Keputusan itu telah final. Keluarga besar Hartono menemukan anak kandung mereka yang tertukar selama 21 tahun. Tanpa ragu, Mama Linda nyonya Hartono menjemput Rhea dan membawanya pulang ke rumah megah Hartono. Kepulangan Rhea disambut hangat, bahkan Reno kakak tertua, memeluknya penuh kasih. Namun tanpa disadari, mereka melupakan Aresha anak yang telah dibesarkan sejak bayi. Sejak saat itu, Rhea memperlakukan Aresha dengan kejam, menyiksa bahkan menyiksa demi memvalidasi statusnya. Hingga sebuah perjamuan investor berakhir tragedi, Rhea mendorong Stefani adik dari Samba CEO terkaya di negara M hingga koma dan menuduh Aresha. Nyonya Linda mengetahui kebenaran, menghapus semua bukti tetap memilih mengorbankan Aresha demi melindungi anak kandungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon richa dhian p., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Tanpa Jalan Mundur
"Pengacara Delon." Aresha melepaskan gengaman tangan Delon.
Sentuhan itu terputus, namun kenangan justru menyeruak tanpa ampun. Delon terpaku, sementara Aresha melangkah mundur setengah langkah, menjaga jarak yang kini terasa asing. Kenangan masalalu muncul dibenak keduanya, Delon adalah kekasih masalalu Aresha yang kini telah menjadi tunangan Rhea. Ingatan itu membawa mereka kembali ke gazebo taman kediaman Hartono tempat di mana janji pernah diucapkan dengan penuh keyakinan.
Di sana, di bawah cahaya senja, Delon tersenyum hangat.
"Ini gelang kebruntungan yang aku buat untukmu."
Delom mamasangkan gelang di pergelangan tangan Aresha.
"Terukir namamu di bagian belakang," Tambahnya.
Aresha kecil tersenyum manja, menggenggam tangan Delon erat-erat.
"Delon, jangan lupakan apa yang kam janjikan kepadaku, ketika kamu menjadi pengacara hebat, datanglah kerumahku untuk melamarku." Jawab Aresha dengan manja, sunggu berbeda dengan sekarang.
"Iya, siapa yang berani menindasmu di masa depan, aku akan mengirimnya kepenjara." Jawa Delon sembil mengelus rambut Aresha dengan lembut.
" Aku hanya setia padamu saja, kamu tanggung jawabku dimasa depan." Delon memeluk Aresha dengan lembut.
Kenangan itu pecah seketika.
"Apakah dia menyalahkanku."Batin Delon
Delon terperanjat dari kenangan masalalunya bersama Aresha. Dadanya terasa sesak. Tatapannya kembali ke masa kini—pada Aresha yang berdiri dengan wajah dingin, jauh berbeda dari gadis yang dulu ia janjikan masa depan.
“Aresha bagaimana kondisimu seperti ini?” Tanya Delon dengan wajah khawatir.
Pertanyaan itu terdengar tulus, namun justru menjadi pisau yang menusuk hati Aresha. Ia mengangkat wajahnya perlahan, menatap Delon dengan mata yang dipenuhi amarah dan luka yang belum sembuh.
“Pengacara Delon apakah kamu lupa? empat tahun lalu kamu mengirimku kepenjara.” Ucap Aresha dengan nada amarah.
Ucapan itu seketika menyeret Delon ke masa lalu yang selama ini dia kubur rapat. Ingatan itu kembali dengan jelas terlalu jelas seolah waktu memutar ulang tragedi yang tak pernah benar-benar selesai.
Ruang sidang empat tahun lalu.
Udara di dalam ruangan terasa dingin dan menekan. Aresha berdiri di kursi terdakwa dengan tangan gemetar, matanya memerah menahan air mata. Di hadapannya, Delon berdiri sebagai pengacara penuntut, mengenakan setelan rapi dan wajah profesional yang asing bagi Aresha.
“Aresha mendorong Stefani, bahwa Aresha juga berperilaku buruk, ini bukti kejadian yang tertinggal di tempat kejadian.” Suara Delon terdengar tegas, tanpa keraguan. Ia mengangkat sebuah barang bukti—sebuah gelang.
Delon memperlihatkan barang bukti yang dibawanya berupa gelang, gelang yang berukir nama Aresha terukir dibelakangnya.
"Gelang itu." Batin Aresha
Gelang yang pernah dia buat sendiri. Gelang yang dulu dipasangkan Delon di pergelangan tangannya dengan janji perlindungan.
Aresha membeku.
Dari kursi belakang Sambaa memperhatikan sidang dengan wajah dingin. Tangan Stefani menggenaggam erat hingga kukunya meusuk telapak tanganya.
“Silahkan hakim untuk memutuskan.”
Aresha menoleh. Matanya bertemu dengan Delon. Air mata mengalir tanpa bisa dia tahan.
Aresha menatap Delon dengan berlinang air mata, tatapanya sangat kecewa, sedangkan Delon hanya berani menatap Aresha sekilas lalu menundukan kepalanya, menghidari tatapan Aaresha.
Bagi Aresha, sikap itu lebih menyakitkan daripada tuduhan apa pun. dia tidak memohon. dia hanya ingin Delon melihatnya percaya padanya sekali saja.
Namun yang terdengar justru suara palu hakim.
“Keputusan pengadilan Aresha bersalah atas tudukan mencelakai orang dengan sengaja, dihukum sepuluh tahun penjara, tok..tok..tok.”
Suara itu memecah hidupnya.
Diruang pengadilan yang mendekam senyum licik dan kepuasan Rhea terlihat nyata, Reno dan lainya merasa tegang dengan keputusan yang diambil hakim.
Rhea tersenyum. Senyum kecil yang penuh kemenangan. Aresha melihatnya. dia tidak akan pernah lupa.
“Delon kamu berbohong.” Suara Aresha pecah ketika petugas menyeretnya pergi. Tangannya diborgol, tubuhnya gemetar, namun matanya tetap menatap Delon.
“Pengacara itu sudah disogok oleh Rhea, kenapa kamu berbohong, siapakah aku!” Teriak Aresha.
Jeritan itu menggema di ruang sidang, namun tidak ada yang membelanya.
“Jangan jebak Rhea, Rhea hanya wanita lemah. Saya khawatir diatidak sanggup menahan penderitaan di penjara.” Ucap Delon degan wajah panik.
Kata-kata itu seperti hukuman kedua. Rhea tambah melebarkan senyumanya di kursi belakang.
Bagi Aresha, saat itu segalanya runtuh.
Kembali ke pesta.
“Aresha, kamu salah duluan, bahkan jika itu orangtuaku aku akan melakukan hal yang sama.” Ucap Delon masih membela diri, bahwa yang dilakukanya adalah benar.
Kalimat itu membuat Aresha tersenyum pahit.
“Untuk melindungi pembunuh sebenarnya aku harus mengatakan apa?” Tambah Delon.
Belum sempat Aresha menjawab, Reno menyela dengan emosi yang kembali memuncak.
“Delon, kamu tidak perlu menjelaskan kepadanya, bukanya kamu hanya iri Rhea bukan yang pergi?” Sahut Reno dengan nada kesal.
Ia melangkah mendekat, menatap Aresha dengan tatapan merendahkan.
“Sengaja menimulkan masalah dipesta, apakah kamu ingin mempermalukanya?” Reno semakin kesal.
“Aresha kamu telah menghabiskan empat tahun di penjara, kamu tidak bisa memahami kegembiraan kelulusan Rhea.” Tatapan tajam Delon tertuju pada Aresha. Tidak ada empati di sana, hanya penilaian.
" Empat tahun, Empat tahun yang dicuri darinya"Aresha menahan napas.
“Delon.” Panggil Rhea dari belakang.
Delon langung menoleh kearah Rhea yang sudah memasang wajah memelas.
Pemandangan itu terasa familiar. Selalu seperti ini. Satu panggilan, dan Delon akan berpaling.
“Aresha, mama tahu apa yang kamu khawatirkan.” Mama berjalan mendekat meraih tangan Aresha. Sentuhan itu lembut, penuh rasa bersalah yang terlambat.
“Bahkan jika kamu di penjara,tidak pernah kuliah, kamu akan selalu menjadi putri tertua keluarga Hartono.” Kalimat itu membuat Aresha semakin kacau.
Aresha langsung melepaskan gengaman tangan, Mama dia seakan tidak sudi tanganya disentuh.
Di tengah pesta yang meriah itu, Aresha berdiri sebagai satu-satunya orang yang membawa kebenaran, kebenaran yang selama ini dikubur, ditertawakan, dan disangkal. Namun kali ini, ia tidak akan diam.
Beberapa tamu mulai berbisik, sorot mata mereka bergantian tertuju pada Aresha, Delon, dan Rhea. Musik masih terdengar, namun tak ada lagi yang benar-benar menikmatinya.
“Aresha, hentikan,” ujar Delon dengan suara ditekan.
“Ini bukan tempat yang tepat.” Tambahnya.
Aresha tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak mengandung kehangatan. “Lalu menurutmu, kapan tempat yang tepat?” tanyanya dingin.
“Empat tahun lalu? Atau setelah aku hancur sepenuhnya?”Suaraya tegas.
“Kamu selalu pandai memutarbalikkan keadaan,” Reno melangkah maju satu langkah.
“Kamu sudah dihukum. Bukankah seharusnya kamu bersyukur masih bisa berdiri di sini?”katanya tajam.
“Bersyukur?” Aresha tertawa pelan, namun tawa itu terdengar rapuh.
“Aku kehilangan masa mudaku, pendidikanku, dan namaku. Apa yang harus kusyukuri?” Tambahnya
Rhea menggenggam lengan Delon, suaranya gemetar. “Kak Reno, aku takut… aku tidak ingin pesta kelulusanku berubah seperti ini.” Ucapan itu membuat Reno semakin murka.
“Kamu dengar?” bentaknya pada Aresha.
“Kamu membuatnya takut!” Tambah Reno
Aresha menatap Rhea lurus-lurus.
“Takut karena apa?” tanyanya pelan.
“Karena kebenaran akan muncul?”Tambah Aresha.
Delon terdiam. Rahangnya mengeras. Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara. Ketegangan itu menggantung, berat, seolah satu kata saja bisa membuat segalanya runtuh.
Dan Aresha tahu malam ini, tidak ada lagi jalan untuk mundur.
***
***