NovelToon NovelToon
Chasing Her, Holding Him

Chasing Her, Holding Him

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / One Night Stand / Tamat
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Aku adalah saksi dari setiap cintamu yang patah, tanpa pernah bisa memberitahumu bahwa akulah satu-satunya cinta yang tak pernah beranjak."

Pricillia Carolyna Hutapea sudah hafal setiap detail hidup Danesha Vallois Telford
Mulai dari cara laki-laki itu tertawa hingga daftar wanita yang pernah singgah di hatinya.
Sebagai sahabat sejak kecil, tidak ada rahasia di antara mereka. Mereka berbagi ruang, mimpi, hingga meja kuliah yang sama. Namun, ada satu rahasia yang terkunci rapat di balik senyum tenang Pricillia, dia telah lama jatuh cinta pada sahabatnya sendiri.

Dunia Pricillia diuji ketika Danesha menemukan ambisi baru pada sosok Evangeline Geraldine Mantiri, primadona kampus yang sempurna. Pricillia kini harus berdiri di baris terdepan untuk membantu Danesha memenangkan hati wanita lain.

Di tengah tumpukan buku hukum dan rutinitas tidur bersama yang terasa semakin menyakitkan, Pricillia harus memilih, terus menjadi rumah tempat Danesha pulang dan bercerita tentang wanita lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Pagi yang hangat itu mendadak berubah menjadi dingin bagi Pricillia. Setelah sarapan bersama Mama Danesha, mereka berdua harus berangkat ke kampus.

Namun, ada satu agenda tambahan, menjemput Evangeline.

Biasanya, Pricillia selalu duduk di kursi depan, di samping Danesha, sambil bernyanyi bersama atau berebut saluran radio. Namun pagi ini, saat mobil Danesha berhenti di depan rumah mewah Evangeline, Pricillia dengan sadar diri pindah ke kursi belakang.

Evangeline masuk dengan gaun kampus yang sangat modis, menebarkan aroma parfum mahal yang seketika memenuhi kabin mobil.

"Pagi, Sayang," sapa Evangeline manja, langsung mengecup pipi Danesha singkat. Ia kemudian menoleh ke belakang, memberikan senyum kemenangan pada Pricillia.

"Eh, ada Pricillia juga. Maaf ya, aku nggak tahu kamu ikut, jadi kamu harus di belakang."

"Nggak apa-apa, Vang. Gue emang pengen di belakang," jawab Pricillia datar, meskipun hatinya terasa seperti teriris sembilu melihat Danesha yang terus-menerus melirik Evangeline lewat kaca spion dengan tatapan memuja.

Sepanjang perjalanan, tangan kiri Danesha tidak pernah lepas dari genggaman tangan Evangeline di atas gear box. Danesha sesekali mencium punggung tangan Evangeline sambil menyetir, sebuah pemandangan yang harus ditelan bulat-bulat oleh Pricillia dari kursi belakang.

Begitu mereka sampai di parkiran fakultas, Danesha menunjukkan sisi pria idaman-nya yang luar biasa. Sebelum Evangeline sempat membuka pintu, Danesha sudah turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk kekasihnya itu.

"Silakan, Tuan Putri," goda Danesha sambil mengulurkan tangan.

Evangeline turun dengan anggun, tapi ia tidak langsung berjalan. Ia justru menarik kerah kemeja Danesha, merapikannya sedikit, lalu dengan sengaja mencium pipi Danesha dengan lama tepat di depan Pricillia yang baru saja keluar dari pintu belakang.

"Makasih ya, Sayang, udah jemput. Kamu ganteng banget hari ini," bisik Evangeline, suaranya cukup keras untuk didengar Pricillia.

Pricillia hanya berdiri mematung di samping pintu mobil, memegang tali tasnya erat-erat. Danesha tertawa, wajahnya merona. Ia membalas dengan merangkul pinggang Evangeline erat, seolah ingin menunjukkan pada dunia dan pada sahabatnya betapa bahagianya dia.

"Apapun buat kamu, Vang," balas Danesha. Ia kemudian menoleh ke arah Pricillia. "Pris! Kok bengong? Ayo ke kelas, nanti kita telat!"

Sambil berjalan menuju ruang kuliah, Evangeline terus menempel pada Danesha. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Danesha, membuat langkah mereka melambat.

"Dan, nanti siang kita makan di tempat yang kemarin ya? Aku pengen ciuman kayak kemarin lagi, tapi jangan di parkiran," bisik Evangeline sambil melirik ke arah Pricillia yang berjalan satu langkah di belakang mereka.

Danesha terkekeh, telinganya memerah. "Ssttt, ada Pricillia, Vang. Malu."

"Kenapa harus malu? Kan dia sahabat kamu. Dia harusnya seneng dong liat kita mesra begini, iya kan, Pris?" tanya Evangeline dengan nada manis yang dibuat-buat.

Pricillia memaksakan sebuah tawa kecil yang terdengar hambar. "Iya, asalkan Danesha bahagia, gue juga bahagia."

Danesha merangkul bahu Pricillia sejenak dengan tangan satunya yang bebas. "Tuh, denger kan? Pris itu emang yang terbaik. Dia selalu dukung gue."

Danesha tidak tahu, bahwa di balik senyum itu, Pricillia sedang menghitung setiap langkah, berharap waktu cepat berlalu agar dia bisa segera menghilang dari pemandangan yang menghancurkan jiwanya ini.

Sore itu, Danesha memutuskan bahwa mereka bertiga harus hangout bersama di sebuah kafe rooftop populer untuk merayakan keberhasilannya mendapatkan Evangeline.

Bagi Danesha, ini adalah momen ideal untuk menyatukan dua wanita terpenting di hidupnya. Namun bagi yang lain, ini adalah medan perang yang melelahkan.

Di kafe, Danesha duduk di sebuah sofa panjang. Evangeline segera mengambil posisi di sisi kanan, menempel rapat hingga tidak ada celah udara di antara mereka. Pricillia, dengan gerakan yang sudah terlatih untuk tahu diri, duduk di kursi single di depan mereka.

"Pris, pesenin gue latte kayak biasa dong. Lo paling tahu takaran gula yang gue suka," ujar Danesha sambil menyandarkan punggungnya santai.

Evangeline langsung memotong sebelum Pricillia beranjak. "Eh, biar aku aja yang pesenin, Dan. Aku kan pacar kamu, aku harus mulai belajar apa yang kamu suka, kan?" Evangeline berdiri, memberikan tatapan tajam pada Pricillia seolah berkata, Tugasmu sudah selesai.

Saat Evangeline pergi ke kasir, Danesha mencondongkan tubuhnya ke arah Pricillia. "Pris, lo oke kan? Kok dari tadi diem aja? Biasanya lo paling berisik kalau kita lagi nongkrong."

Pricillia hanya tersenyum tipis sambil mengaduk minumannya yang bahkan belum diminum. "Gue oke, Dan. Cuma agak pusing dikit sama tugas Hukum Perdata tadi."

Begitu Evangeline kembali, ia membawa suasana yang jauh lebih panas. Ia duduk kembali, namun kali ini ia mengangkat kakinya ke atas sofa dan duduk menyamping, menghadap Danesha.

"Dan, coba deh kue ini, enak banget," ujar Evangeline sambil menyuapkan sepotong kue cokelat ke mulut Danesha.

Danesha menerimanya dengan senang hati.

Namun, Evangeline tidak berhenti di situ. Dengan jemarinya, ia menghapus noda cokelat di sudut bibir Danesha, lalu menjilat jarinya sendiri sambil menatap mata Danesha dalam-dalam.

"Vang... ada Pricillia," bisik Danesha, wajahnya memerah karena malu sekaligus terangsang oleh keberanian Evangeline.

"Pricillia nggak keberatan, ya kan, Pris?" sahut Evangeline tanpa menoleh. Ia kemudian mengalungkan lengannya ke leher Danesha dan mulai mengecupi rahang Danesha berkali-kali.

Pricillia hanya bisa menatap pemandangan itu dengan hati yang mati rasa. Dia melihat Danesha, sahabat yang biasanya tidur di bahunya, kini sedang dikuasai oleh wanita lain.

Danesha terlihat sangat menikmati perhatian agresif Evangeline.

"Pris, lo harus liat, Evangeline emang luar biasa," gumam Danesha pelan, matanya setengah terpejam saat Evangeline memberikan kecupan di lehernya. "Gue nggak pernah ngerasa sedekat ini sama cewek sebelumnya."

l

Tiba-tiba, Evangeline berbisik pada Danesha, namun suaranya sengaja dikeraskan agar Pricillia mendengar. "Dan, nanti kalau kita pulang, Pricillia nggak usah ikut menginap di rumah kamu ya? Aku pengen kita punya waktu berdua... yang benar-benar privat. Kamu tahu kan maksud aku?"

Danesha terdiam sejenak. Dia melirik ke arah Pricillia, ada rasa bimbang di matanya. Tapi kemudian, pengaruh Evangeline yang sedang mengelus dadanya dengan lembut tampaknya jauh lebih kuat.

"Pris... lo nggak papa kan kalau malam ini gue nggak bareng lo dulu? Gue mau anter Evangeline pulang dan... ya, lo tahu lah," ujar Danesha dengan nada meminta izin yang kikuk.

Pricillia menarik napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya yang tersisa. "Nggak apa-apa, Dan. Santai aja. Gue juga ada janji lain kok."

Pricillia berdiri, mengambil tasnya sebelum air matanya benar-benar jatuh di depan mereka. "Gue duluan ya. Enjoy your night, Dan. Vang."

Saat Pricillia berjalan menjauh, dia masih bisa mendengar tawa Danesha dan suara manja Evangeline. Untuk pertama kalinya dalam 20 tahun, Pricillia merasa benar-benar menjadi orang asing bagi rumahnya sendiri.

1
Retno Isusiloningtyas
mdh2an happy ending
Retno Isusiloningtyas
mmm....
masih nyimak 🤣
Paon Nini
sinting
falea sezi
ngapain ngintil mulu g ada krjaan mending prgi sejauh nya lah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!