Alena Alexandria, sang hacker jenius yang ditakuti dunia bawah tanah, tewas mengenaskan dalam pengejaran maut.
Bukannya menuju keabadian, jiwanya justru terlempar ke dalam tubuh mungil seorang bocah terlantar berusia lima tahun.
Sialnya, yang menemukan Alena adalah Luca, remaja 17 tahun berhati es, putra dari seorang mafia dari klan Frederick.
"Jangan bergerak atau aku akan menembakmu," desis Luca dingin sambil menodongkan senjata ke arah bocah itu.
"Ampun, Om. Maafkan Queen," ucapnya, mendongak dengan mata berkaca-kaca.
"Om?"
Dapatkah Alena bertahan hidup sebagai bocah kesayangan di sarang mafia, ataukah Luca akan menyadari bahwa bocah di pelukannya adalah ancaman terbesar yang pernah masuk ke kediaman Frederick?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19
Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden mewah di Villa Milan terasa begitu hangat, namun tidak sehangat beban yang menindih perut Luca.
Luca terbangun dengan napas yang sedikit tertahan. Saat ia membuka mata, ia mendapati sebuah pemandangan yang membuatnya ingin mendengus sekaligus tertawa.
Sepasang kaki mungil yang terbungkus kaus kaki pink, yang entah sejak kapan salah satunya sudah terlepas berada tepat di atas perutnya. Posisi Queen sudah tidak karuan, kepalanya ada di ujung bawah bantal, sementara badannya melintang horizontal menutupi sebagian tubuh Luca.
"Ck! Tidurnya mirip baling-baling bambu!" desis Luca kesal.
Ia berusaha bangkit perlahan, menggeser kaki Queen dengan sangat hati-hati agar tidak memicu serangan baling-baling lainnya.
Lengan Luca yang diperban semalam terasa sedikit kaku, tapi rasa nyeri itu seolah teralihkan oleh tingkah ajaib bocah di sampingnya. Luca duduk di tepi ranjang, lalu menoleh ke arah Queen yang masih terlelap.
"Lihat, dia bahkan mengeluarkan liur?" gumam Luca tak percaya.
Wajah Queen saat tidur terlihat sangat damai, jauh dari kesan hacker jenius yang semalam baru saja mengoperasi luka tembak dengan pinset. Pipinya yang gembul itu tumpah ke bantal, menciptakan pemandangan yang sangat menggemaskan.
Entah dorongan dari mana, Luca mendekatkan tangannya. Ia menusuk-nusuk pipi Queen dengan jari telunjuknya, merasakan tekstur kenyal seperti bakpao hangat.
"Lucu juga kalau sedang diam begini," bisik Luca dengan senyum tipis yang jarang ia perlihatkan pada dunia.
Namun, tepat saat Luca sedang asyik mengetes kekenyalan pipi itu, mata Queen mendadak terbuka lebar. Sepasang bola mata bulat itu menatap langsung ke arah jari Luca yang masih menempel di pipinya.
"Waaaa!" Luca tersentak hebat, tubuhnya limbung ke belakang hingga ia hampir terjatuh dari tempat tidur jika tangannya tidak cepat menumpu pada lantai. "Kau mengejutkanku!"
Luca langsung menarik dirinya kembali, berdehem keras, dan dalam sekejap memasang wajah dingin andalannya.
Queen duduk dengan rambut yang acak-adakan seperti sarang burung. Ia mengucek matanya dengan gerakan lambat, mencoba mengumpulkan nyawa.
"Luca sudah bangun?" tanyanya dengan suara serak khas anak kecil.
Luca mengangguk singkat, matanya menatap ke arah lain seolah-olah ia baru saja melakukan hal yang sangat penting, bukan menusuk pipi bayi.
"Ya. Sudah dari tadi. Aku sedang... mengecek apakah kau masih bernapas."
"Kenapa Luca menatap Queen begitu?" tanya Queen curiga.
"Lap liurmu," celetuk Luca.
Queen terdiam sejenak, lalu tangannya bergerak cepat mengusap sudut bibirnya. Benar saja, ada bekas basah di sana. Wajah Queen langsung memerah padam.
Alena dalam tubuh Queen malu luar biasa.
Seorang hacker legendaris tertangkap basah mengiler di depan remaja labil? Ini adalah noda hitam dalam kariernya.
"Itu... itu pasti keringat! Di sini kan panas!" bantah Queen dengan alasan yang sangat tidak masuk akal.
"Terserah kau saja. Sekarang, ayo mandi," ajak Luca sambil berdiri. Ia mulai berjalan menuju kamar mandi yang luas dan mewah itu. "Aku akan siapkan air hangat untukmu."
Queen langsung waspada. "Eh, tidak usah! Queen bisa mandi sendiri!"
Luca menghentikan langkahnya, lalu berbalik dan menatap Queen dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan.
"Kenapa kau selalu menolak jika aku mau memandikanmu, hah? Lihat tubuh kecilmu itu."
"Queen bisa sendiri, Luca."
"Jangan keras kepala " Luca bersedekap, menunjuk ke arah wastafel dan bathtub dengan dagunya. "Kau tidak akan bisa menjangkau shower, kau tidak akan bisa mengambil handuk di rak atas dan kau tidak akan bisa masuk ke bathtub sendirian tanpa risiko tenggelam atau terpeleset. Kau mau aku memanggil tim medis karena kau pingsan di kamar mandi?"
"Tapi Luca, Queen—"
Belum sempat Queen menyelesaikan kalimat keberatannya, Luca sudah melangkah maju.
Tanpa aba-aba, Luca meraih ujung gaun tidur Queen di bagian tengkuk dan mengangkatnya begitu saja. Luca menenteng Queen seolah-olah ia adalah seekor anak kucing yang baru saja tercebur ke dalam got.
"Luca! Turunkan! Ini pelecehan anak di bawah umur!" teriak Queen sambil meronta, kakinya menendang-nendang udara.
"Diamlah. Kau berat tahu, kebanyakan makan ayam goreng," balas Luca santai sambil berjalan menuju kamar mandi.
Alena di dalam hati berteriak frustrasi. Dasar remaja labil! Apa-apaan maksudnya ingin memandikan aku! Aku ini wanita dewasa, Luca! Jiwaku sudah lewat masa legal untuk dilihat begini!
Namun, melihat tangan Luca yang diperban karena bekas luka yang didapat karena melindunginya, Queen akhirnya berhenti meronta.
Queen melipat kedua tangannya di dada, menggembungkan pipinya dan memasrahkan diri saat Luca menaruhnya di atas kursi kecil di dalam kamar mandi.
"Kenapa diam? Kau menyerah?" tanya Luca sambil menyalakan keran air hangat. Uap mulai memenuhi ruangan, membawa aroma sabun sandalwood yang mewah.
"Queen pasrah. Queen cuma anak kecil yang tidak berdaya di tangan mafia kejam," gumam Queen sarkastik.
Luca tidak menyahut, ia sibuk mengatur suhu air. Saat ia berbalik, ia melihat Queen yang cemberut Ada sesuatu yang aneh setiap kali ia berinteraksi dengan bocah ini. Ia merasa sedang bicara dengan orang dewasa yang terperangkap dalam botol selai.
"Jangan pasang wajah begitu. Aku hanya akan membantumu menggosok punggung dan memastikan kau tidak tenggelam," kata Luca sambil mengambil spons mandi bermotif bebek. "Cepat lepas pakaianmu, atau kau mau mandi dengan daster itu?"
Queen memalingkan wajah, menyembunyikan pipinya yang makin panas. "Luca berbalik dulu! Queen punya privasi!"
Luca memutar bola matanya, tapi ia tetap berbalik membelakangi Queen. "Dasar bocah aneh. Memangnya apa yang mau kulihat dari tubuh yang isinya cuma lemak stroberi dan ayam goreng itu?"
"Luca terlalu banyak bicara! Diam saja di situ!" seru Queen.
Sambil melepas gaunnya dengan susah payah.
"Tunggu saja, Luca. Suatu hari nanti saat aku kembali ke tubuh asliku, aku akan membalas semua penghinaan ini. Aku akan meretas akun bankmu sampai kau tidak bisa membeli sabun lagi!" Alena bergumam dalam hati.
Sementara itu, Luca yang berdiri membelakangi Queen hanya bisa menahan senyum. Baginya, pagi yang kacau ini terasa jauh lebih baik daripada pagi-pagi sunyi penuh darah yang biasa ia jalani.
"Aku masih curiga pada bocah ini. Dia mengeluarkan peluru di lenganku yang berdarah tanpa rasa takut sama sekali. Aku yakin, ada yang salah dengannya. Apa karena terlalu banyak makan ayam goreng, dia jadi seperti itu?" gumam Luca penasaran.
lelaki remaja dgn anak balita 😁😁😁