"Kau hanyalah pemeran pengganti dalam hidupku, Shena. Jangan bermimpi lebih!"
Shena berhenti bermimpi dan memilih pergi. Tapi justru saat itulah, Devan baru menyadari bahwa rumahnya terasa mati tanpa suara Shena. Sang CEO arogan itu kini rela membuang harga dirinya hanya untuk memohon satu kesempatan kedua.
Bagaimana jadinya jika sang pembenci justru berubah menjadi pemuja yang paling gila? Masih adakah tempat untuk Devan di hati Shena yang sudah beku di Hati nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 Tahta di Atas Retakan
Mobil mewah Devan meluncur membelah keheningan malam Jakarta yang mulai mereda badainya. Di dalam kabin yang kedap suara itu, suasana terasa sangat canggung. Devan sesekali melirik Shena yang duduk di sampingnya. Istrinya itu hanya menatap kosong ke arah jendela, tangannya yang masih kasar karena pekerjaan kasar di warung tersembunyi di balik lipatan jaketnya.
"Shena..." panggil Devan pelan, seolah takut suaranya akan membuat Shena berubah pikiran dan melompat keluar dari mobil.
"Terima kasih sudah mau pulang."
Shena tidak menoleh. "Aku pulang bukan untukmu, Mas. Aku pulang karena aku tidak ingin membiarkan Ibu Ratna menderita sendirian di bawah ancaman Ayah Bram. Dan aku ingin melihat sendiri, sampai mana kau bisa memegang janjimu."
Devan terdiam, rahangnya mengeras menahan sesak. Ia tahu jalan menuju maaf masih sangat panjang.
Saat mobil memasuki gerbang megah kediaman Adiguna, pemandangan tak terduga menyambut mereka. Lampu-lampu kristal di teras utama menyala terang, dan dua sosok yang sangat berwibawa sudah berdiri di sana. Ayah Devan, Surya Adiguna, dan Ibunya, Widya, menunggu dengan wajah yang sulit diartikan.
Begitu mobil berhenti, Devan segera turun dan membukakan pintu untuk Shena—sebuah gestur yang sebelumnya tak pernah ia lakukan dengan tulus.
Widya Adiguna langsung melangkah maju. Matanya yang biasanya tajam kini berkaca-kaca. Tanpa kata, ia langsung memeluk Shena dengan erat. Aroma parfum mahal Widya menyerbu indra penciuman Shena, namun kali ini pelukan itu terasa hangat, bukan formalitas belaka.
"Sayang... maafkan kami," bisik Widya di telinga Shena. "Kami orang tua yang buta. Kami membiarkan anak kami memperlakukanmu seperti itu karena kami terlalu peduli pada nama baik, sampai lupa pada hati nurani."
Shena terpaku. Ia tidak menyangka akan disambut dengan kehangatan seperti ini. Ia melirik Surya Adiguna, sang kepala keluarga yang disegani. Pria tua itu mengangguk kecil, tatapannya penuh penyesalan.
"Shena," suara Surya berat dan dalam. "Devan sudah menceritakan semuanya. Tentang siapa kau sebenarnya, tentang ibumu, dan tentang kebusukan Bramantyo. Mulai malam ini, kau bukan lagi menantu karena 'kecelakaan' atau 'pengganti'. Kau adalah bagian dari keluarga Adiguna. Jika ada yang berani menghinamu, termasuk anakku sendiri, kau berhadapan denganku."
Shena merasa matanya memanas. Selama hidupnya di paviliun belakang keluarga Bramantyo, ia tidak pernah mendapatkan pengakuan seperti ini.
"Terima kasih, Pa, Ma," sahut Shena pelan dengan suara bergetar.
Mereka pun masuk ke dalam rumah. Di ruang makan, hidangan mewah sudah tersaji—kali ini bukan masakan katering, melainkan masakan rumah yang dipesan Widya khusus untuk menyambut Shena.
Namun, di tengah suasana yang mulai mencair itu, Devan menyadari sesuatu. Ia menarik ayahnya sedikit menjauh ke sudut ruangan.
"Pa, aku mendapat pesan dari Sarah. Dia bilang ada sesuatu tentang konspirasi ayah kami berdua terkait pernikahan ini. Apa maksudnya?" bisik Devan tajam.
Wajah Surya Adiguna seketika berubah pucat. Ia menatap Shena yang sedang berbicara dengan Widya di meja makan, lalu kembali menatap putranya.
"Bramantyo bukan sekadar berhutang uang, Devan," Surya menjawab dengan suara yang sangat rendah, hampir seperti desisan. "Dia memegang rahasia tentang masa lalu perusahaan kita. Pernikahan ini awalnya adalah cara untuk membungkamnya. Tapi yang tidak kami tahu adalah Bramantyo berencana melenyapkan Shena setelah setahun menikah agar harta warisan Adiguna jatuh ke tangan Sarah sepenuhnya lewat hukum klaim keluarga."
Jantung Devan seolah berhenti berdetak. "Melenyapkan? Maksud Papa... membunuhnya?"
Surya tidak menjawab, namun keterdiamannya adalah konfirmasi yang mengerikan.
Tiba-tiba, suara ketukan sepatu hak tinggi yang tajam terdengar di lantai marmer. Di ambang pintu, Sarah berdiri dengan gaun merah yang mencolok, wajahnya dihiasi senyum licik yang mematikan.
"Wah, penyambutan yang sangat menyentuh," ujar Sarah sambil bertepuk tangan pelan.
"Tapi apakah kalian sudah memberitahu Shena yang malang, bahwa alasan dia dinikahkan bukan hanya untuk membayar hutang, tapi karena dia adalah pemegang saham tunggal dari tanah tempat pabrik pusat Adiguna berdiri? Tanah yang diwariskan oleh kakek kandungnya, yang selama ini dicuri oleh Ayah Bram?"
Shena berdiri dari kursinya, wajahnya memucat. "Apa maksudmu, Sarah?"
Sarah melangkah mendekati meja makan, menatap adiknya dengan tatapan merendahkan. "Kau kaya raya, Shena. Kau lebih kaya dari Devan jika kau mengklaim hakmu. Itulah alasan Ayah mengirimmu ke sini. Dia ingin kau mati secara 'alami' setelah menikah, sehingga aset tanah itu jatuh ke tangan suamimu, lalu Ayah akan memeras Devan selamanya."
Devan langsung berdiri di depan Shena, melindunginya. "Keluar dari sini, Sarah!"
"Aku akan keluar," sahut Sarah santai, "tapi ingat ini, Shena... Pria yang kau cintai ini, Devan, dan ayahnya... mereka tahu tentang status tanah itu sejak awal. Mereka menerimamu bukan karena kasihan, tapi karena mereka butuh tanah itu agar perusahaan mereka tidak bangkrut."
Shena menatap Devan dengan tatapan yang penuh luka dan keraguan. "Mas... apa itu benar? Apakah kau mencariku ke gang sempit itu karena kau mencintaiku, atau karena kau takut kehilangan aset tanahmu?"
Suasana ruang makan yang tadinya hangat seketika berubah menjadi medan perang yang beku. Devan terpaku, lidahnya kelu.
Kebenaran yang baru saja ia ketahui dari ayahnya ternyata jauh lebih kotor dari yang ia bayangkan, dan sekarang, kepercayaan Shena yang baru saja ia raih kembali, sedang berada di tepi jurang kehancuran.
...****************...