Tak pernah mendapatkan cinta dari siapapun termasuk ibu kandungnya, Cinderella Anesya seorang gadis yang biasa di sapa Ella itu berharap ada setitik cinta dari tunangannya.
Sayangnya pria yang menjadi tunangannya itu tak pernah menganggapnya ada dan lebih cenderung pada adik tirinya yang selama ini selalu di sayang oleh keluarganya.
Merasa ketulusannya di khianati, Ella akhirnya menerima pinangan pria yang selama ini diam-diam mencintainya..
Akankah hidupnya berubah setelah bersama pria itu? Atau justru sebaliknya??
•••••
"Berjanjilah untuk selalu mencintaiku.." Cinderella Anesya
"Aku akan selalu mencintaimu, Baik sekarang, Nanti dan selamanya.." Davin Anggara Sanjaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan Yang Lainnya
"Saya terima nikah dan kawinnya Cinderella Anesya binti Amran Syahid dengan mas kawin tersebut tunai!
"Bagaimana saksi? Sah??
"SAAAAH!!!!
Kalimat sah pun meluncur, Apalagi suara Maureen dan Ariel yang paling kencang diantara yang lainnya.
Sepasang ibu dan anak itu terlihat sangat bahagia dengan pernikahan Ella dan Davin. Senyum mereka merekah tidak seperti Dewi yang terlihat tak suka. Terlebih Hendra yang tak hanya dadanya saja yang bergemuruh, Mata pria itu juga memerah.
Bayangkan saja, Ella yang di kenal sangat mencintai Araka dan terkenal dengan sikap pendiamnya ternyata menyimpan banyak rahasia.
Pernikahan yang harusnya di lakukan dengan Araka gagal dan di gantikan dengan seorang pria lebih dadi segalanya.
Dia Davin, Davin! Seorang putra konglomerat yang sejak baru lahir namanya sudah di kenal oleh banyak orang. Semua orang hanya bisa menganga saat menjadi saksi pernikahan Davin dan Ella.
Mahar pernikahan Davin untuk Ella bukan satu dua juta. Bukan pula sepuluh dan dua puluh juta, Tapi lima puluh miliar. Sekali lagi, Lima puluh miliar dengan satu set berlian lima puluh gram.
Davin benar-benar mengangkat dan menjunjung tinggi Ella yang sempat di rendahkan oleh Araka dan Lentera. Lihat saja wajah-wajah mereka sekarang? Belum apa-apa sudah pucat bukan?
"Lima puluh miliar bukan mahar yang sedikit loh.. Gimana bu dewi ya? Kaget gak tuh?" Bisik-bisik tetangga di mulai.
"Kita lihat setelah ini.. Berapa mahar yang akan di berikan oleh Araka ke Lentera.. Jangan-jangan cuma lima puluh juta lagi..
"Yah, Gak main dong.. Minimal seratus juta biar gak tambah malu hihihi..."
"Jangan.. Dia kan rendah, Berani merebut calon suami kakaknya. Mana bangga banget lagi.. Mahar kasih yang murah aja biar stel sama kelakuan nya..
Lentera sudah hampir menangis melihat orang-orang yang mulai menilai rendah dirinya. Ternyata Ella tak hanya bikin malu mereka tapi membuka kedok sifat aslinya.
Lentera menatap Ella yang tersenyum sinis padanya. Dia yang terlihat pendiam itu ternyata punya banyak rahasia. Lihat saja, Wanita yang sempat melayani Ella di butik. Ternyata wanita itu adalah ibu mertuanya.
Mommy Ayra menatap Lentera dengan tatapan menantang. Keluarga besarnya bukan orang yang pendendam, Tapi jika di usik balas.
Usai ijab kabul, Davin menghadap Ella. Sebelah tangan pria itu terangkat mengusap ubun-ubun wanita yang kini telah sah menjadi istrinya.
Bibir itu berucap mengucapkan doa. Ella memejamkan mata, Cairan bening itu menetes. Ella menangis bukan karena sedih melainkan merasa terharu.
Usai mengusap ubun-ubun sang istri, Kini berganti Ella yang meraih tangan sang suami. Wanita cantik itu mencium punggung tangan Davin sebagai tanda baktinya sebagai seorang istri.
Tak sampai di situ, Hal yang jangan sampai di lupakan ialah mencium kening Ella. Davin dan Ella saling tatap, Wanita ini adalah wanita yang sejak lama dia harapkan untuk di jadikan istri. Dan sekarang akhirnya Ella menjadi istrinya juga.
Seorang datang mendekat menyerahkan sebuah kotak beludru berwarna merah.
"Silahkan Tuan.." Davin mengangguk, Ia raih kotak beludru itu lalu membukanya. Disana, Terdapat sepasang cincin yang sangat indah.
Davin meraih satu cincin yang ukurannya lebih kecil kemudian menyematkan cincin tersebut di jari manis sang istri. Hal yang sama pun juga di lakukan oleh Ella. Ia sematkan cincin pernikahan yang telah di pesan khusus itu ke jari manis Davin.
"Yeeeey....
Setelah acara tukar cincin selesai. Keluarga Davin maju, Mereka bergantian memeluk Ella menyambut wanita cantik itu sebagai anggota baru di keluarga Sanjaya dan keluarga Abraham.
"Selamat ya sayang...Mulai sekarang kamu adalah bagian dari keluarga kami.." Mommy Ayra meraih tangan Ella menggenggamnya dengan erat.
"Dan mulai sekarang, Anggap kita semua ini keluarga kakak.. " Davina ikut menimpali. Dia memeluk wanita yang kini telah menjadi kakak ipar nya itu. Tatapan penuh kasih sayang tersebut seketika berubah menjadi tatapan sinis ke arah Lentera.
"Mulai sekarang Kakak Ipar punya kita. Kalau ada orang yang menyakiti kakak, Katakan padaku. Akan aku buat orang itu sengsara.." Ucap Davina dengan suara yang tegas. Siapapun yang mengganggu keluarganya akan dia balas beberapa kali lipat.
Daddy Nalendra menepuk pelan pundak sang putra.
"Ingat,,Sekarang kau sudah jadi seorang suami. Jaga istri mu dengan baik dan jangan sampai sakiti dia.." Davin tersenyum..
"Daddy tenang saja, Davin akan mengikuti jejak langkah Daddy.." Banyak keluarga dari Davin mendekat memeluk Ella dengan baik. Mulai dari para Uncle dan Aunty serta para sodara yang lain.
Dan kini giliran Papa Amran serta Mama Maureen yang mendekat.
"Sayang...
"Pa, Ma.. Ariel.." Tangis Ella semakin menjadi. Akhirnya dia bisa berkumpul dengan Papa nya dan juga keluarga barunya. Di saat yang lain memeluk Ella, Dewi hanya diam saja seolah wanita itu tidak sudi memeluk putrinya. Ella pun hanya diam saja, Dia tak mau meminta pelukan itu.
"Sudah kan acara haru birunya.. Sekarang kalian Minggir. Kini giliran Araka yang akan menikahi Lentera..." Bina maju, Ibu dari Araka tersebut juga tak mau kalah dengan Ella. Jika Ella bisa maka putranya juga bisa.
Tapi memang bisa menyaingi Davin?
"Ayo.. Kalian juga harus menikah..
Bina membimbing Araka dan Lentera agar maju namun suara Nenek Cahya menghentikannya.
"Kau yakin akan menikah dengan wanita ini Araka?" Araka menoleh ke arah neneknya. Pria itu menghela nafas panjang, Ada rasa ragu yang mulai mengganjal. Namun karena gengsinya, Araka menghadap Nenek nya dengan kepercayaan yang tinggi.
Dia sudah terlanjur malu karena Ella, Dan untuk menikahi Lentera dia tidak akan mundur.
"Apa maksud Nenek?
"Nenek tidak mau kau menikah dengannya.." Ucap Nenek Cahya tegas. Araka terkekeh sinis..
"Kenapa Nek? Nenek tidak berhak mengatur ku lagi sekarang.. Aku yang akan menikah. Jadi aku yang berhak menentukan dengan siapa aku akan menikah. Nenek tidak berhak lagi ikut campur, Apa Nenek lupa.. Semua harta sudah jatuh di tanganku.. Sekarang aku lah yang berkuasa, Dan aku berhak melakukan apapun yang aku mau Nek.." Jelas Araka dengan angkuhnya. Nenek Cahya tersenyum..
"Kau yakin dengan apa yang kau katakan cucuku?" Araka mengernyit heran. Kenapa reaksi Nenek Cahya seperti itu?
"Pak.." Sang pengacara mendekat, Tangan Nenek Cahya menengadah meminta surat yang sempat Araka tanda tangani tadi.
"Usahakan berpikir lebih dulu sebelum mengambil keputusan Araka. Di baca dulu baik-baik, Kau belum sempat membacanya kan?..." Nenek Cahya memberikan surat resmi itu pada Araka yang langsung membukanya.
Dengan teliti pria itu membaca isi surat resmi tersebut dari atas sampai bawah. Mata Araka membola, Dia menggelengkan kepalanya merasa tak percaya..
"Bagaimana?
"Nek? Ini apa-apaan?
"Apa? Nenek akan menyerahkan seluruh harta dan perusahaan padamu dengan syarat kau harus menikahi Ella.. Tapi kau berkhianat Araka! Dan Nenek tahu semuanya.. Bukankah Nenek sudah katakan, Di baca dulu sebelum tanda tangan, Tapi kau tidak mau mendengar. Jadi jangan salahkan Nenek untuk hal ini.." Dada Araka bergemuruh. Semua yang dia rencanakan sejak awal harus hancur hari ini.
Surat resmi itu bukan berisikan tentang pengalihan harta dan perusahaan Nenek Cahya pada Araka. Tapi surat kalau seluruh harta milik Nenek Cahya akan jatuh ke tangan Araka setelah pria itu berusia empat puluh lima tahun. Dan itu artinya, Masih butuh bertahun-tahun Araka untuk mendapatkannya. Dan sialnya, Araka tanpa tangan yang artinya pria itu setuju.
Lentera juga tak kalah terkejutnya. Kalau Araka belum mewarisi harta itu, Dia juga tidak akan dapat apa-apa dong?
Usia empat puluh lima tahun harta itu jatuh ke tangan Araka. Sementara sekarang pria itu masih berusia dua puluh lima tahun. Masih kurang dua puluh tahun lagi.
"Araka.." Bina mengusap pundak sang putra. Wanita itu menatap Ibu mertuanya..
"Ibu.. Kenapa Ibu tega pada Cucu Ibu sendiri?
"Bukan aku yang tega.. Semua ini putranya dulu yang memulai.. Dia memanfaatkan pertunangan nya dengan Ella agar bisa mendapatkan seluruh harta. Dan setelah itu, Dia berniat ingin menikmati harta tersebut bersama gadis ini? " Tunjuk Nenek Cahya pada Lentera.
"Itu tidak akan pernah terjadi Bina.. Sumpah dunia akhirat aku tidak ridho kalau hartaku di nikmati olehnya.." Nenek Cahya terlihat murka. Lentera menunduk malu. Dia tak di inginkan secara terang-terangan oleh Nenek Cahya di hadapan banyak orang.
Bima meraih tangan sang putra dan Lentera lalu di satukan lah kedua tangan tersebut.
"Sudah, Jangan pikirkan masalah ini lagi. Hari ini adalah hari sakral kalian.. Kita lanjutkan pernikahan ini sekarang.." Tak mau menjadi bahan tontonan dan semakin malu, Bina berkata kalau pernikahan Araka dan Lentera harus terlaksana.
Sejak awal acara ini adalah acara milik Araka dan Lentera. Entah apa yang membuat Bina sangat menyukai Lentera dan membenci Ella, Mungkin saja otak Bina juga sudah di cuci oleh gadis itu.
"Kak, Ayo... " Araka mengangguk mantap. Sekali lagi Araka mendekati sang Nenek..
"Maafkan aku Nek.. Mau Nenek setuju atau tidak aku menikah dengan Lentera.. Aku akan tetap akan menikahinya.. " Ucap Araka, Dia sudah menanggung malu dan tak mungkin dia mundur.
"Baik lah nak.. Tapi jangan sampai kau menyesal setelah ini.." Ucap Nenek Cahya mengingatkan sekali lagi. Araka tak peduli, Araka yakin kalau dia tidak akan menyesal tapi Neneknya lah menyesal karena tidak memberi restu untuk mereka.
"Ayo pak, Sekarang nikahkan mereka.." Ucap Bina pada pak penghulu. Akan tetapi pak penghulu angkat bicara.
"Sebelumnya saya minta maaf.. Saya tidak bisa menikahkan calon pengantin yang namanya tidak terdaftar Bu.. Kalau hanya untuk nikah siri Anda bisa memanggil ustad saja.. " Ujar Pak penghulu. Tugas dia hanya menikahkan calon pengantin yang namanya sudah terdaftar di negara. Untuk nikah siri, Jelas bukan tugasnya.
"Aduh pak! Udah.. Masalah itu gampang. Yang penting mereka nikah dulu.. Pak penghulu minta uang berapa? Saya bayarin asal anak saya nikah sekarang juga.. "Pak penghulu itu pun bingung hendak bagaimana.
"Aduh, Gimana ya bu...
"Ayolah pak.. Hanya sebentar saja.." Ucap Riski, Dia juga merasa malu sekali kalau sampai acara ini tidak di laksanakan.
"Baiklah..." Dengan terpaksa Pak penghulu itu setuju.
Araka menggandeng tangan Lentera untuk duduk berhadapan dengan pak penghulu. Pria paruh baya itu pun memanggil Hendra untuk menjadi wali..
"Bisa kita mulai?
"Bisa...
"Bismillahirrohmanirrohim..
"Tunggu pak penghulu.." Suara itu adalah suara Amran..
"Ya pak?
"Pria ini tidak bisa menjadi wali gadis ini pak" Tunjuk Amran pada Hendra.
"Maksud Bapak bagaimana ya?
"Pria yang bernama Hendra ini tidak bisa menjadi wali putrinya.. Karena saat Ibu dari gadis ini hamil dengan pria ini, Ibu dari gadis ini masih sah menjadi istri saya!!
•
•
•
TBC