NovelToon NovelToon
Kisah Nyata- Suamiku Berubah Setelah Kaya

Kisah Nyata- Suamiku Berubah Setelah Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Pihak Ketiga / Pelakor jahat / Wanita Karir / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Ia dulu berdoa agar suaminya kaya.
Ia tak pernah membayangkan doa itu justru menjadi awal kehancuran rumah tangganya.

Naura menikah dengan Zidan saat mereka hanya punya cinta, iman, dan sepiring nasi sederhana. Mereka menangis bersama di sajadah lusuh, bermimpi tentang hidup yang lebih layak. Ketika Allah mengabulkan, Zidan berubah. Kekayaan menjadikannya asing. Ibadah ditinggalkan, wanita lain berdatangan, tangan yang dulu melindungi kini menyakiti.

Naura dibuang. Dihina. Dilupakan.

Bertahun-tahun kemudian, Naura bangkit sebagai wanita kuat. Sementara Zidan kehilangan segalanya.

Saat Zidan kembali dengan penyesalan dan permohonan, satu pertanyaan menggantung:

Masih adakah pintu yang terbuka…
atau semua telah tertutup selamanya?

Dan ini adalah kisah nyata.

(±120 kata)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Kehamilan Naura

#

Pagi itu Naura bangun dengan perut yang mual luar biasa. Dia langsung lari ke kamar mandi sambil nutup mulut. Begitu sampai di depan bak mandi, dia muntah hebat. Isi perutnya keluar semua. Nasi yang dimakan semalam. Air. Semuanya keluar.

"Ueekkk... ueekkk..."

Tubuhnya lemes. Kepalanya pusing berputar. Keringat dingin mengucur di kening. Dia duduk di lantai kamar mandi yang lembab sambil napas tersengal sengal.

Ini hari ketiga dia muntah kayak gini. Kemarin juga. Kemarin lusanya juga. Awalnya dia pikir mungkin masuk angin. Atau makan yang nggak beres. Tapi muntahnya terus menerus. Setiap pagi. Bahkan kadang siang dan malam juga.

Naura mencoba berdiri dengan berpegangan pada dinding. Kakinya masih gemetaran. Dia cuci mulut berkali kali biar rasa pahit di lidah hilang. Tapi tetep aja masih kerasa.

Dia keluar dari kamar mandi dengan langkah pelan. Zidan yang baru bangun langsung panik begitu lihat wajah istrinya yang pucat pasi.

"Naura! Kamu kenapa? Mukamu pucat banget!" Zidan langsung berdiri dari kasur terus pegang pundak istrinya.

"Aku... aku muntah lagi Mas. Udah tiga hari kayak gini."

"Tiga hari? Kenapa baru bilang sekarang? Kamu sakit apa? Ayo kita ke puskesmas sekarang!"

"Nggak usah Mas. Mungkin cuma masuk angin. Nanti juga sembuh sendiri."

"Masuk angin mana ada yang sampai tiga hari? Ayo kita pergi sekarang! Aku khawatir!"

Naura mau nolak tapi Zidan udah nyiapin motor. Akhirnya dia nurut. Mereka berangkat ke puskesmas terdekat dengan Naura yang memeluk pinggang suaminya erat karena badannya masih lemes banget.

Di puskesmas, mereka harus antre lumayan lama. Banyak pasien yang udah datang dari pagi. Naura duduk di kursi plastik sambil nunduk. Kepalanya masih pusing. Perutnya masih mual.

Zidan duduk di sampingnya sambil terus perhatiin istrinya dengan khawatir. Tangannya nggak lepas dari tangan Naura. Sesekali dia usap punggung istrinya pelan.

"Sabar ya sayang. Sebentar lagi dipanggil."

Naura cuma ngangguk pelan. Nggak kuat buat ngomong banyak.

Satu jam kemudian, nama Naura dipanggil. Mereka masuk ke ruang periksa yang kecil dan pengap. Bau obat obatan menyengat hidung. Di dalam ada dokter perempuan muda yang ramah. Namanya Bu Dokter Ratna.

"Selamat pagi. Nama Ibu Naura ya? Kenapa hari ini?"

"Saya muntah muntah terus Dok. Udah tiga hari. Setiap pagi pasti muntah. Kadang siang sama malam juga."

Bu Dokter Ratna mengangguk sambil catat di kertas. "Ibu sudah menikah?"

"Sudah Dok."

"Berapa lama?"

"Hampir... hampir tiga bulan Dok."

"Haid terakhir kapan?"

Naura terdiam. Dia coba inget inget. "Eh... saya... saya nggak inget Dok. Kayaknya udah lama nggak haid. Mungkin... mungkin udah sebulan lebih."

Bu Dokter Ratna tersenyum tipis. "Ibu, kemungkinan besar Ibu hamil."

Dunia berhenti sedetik.

Naura melotot. Mulutnya terbuka tapi nggak ada suara yang keluar. Zidan yang duduk di samping langsung berdiri dengan mata membelalak.

"Hamil? Istri saya hamil Dok?"

"Kemungkinan besar. Tapi untuk memastikan, kita cek dulu pakai testpack ya."

Bu Dokter Ratna memberikan alat testpack ke Naura sambil jelasin cara pakainya. Naura terima dengan tangan gemetar. Dia masuk ke kamar mandi kecil di samping ruangan sambil jantung berdebar kayak mau copot.

Hamil.

Dia mungkin hamil.

Ada anak di dalam perutnya.

Tangan Naura gemetar waktu dia pakai testpack itu. Lima menit dia tunggu dengan napas tertahan. Zidan nunggu di luar sambil jalan mondar mandir dengan gelisah.

Lima menit berlalu.

Naura lihat hasilnya.

Dua garis.

Positif.

Dia hamil.

Air matanya langsung jatuh. Tangan yang memegang testpack itu gemetar hebat. Dadanya sesak tapi bukan karena sedih. Ini sesak karena bahagia. Bahagia yang luar biasa.

"Ya Allah... ya Allah... aku hamil. Aku hamil..."

Dia keluar dari kamar mandi sambil nangis. Zidan yang lihat langsung panik.

"Naura! Kenapa nangis? Kenapa?"

Naura cuma nunjukin testpack itu sambil terus nangis. Zidan ambil testpack itu dari tangan istrinya. Dia lihat dua garis di sana.

Positif.

Kakinya lemes.

Dia jatuh duduk di kursi sambil menatap testpack itu dengan mata yang berkaca kaca.

"Kita... kita punya anak? Kita... kita akan punya anak?"

Naura ngangguk sambil nangis. "Iya Mas. Kita akan punya anak."

Zidan langsung berdiri terus peluk istrinya erat erat sambil nangis. Nangis keras di pundak Naura. Nangis bahagia. Nangis haru. Nangis yang nggak bisa ditahan lagi.

"Alhamdulillah... Alhamdulillah ya Allah... terima kasih... terima kasih udah kasih kami titipan..."

Mereka berpelukan di ruangan itu sambil nangis berdua. Bu Dokter Ratna yang lihat itu cuma tersenyum sambil berdehem pelan.

"Ehm. Selamat ya Pak, Bu. Selamat atas kehamilannya. Sekarang kita cek kondisi kandungannya ya."

Naura diminta berbaring di tempat tidur periksa. Bu Dokter Ratna periksa perut Naura dengan lembut sambil nanya macem macem. Udah berapa lama hamil, ada keluhan apa aja, pola makan gimana.

"Ibu hamil sekitar enam sampai tujuh minggu. Masih sangat muda. Mual muntah itu wajar karena hormon kehamilan. Nanti akan berkurang setelah trimester pertama selesai. Yang penting Ibu harus jaga pola makan. Makan bergizi. Istirahat cukup. Jangan kecapekan."

Zidan yang dengerin langsung ngangguk ngangguk. "Iya Dok. Saya akan jaga istri saya baik baik."

"Bagus. Nanti saya kasih vitamin untuk ibu hamil. Diminum rutin ya Bu. Terus periksa lagi sebulan kemudian."

"Baik Dok. Terima kasih."

Selesai dari puskesmas, mereka dapat resep vitamin dan surat keterangan hamil. Di kasir, mereka harus bayar tiga puluh ribu rupiah untuk biaya periksa plus vitamin. Zidan bayar dengan uang yang kemarin dia dapat dari kerja parkir.

Mereka pulang naik motor dengan hati yang penuh syukur. Naura peluk pinggang Zidan dari belakang sambil senyum senyum sendiri. Tangannya dia letakkan di perutnya yang masih rata.

"Ada kamu di sini. Anak Ibu. Anak Ayah. Tunggu ya Nak. Ibu akan jaga kamu dengan baik."

Sampai di kontrakan, Zidan langsung matiin motor terus angkat Naura dari motor kayak pengantin baru.

"Mas! Mas ngapain sih! Turunin!" Naura teriak sambil ketawa.

"Kamu sekarang hamil. Nggak boleh capek capek. Ayah yang akan jaga kamu dan dedek bayi." Zidan jalan sambil senyum lebar.

Dia masuk ke kontrakan terus rebahkan Naura di kasur dengan hati hati banget. Kayak Naura itu barang pecah belah yang rapuh.

"Mas lebay banget sih." Naura ketawa sambil mukul lengan suaminya pelan.

"Nggak lebay. Ini serius. Mulai sekarang kamu nggak boleh kerja jahit lagi. Nggak boleh ngangkat ngangkat barang berat. Nggak boleh begadang. Kamu harus istirahat yang banyak."

"Tapi kalau aku nggak jahit, uang dari mana Mas? Kita butuh uang buat beli makan, buat bayar kontrakan, buat..."

"Aku yang akan kerja lebih keras. Aku yang akan cari uang. Kamu cukup jaga kandungan kamu. Jaga anak kita. Itu udah lebih dari cukup."

Naura menatap suaminya dengan mata berkaca kaca lagi. "Mas... tapi Mas udah kerja tiga tempat. Nggak mungkin bisa lebih keras lagi. Nanti Mas sakit."

Zidan duduk di pinggir kasur sambil pegang tangan istrinya. "Aku akan cari cara. Yang penting kamu dan anak kita sehat. Itu yang paling penting."

Sore harinya, setelah Zidan pulang kerja dari sopir angkot, dia langsung beli nasi bungkus dua bungkus yang isinya nasi putih, ayam goreng, sayur, dan kerupuk. Harganya lima belas ribu. Mahal. Tapi dia nggak peduli. Istrinya butuh makanan bergizi sekarang.

"Naura, ayo makan. Aku beliin yang enak buat kamu sama dedek bayi."

Naura lihat nasi bungkus itu dengan mata yang langsung berkaca kaca. "Mas... ini mahal. Nggak usah gini gini amat."

"Kamu hamil. Kamu butuh nutrisi. Ayo makan. Jangan banyak nolak."

Mereka makan berdua dengan senyum di wajah. Naura makan dengan lahap karena memang lapar banget. Zidan yang lihat istrinya makan dengan lahap jadi seneng sendiri. Dia nggak terlalu makan banyak. Cukup sedikit aja. Sisanya buat Naura.

"Mas kok nggak makan banyak? Ayamnya dimakan Mas."

"Aku udah kenyang. Kamu yang makan."

"Tapi..."

"Udah, nggak usah banyak bacot. Makan yang banyak."

Naura akhirnya nurut. Dia makan sampai habis dua bungkus nasi itu sendirian. Perutnya kenyang banget. Ini pertama kali dalam beberapa bulan dia makan sampai kenyang.

Setelah selesai makan, mereka sholat Maghrib berjamaah. Selesai sholat, Zidan duduk bersimpuh lama di sajadah. Naura yang udah selesai dzikir ngeliatin suaminya yang masih duduk diam dengan kepala tertunduk.

"Mas, kenapa? Nggak mau berdiri?"

"Sebentar ya sayang. Aku mau doa dulu."

Naura ngangguk terus berdiri. Dia pergi ke sudut ruangan buat nyalain kompor minyak buat masak air.

Zidan masih duduk di sajadah sambil mengangkat kedua tangannya. Matanya menutup. Air mata mulai mengalir pelan.

"Ya Allah... ya Allah yang Maha Kaya. Ya Allah yang Maha Pemberi Rezeki. Hamba bersyukur ya Allah. Bersyukur Engkau karuniai hamba istri yang sholehah. Bersyukur Engkau karuniai hamba calon anak. Tapi ya Allah... hamba takut. Hamba takut nggak bisa nafkahin mereka dengan layak. Hamba takut nggak bisa kasih mereka kehidupan yang baik."

Suaranya mulai bergetar.

"Ya Allah... hamba mohon. Hamba mohon dengan sangat. Kayakanlah hamba ya Allah. Berikanlah hamba kekayaan. Berikanlah hamba harta yang banyak. Bukan buat foya foya ya Allah. Bukan buat sombong. Tapi buat nafkahin keluarga hamba. Buat kasih makan istri dan anak hamba dengan layak. Buat berobatin ibu mertua hamba sampai sembuh. Buat hidup yang lebih baik."

Air matanya makin deras.

"Ya Allah, kalau Engkau beri hamba kekayaan, hamba janji. Hamba janji akan lebih taat. Hamba akan sholat lima waktu nggak pernah bolong. Hamba akan puasa sunnah. Hamba akan sedekah banyak banyak. Hamba akan bangun masjid. Hamba akan bantu orang orang miskin. Hamba akan jadi hamba yang lebih baik. Hamba janji ya Allah. Hamba janji..."

Dia sujud sambil terisak.

"Seperti sahabat Nabi dulu yang Engkau beri kekayaan luar biasa karena dia minta dan dia gunakan untuk kebaikan, hamba juga minta ya Allah. Kayakanlah hamba. Suksesinlah hamba. Jadikan hamba orang yang beruntung di dunia dan akhirat. Aamiin ya Rabbal alamin..."

Dia duduk lagi sambil mengusap air mata. Dadanya masih sesak. Tangannya masih gemetar.

"Ya Allah, hamba nggak minta yang muluk muluk. Hamba cuma minta bisa kasih makan keluarga hamba tiga kali sehari dengan layak. Cuma minta bisa bayar kontrakan tanpa khawatir. Cuma minta bisa beli baju buat istri dan anak hamba. Cuma itu ya Allah. Aamiin..."

Dia berdiri dengan pelan terus gulung sajadah. Dia usap mata yang masih basah. Dia tarik napas panjang biar tenang.

Naura yang dari tadi denger doanya dari jauh cuma bisa nangis diam diam. Dia nggak nyangka suaminya sedoa panjang kayak gitu. Sedoa dengan penuh air mata. Dengan penuh harapan.

Malam harinya, setelah makan malam seadanya dengan nasi dan telur ceplok satu buat berdua, mereka berbaring di kasur sambil ngobrol pelan.

Zidan memeluk Naura dari samping. Tangannya dia letakkan di perut istrinya yang masih rata. Dia usap usap pelan dengan penuh sayang.

"Dedek bayi... ini Ayah. Ayah sama Ibu udah nggak sabar ketemu kamu. Kamu harus tumbuh sehat ya di dalam perut Ibu. Jangan nakal. Jangan bikin Ibu sakit. Ayah sayang kamu. Sayang banget."

Naura tersenyum sambil ikut usap perutnya. "Ibu juga sayang dedek. Nanti kalau dedek udah lahir, Ibu akan jaga dedek dengan baik. Ibu akan kasih ASI yang banyak. Ibu akan gendong dedek setiap hari. Ibu akan..."

Suaranya terhenti karena nangis lagi.

Zidan langsung peluk istrinya. "Kenapa nangis?"

"Aku... aku takut Mas. Aku takut nggak bisa jadi ibu yang baik. Aku takut nggak bisa kasih nutrisi yang cukup buat dedek karena kita... karena kita..."

"Ssshh. Jangan mikir kayak gitu. Kamu akan jadi ibu yang luar biasa. Aku yakin. Dan soal nutrisi, aku akan usahain. Aku janji."

"Tapi Mas udah capek banget kerja tiga tempat. Aku nggak mau Mas tambah capek lagi."

Zidan menatap mata istrinya dalam. "Dengar ya. Mulai sekarang, aku punya tiga orang yang harus aku jaga. Kamu, dedek bayi, sama ibu mertua aku. Aku nggak boleh lemah. Aku nggak boleh menyerah. Aku harus kuat. Aku harus sukses."

Dia cium kening istrinya lembut.

"Aku janji sama kamu. Suatu hari nanti, kita akan hidup lebih baik. Kita akan punya rumah sendiri. Kita akan bisa makan enak setiap hari. Dedek bayi kita akan sekolah di sekolah yang bagus. Kita nggak akan hidup susah kayak sekarang selamanya."

Naura menatap suaminya dengan mata penuh cinta. "Aku percaya Mas. Aku percaya sama Mas."

Zidan tersenyum tipis terus geser tubuhnya ke bawah. Dia sandarkan kepalanya di perut Naura. Telinganya dia tempelkan di sana. Meski nggak kedengeran apa apa, dia ngebayangin ada anak kecil di dalam sana. Anak mereka. Darah daging mereka.

"Dedek... ini Ayah lagi. Ayah mau bilang sesuatu. Tunggu ya Nak. Tunggu Ayah jadi sukses. Ayah akan kerja keras banget. Ayah akan cari uang sebanyak banyaknya. Biar waktu kamu lahir, kamu nggak kekurangan apa apa. Kamu bisa makan enak. Kamu bisa punya mainan. Kamu bisa sekolah. Ayah janji. Ayah akan sukses. Demi kamu."

Dia cium perut istrinya berkali kali sambil nangis pelan.

Naura yang ngeliat itu ikut nangis. Tangannya dia letakkan di kepala suaminya, mengusap rambut yang udah agak panjang karena nggak pernah sempet potong.

"Ya Allah... terima kasih udah kasih aku suami seperti Mas Zidan. Suami yang sayang keluarga. Suami yang mau berjuang. Ya Allah, kabulkanlah doanya. Suksesinlah dia. Berikanlah kami kehidupan yang lebih baik. Aamiin."

Malam itu mereka tertidur dengan pelukan erat. Dengan hati yang penuh harapan. Dengan doa yang terus dipanjatkan.

Doa untuk kesuksesan.

Doa untuk kekayaan.

Doa yang akan dikabulkan Allah.

Tapi bukan dengan cara yang mereka bayangkan.

Bukan dengan kebahagiaan seperti yang mereka harapkan.

Melainkan dengan ujian yang akan menghancurkan segalanya.

Ujian yang akan mengubah Zidan dari lelaki soleh menjadi monster yang rakus.

Ujian yang akan membuat Naura kehilangan segalanya.

Tapi mereka tidak tahu.

Mereka masih polos.

Masih tulus.

Masih percaya bahwa kekayaan akan membawa kebahagiaan.

Padahal kekayaan itu justru akan menjadi awal dari kehancuran total mereka.

Tapi Allah Maha Tahu.

Allah sudah punya rencana.

Dan rencana itu sudah dimulai.

Pelan.

Tapi pasti.

1
checangel_
Jangan heran, Zidan. Hidup di perkampungan memang seperti itu, jadi harus sabar seluas samudera 🤝
checangel_
Andai saja saat itu mereka terdaftar dalam KIS 🤧
checangel_
lebih tepatnya melawan ego diri sendiri dari setiap orang yang datang dan juga pergi🤧
checangel_
Lagi dan lagi-lagi ku mendengar janji 🤣, sudahi janji-janji itu bisa nggak🤧, biasanya yang berbau janji, hanya bergeming di perbatasan antara luka dan bahagia
Ema Susanti
cerita ini real bget, terjadi di kehidupanku. sampe aku di ceraikan karena wanita lain yang berstatus janda dan berkedok pula teman kerja.
aa ge _ Andri Author Geje: iya kak.. ini juga kayak gini cerita nya semua karna harta orang bisa lupa
total 1 replies
ceuceu
Bayar bunga doang 2 juta tapi hutang tetep blm kebayar,itulah makanya jgn pinjem rentenir selain dosa besar tap nyekek.
ceuceu
Naura suami pulang kerja jgn ngadu yg bikin hati suami sakit,ademin suami klo pulang kerja,nanti ceritanya klw udah santai.
ceuceu
Naura knp ga jagain ibunya dirumah sakit?
kasihan ibunya stroke ga ada yg jaga
ceuceu
kok malam abis penyatuan subuh langsung wudhu?
harusnya mandi hadast besar dulu thor,ini mah mandinya pagi sebelum kerja
aa ge _ Andri Author Geje: makasih dah ingetin revisi
total 2 replies
checangel_
Bentar, nggak ada KIS kah?
aa ge _ Andri Author Geje: bisa di bilang kan belum semua nya dapat
total 2 replies
checangel_
No, jangan lebih dari apa pun! Ingat, karena yang lebih hanya milik Allah 😇
checangel_
Gimana tuh nangis dalam diam? 🤧
aa ge _ Andri Author Geje: pura pura kelilipan lahhh🤣
total 3 replies
checangel_
الله اكبر
checangel_
Begitulah perasaan wanita, jika sudah terluka, walaupun hanya sebatas omongan tetangga/Facepalm/, tapi .... kembali lagi pada pribadi yang kuat dan tentunya cuek aja🤭
checangel_
Komitmenmu harus abadi ya, Mas Zidan 🤝
aa ge _ Andri Author Geje: semoga aja...tapi ya namanya manusia

Indosat (ingat doa saat gelap)
lupa akan prosesnya
total 1 replies
checangel_
Anggap saja kehadiran mereka seperti angin lewat yang tak pernah ada (abaikan jangan diambil pusing perkataan mereka yang tak penting)/Facepalm/
checangel_
Wah, pernikahan islami yang indah 😇, berbeda dengan realita zaman sekarang ...... tahulah seperti apa keadaan latar panggungnya /Facepalm/
checangel_
Biasalah, anggap saja riuh mereka seperti iklan drama lewat (cuek aja, dengarkan lalu hempaskan)/Hey//Facepalm/
checangel_
Yang bener Mas Zidan?/Chuckle/
aa ge _ Andri Author Geje: begitu lah relalita kehidupan nya
total 1 replies
checangel_
Kata hati memang selalu tepat sih, tapi tak semua 🤧
aa ge _ Andri Author Geje: benar
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!