Tentang Tenggara yang mencintai dalam diam
Tentang Khatulistiwa yang mencari sebuah perhatian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Kehidupan yang Bersatu: Persiapan Pernikahan Khatulistiwa dan Tenggara
Hujan musim penghujan di Makassar datang dengan lembut, menyirami atap rumah adat Balla Lompoa yang menjadi tempat persiapan pernikahan Khatulistiwa dan Tenggara. Sudah tiga bulan sejak usaha mereka “Nusantara Bersejarah” resmi berdiri, dan kini pasangan muda itu sibuk menyusun setiap detail perayaan cinta yang akan menggabungkan budaya Makassar dengan kekayaan tradisi dari wilayah Tenggara Indonesia.
Rumah besar milik keluarga Khatulistiwa, yang telah berdiri sejak zaman kolonial dan direnovasi dengan sentuhan arsitektur adat Makassar, penuh dengan kegembiraan dan aktivitas. Dinding-dinding kayu yang diukir dengan motif batara gowa dipenuhi dengan kain ulo mamiri berwarna-warni yang digantung sebagai dekorasi sementara. Di halaman belakang, beberapa wanita keluarga sedang duduk melingkar, tangan terampil menyusun bunga rampi—rangkaian bunga dan daun yang memiliki makna sakral dalam tradisi pernikahan Makassar.
“Bissu akan datang besok untuk menentukan hari baik dan memimpin upacara mappacci,” ujar ibu Khatulistiwa sambil menyusun kelopak bunga kamboja putih dan merah.
Khatulistiwa duduk di sebelahnya, belajar cara menyusun bunga dengan bentuk yang benar. “Kita juga harus mempersiapkan coto makassar dan konro bakar untuk tamu yang akan datang saat upacara adat,” tambahnya, sambil menunjuk ke arah dapur yang sudah penuh dengan bahan makanan yang disiapkan.
Sementara itu, Tenggara bersama ayahnya dan beberapa kerabat dari wilayah Tenggara sedang berkumpul di ruang tamu depan. Mereka sedang membicarakan bagaimana menyatukan tradisi dari kedua daerah. “Di tempat kami, kita biasa menyediakan tumpeng dan gado-gado “Kita bisa menyajikannya bersamaan dengan hidangan khas Makassar agar kedua budaya bisa saling menghormati.”
Tenggara mengangguk, matanya terpaku pada sketsa dekorasi yang telah ia buat bersama Khatulistiwa—menggabungkan motif ulo kareng dari Makassar dengan ornamen anyaman bambu khas Tenggara.
Satu minggu sebelum hari H, pasangan itu menghadiri pertemuan dengan Bissu—pemimpin spiritual dalam tradisi Makassar—di sebuah tempat suci yang terletak dekat dengan Benteng Rotterdam. Di bawah naungan pohon beringin tua, Bissu mengenakan pakaian adat berwarna putih dan emas, memegang alat-alat upacara sambil menyampaikan doa dan petunjuk.
“Pernikahan bukan hanya perpaduan dua orang,” ujar Bissu dengan suara yang dalam dan penuh makna.
“Ini adalah perpaduan dua keluarga, dua budaya, dan dua sejarah yang akan menjadi satu dalam satu tali cinta.” Setelah itu, bissu memberikan mereka seikat kain saro makassar yang telah disucikan, sebagai simbol perlindungan dan kebahagiaan.
Hari-hari menjelang pernikahan semakin sibuk. Di usaha “Nusantara Bersejarah”, mereka dan beberapa teman sedang menyusun souvenir untuk tamu—kerajinan tangan berupa kalung dengan liontin motif tradisional dari kedua daerah, dilengkapi dengan kartu yang menjelaskan makna sejarah di baliknya.
“Kita ingin setiap tamu membawa pulang bukan hanya kenang-kenangan, tapi juga cerita tentang bagaimana kedua budaya kita bisa bersatu,” ujar Tenggara saat sedang mengecek jumlah souvenir yang telah disiapkan.
Pada hari sebelum pernikahan, upacara Mappacci dilaksanakan dengan meriah di halaman rumah Khatulistiwa. Ratusan tamu datang, mengenakan pakaian adat terbaik mereka. Keluarga Tenggara datang dengan busana khas wilayah Tenggara, membawa sesajen berupa buah-buahan, kain tenun, dan uang emas sebagai tanda penghormatan. Selama upacara, para tetua dari kedua keluarga saling bertukar kata-kata bijak, menyampaikan harapan agar pasangan muda itu selalu menjaga keharmonisan dan menghargai warisan budaya masing-masing.
Khatulistiwa mengenakan kebaya tradisional Makassar dengan kain ulo mamiri yang dihiasi mutiara, sementara Tenggara tampil gagah dengan baju bodo khas Makassar yang dipadukan dengan ikat pinggang khas daerahnya.
Saat malam menjelang, mereka duduk bersama di teras rumah, melihat ke arah Pantai Losari yang penuh dengan lampu-lampu kecil dari perahu nelayan.
“Besok kita akan memulai babak baru,” ujar Khatulistiwa dengan lembut, tangan mereka saling bertaut. “Sebuah babak yang menggabungkan sejarah kita dan membangun masa depan bersama.”
Tenggara mencium peluknya dengan lembut. “Seperti usaha kita, kita akan membangun rumah tangga yang menghargai masa lalu dan optimis terhadap masa depan,” jawabnya dengan senyum hangat.
Di kejauhan, suara gandrang sabua (musik tradisional Makassar) mulai terdengar, menyambut hari bahagia yang akan datang—sebuah pernikahan yang bukan hanya merayakan cinta, tapi juga keindahan perpaduan budaya di tanah air yang kaya akan sejarah