Novel ini lahir dari rasa ingin mengeksplorasi kisah cinta remaja yang unik, tentang dua orang yang dijodohkan sejak SMA dan bagaimana mereka belajar mengenal satu sama lain. Penulis ingin menampilkan bahwa cinta sejati tidak selalu hadir dengan cara yang mudah atau instan, melainkan tumbuh melalui proses memahami, menerima, dan memilih satu sama lain setiap hari.
Melalui cerita ini, penulis ingin menggambarkan perjalanan emosi remaja yang realistis, mulai dari kebingungan, rasa penasaran, hingga perasaan hangat yang perlahan tumbuh menjadi cinta yang dewasa. Kisah ini juga menekankan bahwa di balik setiap tawa dan momen manis, ada nilai penting tentang keluarga, persahabatan, tanggung jawab, dan kesabaran yang membentuk karakter seseorang.
Cerita ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi remaja untuk menyadari bahwa hubungan yang baik tidak hanya tentang perasaan, tetapi juga tentang saling menghargai, membangun kepercayaan, dan berani membuat pilihan yang tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tama Dias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9~Rindu yang tumbuh bersama waktu
Sudah dua bulan sejak pertemuan singkat di taman kota itu.
Setelah hari itu, Raka kembali ke Bandung, dan aku ke rutinitasku di Jakarta. Kami masih sering bertukar pesan, saling menelepon malam-malam, tapi entah kenapa… rasanya mulai berbeda.
Bukan karena cinta berkurang — justru sebaliknya.
Tapi semakin besar perasaan itu, semakin berat rasanya ketika tidak bisa bertemu.
Setiap kali aku menatap gelang hijau di tanganku, aku tersenyum, tapi kadang juga ingin menangis.
Suatu malam, aku sedang belajar ketika pesan dari Raka masuk.
Raka: “Lagi belajar?”
Alya: “Iya. Tapi lebih banyak mikirin kamu daripada hafalan 😅.”
Raka: “Hahaha. Aku juga. Rasanya pengen teleport ke sana.”
Alya: “Kalau bisa, aku udah bikin taman hidroponik di depan kos kamu.”
Raka: “Jangan bercanda, nanti aku kangen makin parah.”
Aku menatap layar ponsel dan tersenyum kecil. Tapi kemudian pesan berikutnya datang.
Raka: “Ly… aku kayaknya bakal sibuk banget minggu depan. Ada proyek kampus, terus lomba desain taman nasional. Jadi mungkin bakal jarang kabarin.”
Mataku berhenti di pesan itu cukup lama.
Aku tahu, dia nggak salah. Aku tahu, dia cuma sibuk. Tapi tetap saja, hatiku sedikit mencubit.
Alya: “Iya, nggak apa-apa. Fokus aja dulu. Aku dukung dari sini.”
Raka: “Kamu selalu gitu. Terlalu pengertian.”
Alya: “Harus dong. Aku kan pacarnya calon arsitek taman nasional 😎.”
Balasannya muncul beberapa detik kemudian.
Raka: “Dan aku pacarnya cewek paling sabar di dunia 💚.”
Aku tersenyum. Tapi malam itu, meski senyumku tulus, ada sedikit rasa sepi yang nggak bisa hilang.
Hari-hari berikutnya berjalan cepat. Seperti yang dia bilang, Raka benar-benar sibuk.
Pesannya mulai jarang, kadang cuma “pagi, Ly” atau “udah makan belum?”.
Aku mencoba mengerti. Tapi di sisi lain, aku juga manusia. Aku rindu.
Suatu malam, aku duduk di balkon kos sambil menatap langit penuh bintang.
Aku menulis pesan panjang di ponsel, tapi tidak langsung kukirim.
“Aku tahu kamu sibuk. Tapi aku cuma ingin bilang, kadang aku kangen banget. Aku kangen obrolan kita yang lama, tawa kamu, bahkan gombalan recehmu. Aku nggak marah, cuma… kangen.”
Aku hampir menekan tombol kirim, tapi jempolku berhenti di tengah layar.
Akhirnya, aku hapus semua dan hanya menulis,
Alya: “Jangan lupa makan, ya.”
Kadang cinta memang sesederhana itu — menahan perasaan besar di balik pesan kecil.
Beberapa hari kemudian, aku tidak sengaja membuka media sosial kampus Raka.
Ada unggahan tentang lomba desain taman nasional. Di foto itu, Raka berdiri bersama timnya, tersenyum bangga sambil memegang piagam.
Aku ikut bangga — sungguh. Tapi di balik rasa bangga itu, ada sedikit sesak.
Bukan karena dia bahagia tanpa aku, tapi karena aku nggak ada di momen bahagianya.
“Lucu ya,” gumamku sendiri, “dulu kita selalu ngerayain hal-hal kecil bareng. Sekarang aku cuma bisa liat dari layar.”
Seminggu kemudian, aku baru menerima pesan darinya.
Raka: “Ly! Maaf banget baru kabar. Lomba kemarin sukses. Timku menang!”
Alya: “Serius? Aku bangga banget! Selamat ya! 😍”
Raka: “Makasih. Tapi rasanya kurang, soalnya kamu nggak ada di sana.”
Alya: “Aku ada kok. Di sini.” (aku kirim emoji hati hijau)
Raka: “Heh, itu gombalanku dulu.”
Alya: “Aku belajar dari ahlinya.”
Dan tiba-tiba, aku merasa hangat lagi.
Kadang, cukup satu pesan kecil untuk menghapus jarak ratusan kilometer.
Beberapa minggu berlalu.
Aku semakin sibuk dengan tugas kuliah, tapi kami selalu menyisihkan waktu untuk saling menelepon di akhir minggu.
Biasanya cuma sebentar — sepuluh, lima belas menit — tapi percakapan itu seperti udara segar setelah hari yang panjang.
Suatu malam, suaranya terdengar lelah. “Ly, aku takut gagal.”
Aku mengernyit. “Gagal apa?”
“Gagal jaga hubungan kita,” jawabnya jujur. “Aku takut sibuk terus sampai kamu capek nunggu.”
Aku terdiam sejenak. “Rak, hubungan itu bukan siapa yang paling sering nyapa. Tapi siapa yang tetap ada meski nggak sempat ngomong.”
Dia hening beberapa detik, lalu tertawa kecil. “Kamu selalu bisa ngomong yang bikin aku tenang.”
Aku ikut tertawa pelan. “Karena aku tahu, cinta bukan cuma tentang ketemu, tapi tentang percaya.”
Dan malam itu, sebelum telepon ditutup, dia berkata pelan,
“Makasih, Ly. Kamu rumahnya hatiku, masih sama kayak dulu.”
Aku tersenyum. “Dan kamu masih alasanku buat percaya sama jarak.”
Beberapa hari kemudian, aku menerima paket kecil lewat kurir.
Isinya: sebuah pot kecil berisi tanaman mungil yang baru tumbuh, dengan kertas catatan kecil bertuliskan tulisan tangan Raka.
“Tumbuhkan ini di jendela kamarmu. Siram tiap pagi. Biar kamu inget, cinta itu kayak tanaman — dia nggak butuh jarak dekat buat tumbuh, cukup cahaya dan kesabaran.”
Air mataku hampir jatuh, tapi aku malah tertawa. “Kamu tuh, bisa aja.”
Aku menaruh pot itu di dekat jendela.
Setiap pagi, sebelum berangkat kuliah, aku menyiramnya sambil tersenyum.
Karena aku tahu, di tempat lain, seseorang juga sedang menumbuhkan sesuatu yang sama — perasaan yang tidak pernah layu.
Dan di suatu pagi yang cerah, ponselku bergetar.
Raka: “Ly, aku ada kabar besar. Aku bakal ke Jakarta minggu depan buat magang proyek taman kota. Kayaknya… kita bakal ketemu lagi.”
Tanganku gemetar saat membaca pesan itu.
Alya: “Serius?! Kamu bakal di sini?”
Raka: “Iya. Aku udah bilang, kan? Aku bakal balik. Selalu.”
Aku menatap tanaman kecil di jendela. Daunnya mulai tumbuh dua helai baru.
Aku tersenyum, menatap langit pagi.
Mungkin, memang begitulah cinta kami — tumbuh pelan, kadang terpisah jarak, tapi selalu menemukan jalan untuk kembali.
✨ Bersambung ke Bab 10