NovelToon NovelToon
Setelah 100 Hari

Setelah 100 Hari

Status: tamat
Genre:Pelakor jahat / Nikahmuda / Penyesalan Suami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:9.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Itha Sulfiana

"Setelah aku pulang dari dinas di luar kota, kita akan langsung bercerai."

Aryan mengucapkan kata-kata itu dengan nada datar cenderung tegas. Ia meraih kopernya. Berjalan dengan langkah mantap keluar dari rumah.

"Baik, Mas," angguk Anjani dengan suara serak.

Kali ini, dia tak akan menahan langkah Aryan lagi. Kali ini, Anjani memutuskan untuk berhenti bertahan.

Jika kebahagiaan suaminya terletak pada saudari tirinya, maka Anjani akan menyerah. Demi kebahagiaan dua orang itu, dan juga demi kebahagiaan dirinya sendiri, Anjani memutuskan untuk meninggalkan segalanya.

Ya, walaupun dia tahu bahwa konsekuensi yang akan dia hadapi sangatlah berat. Terutama, dari sang Ibu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tanda tangan

"Papa..."

Luna menghambur memeluk Ayahnya. Gadis itu menangis tersedu-sedu.

"Apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis, Sayang?" tanya Anton dengan cemas.

"Papa, lihat!" Ia memperlihatkan pipinya yang tampak memerah dan sedikit bengkak.

"Ada apa dengan Pipimu?" pekik Anton kaget.

"Anjani yang melakukannya, Pa. Dia menamparku," ujar Luna mengadu.

Dia yakin, sang Ayah pasti akan membalaskan dendamnya.

"Kurang ajar! Berani-beraninya, dia menampar putri kesayanganku."

"Sakit, Papa," keluh Luna.

"Kamu tenang saja! Papa akan buat perhitungan dengannya."

Sore harinya, setelah pulang dari kantor, Anjani sudah ditunggu oleh sang Ayah di ruang tamu. Saat melihat kedatangan Anjani, Anton langsung berdiri dan menghampiri Anjani.

Plak!

Tanpa basa-basi, Anton langsung menampar putri sahnya. Kepala Anjani tertoleh ke samping. Sudut bibirnya berdarah. Telinganya berdengung hebat.

"Berani-beraninya, kamu menampar Luna! Dasar anak tidak tahu diri kamu, Anjani," hardik Anton penuh emosi.

"Dia duluan yang..."

Plak!

Anton menampar Anjani lagi. Kali ini, jauh lebih keras.

"Jangan banyak alasan!" potong Anton. "Papa tahu kamu tidak pernah menyukai Luna. Tapi, dia tetap putri Papa. Dia anak yang paling Papa sayangi. Jadi, jangan pernah berani mengusiknya atau kamu akan berhadapan dengan Papa!"

Air mata Anjani perlahan mulai menetes. "Pa... lalu aku ini siapa? Apa aku bukan putri Papa?" tanyanya dengan suara parau.

Anton membuang muka. Ada sedikit rasa bersalah. Namun, dia berusaha mengabaikan perasaan itu.

"Kamu itu lebih tua dari Luna. Seharusnya, kamu mengalah demi adikmu. Bukan malah menindas Luna seperti tadi. Apa kamu tahu kalau pipi Luna jadi bengkak gara-gara ulah kamu? Padahal, kamu tahu sendiri kalau adikmu adalah seorang model. Wajahnya adalah aset berharga yang tidak boleh cacat sedikit pun."

"Papa sudah membalasnya, kan?" sahut Anjani. "Lihat pipiku! Lihat bibirku! Apa semua ini belum sepadan?" tanya Anjani dengan penuh rasa kecewa.

Ah, Anton seketika tak bisa berkata apa-apa. Apa tamparannya memang sekeras itu? Kenapa pipi Anjani semerah itu? Bibir bawahnya bahkan terlihat robek dan mengeluarkan darah.

"Papa melakukan semua ini demi mendidikmu. Jadi, jangan dendam!" kata Anton berkilah.

Anjani mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia meludah. Membersihkan mulutnya dari darah segar yang sempat tertampung didalam sana.

"Kapan kamu akan bercerai dengan Aryan? Jangan ditunda-tunda terus! Papa ingin kamu dan dia segera berpisah."

"Jangan tanya aku. Tapi, tanyakan pada Aryan," jawab Anjani dengan nada dingin.

"Sebaiknya, kamu desak dia untuk segera mengesahkan perceraian kalian. Kasihan, Luna. Papa tidak tega melihat dia terus bersedih."

Anjani sudah tak berharap apapun lagi kepada sang Ayah. Kasih sayang pria tua itu terlalu bias. Dia bahkan rela mengorbankan satu putrinya demi kebahagiaan putri yang lain.

"Kapan sahamku akan Papa kembalikan?" tanya Anjani.

Mata Anton seketika melotot. "Beraninya kamu masih menanyakan tentang saham itu."

"Itu hakku. Sudah seharusnya aku mengambil apa yang menjadi hakku, kan?"

"Saham itu rencananya akan Papa berikan untuk Luna."

Mendengar itu, Anjani langsung tersenyum miring.

"Coba saja!" tantangnya. "Apa Papa mau, selir kesayangan Papa dan juga anak haram Papa jadi terkenal sebagai pelakor yang suka merebut suami orang?"

"Apa maksud kamu, Anjani?"

Anjani tampak tersenyum miring. "Papa pasti mengerti," jawabnya dengan singkat.

"Segera siapkan dokumen-dokumen yang diperlukan! Besok, aku tidak mau tahu. Saham itu harus kembali ke tanganku. Kalau tidak, maka aku tidak akan pernah menceraikan Aryan," ancam Anjani dengan sorot mata yang tidak main-main.

"Kamu..." Anton menunjuk wajah Anjani. "Beraninya kamu mengancamku!"

Tangannya kembali terangkat. Hendak memukul wajah Anjani lagi.

"Coba saja!" ucap Anjani cepat. Tangan sang Ayah pun reflek mengambang di udara. "Kalau tangan Papa berani menyentuhku lagi, maka aku tidak akan segan-segan untuk lapor polisi."

"Kamu... dasar anak durhaka!" geram Anton marah.

"Dua tamparan sebelumnya masih bisa aku toleransi. Tapi, untuk yang ketiga kali, aku tidak akan membiarkannya terjadi, Tuan Anton Permana!"

"Kamu berani memanggil namaku?" lirih Anton dengan nada rendah.

"Hubungan Ayah dan anak diantara kita sudah berakhir. Aku bukan anakmu dan kamu bukan Papaku lagi!" ucap Anjani dengan suara bergetar.

Selesai mengucapkan kata-kata itu, Anjani segera berlari menuju ke kamarnya. Tangisnya pecah. Hatinya benar-benar dihancurkan hingga berkeping-keping oleh Ayahnya sendiri.

Sementara, Anton masih berdiri ditempat semula dengan tubuh yang terasa membeku. Putri kandungnya menyangkal dirinya. Dan, itu membuat jantungnya terasa sangat sakit.

****

Anjani tidak tahu kapan sang Ayah pulang. Saat dia turun, malam sudah merangkak naik dan suasana rumah kembali sunyi.

Dengan pipi bengkak dan bibir yang terasa sakit dan perih, Anjani memaksakan diri untuk turun ke bawah mengambil air putih.

"Sshhh... Sakit," keluhnya saat selesai minum.

Terdengar langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Dia pikir, itu sang Ayah. Ternyata, bukan.

"Aryan?" lirih Anjani.

Entah, dia harus lega atau tidak.

"Kenapa tidak masak makan malam?" tanya Aryan saat melihat meja makan yang kosong melompong.

"Aku sedang tidak berselera untuk makan," jawab Anjani.

"Tapi, aku ingin makan," timpal Aryan sambil meletakkan jasnya diatas meja.

"Masak sendiri. Aku sedang tidak enak badan," tukas Anjani.

Dia ingin segera pergi dari tempat itu sebelum Aryan menyadari kondisi wajahnya.

"Tunggu!"

Pria itu tak membiarkan Anjani pergi begitu saja. Dia menahan pergelangan tangan Anjani kemudian menariknya ke dalam pelukan.

Saat itulah, dia bisa melihat wajah Anjani dengan sangat jelas. Tidak lagi tertutupi rambut seperti tadi.

"Wajah kamu... kenapa?" tanya Aryan dengan suara yang nyaris hilang diakhir kalimat.

"Ini balasan dari Papa karena aku berani memukul Luna," jawab Anjani.

Dia mendorong keras tubuh Aryan hingga menjauh darinya.

"Lain kali, tolong jangan provokasi Luna lagi! Jangan buat dia marah! Aku tidak mau mati ditangan seseorang yang aku sebut 'Ayah', Aryan," lanjut Anjani dengan mata berkaca-kaca.

"Maaf," lirih Aryan merasa bersalah. Semua gara-gara ulahnya. Dia yang membuat Anjani dan Luna jadi bertengkar.

"Sebaiknya, kita segera bercerai! Aku benar-benar lelah, Aryan."

Air mata Anjani menetes tanpa diminta. Dia pun menelan ludah yang terasa sangat pahit didalam tenggorokan. Kemudian, dia pergi begitu saja meninggalkan Aryan yang tidak tahu harus berbuat apa.

Semua memang salahnya. Saat dia merasa yakin bahwa Luna adalah pilihannya, perubahan sikap Anjani justru membuat dirinya tiba-tiba goyah.

Semalaman, Aryan tidak bisa tidur. Dia tak tahu harus melakukan apa. Namun, saat mengingat wajah Anjani yang terluka akibat perbuatan Ayah kandungnya sendiri, Aryan kembali dihantui rasa bersalah.

Keesokan harinya, Aryan pun akhirnya mengambil keputusan besar. Saat Anjani sudah bangun dan turun ke lantai bawah untuk sarapan, berkas perceraian yang sejak kemarin sengaja ia tahan-tahan, akhirnya diberikan juga kepada Anjani.

"Itu berkas perceraian kita. Kamu bisa memeriksanya terlebih dulu bersama pengacaramu sebelum menandatanganinya. Jika ada pasal yang kurang berkenan, kita bisa diskusikan lagi."

Anjani membaca berkas itu secara seksama. Kemudian, dia mengangguk dan langsung memberi tanda tangan.

"Tidak perlu," tolaknya. "Aku setuju dengan semua persyaratan yang ada," lanjutnya seraya mengembalikan berkas yang sudah ia tanda tangani tersebut kepada Aryan.

Aryan tampak tertegun. Tak ia sangka, jika Anjani akan setuju secepat ini. Perempuan itu bahkan tidak menampakkan kesedihan sedikit pun.

Sesiap itukah, Anjani berpisah darinya?

1
💃💃 H💃💃💃
seru bnget. .makasih ya thorrr
Annie Soe..
Anjani lagi jadi sasaran si lunlun..
Introspeksi lah knapa ekonomi mu jadi terjun bebas gitu..
yasmien
🤣🤣
Annie Soe..
Good job anjani, suka gayamu..
Syamsiar Samude
astaghfirullah btl2 keluarga absourd bikin awet muda nnti tuan raga skligus bikin pusing Enzo smga sj tdk gagal unboxing gara gara kkx n ponaknxane 🤣🤣🤣
Fetnayeti Winarko
didunia nyata ga ada ya..
Syamsiar Samude
kasihan Anton dia korban manipulasi dr si Sandra yg sifatx tdk jauh beda dgn anakx Luna semua krna nafsu dan ambisius😥
Syamsiar Samude
penyesalan mmg sll datang di belakang dulu Anjani bgt mencintaimu sah jd istrimu malah selingkuh dgn tdk lbh mncari kebenaran teman di masa kecilmu dan selama km membersamaix mngkin tdk kenangan baik utk Anjani dan yg ada hinaan dan terintimidasi tdk dihargai sbgaimna layakx seorang istri yg tlh bgt penurut jd rasakan sendiri krna Anjani tlh melewati semua kepahitan dan pantas utk bahagia dgn laki2 yg meratuknx
Syamsiar Samude
si Aryan tak jera jg di permalukan krna cinta buta yg terlambat makan tuh sana si Luna situkang tikung n licik thor ada ya perempuan sprti Luna di dunia nyata smg ya Allah aku dan ank keturunanku sll dipertemukan dgn org2 yg baik tetap semangat Thor sehat sukses selalu 🤲😊
Syamsiar Samude
ya Tuhan btl2 Enzo dan kluargax org yg baik smga anak gadisku mndpt jodoh sperti sosok Enzo di dunia nyata 🤲😊 tetap semangat Thor aku suka karyamu sehat sukses selalu 🤲🤗
Syamsiar Samude
🤣🤣🤣 terciduk lgi n gagal lgi romantisx, thor aku tertawa sendiri kek org gila untung tdk org dekat2😄😄
Syamsiar Samude
betul2 keluarga absourd penuh canda tawa kasihan Enzo jd Bullyan perjaka kadaluarsa 😄😄
Syamsiar Samude
ya tuhan astaghfirullah Luna lahir dr orgtua yg tdk pux hati nurani demi nafsu harta dan ambisi jd diapun sifatnya tak jatuh dr titsan mrka mski sdh bgt jahat trhdp istri dan anak kandungx smg Anton bisa selamat dr intimidasi si Luna kasihan jg btl2 air susu di bls dgn air tuba 😥
Amiera Syaqilla
hello author🤗
Syamsiar Samude
syukurlah mereka tertangkap sisa si Luna smga tdk berbuat yg tidak tidak terhadap Anton klw dia berbuat nekat smga cepat ketahuan dan diberi hukuman yang setimpal 😥
Syamsiar Samude
Masyaa Allah Thor biar hax cerita tp reader ikut bahagia seakan kitapun merasakan kebahagiaan mereka 😊
Syamsiar Samude
Anjani tdk akan mngkin disia siakan oleh Enzo sbgai buah dr kesabaranx dan buknlh pria yg suka mempermainkan wanita dan yakin dia akan setia dan penuh perhatian yg jarang ada sosok bgt di dunia nyata smga Anjani bahagia selamanya, tetap semangat Thor sehat sukses selalu dgn karya2nya 🤲🤗
Syamsiar Samude
🤣🤣🤣Thor aku ketawa sendiri dgn sikap posesif sang kakek yg tiba2 mbuat Anushka sperti berada di alam lain😄😄
Syamsiar Samude
mana mngkin Luna akn brtahan saat Anton sdh bangkrut krna hanya asetx yg dia harap tdk mw jd org miskin mudahan sj Anton tdk dipermudah di bodohi lg dgn hasil pnjualan perusahanx kasihan jg tp itu semua krna ulahx sndiri yg semena mena dgn Mariana dan Anjani istri sah dan anak kandungx sendiri sementara yg dia pupuk bukan siapa2 itulah penyesalan yg tdk ada gunax lgi
Syamsiar Samude
astaghfirullah Luna sifatx tak beda dgn ibux licik demi ambisi tp tdk yg akn berhasil bila semua penuh kebohongan dan masalah yg tdk ada habisx psti Luna brhubngan dgn pria lain utk menjebak Aryan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!