Seraphina, gadis panti asuhan polos, mendapati hidupnya hancur saat ia menjadi bidak dalam permainan kejam Orion Valentinus, pewaris gelap yang haus kekuasaan. Diperkosa dan dipaksa tinggal di mansion mewah, Seraphina terjerat dalam jebakan hasrat brutal Orion dan keanehan Giselle, ibu Orion yang obsesif. Antara penyiksaan fisik dan kemewahan yang membutakan, Seraphina harus berjuang mempertahankan jiwanya. Namun, saat ide pernikahan muncul, dan sang ayah, Oskar, ikut campur, apakah ini akan menjadi penyelamat atau justru mengunci Seraphina dalam neraka kejam yang abadi? Kisah gelap tentang obsesi, kepemilikan, dan perjuangan seorang gadis di tengah keluarga penuh rahasia. Beranikah kau menyelami kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB TIGA PULUH LIMA: KELEMBUTAN
Cahaya matahari pagi yang terik menyelinap masuk melalui celah gorden beludru yang sangat tebal, seolah memaksa masuk untuk menyaksikan sisa-sisa kehancuran di dalam kamar pengantin Valentinus. Cahaya itu menerangi setiap inci kekacauan yang tercipta dari badai gairah semalam; kelopak mawar merah yang tadinya tertata rapi kini berserakan di lantai marmer, hancur dan terinjak. Sprei sutra hitam yang mahal tampak kusut masai, dihiasi noda-noda yang menjadi saksi bisu atas penyatuan yang brutal. Aroma manis aromaterapi kini telah kalah oleh bau amis yang pekat dari mani dan peluh yang masih menggantung di udara, menciptakan atmosfer yang menyesakkan sekaligus memabukkan.
Di tengah semua puing-puing kenikmatan itu, Orion dan Seraphina terbaring tak bergerak, tubuh mereka yang telanjang masih saling bertautan di bawah selimut yang tersisa. Seraphina perlahan membuka matanya. Pandangannya kosong, menatap langit-langit kamar yang dihiasi ukiran emas yang rumit, namun di matanya, ukiran itu tampak seperti jaring laba-laba yang siap menjeratnya selamanya. Setiap serat otot di tubuhnya menjerit karena rasa sakit yang luar biasa; punggungnya pegal, dan area pribadinya terasa seperti luka terbuka yang terus berdenyut. Namun, di tengah penderitaan fisik itu, ada sebuah pengkhianatan dari tubuhnya sendiri. Saraf-sarafnya yang telah dirusak oleh sentuhan Orion memberikan sebuah geliat kecil, sebuah denyutan yang menuntut kembali rasa penuh yang ia rasakan semalam. Kecanduan itu telah mendarah daging, mengubah rasa sakit menjadi sebuah kebutuhan yang menjijikkan bagi jiwanya yang kini terasa menghitam.
Di sampingnya, Orion mendengkur halus dengan napas yang hangat menerpa kulit bahu Seraphina. Tangan besarnya melingkar sangat posesif di pinggang ramping istrinya, seolah-olah sedang mengunci properti paling berharganya agar tidak bisa bergeser barang satu inci pun. Bibirnya yang tebal sedikit terbuka, menunjukkan sisi lain dari sang predator yang tampak tenang dalam tidurnya setelah pesta pora yang panjang. Saat Seraphina mencoba menggeser tubuhnya sedikit demi sedikit untuk mencari sedikit ruang bernapas, cengkeraman Orion justru semakin mengencang, sebuah refleks kepemilikan yang sangat absolut.
Tiba-tiba, suara nyaring Giselle terdengar dari balik pintu kayu jati yang kokoh, memecah kesunyian yang mencekam. Suara itu diikuti oleh ketukan-ketukan keras yang tidak menunjukkan rasa hormat sedikit pun pada privasi pengantin baru tersebut. "Orion! Nana! Sudah siang, sayang! Kenapa kalian belum menunjukkan batang hidung kalian?! Mama sudah tidak sabar ingin melihat wajah pengantin baru yang bahagia! Mama bawakan sarapan spesial untuk kalian berdua!"
Seraphina tersentak hebat, jantungnya berpacu dengan kecepatan yang menyakitkan. Rasa panik seketika menjalar di wajahnya yang pucat. Ia melihat ke sekeliling kamar yang berantakan dan menatap tubuhnya yang penuh dengan tanda-tanda penaklukan. Bagaimana ia bisa berhadapan dengan mertuanya dalam kondisi yang hancur seperti ini?
Orion mengerang pelan, kelopak matanya terbuka perlahan, menampakkan sepasang mata hitam yang langsung berkilat saat menyadari kehadiran ibunya di luar. Ia justru menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang menunjukkan betapa ia menikmati situasi ini. "Mama memang tipe wanita yang tidak mengenal kata batasan," gumamnya dengan suara serak. Alih-alih melepaskan Seraphina, ia justru menarik tubuh istrinya lebih rapat ke dadanya yang bidang.
Giselle, dengan sifat impulsifnya yang sudah mencapai tingkat akut, tidak menunggu jawaban dari dalam. Dengan suara keras, pintu kamar itu terbuka lebar. Giselle berdiri di ambang pintu dengan rambut yang masih sedikit acak-acakan namun tetap terlihat mewah dalam balutan piyama sutra. Di tangannya, ia membawa nampan sarapan yang diisi dengan berbagai hidangan lezat dan jus segar.
Mata Giselle yang biasanya centil dan penuh binar keceriaan seketika membelalak lebar. Pandangannya menyapu seluruh ruangan, merekam setiap detail kekacauan yang ada—bantal yang terlempar ke lantai, pakaian yang robek berserakan, dan akhirnya pandangannya terpaku pada ranjang di mana putra dan menantunya sedang terjerat dalam dekapan satu sama lain.
Giselle menatap Seraphina dengan saksama. Wajah menantunya itu tampak sangat pucat dengan lingkaran hitam yang dalam di bawah mata yang sembab. Bibir Seraphina tampak membengkak dan sedikit pecah-pecah, memberikan kesan bahwa ia baru saja melalui sebuah pertempuran fisik yang sangat intens. Di balik selimut yang hanya menutupi sebatas dada, Giselle bisa melihat jejak-jejak kemerahan keunguan yang tersebar di leher dan bahu Seraphina, tanda kepemilikan yang tertanam sangat dalam di kulit yang seputih porselen itu. Rambut Seraphina yang biasanya tertata rapi kini kusut masai, memberikan aura kelelahan ekstrem yang sangat nyata.
Giselle terdiam, nampan di tangannya mulai miring karena tangannya bergetar akibat rasa terkejut yang luar biasa. "Ya ampun... Nana..." bisik Giselle dengan suara yang tercekat di tenggorokan. Dengan suara dentuman logam yang nyaring, ia menjatuhkan nampan sarapan itu ke lantai karpet yang tebal, membiarkan jus tumpah dan roti panggang berserakan.
Narasi internal Orion mencibir dalam gelap. "Lihatlah, Mama. Lihatlah hasil dari mahakaryaku. Inilah wujud asli dari pernikahan yang kau idam-idamkan, namun kau tidak akan pernah memiliki keberanian untuk mengakui kegelapan di baliknya."
Giselle melangkah mendekat dengan perlahan, tatapannya kini berubah menjadi campuran antara keterkejutan yang murni dan sebuah kebanggaan yang sangat absurd dan salah arah. "Ya Tuhan, Nana! Kamu... kamu pasti merasa sangat lelah, bukan? Orion, astaga! Mama tahu kau pria yang bersemangat, tapi kenapa istrimu sampai tampak seperti ini?!" Giselle sama sekali tidak melihat tanda-tanda penderitaan; dalam otaknya yang sudah terdistorsi oleh kemewahan dan drama sosialita, ia menginterpretasikan kondisi Seraphina sebagai bukti dari gairah yang meledak-ledak. Ia melihat bengkak di puting Seraphina yang samar terlihat dan menganggapnya sebagai tanda cinta yang membara.
Orion hanya menyeringai puas, tangannya merayap di bawah selimut untuk kembali menyentuh bagian sensitif istrinya di hadapan ibunya sendiri. "Tentu saja, Mama. Dia adalah istriku sekarang. Aku memiliki hak sepenuhnya untuk memastikan dia memahami setiap inci dari keberadaanku di dalam dirinya."
Giselle yang tidak pernah memahami kedalaman kegelapan putranya justru memberikan reaksi yang sangat tidak terduga. Ia membungkuk, menangkup wajah Seraphina yang gemetar dengan kedua tangannya yang dingin. "Sayangku! Kamu pasti merasa sangat puas setelah malam yang panjang ini, ya? Lihatlah bibirmu, Nana! Orion benar-benar memperlakukanmu seperti harta yang paling ia damba! Dan bekas-bekas merah ini... Ya Tuhan, Orion! Kau benar-benar memiliki tenaga yang luar biasa!" Giselle justru mencubit lengan Orion dengan gemas, menunjukkan rasa bangga yang sangat mengerikan bagi Seraphina yang sedang menahan tangis.
Seraphina hanya bisa memejamkan mata dengan rapat, membiarkan mertuanya mengagumi setiap luka yang ia bawa sebagai tanda 'cinta'. Suaranya sudah hilang karena jeritan nikmat dan sakit yang menyatu semalam, dan air matanya pun seolah sudah menguap habis. Ia hanya ingin bumi menelannya saat itu juga.
"Mama akan segera memanggil Bibi Yani untuk membersihkan kekacauan indah ini," ucap Giselle sembari melambaikan tangan ke arah sisa-sisa pertempuran di lantai. "Dan kalian berdua, segeralah mandi! Mama sudah menyiapkan meja sarapan keluarga yang megah! Aku sudah tidak sabar ingin mendengar cerita tentang kebahagiaan kalian semalam!" Giselle cekikikan seperti gadis remaja, lalu berbalik dan keluar dari kamar dengan langkah riang, membiarkan pintu itu tetap terbuka seolah ingin memamerkan kemenangan putranya pada dunia.
Orion menatap Seraphina dengan pandangan yang semakin menggelap. "Lihat? Bahkan Mama pun merestui setiap inci kerusakan yang aku buat padamu, istriku. Sekarang tidak ada lagi tempat bagimu untuk bersembunyi. Kau adalah milikku di bawah sinar matahari maupun di kegelapan malam."
Seraphina menatap mata Orion, menyadari bahwa sangkar emas ini tidak memiliki celah sedikit pun untuk ia melarikan diri. Ia adalah Nyonya Valentinus, dan setiap embusan napasnya kini adalah milik suaminya. Dan di saat ia menyadari kehancurannya, tubuhnya kembali berkhianat dengan denyutan yang menuntut, membuktikan bahwa ia telah benar-benar jatuh ke dalam kecanduan yang Orion ciptakan dengan sangat sempurna.