NovelToon NovelToon
Gue Jadi Figuran?

Gue Jadi Figuran?

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Angst / Transmigrasi ke Dalam Novel / Selingkuh / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Fantasi Wanita
Popularitas:11.9k
Nilai: 5
Nama Author: eka zeya257

Seyra Avalen, gadis bar-bar yang hobi balapan liar tak pernah menyangka jika kejadian konyol di hidupnya justru membuat dia meninggal dan terjebak di tubuh orang lain.

Seyra menjadi salah satu karakter tidak penting di dalam novel yang di beli sahabatnya, sialnya dia yang ingin hidup tenang justru terseret ke dalam konflik para pemeran utamanya.

Bagaimana Seyra menghadapi kehidupan barunya yang begitu menguras emosi, mampukah Seyra menemukan happy ending dalam situasinya kali ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Arthur tersenyum miris. "Gue nggak bisa maksa lo percaya. Tapi gue bisa buktiin."

"Gimana caranya?"

"Gue bakal berhenti main taruhan. Gue bakal bilang ke semua temen gue kalo gue serius sama lo. Dan kalo lo mau, gue bakal kenalin lo ke bokap gue sebagai pacar gue. Bukan sebagai bahan cerita."

Seyra terdiam.

Hatinya berantakan. Bagian dirinya ingin marah, ingin menampar Arthur karena berani menjadikannya taruhan. Tapi bagian lain yang lebih jujur dia mengakui bahwa setiap perhatian kecil Arthur selama ini bukan sesuatu yang dibuat-buat.

"Kalo waktu itu gue nolak lo mentah-mentah?" tanya Seyra tiba-tiba.

"Gue tetep bakal ngejar."

"Kalo gue tau soal taruhan itu dari orang lain?"

Arthur menunduk. "Lo pasti ninggalin gue. Dan gue bakal nyesel seumur hidup."

Seyra menghela napas panjang. "Gue benci dibohongin, Ar."

"Gue tau."

"Gue juga benci jadi bahan taruhan."

"Gue tau." Suaranya makin pelan. "Gue minta maaf, Sey."

"Tapi…" Seyra menggigit bibirnya sendiri sebelum melanjutkan, "gue lebih benci kalo ternyata semua yang lo lakuin ke gue cuma pura-pura."

Arthur menatapnya cepat. "Itu nggak pernah pura-pura."

Seyra mendekat satu langkah, jarak mereka kini hanya beberapa sentimeter. "Buktikan."

Arthur mengernyit bingung. "Sekarang?"

"Iya. Sekarang."

Arthur terlihat gugup untuk pertama kalinya malam itu. "Gimana caranya?"

Seyra menatap lurus ke matanya. "Tatap gue. Dan bilang lagi kalo lo jatuh cinta sama gue. Tanpa sembunyiin muka, tanpa sandarin kepala, tanpa drama lompat gedung."

Arthur terdiam. Jantungnya berdegup keras, bahkan Seyra bisa melihat naik turunnya dadanya.

"Seyra," ucapnya mantap. "Gue..."

Hening.

Seyra menatapnya lama sekali, mencoba mencari celah kebohongan di wajah itu. Tapi yang ia temukan hanya ketakutan dan harap yang bercampur. Ketika menyadari jika Arthur tak sanggup melanjutkan ucapannya, Seyra terkekeh.

"Lo nyebelin," gumamnya akhirnya.

Arthur tersenyum miris. "Gue tau, kasih gue waktu supaya bisa mastiin perasaan gue buat lo."

"Lo bodoh."

"Iya."

"Dan lo bego banget udah jadikan gue taruhan."

Arthur mengangguk tanpa protes. "Banget."

Seyra menarik tangannya dari genggaman Arthur membuat pemuda itu menegang seketika.

"Gue setuju untuk nggak putus."

Arthur membeku. "Hah?"

"Gue nggak bilang gue maafin lo sepenuhnya," lanjut Seyra cepat sebelum Arthur salah paham. "Lo tetep harus bayar kesalahan lo."

"Bayar gimana?" Arthur menatap waspada.

Seyra menyeringai tipis. "Lo bakal tahu nanti."

Sesaat mereka sama-sama terdiam, hingga hujan reda dan Arthur pamit untuk kembali ke rumahnya.

Seyra menatap punggung Arthur yang berjalan gontai menuju pintu keluar, dia tidak menyangka pemuda itu akan jujur secepat ini padanya bahkan dia menolak putus dengannya.

"Semoga dia nggak suka beneran sama gue?" harap Seyra ada dirinya sendiri.

***

Arthur baru saja tiba di rumahnya, dia membuka pintu kamarnya dan mendapati seorang remaja laki-laki sedang duduk di sofa sambil bersandar pada sandaran sofa.

Arthur melempar ranselnya ke sembarang arah, "Ngapain lo di kamar gue?!"

"Gue nungguin lo pulang, Kak."

Senyum hambar Arthur berikan pada pemuda yang merupakan adik tirinya, Gionathan. Dia anak dari istri baru ayahnya. Arthur merupakan anak broken home, ibunya sudah meninggal dan kini dia hidup bersama ayah dan ibu tirinya serta Gio.

"Keluar dari kamar gue!" usir Arthur seraya melangkah menuju ranjang.

Namun, Gio tak bergeming. "Lo dari mana hujan-hujan begini, Kak?"

"Nggak usah ikut campur, keluar sekarang sebelum gue lempar lo dari balkon! Dan satu lagi, gue bukan kakak lo!"

Dengan berat hati Gio melangkah keluar kamarnya, dia menoleh sejenak saat membuka pintu. Setelahnya dia menutup pintu dengan rapat, tanpa menimbulkan suara.

Di depan pintu, Gio menghela napas berat sudah dua tahun lamanya dia tinggal satu atap dengan Arthur tapi hubungan mereka tk sedikit pun membaik.

"Gue harap ada kesempatan buat gue memperbaiki hubungan kita, Kak." Gumamnya lirih.

***

Malam ini Valeri berniat mengunjungi rumah sahabatnya, dia mengendarai mobil ibunya dengan kecepatan sedang. Tanpa dia sadari, gerombolan anak geng motor tengah mengintainya sejak tadi.

Deruman motor di belakang mobilnya membuat Valeri menoleh dan melihat dari kaca spion, dia melihat anggota geng motor sedang mengejarnya dari arah belakang.

Dari lambang yang tertera di jaket yang mereka kenakan, Valeri yakin jika mereka adalah geng motor yang minggu lalu mengincarnya.

Valeri berdecak kesal. Dia kira waktu itu mereka hanya salah orang, tapi ternyata mereka memang mengincarnya. Semua itu berawal dari kebodohannya sendiri, karena mengejek mereka saat mabuk alhasil sekarang dia jadi sasaran mereka.

"Sialan." Gumam Valeri, dia menambah kecepatan mobilnya.

Jalanan yang dia lalui sangat sepi, Valeri memilin jalan itu sebab arahnya yang lebih dekat dengan kediaman sahabatnya. Jarak para geng motor kian dekat, Valeri masih fokus menghindar dari kejaran mereka.

Tanpa Valeri duga, terdapat satu mobil berwarna hitam yang melaju dengan kencang berniat menabraknya. Lampu mobil itu menyorot ke arah wajah Valeri, membuat gadis itu menoleh ke samping. Seketika itu juga Valeri terkejut, ketika melihat mobil itu melaju dari arah kanan ke arahnya.

"Brengsek!" Valeri berniat mengambil tindakan ekstrim, dia memejamkan mata lalu menarik napas panjang.

Valeri menginjak pedal gas mobilnya, membuat kecepatan itu sedikit melebihi batas. Jantungnya berdegup kencang, napasnya mulai terasa sesak. Detik itu juga, Valeri berhasil melewati mobil itu. Hampir saja dia benar-benar tertabrak mobil tersebut, jika dia tidak memilih jalur nekat.

Valeri menoleh ke belakang, rupanya para geng motor itu masih saja mengejarnya. Dan mobil yang tadi, kini sudah menabrak pembatas jalan hinggan penyok.

"Kenapa mereka terus ngejar gue? Padahal waktu itu gue udah minta maaf," gumamnya merasa heran.

Sementara di sisi lain, Seyra yang sedang asik menonton dram tiba-tiba mendapat panggilan dari Samuel. Gadis itu menyipitkan matanya, memastikan nama yang tertera di layar ponselnya.

Seyra menggeser ikon berwarna hijau, dan menempelkan benda pipih itu di telinganya. "Halo, Sam. Ada apa malam-malam telfon?"

"Lo lagi dimana, Sey? bisa jemput gue nggak?"

Seyra melirik jam beker di nakas, sudah menunjukan pukul sebelas lebih tiga puluh menit.

"Di rumah, lo dimana?" gerutu Seyra jengkel.

"Gue di rumah kakek Rendra, motor gue mogok. Ponsel Agha nggak aktif, gue bisa di amuk nyokap kalo nggak pulang, Sey. Taksi jam segini mana ada, tolong dong jemput sahabat lo yang ganteng ini."

Seyra berdecak kesal, "Oke, tunggu bentar gue jemput."

Setelah mengatakan itu, Seyra mematikan telfonnya sepihak. Gadis itu berjalan menuju lemari pakaian dan meraih jaket berwarna hitam, serta mengganti celana tidurnya dengan training.

Seyea mengambil kunci motornya, kemudian keluar dari kamar menuju garasi. Hujan sudah reda, namun hawa dingin masih sangat terasa.

"Kalo bukan teman, udah gue buang dia ke laut biar di makan paus." Gerutu Seyra seraya mengeluarkan motor dari garasinya dan bergegas pergi menyusul Samuel.

1
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ
lanjut Thor, seru and semangat 💪
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ
Lanjut thor
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ
lanjut thor, and semangat
Wahyuningsih
q mampir thor, mga2 critanya bagus bla perlu dot bonus ruang dimensi atau sistem buar mkin sru
Zee✨: bsk deh kalo udah bisa wkwk harus belajar cara nulisnya dulu klo sistem kak wkwk
total 1 replies
Aria Sabila
hadir
Mey Abimanyu
sering typo penyebutan nama ya kak .. Nino jadi nini😂
Zee✨: wkwk iya kak, padahal udh bolak balik revisi masih aja typo
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!