Niat hati merayakan ulangtahun pernikahan kedua dengan kejutan manis, Cakra justru dihantam kenyataan pahit. Di dalam apartemen mereka, ia menemukan Hana terlelap dalam pelukan sepupunya sendiri. Tanpa tahu bahwa ini adalah jebakan licik sang ibu mertua yang tak pernah merestui mereka, Cakra terbakar api cemburu.
Malam itu juga, tanpa ruang untuk penjelasan, talak dijatuhkan. Hana hancur. Di balik kehancuran itu, ia menyimpan rahasia besar: sebuah kabar kehamilan yang baru saja ingin ia sampaikan sebagai hadiah anniversary mereka.
Tahun-tahun berlalu, Hana bangkit dan berjuang membesarkan putra mereka sendirian. Namun, waktu adalah saksi yang paling jujur. Akankah kebenaran tentang rencana jahat sang ibu mertua akhirnya terungkap? Dan saat penyesalan mulai menghujam Cakra, mampukah Hana memaafkan pria yang lebih memilih percaya pada amarah daripada cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenyataan pahit
Di rumah sebelah, suasana tak kalah tegang. Rahma berlari kencang menghampiri ibunya, Bude Minah, yang baru saja hendak mengikat caping untuk pergi ke sawah.
"Bu, Ibu...!" panggil Rahma dengan napas tersengal-sengal, dadanya naik turun tak beraturan.
"Iya Nduk, ada apa sih manggil-manggil Ibu? Seperti dikejar hantu saja," sahut Bude Minah heran.
"Bu, apakah Ibu mengenal Pak Sutoyo?"
Deg!
Seketika gerakan tangan Bude Minah terhenti. Wajahnya mendadak pucat pasi, matanya membelalak menatap putrinya. "P... Pak Sutoyo? Dari mana kau tahu nama itu, Rahma?" tanyanya dengan suara gugup yang bergetar.
"Barusan ada seorang pemuda datang ke rumah Hana. Dia bilang dia putranya Pak Sutoyo, alias kakaknya Hana. Itu artinya... Pak Sutoyo itu ayah kandung Hana, Bu?"
Bude Minah terdiam, ia perlahan memejamkan mata, membiarkan kenangan pahit masa lalu melintas. "Akhirnya yang ditakutkan oleh Lestari kesampaian juga. Suamimu telah berhasil menemukan putri kalian, Lestari... Kau tidak akan mungkin bisa menyembunyikan putrimu selamanya dari ayah kandungnya. Hana memang harus tahu kebenarannya," gumamnya dalam hati penuh haru sekaligus cemas.
Tanpa membuang waktu, Bude Minah melepaskan capingnya dan bergegas menuju rumah Hana, diikuti Rahma yang masih kebingungan.
Suara deru mesin mobil mewah mendadak memecah kesunyian desa. Sebuah mobil hitam mengkilap berhenti tepat di depan pagar rumah Hana, disusul beberapa mobil pengawal yang mengekor di belakangnya. Warga desa berbondong-bondong keluar rumah, berbisik-bisik menyaksikan pemandangan langka tersebut.
Dari dalam mobil, turunlah seorang pria yang masih tampak gagah di usianya yang menginjak kepala enam. Aura kepemimpinannya begitu kuat saat ia berdiri di halaman rumah yang sederhana itu. Para pengawal segera berjejer rapi menyambutnya.
Di dalam rumah, Tama yang mendengar kedatangan itu tersenyum puas. "Nah, sepertinya Papah sudah datang." Tama bangkit dan segera menyambut ayahnya di ambang pintu.
Bersamaan dengan itu, Bude Minah dan Rahma muncul dari pintu belakang. Langkah Bude Minah terhenti saat matanya bertemu dengan sosok pria itu. Ia masih ingat betul wajah pria yang dulu menikahi adiknya. Begitupun dengan Pak Sutoyo, ia menatap sekeliling dengan mata berkaca-kaca. Rumah ini... rumah yang penuh kenangan saat ia menikahi Lestari.
Dulu ia pernah mencari mereka ke sini, namun rumah ini kosong tak berpenghuni. Saat itu, Bude Minah sedang merantau menjadi TKW dan membawa Rahma kecil bersamanya, membuat Pak Sutoyo mengira Lestari telah menghilang tanpa jejak untuk selamanya.
Hana berdiri dengan lutut gemetar, tangannya memeluk bahu El yang berada di sampingnya. Air matanya tumpah saat sosok pria itu melangkah masuk ke ruang tamu. Ada rasa rindu yang asing, namun luka di hatinya jauh lebih besar. Andaikan waktu bisa diputar, mungkin ia tak perlu tumbuh dalam kemiskinan dan penderitaan selama ini.
"Putriku, Hana... Ayah pulang, Nak. Ayah pulang untuk menjemputmu dan juga ibumu!" ucap Pak Sutoyo dengan suara serak menahan tangis.
Hana menundukkan kepala, bahunya terguncang hebat karena tangisan yang pecah. "Kenapa... Kenapa dulu Anda tega menelantarkan aku dan juga Ibuku?"
Pak Sutoyo tertegun, raut penyesalan mendalam terukir di wajahnya yang mulai berkerut. "Maafkan Papah, Nak. Papah memang bersalah... Tapi Papah melakukan semua ini demi keselamatan kalian berdua dari Mira, istrinya Papah yang kini telah tiada. Sekarang, di mana Ibumu?"
Belum sempat Hana menjawab, Bude Minah melangkah maju dengan wajah garang.
"Untuk apa kau mencari adikku, Lestari! Sutoyo... Kau ingin menyakitinya lagi, hah?" semprot Bude Minah tanpa takut sedikitpun pada para pengawal di luar.
"Tidak Kak Minah, saya tidak ada niatan sedikit pun untuk menyakiti wanita yang sangat berharga dalam hidupku," bela Pak Sutoyo lembut.
"Alah, aku tidak percaya dengan semua perkataanmu! Beruntungnya adikku saat ini tidak perlu bertemu kembali denganmu. Jika saja ia masih hidup sampai sekarang, ia pasti akan sangat menderita bertemu lagi dengan pria tidak bertanggung jawab sepertimu!" ujar Bude Minah ketus, membuat suasana di ruangan itu menjadi sangat mencekam.
Suasana di ruang tamu yang tadinya tegang kini berubah menjadi penuh kesedihan. Pak Sutoyo menarik napas panjang, matanya yang mulai meredup menatap Hana dan Bude Minah dengan tatapan memohon.
"Tolong, beri aku kesempatan untuk menjelaskan... agar kalian tahu apa yang sebenarnya terjadi puluhan tahun yang lalu," ucap Pak Sutoyo lirih.
Ia mulai bercerita dengan suara yang bergetar. Dahulu, ia dan Lestari nekat menikah secara siri karena cinta mereka yang begitu besar. Pernikahan itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi tepat sebelum hari perjodohan Sutoyo dengan Mira, ibu dari Tama dilaksanakan. Orang tua Sutoyo tidak pernah merestui hubungannya dengan Lestari yang hanya rakyat biasa.
Namun, rahasia itu terbongkar. Mira, yang merupakan putri seorang jenderal berpengaruh, mengetahui pernikahan siri tersebut. Saat itu, Sutoyo masih menjadi bawahan Ayahnya Miranti.
"Mira mengancam akan menghabisi Lestari," kenang Pak Sutoyo dengan suara tercekat. "Dia wanita yang sangat berkuasa. Sementara aku... aku hanya seorang Komisaris Polisi muda yang posisinya sangat rentan. Orang tuaku juga terus menekan ku agar menikahi putri jenderal itu demi masa depan keluarga."
Tanpa sepengetahuan Lestari, Sutoyo akhirnya menyerah pada ancaman itu dan menikahi Miranti. Padahal, saat itu Lestari tengah mengandung Hana. Mira sendiri saat itu berstatus janda dengan satu putra bernama Tama, yang usianya kala itu baru lima tahun.
"Aku terpaksa menikahi Miranti dan mengkhianati Lestari karena ia mengancam akan membunuhnya! Di tambah ia mengancam akan menghancurkan karierku. Maafkan aku... saat itu aku begitu egois, aku mementingkan diriku sendiri dan jabatan yang aku kejar," Pak Sutoyo terisak hebat.
"Tapi aku hanya mencintai Lestari sampai saat ini. Aku sangat menyesal... Kenapa? Kenapa Lestari harus pergi selamanya sebelum aku sempat menebus dosaku?!"
Bruk!
Pak Sutoyo ambruk. Tubuh gagahnya luruh ke lantai. Ia menangis sejadinya sambil memukuli lantai, meluapkan penyesalan yang ia pendam selama puluhan tahun.
Tama yang melihat ayahnya begitu hancur segera berlari menghampiri. Ia merangkul bahu pria tua itu dan mencoba membantunya bangkit. "Papah, tenanglah..." bisik Tama lembut.
Sementara itu, Hana masih berdiri mematung. Dadanya bergemuruh. Penjelasan itu bukannya menyembuhkan luka, malah membuat hatinya semakin perih. Ia membayangkan ibunya yang harus berjuang sendirian melawan kemiskinan dan rasa malu, sementara ayahnya hidup di balik seragam kehormatan.
Pak Sutoyo menatap Hana dengan mata yang merah dan bengkak. "Hana, putriku... sekarang Ayah sudah memiliki segalanya. Semua harta dan kekuasaan ini aku kumpulkan demi mencari kamu, Nak. Ayah juga menderita. Jabatan Ayah menjadi taruhannya jika dulu Ayah berani mencari keberadaan mu dan ibumu secara terang-terangan."
Ia mencoba meraih ujung baju Hana. "Tolong maafkan Ayahmu yang berdosa ini, Nak. Izinkan Ayah menjagamu di sisa usia Ayah."
Hana mundur selangkah, napasnya tersengal. El yang berada di sampingnya menggenggam tangan ibunya dengan erat, seolah ikut merasakan beban berat yang sedang dipikul bundanya. Bude Minah yang mendengarnya pun terdiam, kemarahannya perlahan luruh menjadi rasa iba yang mendalam, meski luka adiknya tetap tak bisa dilupakan begitu saja.
Pov: Irjen Pol Sutoyo Pradipta
Bersambung...