NovelToon NovelToon
Bahu Yang Memikul Langit Prau

Bahu Yang Memikul Langit Prau

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Mengubah Takdir / Keluarga
Popularitas:887
Nilai: 5
Nama Author: Nonaniiss

Sebuah kepingan masalalu pahit dan manis tentang perjuangan hidup sebuah keluarga kecil sederhana di lereng gunung Prau. Luka yang tak bisa sembuh dan kenangan yang tak bisa di hapus, hingga pada akhirnya berdamai dengan luka dan keadaan adalah jalan terbaiknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonaniiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Seragam Baru dan Sepatu yang Menapak Bumi

Waktu ternyata adalah pencuri yang paling lihai, ia berlari begitu cepat, namun sayangnya, ekonomi keluarga kami masih berjalan di tempat yang sama. Kondisi rumah masih tetap sederhana, dinding bambu kami masih menyimpan lubang yang sama, dan kursi hijau plastik milik Ayah pun mulai memudar warnanya. Kini, aku sudah berusia lima tahun. Usia di mana aku harus mengenakan seragam kotak-kotak dan melangkah menuju gerbang taman kanak-kanak.

Masuk sekolah berarti pengeluaran baru. Aku bisa merasakan beban itu di pundak Ibu dan Ayah, meski mereka tak pernah mengatakannya. Seolah ada perjanjian tak tertulis di antara mereka untuk bekerja dua kali lebih keras.

Setiap pagi, saat kabut masih memeluk lereng gunung dengan erat, mereka sudah berangkat. Pukul lima subuh, di saat aku masih meringkuk di balik selimut, Ibu dan Ayah sudah berbagi tugas. Mereka mendaki jalur terjal Gunung Prau untuk mencari kayu bakar, lalu melanjutkannya dengan menjadi buruh di ladang orang. Terkadang mereka memikul kayu, terkadang menggendong karung pupuk kandang yang baunya menyengat dan beratnya bukan main. Membayangkan mereka naik-turun bukit dengan beban itu setiap hari membuat hatiku mencelos. Tapi hebatnya, tak pernah kulihat mereka mengeluh saat pulang.

"Nok, Ibu berangkat dulu ya. Nasi sudah ada di meja," bisik Ibu setiap pagi di telingaku sebelum ia melangkah keluar.

Biasanya, saat aku membuka mata, sosok yang pertama kulihat adalah Nenek dari pihak Ayah. Beliau dengan setia datang ke rumah untuk menemaniku bangun.

"Sudah bangun, Cah Ayu? Ayo sarapan dulu, Nenek sudah buatkan sayur bening," sapa Nenek dengan suaranya yang serak namun menenangkan.

Aku pun membiasakan diri untuk mandiri. Aku memakai seragamku sendiri, meski kadang kancingnya masih miring. Aku mulai paham bahwa setiap rupiah yang digunakan untuk membayar uang sekolahku adalah tetesan keringat yang jatuh di tanah pegunungan.

Ada hari-hari istimewa di mana Ibu sengaja pulang lebih awal atau menunda keberangkatannya ke ladang hanya untuk mengantarku ke sekolah. Di saat-saat itulah aku merasa seperti teman-temanku yang lain. Aku bisa menggandeng tangan Ibu sepanjang jalan, memamerkan kepada dunia bahwa aku juga punya Ibu yang mengantarku.

"Bu, lihat! Temanku diantar pakai motor, tapi aku lebih suka jalan kaki sama Ibu," kataku sambil mempererat genggaman tanganku pada jemarinya yang kembali mulai mengasar karena kerja ladang.

Ibu tersenyum, meski matanya nampak kuyu karena kurang istirahat. "Maaf ya, Nok, Ibu tidak bisa setiap hari mengantar. Ibu harus cari uang buat beli buku dan sepatu baru kamu."

"Tidak apa-apa, Bu. Aku kan ditemani Ajan," sahutku menunjuk sepupuku.

Ajan adalah sepupuku laki-laki yang nasibnya jauh lebih sunyi dariku. Ibunya sudah meninggal sejak ia masih sangat kecil. Kami selalu berangkat dan pulang bersama. Melihat Ajan yang tetap tegar berjalan sendirian setiap hari membuatku sadar bahwa aku masih sangat beruntung. Aku masih punya Ibu untuk dirindukan, dan aku masih punya Ayah untuk dibanggakan.

Kami berdua berjalan menyusuri jalanan desa menuju sekolah dengan tas plastik yang kami jadikan wadah bekal. Kami adalah dua anak kecil yang dipaksa dewasa oleh keadaan, belajar memahami bahwa hidup bukan hanya tentang bermain, tapi tentang menghargai setiap langkah lelah orang tua kami.

"Nanti pulang sekolah, kita main di sungai lagi ya?" kata Ajan padaku saat kami sampai di gerbang sekolah.

Aku mengangguk. Di tengah keterbatasan ini, aku berjanji dalam hati untuk tidak akan pernah mengecewakan mereka. Jika Ibu dan Ayah sanggup mendaki gunung demi aku, maka aku harus sanggup belajar dengan tekun demi masa depan kami.

Gunung itu saksi bisu betapa tangguhnya kedua orang tuaku. Jika mereka sanggup menaklukkan tanjakan terjal setiap hari hanya agar aku bisa duduk di bangku sekolah, maka aku tidak punya alasan untuk menyerah pada rasa malas atau keluh kesah. Pendidikan ini bukan sekadar tentang belajar membaca atau berhitung, melainkan tentang menebus setiap peluh yang jatuh dari kening Ayah dan setiap pegal di punggung Ibu.

Aku menyadari bahwa seragam kotak-kotak yang kukenakan ini adalah "baju perang" pemberian mereka. Meski rumah kami masih berdinding bambu dan kursi plastik Ayah kian memudar, hatiku justru semakin berwarna. Kemandirian yang ku pelajari setiap pagi, mulai dari memakai baju sendiri hingga sarapan bersama Nenek, adalah fondasi yang mereka bangun agar aku tidak goyah saat angin kehidupan bertiup kencang nanti.

Hari ini aku mulai belajar, bukan hanya untuk diriku sendiri, tapi untuk memuliakan kasih sayang yang telah mendaki bukit demi bukit demi masa depanku. Aku akan tumbuh, sekuat pohon-pohon di lereng itu, dan suatu saat nanti, akulah yang akan menjadi sandaran bagi punggung mereka yang mulai lelah.

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
Zanahhan226: terima kasih, Kak..
🥰🥰
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!