NovelToon NovelToon
Lu Daimeng: Diluar Jalan Kultivasi

Lu Daimeng: Diluar Jalan Kultivasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: EGGY ARIYA WINANDA

‼️MC BERSIFAT IBLIS‼️

Langit memberinya takdir kejam, dibenci Oleh Qi, tidak memiliki dantian, bahkan tidak memiliki meridian.

Dibuang oleh ayahnya sendiri.
Sifat lembut Lu Daimeng hilang tak tersisa, digantikan oleh sifat iblis yang mengerikan.

Dia adalah anti dao, sebuah jalan yang tercipta karena perlawanan kepada langit.

Dia tidak di takdirkan untuk naik menuju puncak.
Dia di takdirkan untuk menghancurkan puncak itu sendiri.

Ini adalah kisah dari apa yang mereka sebut

ANTI DAO.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kota jinting 4: Kepulangan

Jalan Utama Kota Jinting.

Jalanan telah disulap menjadi lautan manusia. Warga kota berbaris di pinggir jalan, bersorak-sorai sambil melambaikan bendera Keluarga Lu. Bunga-bunga ditebarkan.

Di tengah jalan, sebuah arak-arakan mewah melintas.

Pasukan pengawal berbaju zirah emas memimpin di depan. Diikuti oleh para Tetua Keluarga Lu yang menunggangi Kuda Spiritual.

Patriark Lu Daihong memimpin dengan wajah bangga yang tak tertutupi. Di sebelahnya, Lu Gubo (ayah Lu Duo) juga ikut, meskipun wajahnya tampak lebih suram dan penuh dendam.

Di pusat arak-arakan itu, sebuah kereta kencana terbuka yang ditarik oleh dua ekor kuda penopang gunung (Binatang Spirit bersisik hijau) melayang setinggi satu meter dari tanah.

Di atas kereta itu, duduk Lu Zhuxin.

Dia bersinar. Secara harfiah. Aura Ranah Roh-nya memancar keluar, menciptakan kupu-kupu cahaya di sekeliling tubuhnya. Dia tersenyum anggun, melambaikan tangan kepada rakyat jelata, menikmati pemujaan itu seperti dewi yang turun ke bumi.

Di atas menara jam, Lu Daimeng tidak tersenyum. Wajahnya datar, sekeras batu nisan.

Dia mengangkat tangan kanannya. Pori-pori di telapak tangannya melebar, mengeluarkan cairan hitam pekat yang merupakan wujud cair dari Pedang Jiwa Surgawi. Namun kali ini, dia tidak membiarkannya memadat menjadi pedang.

Dengan kehendak Anti-Dao dan Niat Naga, dia membentuk ulang logam cair itu. Memanjang. Meruncing. Menjadi sebuah tombak hitam legam sepanjang tiga meter yang permukaannya berpilin seperti bor.

"Hadiah," bisiknya.

Dia melapisi tombak itu dengan tiga lapisan mematikan:

Dark Null: Untuk menembus pertahanan energi.

Niat Membunuh: Dipadatkan dari pembantaian ratusan beast.

Aura Naga: Tekanan predator puncak untuk menghancurkan mental.

Otot lengan kanannya memadat dan membengkak hingga dua kali lipat. Urat-urat menyembul, berdenyut ungu.

WUUUNG!

Dia melempar.

Tombak itu melesat. Kecepatannya memecahkan barier suara seketika, menciptakan ledakan sonik yang memecahkan kaca-kaca jendela di sepanjang jalan.

Targetnya: Kepala kuda Kirin yang menarik kereta Lu Zhuxin.

Tombak itu meluncur seperti komet hitam, siap mengubah parade itu menjadi rumah jagal.

Jarak lima ratus meter dilahap dalam sekejap mata. Tombak itu sudah berada satu inchi dari mata kuda.

Namun, dunia berhenti.

Di barisan depan, Patriark Lu Daihong tidak menoleh. Dia hanya mengangkat satu jari telunjuknya dengan gerakan santai, tanpa melihat ke belakang.

"Diam."

Satu kata. Diiringi dengan pelepasan Qi yang bukan lagi sekadar angin atau api, tapi Hukum Ruang.

Ranah Kuno (Ancient Realm) Tahap 3.

TING!

Tombak hitam buatan Lu Daimeng—yang mampu menembus batu naga—berhenti mendadak di udara, seolah menabrak dinding tak terlihat yang absolut. Energi kinetiknya diserap habis oleh manipulasi ruang sang Patriark.

Tombak itu bergetar, lalu jatuh berdenting ke aspal. Gagal.

Namun, Lu Daimeng tidak kecewa. Serangan fisik itu hanyalah pengantar.

Yang meledak selanjutnya adalah Aura-nya.

Saat tombak itu berhenti, Aura Naga dan Niat Membunuh yang terkompresi di dalamnya meledak keluar seperti bom mental.

ROAAAARRRR!

Raungan naga imajiner menyapu jalanan.

Kuda Kirin dan Kuda Penopang Gunung milik para tetua—hewan-hewan spirit yang sensitif—menjadi gila. Mereka merasakan kehadiran predator yang jauh di atas rantai makanan mereka.

"Hiiighhhh!"

Kuda Patriark Lu meronta liar. Kuda Lu Gubo melempar tuannya. Dua Kirin penarik kereta Lu Zhuxin saling tendang, menghancurkan kereta kencana itu berkeping-keping.

Kekacauan total. Debu membumbung tinggi.

Tiga sosok melesat terbang ke udara untuk menghindari injakan kuda gila: Lu Daihong, Lu Gubo, dan Lu Zhuxin.

Di tengah kekacauan debu itu, Lu Daimeng melompat turun.

BOOOM!

Dia mendarat di tengah jalan. Aspal hancur.

Saat debu menipis, sosok setinggi 2,3 meter itu berdiri tegak. Otot-otot berkilau di bawah matahari. Rambut panjangnya menari liar. Dan keenam pupil di matanya berputar, memindai setiap nyawa di sana.

"Siapa?!" teriak seorang Tetua Keluarga Lu (Ranah Pembentukan Jiwa Tahap 3 Awal). Dia terbang ke langit tepat disamping Lu Gubo.

Tetua itu menghunus pedangnya, melesat ke arah Lu Daimeng. "Mati kau, perusuh!"

Lu Daimeng tidak bergerak. Dia hanya menoleh.

Triple Pupil di mata kanannya berputar, mengunci mata Tetua itu.

'Teknik mental naga'.

Dia tidak menggunakan fisik. Dia menembakkan Dark Null langsung ke lautan kesadaran Tetua itu.

Tetua itu berhenti di tengah lari. Matanya memutih.

POP.

Pembuluh darah di otak dan jantungnya pecah serentak. Jiwanya dihancurkan dari dalam.

Dia jatuh tersungkur di kaki Lu Daimeng. Mati tanpa sempat menyentuhnya.

Keheningan yang mengerikan melanda jalanan. Seorang Tetua Ranah Jiwa... mati hanya karena ditatap?

Lu Daimeng mendongak ke langit, menatap ayah dan para saudaranya yang juga ikut melayang di langit.

Dia tersenyum. Senyum yang merobek wajahnya hingga ke telinga.

Dia mengangkat kedua tangannya.

Dan mengacungkan dua jari tengah.

"Keluarga sialan, Keluarga Lu."

Wajah Lu Daihong menjadi merah padam. Penghinaan ini... di depan seluruh kota?

"Tangkap dia! Hidup atau mati!" perintah Patriark.

Lu Daihong sendiri menggerakkan tangannya, membentuk cakar energi raksasa dari langit untuk meremas Lu Daimeng.

Tapi Lu Daimeng sudah siap.

Dia meremukkan Jimat Penggeser Ruang di tangannya.

VWOOOM!

Ruang berlipat. Cakar energi Patriark hanya menangkap bayangan kosong. Lu Daimeng lenyap, diteleportasi sejauh lima puluh kilometer ke arah hutan.

"KEJAR!" Lu Zhuxin dan Lu Tian berteriak, hendak melesat.

"Tunggu!" Lu Daihong menahan bahu putrinya. Wajahnya serius. "Kau tetap di sini. Gubo kejar dia!"

"Hamba siap!" Lu Gubo, yang matanya menyala karena dendam anaknya, maju.

"Kejar dia. Dia menggunakan jimat acak, jaraknya tidak jauh. Bawa kepalanya padaku."

Lu Gubo mengangguk. Dia meremukkan jimat pelacak darah, lalu melesat terbang secepat kilat ke arah jejak energi Lu Daimeng.

Lima Puluh Kilometer dari Kota - Hutan Pinggiran.

Lu Daimeng muncul dari balik distorsi ruang, mendarat di atas pohon. Dia tidak berhenti. Dia tahu jimat itu hanya membeli waktu beberapa menit.

Dia berlari melompati tajuk pohon.

Namun, tekanan udara di belakangnya berubah panas.

"JANGAN LARI, SAMPAH!"

Lu Gubo datang. Dia terbang di atas pedang api raksasa, kecepatannya dua kali lipat kecepatan lari Lu Daimeng.

"Tangkap aku Paman tolol," komentar Lu Daimeng sambil mengacungkan kedua jari tengahnya menghadap ke arah Lu Gubo.

"Anak haram sialan!!" Wajah Lu Gubo Kesal ."Akan aku kuliti tubuhmu itu."

Dia berhenti di sebuah tanah lapang berbatu. Lari lebih jauh tidak berguna. Dia harus bertarung.

Lu Gubo mendarat sepuluh meter darinya. Aura Ranah Roh Tahap 1 meledak, membakar rumput di sekitar.

"Kau menghancurkan anakku," desis Lu Gubo. "Sekarang aku akan menghancurkan setiap inci kulit dan jiwamu."

Tanpa basa-basi, Lu Gubo membuat segel tangan.

"Teknik Roh: Singa Api Neraka!"

Qi api memadat, membentuk seekor singa setinggi lima meter yang terbuat dari magma murni. Panasnya bisa melelehkan baja. Ini adalah manifestasi Roh dari kultivator ranah pembentukan roh yang sesungguhnya, bukan sekadar bentuk energi. Singa itu memiliki "kesadaran" tempur dasar.

Singa itu menerjang.

Lu Daimeng tidak mundur.

Dia mengalirkan Dark Null ke seluruh tubuhnya, lalu memusatkan Aura Naga ke tinjunya.

"Anti-Dao: Tinju Pembunuh Naga."

Dia meninju langsung ke dalam mulut singa api itu.

BOOOOM!

Bentrokan itu menciptakan gelombang panas. Tangan Lu Daimeng terbakar, kulitnya melepuh. Tapi Dark Null bekerja, memakan struktur Qi api itu dari dalam.

Singa itu meraung kesakitan saat kepalanya hancur.

Lu Gubo terkejut. "Dia menghancurkan manifestasi Roh dengan tinju?!"

Lu Gubo muntah darah karena backlash, tapi dia seorang veteran. Dia segera mengubah taktik.

"Ganda!"

Dia membagi sisa energinya. Dua ekor singa api yang lebih kecil tapi lebih padat muncul dari kiri dan kanan, menjepit Lu Daimeng.

Lu Daimeng terdesak. Dia menangkis satu, tapi yang lain berhasil menggigit bahunya.

Sesss.

Daging bahunya terbakar. Bau gosong menguar.

"Kau pikir kau bisa menang melawan Ranah Roh hanya dengan otot?" ejek Lu Gubo.

Lu Daimeng menyeringai, giginya berdarah.

"Siapa bilang aku sendirian?"

Dari punggung Lu Daimeng, bayangan hitam pekat meledak keluar.

Avatar Ketiadaan.

Sosok bayangan itu memegang pedang hitam, bergerak dengan kecepatan pikiran. Ia memotong leher singa api yang menggigit Lu Daimeng.

SLAASH.

Singa itu padam.

Mata Lu Gubo hampir keluar. "Avatar?! Itu... Itu teknik Puncak Ranah Roh! Bagaimana mungkin sampah Pembentukan Qi sepertimu bisa memisahkan jiwa?!"

"Tunggu kau sudah di Ranah pembentukan Jiwa tahap 6?"

Logika kultivasi Lu Gubo hancur. Dia melihat anomali yang tidak masuk akal. Ketakutan mulai merayap.

"Bagaimana paman?," bisik Lu Daimeng, maju selangkah. "Apa kau mau, aku buat seperti anakmu."

Lu Gubo panik. Dia menyadari dia mungkin kalah jika ini berlanjut. Dia mundur ke udara, terbang tinggi di luar jangkauan lompatan Lu Daimeng.

Dia mengangkat tangannya ke langit. Sebuah bola api raksasa mulai terbentuk, bersinar terang seperti matahari kedua.

"Teknik Roh Pemanggilan: Suar Matahari!"

Lu Daimeng menyipitkan mata. Triple Pupil-nya melihat struktur energi itu.

"Itu bukan serangan," analisisnya cepat. "Itu sinyal. Dia memanggil."

Jika Lu Daihong datang, Lu Daimeng mati. Ranah Kuno adalah level yang belum bisa dia sentuh.

"Harus pergi."

Lu Daimeng merogoh sakunya, mengeluarkan satu jimat pelarian lagi. Terakhir.

Lu Gubo melihat itu. "Kau tidak akan lari!"

Dia mengubah bola api sinyal itu menjadi serangan. Bola api itu memadat menjadi seekor Singa Bersayap yang menukik dengan kecepatan cahaya.

Lu Daimeng meremas jimatnya.

VWOOOM.

Tubuhnya mulai memudar.

Tapi Singa Bersayap itu lebih cepat. Cakar apinya menyambar tepat saat teleportasi dimulai.

CRAAAASSSHHH!

"ARGHHH!"

Lu Daimeng menjerit. Cakar itu tidak membunuhnya, tapi merobek dada kirinya, hampir mengenai jantung manusianya. Dan yang lebih parah, serangan itu mengganggu koordinat teleportasi.

Dia terlempar keluar dari lorong spasial sebelum sampai tujuan.

Dia muncul kembali di udara, ribuan meter di atas Hutan Kabut Kematian bagian tengah. Dia jatuh bebas.

"Sial... Gravitasi..."

Dia mencoba menggunakan Roket Ketiadaan (ledakan di kaki), tapi dia terlalu lemah dan terluka parah untuk itu. Dia butuh sayap.

"Pedang... Jadilah sayap!"

Dia memanggil Pedang Jiwa Surgawi yang menyatu dalam darahnya. Dia memerintahkan logam cair itu untuk keluar dari punggungnya, bukan dari tangannya.

SREET... KREK!

Rasa sakit yang luar biasa. Kulit punggungnya robek. Logam hitam mencuat keluar dari tulang belikatnya, melebar, menipis, membentuk rangka sayap kelelawar yang tajam dan bergerigi.

Bukan sayap bulu. Sayap pisau.

WUZZZZZZ!

Sayap logam itu membentang, menangkap angin.

Kejatuhan Lu Daimeng berubah menjadi luncuran. Dia menukik tajam, membelah kabut hutan dengan kecepatan supersonik, menghilang ke dalam kegelapan pepohonan sebelum Lu Gubo atau bantuan lain sempat melihatnya.

Setengah jam Kemudian - Kediaman Keluarga Lu.

Lu Gubo berlutut di hadapan Lu Daihong dan para tetua. Tubuhnya hangus, wajahnya pucat.

Dia menceritakan segalanya. Tentang kekuatan fisik Lu Daimeng, tentang kekebalannya terhadap tekanan roh, dan tentang Avatar bayangan itu.

Hening.

"Avatar..." gumam Tetua Pertama. "Anak itu... dia jenius? Atau monster?"

"Dia berbahaya," kata Lu Gubo. "Tapi potensinya... Kakak, jika kita bisa mengendalikannya...aku akan mengorbankan egoku. Demi klan."

Suasana berubah. Penyesalan mulai muncul di wajah beberapa tetua. Mereka membuang sampah, tapi sampah itu berubah menjadi emas berdarah.

"Mungkinkah kita salah?" bisik seorang tetua. "Mungkin kita bisa menawarkan pengampunan? Memintanya kembali?"

"JANGAN BODOH TETUA DEWAN!" bentak Lu Tian, yang berdiri di sudut. Wajahnya tegang. "Dia membunuh Tetua Logistik! Dia mencacati Lu Duo! Dia mengacungkan jari tengah pada Ayah! Jika kita memintanya kembali, di mana harga diri Keluarga Lu?!"

Patriark Lu Daihong memejamkan mata. Wajahnya terasa lebih tua sepuluh tahun dalam satu hari.

"Dia bukan lagi anakku," kata Lu Daihong akhirnya. Suaranya dingin, mematikan semua perdebatan. "Dia adalah bencana yang harus dihapus sebelum tumbuh lebih besar. Naikkan harga buruannya. Hubungi sekte pembunuh bayaran Bayangan Darah."

Hutan Kabut Kematian - Gua Tersembunyi.

BRUK.

Lu Daimeng mendarat kasar di tanah gua yang lembap. Sayap logam di punggungnya mencair kembali, masuk ke dalam tubuhnya dengan rasa sakit yang menyengat.

Dia batuk darah. Banyak darah.

Dada kirinya robek parah. Jantung manusianya terlihat berdenyut lemah di balik tulang rusuk yang patah. Jantung Naga di kanannya bekerja keras memompa energi penyembuhan, tapi serangan Lu Gubo mengandung Hukum Api yang terus membakar lukanya.

Jiwanya terguncang. Pendarahan otak ringan terjadi akibat penggunaan Avatar yang dipaksakan.

Lu Daimeng bersandar pada dinding gua, napasnya tersengal.

"Ranah Roh..." desisnya, menahan sakit. "Perbedaannya... masih terlalu besar."

Tapi di dalam kegelapan itu, di tengah rasa sakit yang hampir membunuhnya, Lu Daimeng tertawa.

Tawa kecil yang gila.

"Tapi aku membuat mereka takut. Aku melihatnya di mata mereka."

Dia mengambil segenggam lumut penyembuh, menjejalkannya ke lubang di dadanya tanpa berkedip.

"Tunggu aku sembuh, Paman. Kali berikutnya, apimu tidak akan cukup untuk menghangatkan mayatmu sendiri."

Lu Daimeng memejamkan mata, membiarkan kegelapan hutan memeluknya sekali lagi.

Bersambung...

1
M Rijal
😍💪 semangat thor
EGGY ARIYA WINANDA: Siap😁
total 1 replies
M Rijal
gw tunggu up nya thor
EGGY ARIYA WINANDA: Sipp 😂😂
total 1 replies
M Rijal
ini benar2 novel yang menarik. 👹😈
EGGY ARIYA WINANDA: Thank u😈👍
total 1 replies
EGGY ARIYA WINANDA
Ini bukan cerita tentang protagonis yang menyelamatkan dunia, ini adalah kisah villain yang berhasil melahap dunia.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!