Kisah seorang dokter tentara berpangkat mayor yang jatuh hati kepada seorang apoteker di rumah sakit tempat mereka bekerja waktu pertama kali sang gadis datang wawancara. Mayor Jonathan Benjamin nama sang dokter, dia memiliki seorang anak perempuan usia enam tahun. Bertemu dengan Sophia Abigail seorang apoteker yang sudah memiliki seorang pacar yang adalah CEO David Alexander. Bagaimana kisah mereka???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bulan Madu
Kedua orangtua Sofi sudah kembali ke kalimantan mengurus pekebunan kelapa sawitnya juga kuda - kudanya. Sedangkan orangtua David juga sudah kembali ke Inggris.
"Kapan kalian menggunakan hadiah ku itu??"
"Pekerjaanku dan mas Nathan kan sudah tidak terlalu banyak. Kemungkinan minggu depan."
"Oooooo begitu."
"Kenapa mas tanya begitu, ngak iklas memberi." David langsung menyentil kening Sofi. Dan langsung dia foto.
"Kenapa di foto keningku."
"Ya aku harus lapor kepada suamimu, biar dia tidak memarahi aku."
"Bawel." Max kembali di hiburkan oleh dua orang bosnya.
"Memang mereka itu bukan jodoh. Cocok mereka adik dan kakak. Karena kedekatan kedua orangtua mereka." Setelah mengatakan begitu dia meninggalkan kedua bosnya. Sementara David sudah melapor Nathan kerena menyentil istrinya yang cerewet.
"Kenapa mama??"
"Briel mas."
"Kenapa dia ma??" Nathan langsung menuju kamar Briel disana dimelihat Briel sedang memeluk papa dan menangis dalam pelukan papanya.
"Tante Tia ke sekolah Briel papi??" Nathan langsung memeluk putrinya itu.
"Its oke Briel ada papi, opa dan oma."
"Briel ngak mau mami Sofi sedih papi??" Nathan menangkapi maksud anaknya. Beberapa menit kemudian Sofi sudah berada dirumah dengan menggunakan mobil kantor yang di antar oleh Max. Karena supir kantor sedang menjalankan tugas lain.
Mereka sudah berada di ruangan tamu sekalian ruang keluarga. Briel berada dalam pelukan Sofi. Dia menenangkan Briel. Nathan sudah menghubungi Marlen asisten Chynthia Roger. Dengan memberi teguran. Marlen yang tidak tahu apa yang dilakukan oleh Tia aktrisnya jelas kaget. Dia langsung memperketat supir dan pengawalnya untuk menjaga aktris mereka.
"Kamu gila ya Tia, ini berhubungan dengan hukum. Kamu menelantarkan anak itu. Kamu membuangnya. Kamu ingat itu."
"Aku harus bahagia dengan anak dan papanya."
"Kamu bermimpi Tia. Mimpi. Bangun dan sadar. Kamu dengan surat kuasamu menyuruh saya mengatasi ini. Banyak hal yang sudah kita buat. Yang akan berdampak bagi keselamatan kita berdua Tia. Ingat ini kemauan kamu. Nathan bahkan sudah membujuk kamu. Kamu yang menjebak dia Tia. Ingat itu."Chynthia menangis. Dia menyesal, namun sudah terlambat.
Malam ini Nathan dan Sofi menginap dirumah orangtuanya. Jelas Sofi yang di manjakan oleh mama dan Briel. Mereka bertiga masak bersama. Selesai keluarga kecil ini makan bersama. Papanya Nathan, mertua Sofi merasa bahagia melihat anak - anaknya dan menantunya.
Sebagai guru besar Fakultas hukum disalah satu universitas negeri, jelas dia sudah membentengi keluarganya. Hal - hal yang buruk sudah dia perhitungkan. Meskipun beliau sudah tidak muda lagi namun tetap bertanggung jawab atas keluarganya.
"Mungkin lusa aku dan Sofi berangkat ke Afrika pa, ma."
"Papa, ngak masalah, berangkatlah nak."
"Briel juga ngak masalah. Papi dan mami boleh pergi kan ada oma dan opa yang jaga Briel."
"Kalau mami punya adek, Briel ngak cemburu??"
"Briel punya mama dan papa kan??"
"Benar???"
"Iya. Briel senang kok. Emang mami sudah ada adek disini." Briel memegang perut Sofi.
"Belum, tetapi papi yakin pasti akan ada adek."
"Kalau mami manja sama papi, oma dan opa. Briel ngak marah??"
"Ngak, Briel juga akan manjai mami."
Nathan sudah meniduri anak gadisnya ke kamar. Biasanya yang dilakukan kalau Nathan tidak ada adalah opanya.
"Berapa lama kalian bulan madu, nak??"
"Mungkin dua minggu ma, pa. Selesai dari Afrika, Mungkin mas dan aku mau ke Inggris, karena mamiku ada mau berobat disana ma, pa."
"Iya ma, pa. Nathan nitip Briel lagi."
"Briel itu sudah tanggung jawab mama dan papa nak. Kalian tenang saja."
"Iya kalian baik disana. Pulangnya mama berharap ada kabar bahagia."
"Mama doakan ya."
"Kalian selalu ada dalam doa mama sayang.
"Terima kasih ma." Sofi dipeluk oleh mertuanya. Karena sudah malam. Nathan selesai memperhatikan semua pintu - pintu. Dia langsung mengendong istrinya ke kamar mereka.
Perjalanan empat belas dari Jakarta menuju ke Bandara Internasional Kruger Mpumalanga dengan transit di Pretoria ibu kota di Afrika selatan. Tentu Sofi dijaga oleh suaminya. Penampilan Sofi membuat semua mata melihat ke arahnya. Sifat protektif Nathan pun keluar.
Kruger Park Safari , adalah yang dipilih oleh pasangan suami istri ini. Mereka yang memiliki hobi yang sama dan suka pada tantangan. Padang savana ini adalah yang terbaik di Afrika yang paling sering dijadikan lokasi syuting film-film Hollywood.
Di sana Nathan dan Sophia bisa melihat sekelompok gajah yang hidup bebas. Tetapi, mereka selama berada di Kruger Park Safari didampingi oleh pemandu karena kawasan ini rawan serangan hewan liar. Selain berjalan kaki mereka juga menaiki mobil jeep. Karena padang yang luas maka ketika matahari terbit maupun terbenam bisa mereka nikmati keindahannya. Seperti pada sore ini, Nathan dan Sofi menikmati kopi dan beberapa cemilan kue sambil menikmati keindahan alam disore hari yang langitnya berwarna jingga. Tentu momen ini di abadikan dengan beberapa foto yang di ambil oleh Nathan.
"Papi lagi ngapain???"
"Lagi minum kopi dengan mami."
"Papi indah sekali. Mami bobo ya??"
"Sayang Briel dan mama." Sofi pun berbicara dengan anak sambung serta mertuanya. Ole - ole buat Briel serta mertuanya jelas sudah ada.Bahkan buat anak - anak di apotek dan perusahaan. Meskipun mereka jauh dari Jakarta, namun pekerjaan mereka tetap merela pantau lewat setiap laporan yang diberikan. Nathan baru tahu bahwa di tahu bahwa di punggung belakang istrinya ada tatto, ketika mereka sudah menikah. Namun karena tattonya adalah gambar bunga serta namanya. Pertama Nathan melihat dia kaget, namun dia belum sempat menanyakan alasan dan dimana istrinya tatto.
"Sayang, mas mau nanya, kamu tatto dibelakang itu di mana??"
"Singapore mas."
"Kamu ijin sama mami dan papi??"
"Tidaklah mas. Ngak di ijin sama mereka."
"Kenapa berani??"
"Adek suka, makanya ade cari studio yang bagus. Ade sembunyi itu sebulan dari mereka."
"Sebulan??"
"Iya adek takut, mami itu orangnya tegas mas, dia sayang sama aku. Tetapi dalam bebeapa hal dia jahat." Nathan tersenyum bahkan hampir tertawa.
"Bandel ya kamu dulu??"
"Ngak lah, hanya periang. Makanya kalau adek sudah diam mereka berdua gelisah, bukan hanya mereka orangtua David juga."
"Kenapa harus tatto??"
"Ade suka mas, cantik begitu. Mas marah ya??"
"Ngak. Ngapain mas harus marah. Hanya mas minta hanya ini saja ya. Jangan tamba - tamba lagi."
"Iya hanya ini kok mas."
"Waktu mas sadar kamu ada tatto di tubuhmu dek, mas periksa semua tubuh kamu sampai organ intim kamu juga."
"Mana ada adek tatto disitu??"
"Siapa tahu waktu itu stress." Sofi langsung mengigit suaminya. Dan Nathan memohon ampun kepada istrinya. Nathan melihat istrinya menangis karena kesal dicurigai begitu. Nathan yang merasa bersalah langsung memeluk dan mencium istrinya. Di hapus air mata istrinya dengan ciuman mesranya.
"Mas, mohon maaf sayang. I love you. Mas hanya bercanda sayang. I love you."
"Sophia Abigail Stevanus I love you." Sofi tidak merespon dia mau kerjain suaminya. Nathan berkali - kali mengucapkan perasaan cintanya namun tidak dibalas oleh Sofi. Sampai dia putus asa langsung dia mengendong istrinya dan dibawa ke kamar mereka. Menurut Nathan penyelesaian masalah ini harus di tempat tidur. Nathan langsung menjalankan aksi mesum kepada istrinya. Dengan rayuan dan sentuhan - sentuhan mesra yang membuat Sofi merinding. Maka penyatuan pun terjadi. Berapa gaya mereka lakukan dan pada akhirnya lava kenikmatan punya Nathan tertumpah didalam rahim Sophia istrinya.
"I love you mas."
"Ooooo akhirnya. I love you more sayang. Maafkan masmu ini sayang." Sofi langsung memeluk suaminya.
"Adek bertatto dikit ngak papakan mas. Nanti ade gunakan baju yang tertutup jika bertemu dengan ibu - ibu perwira yang lain."
"Iya sayang, bukan tattonya yang di lihat, tetapi hati kamu sayangku. I love you." Nathan langsung mencium istrinya.
"I love you more mas."