NovelToon NovelToon
Pamanku Ternyata Jodohku

Pamanku Ternyata Jodohku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Pernikahan Kilat / Nikahmuda
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

Namaku Valerie. Hidupku adalah sebuah kompetisi yang sudah ditentukan kekalahannya bahkan sebelum dimulai. Di rumah ini, aku hanyalah bayangan dari Kakakku yang seorang dokter muda sukses. Orang tuaku menganggapku investasi gagal; mereka mengirim Kakak ke sekolah elit, sementara aku cukup di sekolah pinggiran karena dianggap hanya membuang-buang uang.
Muak menjadi sampah di mata mereka, aku memilih pergi. Aku terjun ke dunia malam, bergaul dengan mereka yang juga merasa terbuang. Meski aku dikelilingi botol minuman dan asap rokok, aku masih punya satu prinsip: aku tidak akan membiarkan diriku hancur sepenuhnya. Aku tetap menjaga harga diriku di tengah liarnya jalanan.
Namun, kebebasan ternyata berasa hambar sampai malam itu tiba. Di sebuah kelab yang bising, aku bertemu dengan Revan, adik angkat Ibu yang sudah bertahun-tahun menghilang untuk mengejar karier dosennya. Saat orang tuaku bahkan tidak sudi mencariku,pria yang terpaut sepuluh tahun dariku inilah yang justru menarikku keluar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: NOTIFIKASI KEPEMILIKAN

Revan melepaskan kerah baju Arsen dengan kasar hingga pria itu terhuyung. "Pergi dari sini. Jangan pernah muncul lagi di hadapan Valerie. Jika aku melihatmu dalam radius satu kilometer darinya lagi, aku tidak akan berbicara padamu seperti ini. Aku akan langsung mengirimkan berkas kasusmu ke kejaksaan."

Arsen tidak menunggu perintah kedua. Ia langsung lari terbirit-birit menuju gerbang belakang, bahkan tidak berani menoleh ke belakang.

Revan mengatur napasnya, merapikan kembali kemejanya yang sedikit berantakan. Ia menoleh ke arah balkon dan menyadari Julian serta Karin masih menonton. Revan menatap Julian dengan tatapan dingin, seolah memberikan peringatan tak kasat mata agar Julian tidak ikut campur lebih jauh.

​Di dalam mobil, Revan mengemudi dengan kecepatan tinggi, rahangnya mengeras. Suasana sangat mencekam sampai Valerie memberanikan diri menyentuh lengan Revan.

​"Mas... pelankan mobilnya. Aku takut," bisik Valerie.

​Revan tersentak, ia segera melambatkan mobil dan menepi di pinggir jalan yang sepi. Ia memukul kemudi satu kali, lalu menoleh pada Valerie dengan tatapan yang campur aduk antara amarah dan luka.

​"Kenapa kau membiarkan dia menyentuhmu, Erie? Kenapa kau tidak langsung lari ke kantor dekanat atau meneleponku?" suara Revan bergetar.

​"Aku hanya ingin dia pergi, Mas. Dia bilang dia punya info soal Kak Adrian..."

​"Dia sampah! Dia hanya umpan!" Revan mendekat, mengurung Valerie di kursinya. "Kau tahu betapa gilanya aku saat melihatmu berdiri di sana dengan pria itu? Seluruh kampus menganggap dia pacarmu, sementara aku... aku hanya dosen yang kau anggap 'paman' yang menyebalkan!"

​Valerie menatap mata Revan yang memerah. ia tidak melihat otoritas seorang wali di sana, melainkan kerapuhan seorang pria yang takut kehilangan.

"Aku tidak pernah menganggapmu paman yang menyebalkan lagi, Mas," ucap Valerie lirih, tangannya beralih menyentuh pipi Revan. "Aku hanya... aku hanya tidak ingin kau terlibat masalah karena aku."

Revan memejamkan mata, menikmati sentuhan tangan Valerie. Ia meraih tangan itu dan mengecup telapak tangannya lama. "Erie, aku sudah terlibat sejak hari pertama Kakek membawamu ke rumah. Aku tidak menikahimu karena kasihan. Aku menikahimu karena aku tidak sanggup membayangkan pria lain yang menyentuh tangan ini."

Setelah kecupan di telapak tangan itu, suasana di dalam mobil menjadi sunyi, namun bukan lagi kesunyian yang mencekam. Ada getaran aneh yang menjalar di antara mereka, sesuatu yang lebih intim dari sekadar hubungan pernikahan yang di paksakan. Revan kembali menjalankan mobilnya menuju apartemen, namun jemarinya masih menggenggam erat tangan Valerie, seolah jika dilepaskan satu detik saja, dunia akan merenggut gadis itu darinya.

Sesampainya di apartemen, Revan masih tidak banyak bicara. Ia melepaskan jasnya dengan gerakan kasar dan melonggarkan dasinya, mencoba mengusir bayangan Arsen yang memegang tangan Valerie tadi. Cemburu itu masih di sana, menggerogoti logikanya.

​"Mas... aku mandi dulu ya," pamit Valerie pelan, merasa perlu membersihkan diri dari sisa-sisa ketegangan hari ini.

​Revan hanya mengangguk singkat, matanya menatap lurus ke arah jendela besar yang menampilkan lampu-lampu kota. Begitu suara pintu kamar mandi terkunci dan gemericik air terdengar, Revan menghela napas panjang. Ia berjalan menuju meja makan untuk mengambil air minum, namun langkahnya terhenti saat melihat ponsel Valerie yang tergeletak di sana.

​Layar ponsel itu menyala. Sebuah notifikasi pesan masuk dari aplikasi pesan singkat.

​Revan biasanya menghargai privasi, namun nama pengirim yang tertera di sana membuat rahangnya kembali mengeras.

Julian (Dosen Hukum)

Tanpa sadar, tangan Revan meraih ponsel itu. Ia tidak perlu membuka kunci karena pesan itu tampil di bar notifikasi.

"Valerie, maaf soal kejadian di parkiran tadi. Aku merasa tidak enak melihatmu dimarahi Pak Revan. Besok makan siang denganku di bistro dekat kampus, ya? Aku tidak ingin melihatmu murung terus. Ada yang ingin kubicarakan soal kesehatan Kakek Adiwijaya juga."

Tangan Revan gemetar menahan amarah. "kesehatan kakek?" Revan tahu itu hanyalah umpan murahan. Julian sedang mencoba masuk ke celah emosional Valerie, menggunakan titik lemah gadis itu untuk mendapatkan waktu berdua.

Revan meletakkan ponsel itu kembali dengan bantingan pelan. Dadanya terasa sesak. Arsen tadi siang, dan sekarang Julian? Ia merasa seolah seluruh pria di dunia ini sedang berusaha mencuri apa yang sudah ia pertaruhkan dengan nyawanya untuk dilindungi.

Pintu kamar mandi terbuka. Valerie keluar dengan rambut basah yang terbalut handuk, mengenakan piyama satin tipis yang membuat Revan seketika terdiam. Aroma sabun yang manis memenuhi ruangan, namun pikiran Revan masih tertuju pada pesan dari Julian.

"Mas? Kenapa berdiri di sana?" tanya Valerie heran melihat wajah Revan yang tampak lebih gelap dari sebelumnya.

Revan tidak menjawab. Ia melangkah maju, mempersempit jarak hingga Valerie terpaksa mundur dan punggungnya menyentuh pinggiran meja makan. Revan mengurung Valerie dengan kedua tangannya yang bertumpu di meja, menunduk hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.

"Besok," suara Revan rendah dan serak, "kau tidak akan pergi ke mana-mana tanpa seizinku, Erie."

Valerie mengerutkan kening, bingung. "Kenapa? Besok aku ada kelas pagi..."

"Julian mengajakmu makan siang," potong Revan cepat, matanya menatap tajam ke dalam manik mata Valerie. "Dia menggunakan kondisi Kakek untuk merayumu agar kau mau keluar dengannya."

Valerie tersentak. "Mas... kau membaca pesanku?"

"Aku suamimu!" Revan sedikit meninggikan suaranya, rasa posesif yang selama ini ia tekan kini meledak. "Aku tidak peduli jika kau menganggapku paman yang kolot atau dosen yang otoriter. Tapi aku tidak akan membiarkan pria mana pun, termasuk Julian, membawamu pergi di belakangku."

Revan meraih tengkuk Valerie, menariknya sedikit lebih dekat hingga gadis itu bisa merasakan deru napas Revan yang memburu.

"Kau tidak akan pergi makan siang dengannya. Besok, aku yang akan menjemputmu tepat di depan kelasmu.

Valerie terdiam, terpaku melihat sisi Revan yang ini. Bukan Revan yang dingin dan tenang, melainkan Revan yang penuh dengan api kepemilikan.

"Mas... kau cemburu?" bisik Valerie berani.

Revan terdiam sejenak mendengar pertanyaan telak Valerie. "kau cemburu?"

Suasana mendadak kaku. Rahang Revan yang tadinya mengeras kini tampak berkedut, bukan karena marah, tapi karena ia tertangkap basah. Ia perlahan melepaskan tengkuk Valerie, namun tangannya tetap mengunci pergerakan gadis itu di antara kedua lengannya yang bertumpu pada meja makan.

Revan berdeham, mengalihkan pandangannya ke samping, menolak menatap mata Valerie yang kini tampak berkilat menggoda.

"Cemburu? Itu istilah yang terlalu dangkal," kilah Revan dengan nada bicara yang kembali formal, seolah sedang membacakan nota pembelaan di persidangan. "Sebagai walimu maksudku, sebagai suamimu secara hukum, aku bertanggung jawab atas keamanan sosialmu. Julian adalah rekan kerjaku. Aku tahu bagaimana cara berpikir pria seperti dia. Dia hanya sedang melakukan... teknik manipulasi emosional menggunakan kondisi Kakek."

Valerie menahan senyum. Ia bisa melihat daun telinga Revan yang sedikit memerah. "Tapi Mas, Julian hanya mengajak makan siang. Kami dosen dan mahasiswa di fakultas yang sama. Itu hal biasa, kan?"

1
Nur Mei
semangat ngetiknya kak😁
EILI sasmaya: Terimakasih, 🥰
total 1 replies
sweet chil
tetap semangat Thor .. 🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!