubahan Alya yang semakin hari terlihat semakin sabar, hal ini mengingatkan dirinya pada waktu pertama mendatangi kota kecil ini.
"Kamu kenapa?" tanya Alya tiba-tiba.
Bayu sedikit gugup pandangannya ingin menghindar, namun hati tidak bisa dibohongi. "Aku hanya teringat dulu, pas awal datang," ucapnya pelan.
Alya pun mengangguk. "Oh ya, kamu juga merintis seperti aku?" tanya Alya balik.
Bayu pun mengangguk. "Iya."
Setelah itu keduanya hendak berdiri, ke ladangnya masing-masing, Bayu ingin melihat padinya yang baru tumbuh menghijau, sementara Alya mau mengecek kembali tanamannya.
Namun sebelum mereka berdiri ke masing-masing ladang yang bersebelahan tiba-tiba Suara motor memecah kesunyian. Sebuah motor besar berhenti di ujung jalan tanah. Seorang pria turun, berpakaian rapi terlihat rapi untuk sekadar urusan desa. Sepatunya bersih, jam tangannya mengilap.
Alya menoleh sekilas. Bayu menegang. Pria itu berjalan mendekat, matanya menyapu ladang, lalu berhenti ketika melihat Bayu.
“Bayu?”
Suaranya datar, tapi jelas mengenal. Bayu tidak menjawab seketika. Alya merasakan perubahan napasnya lebih dalam, lebih tertahan.
“Iyo,” jawab Bayu akhirnya.
Pria itu tersenyum tipis. “Lama nggak ketemu. Kamu masih di sini?”
Alya memandang Bayu, lalu pria itu. Ada sesuatu yang ganjil bukan pada kata-katanya, tapi pada cara pria itu menyebut nama Bayu. Terlalu yakin. Terlalu dekat.
“Perlu apa?” tanya Bayu singkat.
Pria itu mengangguk kecil, lalu menoleh ke Alya. “Maaf, Mbak. Saya nggak tahu Bayu sekarang… bertani.”
Ada jeda di kata itu. Bertani. Seolah sebuah pilihan yang aneh, namun Alya tidak mau menanggapinya, karena Bayu pun sudah jujur dia juga berproses seperti dirinya, meskipun tidak semua hal diceritakan.
Alya tersenyum sopan. “Iya, kami lagi mulai.”
Pria itu mengangguk, lalu kembali menatap Bayu. “Keluarga kamu tahu kamu masih di Banyuwangi?”
Bayu menatap balik. Tatapannya tenang, tapi dingin. “Ora perlu.”
Pria itu menarik napas. “Jakarta nyari kamu.”
Kalimat itu jatuh di udara pagi, berat, tidak pada tempatnya. Alya merasa ada sesuatu yang tertarik keluar dari dada Bayu, lalu ditahan paksa.
“Aku sudah tidak ada urusan,” ucap Bayu.
Pria itu mengangguk pelan, seolah sudah menduga. “Ya sudah. Saya cuma nyampein.”
Ia melangkah mundur, lalu berhenti sebentar. “Oh iya… ladangnya bagus. Cocok buat orang yang mau sembunyi.”
Bayu tidak menjawab. Pria itu pergi, motornya menjauh, meninggalkan debu tipis di udara. Alya berdiri kaku. Ladang yang tadi terasa hangat mendadak asing.
Mereka tidak langsung bicara. Bayu mengambil capingnya, memutar tali yang hampir putus. Alya memperhatikan tangannya—l, tangan yang biasa tenang, kini sedikit gemetar.
“Bay,” panggil Alya akhirnya.
“Iyo.”
“Siapa dia?”
Bayu diam terlalu lama. “Gak penting,” jawabnya.
Alya menelan ludah. Jawaban itu bukan bohong. Tapi juga bukan jujur.
“Dia bilang Jakarta nyari kamu.”
Bayu menoleh. Matanya gelap, bukan marah lebih seperti lelah. “Isun tau urip nang kana.” (Aku pernah hidup di sana)
“Aku tahu,” ucap Alya pelan. “Tapi aku nggak tahu sejauh apa.”
Angin lewat, menggerakkan daun cabai yang masih kecil. Bayu memandang ladang itu lama, seolah mencari kata di antara tanah.
“Isun ninggal,” katanya akhirnya. “Lima taun kepungkur.” (Aku meninggalkan tempat itu, lima tahun terakhir.)
“Meninggalkan apa?”
Bayu menarik napas. “Kehidupan sing ora bisa isun jalani maneh.” (Kehidupan yang tidak bisa aku jalani lagi.)
Alya tidak mendesak. Tapi hatinya terasa mengganjal. Ada jarak yang baru ia sadari hari ini, bukan jarak fisik, tapi jarak cerita, dan itu pun ia menerka-nerka dalam hatinya, apa iya Bayu pernah mengalami hal yang sama dengan dirinya. Tapi satu sisi lain kedatangan orang tadi seolah dirinya saat ini tengah menjadi halangan untuk Bayu kembali ke kota.
“Bay,” katanya pelan, “aku ke sini bukan buat numpang hidup siapa-siapa.”
Bayu menoleh cepat. “Isun seng tau nganggep riko gedigu.” (Aku gak pernah anggap kamu seperti itu)
“Aku tahu,” Alya tersenyum tipis. “Tapi orang lain bisa.”
Bayu terdiam. Untuk pertama kalinya, Alya melihat keraguan di wajahnya.
“Isun ora pengin masa lalu nyeret riko,” ucapnya lirih.
Alya mengangguk. “Tapi sekarang, dia sudah datang.”
Mereka berdiri di ladang yang sama, tapi perasaan mereka tidak lagi sejajar. Tanaman cabai tetap diam, tumbuh pelan, tidak tahu apa-apa tentang Jakarta, tentang pelarian, tentang nama yang disembunyikan.
“Aku cuma pengin jujur satu hal,” lanjut Alya. “Aku kuat berdiri sendiri. Tapi aku nggak mau berdiri di atas rahasia.”
Bayu menatapnya lama. Ada sesuatu yang ingin ia katakan, tapi tertahan di tenggorokan.
“Isun butuh wektu,” katanya akhirnya.(Aku butuh waktu)
Alya mengangguk. “Aku nggak minta cepat.”
Ia melangkah mundur, memberi jarak. Bukan pergi. Hanya berhenti mendekat, dan jawaban itu seolah cukup untuk Alya memberikan ruang pada Bayu.
Bayu memandang ladang itu lagi. Tanah yang ia pilih untuk bersembunyi, kini menuntut kejujuran. Dan untuk pertama kalinya, Bayu sadar, tidak semua yang tumbuh bisa disembunyikan selamanya.
Jika dilihat ke belakang, rasanya aneh, jika Jakarta tengah mencarinya, yang sudah tenang hidup di sini, ia lari bukan karena meninggalkan sesuatu ataupun lari dari tanggung jawab.
Namun ia lari untuk menenangkan diri, dari luka yang begitu menancap di hati, dan tempat persembunyian ini sudah cukup mengubur luka itu, meskipun harus menunggu lima tahun lamanya.
"Aku sudah hidup tenang di sini, jadi untuk apa aku kembali," gumamnya sendiri, sambil melangkah di tengah sawah untuk mengambil tutut yang menjadi hama di padinya.
Meskipun hatinya sedang kalut, gara-gara kedatangan orang tadi, namun tangan Bayu masih tetap bekerja, tanpa terasa tutut yang ia kumpulkan jadi banyak satu kresek besar penuh, dan dengan senang hati ia membawanya ke Alya.
"Al ...," panggilnya sambil membawa kantong kresek itu mendekat ke Alya.
Alya pun mengerutkan alisnya. "Tutut nya banyak banget," ucap Alya.
"Iya, lumayan, untuk lauk kita nanti," sahut Bayu.
"Kamu bisa mengolahnya?" tanya Alya.
"Bisa dong, setelah ini kita masak bareng ya," ajak Bayu.
Alya mengangguk dan tersenyum, ia tahu jika lelaki dihadapannya itu punya masa lalu, namun Alya tidak mau mendesak, dan memberi ruang, karena kadang memberi ruang adalah bentuk paling sunyi dari pada cinta.
Bersambung .....
bikin alya lupa sama kisah pedih hidupnya
thor novelnya jgn trllu kaku dong