Nala Aristha hanyalah "putri yang tidak diinginkan" di keluarga Aristha. Selama bertahun-tahun, ia hidup di bawah bayang-bayang kakaknya yang sempurna, Bella.
Ketika keluarga Aristha terancam bangkrut, satu-satunya jalan keluar adalah memenuhi janji pernikahan tua dengan keluarga Adhitama. Namun, calon mempelai prianya, Raga Adhitama, dirumorkan sebagai pria cacat yang kejam, memiliki wajah hancur akibat kecelakaan, dan temperamen yang mengerikan.
Bella menolak keras dan mengancam bunuh diri. Demi menyelamatkan nama baik keluarga, Nala dipaksa menjadi "mempelai pengganti". Ia melangkah ke altar dengan hati mati, bersiap menghadapi neraka.
Namun, di balik pintu kamar pengantin yang tertutup rapat, Nala menemukan kebenaran yang mengejutkan. Raga Adhitama bukanlah monster seperti rumor yang beredar. Dia adalah pria dengan sejuta rahasia gelap, yang membutuhkan seorang istri hanya sebagai tameng.
"Jadilah istriku yang patuh di depan dunia, Nala. Dan aku akan memberikan seluruh dunia in
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Bayangan di Atas Kanvas
Aroma terpentin dan minyak cat yang menyengat kini menjadi parfum baru bagi Nala. Aroma itu jauh lebih menenangkan dibandingkan wangi bunga lili di ruang tamu atau wangi pembersih lantai yang steril di lorong rumah sakit.
Sejak Raga memberikan studio lukis itu padanya dua hari yang lalu, Nala seolah menemukan tempat pelarian yang selama ini hilang. Ia menghabiskan waktu berjam-jam di ruangan itu, mengunci diri dari dunia luar, membiarkan jiwanya menari-nari di atas kanvas putih yang bisu.
Siang itu, matahari bersinar terik di luar, namun cahaya yang masuk ke dalam studio telah diredam oleh tirai tipis sehingga menciptakan pencahayaan yang lembut dan sempurna. Nala berdiri di depan sebuah kanvas besar berukuran satu meter persegi. Ia mengenakan apron kanvas tua yang ditemukannya di lemari studio, menutupi gaun rumahnya yang mahal agar tidak terkena noda. Rambutnya digelung asal-asalan dengan sebuah kuas bekas yang ditusukkan sebagai penahan, membuat beberapa helai anak rambut jatuh menutupi lehernya yang berkeringat.
Tangan Nala bergerak lincah namun penuh perhitungan. Ia tidak sedang melukis pemandangan taman seperti sebelumnya. Kali ini, ia melukis sesuatu yang abstrak, sesuatu yang gelap namun memiliki inti cahaya yang kuat.
Warna hitam pekat mendominasi pinggiran kanvas, melambangkan kegelapan, ketakutan, dan kurungan. Namun di tengah-tengah kegelapan itu, ada gurat-gurat warna perak dan emas yang tajam, membentuk siluet samar seseorang yang berdiri tegak. Sosok itu tidak jelas wajahnya, namun posturnya menyiratkan kekuatan yang tak tergoyahkan.
Nala mencelupkan kuasnya ke dalam cat warna merah crimson. Ia ragu sejenak. Warna merah ini berisiko. Terlalu berani. Terlalu menyakitkan.
Namun ia teringat kata-kata Raga. Tumpahkan rasa sakitmu di sana.
Dengan napas tertahan, Nala menggoreskan warna merah itu di bagian "wajah" sosok dalam lukisannya. Goresan itu kasar, tidak rapi, menyerupai luka. Namun anehnya, goresan merah itu justru membuat lukisan tersebut menjadi hidup. Lukisan itu bukan lagi sekadar gambar, melainkan sebuah pernyataan. Bahwa ada keindahan dalam rasa sakit. Bahwa luka adalah bukti pertarungan.
Nala mundur dua langkah untuk melihat hasil karyanya. Dadanya naik turun. Jantungnya bergemuruh. Ia merasa lelah luar biasa, seolah tenaganya tersedot habis ke dalam kain kanvas itu, namun di saat yang sama ia merasa sangat ringan.
"Indah sekali."
Suara berat itu membuat Nala terlonjak kaget. Kuas di tangannya hampir terlepas.
Ia berputar cepat dan mendapati Raga sudah berada di dalam ruangan. Pria itu duduk di kursi rodanya di dekat pintu, diam seperti patung. Nala tidak mendengar suara pintu terbuka karena terlalu larut dalam dunianya sendiri.
"Tuan!" seru Nala dengan mata membelalak. "Sejak kapan Tuan di situ? Saya... saya pikir saya sudah mengunci pintu."
"Ini rumahku, Nala. Aku punya kunci cadangan untuk setiap pintu," jawab Raga santai. Ia menjalankan kursi rodanya mendekat, matanya tidak lepas dari lukisan di hadapan Nala. "Lagipula, kau melewatkan makan siang. Pak Hadi khawatir kau pingsan karena menghirup bau cat, jadi dia memintaku mengecekmu."
Nala melirik jam dinding. Sudah pukul tiga sore. Pantas saja perutnya terasa perih. Ia begitu asyik melukis hingga lupa waktu.
"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak bermaksud membuat orang rumah khawatir," Nala buru-buru melepaskan apronnya yang penuh noda cat warna-warni. Ia merasa malu. Penampilannya pasti sangat berantakan di depan Raga yang selalu terlihat rapi. "Saya akan segera mandi dan makan."
"Tunggu," perintah Raga saat Nala hendak beranjak.
Raga berhenti tepat di depan lukisan itu. Ia menatapnya lekat-lekat. Jarak wajahnya hanya beberapa sentimeter dari permukaan kanvas yang masih basah. Ekspresi Raga sulit dibaca. Topeng peraknya memantulkan bayangan lukisan itu, menciptakan efek visual yang membingungkan antara seni dan realitas.
"Siapa ini?" tanya Raga pelan, menunjuk sosok abstrak di tengah lukisan.
Nala meremas apron di tangannya. Ia gugup. Apakah Raga akan tersinggung? Apakah Raga akan marah karena ia melukis sesuatu yang menyerupai dirinya dengan cara yang begitu kasar dan gelap?
"Itu... hanya imajinasi saya, Tuan," jawab Nala berbohong kecil. "Sosok seorang pejuang yang terluka."
Raga menoleh menatap Nala. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyum miring yang penuh arti.
"Kau pembohong yang buruk, Istriku," ucap Raga. "Tapi aku suka kejujuran kuasmu. Kau melukisku. Benar kan?"
Nala menunduk, wajahnya memanas hingga ke telinga. "Iya, Tuan. Tapi bukan bermaksud mengejek. Saya hanya... saya melihat kekuatan dalam diri Tuan, dan saya ingin menangkapnya."
Raga kembali menatap lukisan itu. Ia melihat goresan merah di bagian wajah sosok itu.
"Kau melukis lukaku dengan warna merah darah," gumam Raga. "Orang lain biasanya berusaha menyembunyikannya atau membuatnya terlihat samar. Tapi kau justru menonjolkannya."
"Karena luka itu adalah pusat dari kekuatan sosok itu," jelas Nala memberanikan diri. "Tanpa luka itu, dia hanya bayangan biasa. Dengan luka itu, dia menjadi nyata."
Hening menyelimuti studio itu selama beberapa saat. Raga tidak mengatakan apa-apa, tapi bahunya yang tegang perlahan rileks. Ia merasa divalidasi dengan cara yang aneh namun menyentuh. Istrinya tidak hanya menerima fisiknya, tapi juga merayakan ketidaksempurnaannya melalui seni.
"Tanda tangani," perintah Raga tiba-tiba.
"Apa?"
"Tanda tangani lukisan ini. Di pojok kanan bawah. Sekarang," ulang Raga.
Nala bingung, tapi ia menurut. Ia mengambil kuas kecil, mencelupkannya ke cat hitam, lalu membungkuk. Ia hendak menulis nama Nala Aristha.
"Jangan pakai nama Aristha," sela Raga tajam.
Tangan Nala berhenti di udara. Ia menoleh. "Lalu pakai nama apa, Tuan?"
"Aristha adalah nama masa lalumu. Nama yang penuh dengan kenangan buruk dan penindasan. Kau butuh nama baru untuk hidup barumu. Nama yang akan dikenal dunia karena bakatmu, bukan karena skandal keluargamu."
Raga berpikir sejenak, matanya menatap ke luar jendela di mana seekor kupu-kupu hitam besar sedang hinggap di kaca.
"Luna," ucap Raga.
"Luna?"
"Dalam bahasa Latin artinya Bulan. Bulan bersinar karena memantulkan cahaya matahari di tengah kegelapan malam. Kau seperti bulan di rumah yang gelap ini, Nala. Kau memantulkan cahaya," jelas Raga dengan nada yang tak biasa, terdengar puitis untuk ukuran pria sedingin dia.
Jantung Nala berdesir hebat. Nama itu terdengar indah. Luna.
Tanpa banyak tanya lagi, Nala menggoreskan kuasnya. Ia menulis empat huruf sederhana di sudut kanvas: LUNA.
"Bagus," Raga mengangguk puas. "Sekarang pergilah mandi. Ada noda cat hijau di pipimu. Kau terlihat seperti kucing yang baru selesai berguling di rumput."
Nala buru-buru meraba pipinya dan merasakan tekstur cat yang mulai mengering. Ia terpekik kecil karena malu, lalu segera pamit dan berlari kecil keluar dari studio.
Sepeninggal Nala, Raga tidak langsung pergi. Ia mengeluarkan ponselnya, mengambil foto lukisan itu dengan resolusi tinggi. Kemudian ia mengetik sebuah pesan dan mengirimkan foto itu ke seseorang.
Kontak: Ben (Kurator Galeri Nasional)
Pesan: Aku punya 'barang' baru untuk lelang amal bulan depan. Seniman anonim. Namanya Luna. Pastikan lukisan ini menjadi bintang utama. Pasang harga pembuka 100 juta. Jangan ada yang tahu ini dari Adhitama.
Raga menyimpan ponselnya kembali ke saku. Ia menatap lukisan itu sekali lagi sambil tersenyum bangga.
"Dunia akan melihatmu, Nala," bisiknya pada ruangan kosong itu. "Mereka akan memujamu tanpa tahu siapa kau sebenarnya. Dan saat keluarga bodohmu menyadarinya nanti, semuanya sudah terlambat."
Malam harinya, suasana di meja makan terasa lebih cair dari biasanya. Nala sudah segar kembali, mengenakan gaun tidur sopan bermotif bunga kecil. Rambutnya yang masih sedikit basah menebarkan aroma sampo strawberry.
"Bagaimana lukisan tadi?" tanya Nala di sela-sela makan malam. Ia penasaran apa yang dilakukan Raga di studio setelah ia pergi. "Apakah Tuan menyimpannya di gudang?"
Raga memotong daging ayam di piringnya dengan tenang. "Tidak. Aku menyuruh Pak Hadi menggantungnya di ruang kerjaku."
Nala tersedak air yang sedang diminumnya. Ia terbatuk-batuk kecil.
"Di... di ruang kerja Tuan?" tanya Nala tak percaya. "Tapi itu kan ruangan pribadi Tuan. Di sana banyak tamu penting. Lukisan saya jelek, Tuan. Itu hanya coretan emosi. Malu kalau dilihat orang."
"Siapa bilang jelek?" Raga menatap Nala tajam, tapi tidak ada kilatan marah di sana. "Itu lukisan terbaik yang pernah masuk ke rumah ini. Lukisan-lukisan mahal yang dibeli kakekku di lorong depan hanya menang di harga, tapi kosong di rasa. Lukisanmu punya jiwa. Dan karena itu ruang kerjaku, suka-suka aku mau memajang apa."
Nala menunduk, menyembunyikan senyum lebarnya. Hatinya membuncah senang. Lukisannya dipajang di tempat paling eksklusif di rumah ini. Itu adalah bentuk penghargaan tertinggi yang bisa diberikan Raga.
"Terima kasih, Tuan," ucap Nala tulus.
"Berhenti berterima kasih untuk setiap hal kecil," gerutu Raga, meski telinganya sedikit memerah. "Cepat habiskan makanmu. Malam ini aku butuh bantuanmu lagi."
Wajah Nala berubah serius. "Kaki Tuan sakit lagi?"
"Bukan," jawab Raga cepat. "Aku ada beberapa dokumen kontrak yang harus diperiksa. Mataku lelah membaca tulisan kecil seharian. Aku butuh seseorang untuk membacakannya untukku."
Itu bohong, tentu saja. Raga punya kacamata baca yang bagus dan asisten pribadi yang bisa melakukan itu. Tapi ia hanya... ingin mendengar suara Nala. Suara gadis itu lembut dan menenangkan, mampu meredam kebisingan di kepalanya.
"Dengan senang hati, Tuan," jawab Nala bersemangat. Ia senang bisa berguna selain hanya menjadi tukang pijat.
Setelah makan malam, mereka pindah ke ruang kerja. Lukisan Nala benar-benar sudah tergantung di dinding utama, tepat di belakang kursi kebesaran Raga. Lukisan itu terlihat sangat kontras namun menyatu dengan interior ruangan yang maskulin.
Nala duduk di sofa seberang meja kerja Raga, memegang tumpukan dokumen tebal. Ia mulai membaca pasal demi pasal kontrak kerjasama pertambangan itu dengan suara yang jelas dan berirama.
Raga duduk di kursi rodanya, memejamkan mata, mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir Nala. Sesekali ia memberikan instruksi untuk menandai bagian yang perlu direvisi.
Waktu berlalu tanpa terasa. Jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Suara Nala mulai terdengar parau karena kelelahan membaca selama dua jam non-stop.
"Cukup," potong Raga tiba-tiba saat Nala baru mau membalik halaman.
"Tapi masih ada tiga halaman lagi, Tuan," kata Nala.
"Simpan untuk besok. Suaramu sudah seperti kodok kejepit," ejek Raga, tapi ia segera menuangkan segelas air putih dari teko di mejanya dan menyodorkannya pada Nala. "Minum ini."
Nala menerima gelas itu dan meminumnya dengan rakus. Tenggorokannya memang terasa kering.
"Tuan Raga," panggil Nala setelah meletakkan gelas.
"Apa lagi?"
"Boleh saya bertanya soal masa lalu?" tanya Nala hati-hati. Ia teringat pembicaraan mereka di mobil tentang keluarga.
Raga terdiam sejenak, lalu mengangguk kaku. "Tergantung apa yang ingin kau tanyakan."
"Tentang kecelakaan itu," Nala memberanikan diri. "Tuan bilang remnya blong karena licin. Tapi... saya pernah mendengar pelayan bergosip. Mereka bilang polisi menemukan ada kejanggalan pada selang rem mobil Tuan."
Tubuh Raga menegang seketika. Atmosfer ruangan yang tadinya hangat mendadak berubah dingin.
"Dari mana kau dengar itu?" suara Raga rendah dan berbahaya.
"Bu Ratih pernah keceplosan bicara dengan tukang kebun saat saya sedang melukis di taman," jawab Nala jujur, tidak mau menyembunyikan apa pun.
Raga menghela napas kasar. Ia memijat pangkal hidungnya. Rahasia yang ia simpan rapat-rapat ternyata sudah menjadi rahasia umum di kalangan pelayan tua.
"Itu benar," aku Raga akhirnya. "Itu bukan kecelakaan murni. Seseorang memotong selang rem mobilku. Sabotase."
Nala menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak ngeri. "Siapa? Siapa yang tega melakukan itu?"
"Kalau aku tahu siapa pelakunya, dia sudah mati lima tahun lalu," jawab Raga dingin. Matanya berkilat penuh dendam. "Polisi menutup kasus itu karena kurang bukti. Tapi aku tahu, pelakunya adalah orang dalam. Orang yang tahu jadwalku, orang yang punya akses ke garasi pribadiku."
Raga menatap Nala tajam.
"Itulah kenapa aku memakai topeng ini, Nala. Dan itulah kenapa aku bersikap kejam pada semua orang. Aku tidak tahu siapa kawan dan siapa lawan. Musuhku ada di dalam selimut. Dia mungkin sedang tersenyum padaku saat ini, menunggu kesempatan untuk menghabisiku."
Nala merasakan bulu kuduknya meremang. Ia baru sadar betapa bahayanya posisi Raga. Di balik kekayaan dan kekuasaannya, Raga hidup dalam ketakutan paranoid yang beralasan. Dia dikelilingi oleh ular berbisa.
Tanpa sadar, Nala bangkit dari sofa dan berjalan mendekati Raga. Ia berlutut di samping kursi roda pria itu, lalu dengan berani menggenggam tangan Raga yang terkepal di atas meja.
"Saya ada di sini, Tuan," ucap Nala tegas. Matanya memancarkan kesetiaan yang tak tergoyahkan. "Saya bukan orang dalam Tuan yang punya akses garasi. Saya orang luar yang masuk ke sini. Saya tidak punya kepentingan apa pun selain menjadi istri Tuan. Saya akan menjadi mata Tuan. Saya akan menjaga punggung Tuan."
Raga menatap tangan kecil yang menggenggam tangan besarnya itu. Tangan yang halus namun kuat, tangan seorang pelukis yang baru saja menemukan warnanya.
Untuk sesaat, Raga ingin menarik tangannya. Ia takut menyeret Nala ke dalam kegelapan dunia bisnisnya yang kotor. Tapi kehangatan tangan Nala terlalu nyaman untuk ditolak.
"Kau tidak tahu apa yang kau hadapi, Nala," bisik Raga, suaranya terdengar lelah. "Kau bisa terluka."
"Saya sudah terbiasa terluka, Tuan," Nala tersenyum menenangkan. "Luka hanya akan membuat kita menjadi lukisan yang lebih indah. Ingat?"
Raga tidak menjawab. Ia hanya membalas genggaman tangan Nala, erat sekali, seolah-olah Nala adalah satu-satunya tali pengaman yang mencegahnya jatuh ke jurang kegilaan.
Di luar jendela, bulan purnama bersinar terang, menyinari Adhitama Estate yang megah. Di dalam ruang kerja itu, sebuah aliansi baru yang lebih kuat dari sekadar pernikahan kontrak telah terbentuk. Mereka bukan lagi hanya dua orang asing yang berbagi atap. Mereka adalah dua prajurit yang bersiap menghadapi perang yang sesungguhnya.
Dan tanpa mereka sadari, di suatu tempat di kota itu, seseorang sedang melihat foto pernikahan mereka yang bocor di media sosial, dan tersenyum licik.
"Jadi dia sudah menikah..." gumam sosok misterius itu sambil memutar gelas whisky-nya. "Sayang sekali. Pengantin baru biasanya lebih mudah mati karena kecerobohan cinta."
ceritanya bagu😍